Oleh : Erizeli Jely Bandoro (EJB)
BOGOR, MPI – Di sebuah kota yang tak pernah benar-benar tidur, orang-orang berlari mengejar angka. Angka di rekening. Angka di kursi kekuasaan. Angka di suara pemilu.Seolah hidup adalah lomba mengumpulkan sesuatu yang tak pernah cukup.
Di tengah hiruk-pikuk itu, saya teringat pada seorang lelaki dari Madinah berabad-abad silam — seorang alim yang namanya tak pernah mengejar dunia, tetapi dunia justru datang kepadanya.
Imam Malik
Ia bukan orang miskin. Ia memiliki kebun.
Ia memiliki penghasilan dari perdagangan. Ia hidup terhormat. Pakaiannya bersih dan baik. Rumahnya terjaga. Ia tidak mengumbar kemelaratan sebagai simbol kesalehan. Tetapi ada satu hal yang tidak pernah ia miliki yaitu Keterikatan. Harta datang dan pergi, tetapi tidak pernah singgah di hatinya. Ia tidak memusuhi dunia. Ia hanya tidak menyembahnya.
Suatu hari, kekuasaan mengetuk pintunya. Seorang khalifah menawarkan sesuatu yang bagi banyak orang adalah puncak kemuliaan: kitabnya, Al-Muwatta, dijadikan hukum tunggal negara. Bayangkan betapa besarnya pengaruh itu. Nama yang terpatri dalam undang-undang. Otoritas yang disahkan istana. Legitimasi yang tak tergoyahkan. Ia bisa saja menerima. Ia bisa saja berdiri di samping penguasa dan menjadi simbol persatuan. Tetapi ia menolak. Bukan karena rendah diri. Bukan karena takut. Ia menolak karena ia tahu bahwa umat ini hidup dari keluasan ijtihad, bukan dari pemaksaan satu suara.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَـيْسَ لَـكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗ اِنَّ السَّمْعَ وَا لْبَصَرَ وَا لْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰٓئِكَ كَا نَ عَنْهُ مَسْئُوْلًا
wa laa taqfu maa laisa laka bihii ‘ilm, innas-sam’a wal-bashoro wal-fu-aada kullu ulaaa-ika kaana ‘an-hu mas-uulaa
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 36) .
Ada saat ketika cambuk menyentuh punggungnya karena fatwanya tidak sejalan dengan keinginan penguasa. Ia bisa menarik ucapannya. Ia bisa menyelamatkan dirinya. Ia tidak melakukannya. Karena zuhud bukan berarti pasrah. Zuhud adalah ketika kebenaran lebih berharga daripada kenyamanan. Dan di situlah martabat lahir.
Di zaman kita, banyak orang berbicara tentang moral. Banyak yang berbicara tentang agama. Tetapi sedikit yang berani kehilangan sesuatu demi mempertahankannya. Ada yang memasuki kekuasaan dengan niat suci, lalu perlahan menjadi bagian dari sistem yang dulu ingin ia luruskan. Ada yang mendekat pada harta demi maslahat, lalu lupa membedakan antara amanah dan ambisi. Bukan karena mereka tidak tahu. Tetapi karena dunia terlalu halus merayu. Ia tidak datang dengan wajah kasar. Ia datang dengan kenyamanan. Dengan keamanan. Dengan janji stabilitas. Dan hati yang tidak waspada bisa tertidur.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَـقَدْ ذَرَأْنَا لِجَـهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَا لْاِ نْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَا ۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَا ۖ وَلَهُمْ اٰذَا نٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَا ۗ اُولٰٓئِكَ كَا لْاَ نْعَا مِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ ۗ اُولٰٓئِكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ
wa laqod zaro-naa lijahannama kasiirom minal-jinni wal-ingsi lahum quluubul laa yafqohuuna bihaa wa lahum a’yunul laa yubshiruuna bihaa wa lahum aazaanul laa yasma’uuna bihaa, ulaaa-ika kal-an’aami bal hum adholl, ulaaa-ika humul-ghoofiluun
“Dan sungguh, akan Kami isi Neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 179) .
Kesederhanaan yang bermartabat bukan berarti menjauh dari dunia. Ia adalah kemampuan untuk berdiri di tengah dunia tanpa kehilangan arah. Memiliki harta, tetapi tidak menggadaikan nurani. Memiliki jabatan, tetapi tidak membungkam kebenaran. Memiliki pengaruh, tetapi tetap tunduk pada prinsip. Dunia boleh berada di tangan. Tetapi akhirat harus tetap berada di hati. Imam Malik mengajarkan kita satu hal yang sunyi namun dalam bahwa kebebasan sejati bukan ketika kita tidak memiliki apa-apa, melainkan ketika apa yang kita miliki tidak memiliki kita.
Dan mungkin, di tengah zaman yang bising ini,yang kita butuhkan bukan lebih banyak kekuasaan,bukan lebih banyak kekayaan, melainkan lebih banyak jiwa yang merdeka. Jiwa yang mampu berkata, aku akan menggunakan dunia, tetapi tidak akan menyembahnya.
Penulis : Brother Eggi Sudjana [ BES ] , di Kutip dari Adinda Ican (Adik Kandung dari AR Imbang Jaya ) .



