Mutiara Hikmah BES, Hari Sumpah Pemuda: Salah Memilih Teman Bisa Menjerumuskan, Persatuan Jadi Kunci Kebangkitan Bangsa

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Memperingati Hari Sumpah Pemuda pada Rabu, 28 Oktober 2026, Prof. Dr. Eggi Sudjana, S.H., M.Si., yang akrab disapa Brother Eggi Sudjana (BES), mengangkat tema refleksi yang mendalam melalui program Mutiara Hikmah, yakni pentingnya memilih teman dekat atau qarin yang dapat menyelamatkan, bukan justru menjerumuskan seseorang ke dalam kebinasaan.

Melalui tadabur Al-Qur’an bil Qur’an terhadap Surah As-Saffat ayat 51–57, BES menghubungkan kisah seorang penghuni surga yang mengenang teman dekatnya di dunia dengan makna Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, persatuan bangsa, serta tantangan moral yang dihadapi generasi muda Indonesia saat ini.

Dalam pemaparannya, BES menekankan bahwa teman dekat, sahabat, dan lingkungan pergaulan mempunyai pengaruh besar terhadap arah kehidupan seseorang. Teman dapat menguatkan keimanan dan mendorong kebaikan, tetapi juga dapat menanamkan keraguan, menyesatkan, dan hampir mencelakakan.

BES mengangkat frasa Al-Qur’an, “Inni Kana Li Qarin” yang berarti “Sesungguhnya aku dahulu pernah mempunyai seorang teman”, serta “Tallaahi In Kidta Laturdin” yang berarti “Demi Allah, engkau hampir saja mencelakakanku”.

Menurut BES, pesan tersebut relevan dengan peringatan Sumpah Pemuda karena persatuan Indonesia merupakan ikrar untuk memilih jalan perjuangan bersama, bukan terpecah belah oleh perbedaan.

QS As-Saffat Ayat 51–57: Kisah Teman yang Hampir Mencelakakan

Dalam materi Mutiara Hikmah Rabu, 28 Oktober 2026, BES mengawali pembahasannya dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

QS. As-Saffat ayat 51:

قَالَ قَائِلٌ مِّنْهُمْ اِنِّيْ كَا نَ لِيْ قَرِيْنٌ

Qaala Qaa’ilun Minhum Inni Kana Li Qarin.

“Berkatalah salah seorang di antara mereka, ‘Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) pernah mempunyai seorang teman.’”

(QS. As-Saffat [37]: 51).

QS. As-Saffat ayat 52:

يَقُوْلُ اَءِ نَّكَ لَمِنَ الْمُصَدِّقِيْنَ

Yaquulu A’innaka Laminal Musaddiqin.

“Yang berkata, ‘Apakah sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang membenarkan (hari Berbangkit)?’”

(QS. As-Saffat [37]: 52).

QS. As-Saffat ayat 53:

ءَاِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَا بًا وَّعِظَا مًا ءَاِنَّا لَمَدِيْنُوْنَ

A’idza Mitna wa Kunna Turaban wa ‘Izhaaman A’inna Lamadiinuun.

“Apabila kita telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?”

(QS. As-Saffat [37]: 53).

QS. As-Saffat ayat 54:

قَا لَ هَلْ اَنْتُمْ مُّطَّلِعُوْنَ

Qaala Hal Antum Muttali’un.

“Dia berkata, ‘Maukah kamu meninjau (temanku itu)?’”

(QS. As-Saffat [37]: 54).

QS. As-Saffat ayat 55:

فَا طَّلَعَ فَرَا هُ فِيْ سَوَآءِ الْجَحِيْمِ

Faththala’a Faraahu Fi Sawa’il Jahim.

“Maka dia meninjaunya, lalu dia melihat (teman)-nya itu di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala.”

(QS. As-Saffat [37]: 55).

QS. As-Saffat ayat 56:

قَا لَ تَا للّٰهِ اِنْ كِدْتَّ لَـتُرْدِيْنِ

Qaala Tallaahi In Kidta Laturdin.

“Dia berkata, ‘Demi Allah, engkau hampir saja mencelakakanku.’”

(QS. As-Saffat [37]: 56).

QS. As-Saffat ayat 57:

وَلَوْلَا نِعْمَةُ رَبِّيْ لَـكُنْتُ مِنَ الْمُحْضَرِيْنَ

Wa Lawla Ni’matu Rabbi Lakuntu Minal Muhdharin.

“Dan sekiranya bukan karena nikmat Tuhanku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka).”

(QS. As-Saffat [37]: 57).

BES kemudian mengajukan pertanyaan mendasar: bagaimana memaknai rangkaian ayat tersebut melalui tadabur Al-Qur’an bil Qur’an jika dikaitkan dengan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan kondisi objektif Indonesia saat ini?

Menurut BES, pada peringatan 98 tahun Sumpah Pemuda, pesan qarin atau teman dekat menjadi sangat relevan. Sumpah Pemuda, dengan ikrar satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa, dimaknai sebagai komitmen memilih jalan persatuan serta sahabat seperjuangan yang benar.

Dalam penjelasannya, BES menguraikan tujuh lapisan tadabur untuk menjelaskan hubungan antara pilihan teman, keimanan, tanggung jawab akhirat, persatuan, dan masa depan generasi muda.

Tujuh Lapisan Tadabur Al-Qur’an bil Qur’an

1. Siapa Qarin? Teman Dekat yang Bisa Memengaruhi Jalan Hidup

BES menjelaskan bahwa qarin dalam pembahasannya bukan sekadar sahabat atau teman biasa, melainkan teman dekat yang selalu bersama, berada dalam satu komunitas, dan perkataannya didengar setiap hari. Dalam pemaparannya, qarin dapat berupa setan ataupun manusia.

BES menghubungkan pembahasan tersebut dengan beberapa ayat Al-Qur’an.

QS. Az-Zukhruf [43]: 36:

Wa Man Ya’syu ‘An Dzikrir Rahmani Nuqayyidh Lahu Syaithanan Fahuwa Lahu Qarin.

“Barang siapa berpaling dari peringatan Allah Yang Maha Pengasih, Kami biarkan setan menyesatkannya, maka setan itu menjadi teman yang selalu menyertainya.”

Dalam penjelasan BES, ayat tersebut menunjukkan bahwa qarin dapat berupa setan yang membisikkan keraguan, sebagaimana digambarkan dalam QS. As-Saffat ayat 52 melalui pertanyaan, “A’innaka Laminal Musaddiqin” — apakah kamu termasuk orang-orang yang membenarkan hari kebangkitan?

Selanjutnya, BES mengutip QS. Qaf [50]: 27:

Qaala Qarinuhu Rabbana Ma Athghaituhu Wa Lakin Kana Fi Dhalalin Ba’id.

“Yang menyertainya berkata, ‘Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya, tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh.’”

Menurut BES, pada hari kiamat, qarin setan dapat berlepas diri dari orang yang dahulu disertainya. Ia mengaitkan hal ini dengan pembahasan tabarra dalam Mutiara Hikmah sebelumnya, yakni Surah Al-Baqarah ayat 166 tentang pihak yang diikuti berlepas diri dari para pengikutnya.

BES juga merujuk QS. An-Nisa [4]: 38:

Wa Man Yakunis Syaithanu Lahu Qarinan Fa Sa’a Qarina.

“Barang siapa menjadikan setan sebagai teman, maka setan itu adalah teman yang seburuk-buruknya.”

Selain itu, BES menghubungkannya dengan QS. Al-Kahfi [18]: 34–42, mengenai kisah dua pemilik kebun.

Baca juga:  Mutiara Hikmah BES: Hampir Semua Perubahan Besar Muncul dengan Kegaduhan

Dalam ayat tersebut terdapat gambaran seseorang yang berkata kepada temannya:

Wa Kana Lahu Tsamarun Fa Qaala Li Shahibihi Wa Huwa Yuhawiruhu Ana Aktsaru Minka Malan Wa A’azzu Nafara.

“Dan dia mempunyai kekayaan besar, maka dia berkata kepada kawannya ketika bercakap-cakap dengannya, ‘Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikutku lebih kuat.’”

Kemudian muncul teguran:

A Kafarta Billadzi Khalaqaka Min Turab?

“Apakah engkau ingkar kepada Tuhan yang menciptakanmu dari tanah?”

BES menilai bahwa kisah tersebut mempunyai kemiripan tema dengan Surah As-Saffat ayat 52–53, yaitu hubungan pertemanan yang berkaitan dengan pengingkaran terhadap kekuasaan Allah dan kehidupan setelah kematian. Dalam kisah pemilik kebun, kesombongan terhadap harta dan pengikut juga berujung pada kehancuran kebun.

BES kemudian mengaitkan pesan tersebut dengan kritiknya terhadap cara pandang materialistis, buzzer bayaran, serta pihak yang disebutnya sebagai ulama suu atau ulama jahat yang hanya memikirkan kehidupan dunia dan lalai terhadap akhirat.

Ia merujuk QS. Ar-Rum [30]: 7, yang menggambarkan orang-orang yang hanya mengetahui perkara lahiriah kehidupan dunia, tetapi lalai terhadap akhirat.

Dalam kerangka tadabur BES, qarin dalam Surah As-Saffat ayat 51 merupakan teman dekat di dunia yang terus membisikkan keraguan tentang hari kebangkitan dan pertanggungjawaban manusia di hadapan Allah.

2. Mengapa Penghuni Surga Masih Mengingat Teman Dunia?

BES melanjutkan pembahasan dengan menghubungkan QS. As-Saffat ayat 51 dengan QS. Ath-Thur [52]: 25.

Wa Aqbaala Ba’dhuhum ‘Ala Ba’dhin Yatasa’alun.

“Dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling bertanya.”

Menurut BES, ayat tersebut menggambarkan penghuni surga yang saling berbincang dan bertanya. Ia mengibaratkannya sebagai suasana berkumpul dan saling bercerita di surga.

Dalam konteks itulah salah seorang di antara mereka berkata:

Qaala Qaa’ilun Minhum Inni Kana Li Qarin.

“Berkatalah salah seorang di antara mereka, ‘Sesungguhnya aku dahulu pernah mempunyai seorang teman.’”

BES juga menghubungkan pembahasan tersebut dengan QS. As-Saffat ayat 50 yang menggambarkan penghuni surga saling menghadap dan bertanya satu sama lain.

Hikmah yang disampaikan BES: teman merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi perjalanan hidup seseorang. Karena itu, manusia harus memperhatikan siapa teman dekatnya.

BES mengingatkan hadis:

Al-Mar’u ‘Ala Dini Khalilihi.

“Seseorang berada di atas agama teman dekatnya.”

Melalui pesan tersebut, BES mengajak generasi muda untuk memilih lingkungan pergaulan yang mendorong keimanan, akhlak, dan kebaikan, bukan lingkungan yang menjauhkan manusia dari peringatan Allah.

3. Mengapa Temannya Terlihat di Tengah Neraka Jahim?

BES kemudian menyoroti frasa Faththala’a Faraahu Fi Sawa’il Jahim dalam QS. As-Saffat ayat 55.

Artinya, penghuni surga itu meninjau, lalu melihat temannya di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala.

BES menekankan frasa Sawa’il Jahim, yang dalam penjelasannya dimaknai sebagai bagian tengah atau pusat neraka, bukan sekadar bagian pinggir.

Untuk memperluas tadabur, BES menghubungkannya dengan QS. Al-A’raf [7]: 44–50, yang menggambarkan penghuni surga dan penghuni neraka saling melihat serta berseru satu sama lain.

Salah satu penggalan ayat yang dikutip adalah:

Wa Nada Ashabul Jannati Ashaban Nari An Qad Wajadna Ma Wa’adana Rabbuna Haqqa.

“Dan penghuni surga menyeru penghuni neraka, ‘Sungguh, kami telah memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepada kami itu benar.’”

Dalam penjelasan BES, gambaran tersebut menjadi pengingat tentang akibat pilihan hidup manusia dan pentingnya mensyukuri nikmat Allah.

Ia kembali menghubungkannya dengan QS. As-Saffat ayat 57:

Wa Lawla Ni’matu Rabbi Lakuntu Minal Muhdharin.

“Dan sekiranya bukan karena nikmat Tuhanku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret ke neraka.”

BES menilai bahwa teman yang digambarkan berada di tengah neraka dalam kisah tersebut bukanlah contoh sederhana tentang perselisihan pertemanan. Dalam pembacaannya, kisah itu berkaitan dengan pengingkaran terhadap hari kebangkitan dan pertanggungjawaban akhirat.

Ia menghubungkan pesan tersebut dengan Mutiara Hikmah sebelumnya tentang ungkapan Wa Salamun ‘Alaihi Yauma Yuladu Wa Yauma Yamutu Wa Yauma Yub’atsu Hayya, yang membicarakan hari kelahiran, kematian, dan kebangkitan.

4. Mengapa Penghuni Surga Berkata, “Demi Allah, Engkau Hampir Mencelakakanku”?

BES menempatkan QS. As-Saffat ayat 56 sebagai salah satu inti pesan Mutiara Hikmah kali ini.

Tallaahi In Kidta Laturdin.

“Demi Allah, engkau hampir saja mencelakakanku.”

Menurut BES, ungkapan tersebut memperlihatkan penyesalan seseorang yang menyadari bahwa pengaruh temannya hampir menjerumuskannya ke dalam kebinasaan.

BES menghubungkannya dengan QS. Al-Furqan [25]: 28–29:

Ya Wailata Laitani Lam Attakhidz Fulanan Khalila. Laqad Adhallani ‘Anidz Dzikri Ba’da Idz Ja’ani.

“Celakalah aku! Sekiranya dahulu aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku. Sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan ketika peringatan itu telah datang kepadaku.”

BES melihat kesamaan pesan antara kedua ayat tersebut: teman dekat dapat membawa pengaruh yang sangat besar, termasuk menyesatkan seseorang dari peringatan Allah.

Ia juga mengutip QS. Al-Ahzab [33]: 67:

Wa Qalu Rabbana Inna Atha’na Sadatana Wa Kubara’ana Fa Adhallunas Sabila.

“Dan mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar.’”

Dalam pemaparannya, BES mengaitkan peringatan tersebut dengan kritik terhadap ulama suu atau ulama jahat, buzzer bayaran, dan pihak-pihak yang menurutnya menyebarkan pemikiran bahwa uang dapat membeli kebenaran.

Baca juga:  Mutiara Hikmah, BES: Cara Setan Menggoda Manusia, dari Keinginan hingga Bisikan

Ia juga mengkritik narasi yang, menurut penilaiannya, hanya menonjolkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), tetapi mengabaikan dimensi moral dan kehidupan akhirat. Ia menghubungkan hal tersebut dengan pembahasan generasi emas dan kelalaian terhadap akhirat dalam QS. Ar-Rum ayat 7.

BES turut merujuk pembahasan Mutiara Hikmah sebelumnya mengenai Ahli Kitab dan QS. Ali ‘Imran ayat 67 tentang Nabi Ibrahim yang lurus, bukan Yahudi dan bukan Nasrani.

Pesan yang ditekankan ialah agar pemuda tidak menyerahkan pemikiran dan pendiriannya begitu saja kepada lingkungan pergaulan atau tokoh yang pengaruhnya justru menjauhkan mereka dari kebenaran.

5. Walau La Ni’matu Rabbi: Nikmat Allah yang Menyelamatkan

BES kemudian mengajukan pertanyaan: nikmat apakah yang menyelamatkan penghuni surga tersebut dari nasib temannya?

Dalam penjelasannya, BES menghubungkan QS. As-Saffat ayat 57 dengan QS. An-Naml [27]: 19, yang menjadi salah satu materi Mutiara Hikmah pada Senin sebelumnya.

Ia menyebut tiga doa Nabi Sulaiman sebagai bagian penting dari pelajaran tersebut.

Pertama, memohon ilham untuk bersyukur.

Rabbi Auzi’ni An Asykura Ni’matakallati An’amta ‘Alayya.

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku.”

BES menekankan bahwa manusia harus bersyukur atas nikmat Allah, bukan mengingkarinya sebagaimana gambaran teman yang meragukan hari kebangkitan.

Kedua, memohon kemampuan beramal saleh yang diridai Allah.

Wa An A’mala Shalihan Tardhahu.

“Dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai.”

Menurut BES, amal saleh harus dilakukan karena Allah dan bukan semata-mata karena pengaruh teman atau demi penilaian manusia. Ia mengingatkan agar seseorang membebaskan diri dari sifat riya, sum’ah, dan ujub.

Ketiga, memohon dimasukkan ke dalam golongan hamba yang saleh.

Wa Adkhilni Birahmatika Fi ‘Ibadikash Shalihin.

“Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.”

BES menyoroti frasa Birahmatika, yakni dengan rahmat Allah. Menurut penjelasannya, manusia tidak boleh hanya mengandalkan amalnya sendiri, tetapi harus memohon rahmat dan pertolongan Allah agar tetap berada di jalan yang benar.

BES kemudian menegaskan bahwa Walau La Ni’matu Rabbi atau “sekiranya bukan karena nikmat Tuhanku” dapat ditadaburi sebagai nikmat hidayah, nikmat dijauhkan dari qarin yang buruk, dan nikmat dipertemukan dengan qarin yang baik.

Ia menghubungkan hal itu dengan kisah Nabi Sulaiman yang tersenyum ketika mendengar perkataan seekor semut, sebagaimana digambarkan melalui frasa Fatabassama Dhahikan Min Qauliha.

Dalam pemaknaan BES, kisah tersebut menjadi pengingat tentang sikap rendah hati, prasangka baik, dan pentingnya memilih pengaruh yang membawa kebaikan.

6. Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928: Ikrar Memilih Qarin dan Sahabat Seperjuangan

Bagian ini menjadi inti pengaitan tadabur QS. As-Saffat ayat 51–57 dengan peringatan Sumpah Pemuda.

BES menyebut Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sebagai ikrar pemuda Indonesia untuk membangun persatuan di tengah perbedaan daerah, suku, dan bahasa.

Isi ikrar Sumpah Pemuda tersebut adalah:

Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia.

Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia.

Kami Putra dan Putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Dalam tadaburnya, BES memaknai ikrar tersebut sebagai kebalikan dari pengaruh qarin yang menanamkan keraguan, memecah belah, dan menjauhkan manusia dari keyakinan terhadap kebangkitan.

BES kembali mengutip perkataan teman dalam QS. As-Saffat ayat 52:

A’innaka Laminal Musaddiqin.

“Apakah sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang membenarkan hari kebangkitan?”

Dilanjutkan dengan QS. As-Saffat ayat 53:

A’idza Mitna wa Kunna Turaban wa ‘Izhaaman A’inna Lamadiinuun.

“Apabila kita telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kita benar-benar akan dibangkitkan untuk diberi pembalasan?”

BES menggunakan pertanyaan tersebut sebagai titik berangkat refleksi tentang keyakinan, keberanian, dan persatuan. Dalam analogi yang disampaikannya, pemuda Indonesia pada 1928 memilih untuk tidak menyerah kepada perpecahan, melainkan menyatukan diri dalam satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa.

BES kemudian mengaitkan pesan itu dengan perjalanan menuju kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, yakni 17 tahun setelah Sumpah Pemuda.

Dalam pemaknaannya, pemuda dari tanah Jawa, Sunda, Batak, Ambon, Sulawesi, Makassar, Papua, Sumatera, dan Kalimantan memiliki latar belakang yang berbeda, tetapi menyatukan diri sebagai bangsa Indonesia.

BES menafsirkan keberhasilan perjuangan tersebut sebagai gambaran kebangkitan bangsa yang lahir dari persatuan dan perjuangan bersama.

Ia juga membuat analogi kolonialisme sebagai keadaan penderitaan yang harus ditinggalkan. Menurutnya, apabila pemuda saat itu memilih perpecahan dan mengikuti pengaruh yang menolak persatuan, perjuangan menuju kemerdekaan akan semakin sulit.

BES menghubungkan hal itu dengan frasa QS. As-Saffat ayat 56:

Tallaahi In Kidta Laturdin.

“Demi Allah, engkau hampir saja mencelakakanku.”

Dalam konteks sejarah, BES memaknai pengaruh yang mendorong pemuda tetap terpecah berdasarkan identitas daerah sebagai qarin buruk yang berpotensi menghambat persatuan dan perjuangan bangsa.

Sebaliknya, Sumpah Pemuda dimaknai sebagai pilihan untuk membangun ikatan perjuangan yang benar.

BES juga menghubungkan persatuan dengan QS. As-Saffat ayat 57:

Wa Lawla Ni’matu Rabbi Lakuntu Minal Muhdharin.

“Dan sekiranya bukan karena nikmat Tuhanku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret ke neraka.”

Dalam analogi BES, nikmat tersebut mencakup nikmat persatuan yang memungkinkan bangsa Indonesia berjuang bersama melawan kolonialisme.

Baca juga:  Prof Eggi Sudjana: Lima Ciri Manusia yang Dicintai Allah

BES kemudian menekankan bahwa pemuda 1928 memilih sahabat seperjuangan yang benar: bukan pihak yang menanamkan keraguan terhadap kemampuan bangsa untuk bangkit, melainkan pihak yang menguatkan keyakinan, keberanian, dan komitmen bersama.

Ia menghubungkan hal tersebut dengan pertanyaan:

Hal Antum Muttali’un.

“Maukah kamu meninjau (temanku itu)?”

Menurut BES, pertanyaan itu dapat menjadi bahan introspeksi bagi pemuda masa kini: apakah mereka akan mengikuti pengaruh yang menjerumuskan, atau memilih lingkungan yang mendorong persatuan, keimanan, dan tanggung jawab?

Bagi BES, Sumpah Pemuda adalah ikrar untuk memilih teman, sahabat, dan rekan seperjuangan yang benar, bukan qarin yang mencelakakan.

7. Kesimpulan Tadabur untuk Pemuda Indonesia pada 28 Oktober 2026

Dalam bagian penutup pembahasan tujuh lapisan tadabur, BES merangkum sejumlah pelajaran yang menurutnya relevan bagi generasi muda Indonesia 98 tahun setelah Sumpah Pemuda.

Pertama, setiap pemuda harus memperhatikan pengaruh teman dekatnya.

QS. As-Saffat ayat 51–57 menggambarkan seseorang yang mengenang teman dekatnya di dunia. Dalam pemaknaan BES, teman dapat membisikkan keraguan terhadap hari kebangkitan dan pertanggungjawaban akhirat, atau sebaliknya mendorong seseorang untuk tetap beriman dan berbuat baik.

BES menekankan pentingnya memilih qarin yang menguatkan keyakinan dan menjauhkan diri dari pengaruh buruk.

Kedua, Sumpah Pemuda merupakan pelajaran tentang persatuan dan kebangkitan bangsa.

BES memaknai ikrar 28 Oktober 1928 sebagai jawaban pemuda Indonesia terhadap perpecahan pada masa kolonial.

Satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa menjadi landasan persatuan yang berperan dalam perjalanan bangsa menuju kemerdekaan pada 1945.

Ketiga, pemuda masa kini harus waspada terhadap pengaruh yang merusak nilai moral.

BES mengkritik sejumlah pengaruh yang menurutnya dapat menyesatkan generasi muda, antara lain buzzer bayaran yang dinilainya membenarkan segala sesuatu dengan uang, narasi generasi emas yang hanya mengutamakan indikator ekonomi, serta perilaku riya, bakhil, dan ujub.

Ia juga mengingatkan tentang perilaku maksiat, pesta pora, dan menenggak minuman keras yang dibahasnya dalam Mutiara Hikmah sebelumnya. Selain itu, ia mengkritik kecenderungan menjadikan manusia atau uang sebagai otoritas tertinggi hingga melupakan Allah.

Dalam kaitan ini, BES mengangkat prinsip Kalimah Sawa:

Alla Na’buda Illallah, Wa La Nusyrika Bihi Syai’an, Wa La Yattakhidza Ba’dhuna Ba’dhan Arbabam Min Dunillah.

“Bahwa kita tidak menyembah selain Allah, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan tidak menjadikan sebagian kita sebagai tuhan-tuhan selain Allah.”

BES menghubungkan prinsip tersebut dengan peringatan agar manusia tidak menempatkan uang, kepentingan,

BES menghubungkan prinsip tersebut dengan peringatan agar manusia tidak menempatkan uang, kepentingan, atau figur tertentu di atas nilai kebenaran.

Keempat, mengikuti qarin yang buruk dapat membawa penyesalan.

BES mengingatkan kembali QS. As-Saffat ayat 55–57 tentang seseorang yang melihat temannya di tengah neraka dan menyadari bahwa temannya itu hampir mencelakakannya.

Ia menghubungkan pesan tersebut dengan QS. Al-Baqarah ayat 166–167 mengenai keterputusan hubungan antara pihak yang diikuti dan pengikutnya pada hari kiamat.

Menurut BES, gambaran itu menjadi peringatan agar pemuda tidak mengikuti pihak yang mendorong kezaliman atau mengabaikan pertanggungjawaban moral.

Kelima, mengikuti qarin yang baik berarti membangun persatuan, rasa syukur, dan amal saleh.

BES mengajak generasi muda meneladani semangat pemuda 1928 yang mengutamakan persatuan, serta mengambil pelajaran dari kisah Nabi Sulaiman yang tersenyum mendengar perkataan semut.

Ia juga menghubungkan pesan tersebut dengan ungkapan:

Wa Salamun ‘Alaihi Yauma Wulida Wa Yauma Yamutu Wa Yauma Yub’atsu Hayya.

“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadanya pada hari kelahirannya, hari wafatnya, dan hari dia dibangkitkan hidup kembali.”

BES mengaitkannya dengan pembahasan tentang Nabi Yahya dan makna husnul khatimah, sebagaimana dijelaskan dalam Mutiara Hikmah sebelumnya.

Menurut BES, keselamatan tidak hanya berkaitan dengan keberhasilan duniawi, tetapi juga dengan nikmat hidayah, persatuan, syukur, amal saleh yang diridai Allah, dan rahmat-Nya agar manusia termasuk golongan hamba yang saleh.

Pada bagian akhir, BES kembali menegaskan bahwa makna Sumpah Pemuda dalam tadabur kali ini adalah komitmen untuk tidak memilih qarin yang menanamkan keraguan dan perpecahan, melainkan memilih sahabat yang menguatkan iman, persatuan, serta perjuangan untuk kebaikan.

Pertanyaan “Hal Antum Muttali’un” menjadi ajakan untuk meninjau kembali arah kehidupan: apakah seseorang akan mengikuti pengaruh yang menjerumuskan atau memilih jalan yang membawa keselamatan?

Dalam pemaknaan BES, jawaban yang diwariskan oleh pemuda 1928 adalah persatuan: satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa, yang menjadi bagian penting dari perjalanan menuju kemerdekaan Indonesia.

Penutup: Jangan Salah Memilih Teman dan Arah Perjuangan

Melalui Mutiara Hikmah Rabu, 28 Oktober 2026, Brother Eggi Sudjana mengajak pemuda Indonesia menjadikan peringatan Sumpah Pemuda bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk mengevaluasi pergaulan, prinsip hidup, tanggung jawab moral, dan komitmen terhadap persatuan bangsa.

QS. As-Saffat ayat 51–57, dalam tadabur yang disampaikan BES, mengingatkan bahwa pengaruh teman dekat dapat membawa seseorang menuju kebaikan atau justru menjerumuskannya ke dalam penyesalan.

Sementara itu, Sumpah Pemuda menjadi pengingat sejarah bahwa perbedaan tidak harus berakhir dengan perpecahan. Dengan komitmen bersama, pemuda dari berbagai latar belakang dapat membangun persatuan dan memperjuangkan masa depan bangsa.

BES menutup materi dengan ungkapan:

Wallahu A’lam.

Salam Jihad dan Sabar,

Brother Eggi Sudjana (BES)

Latest

Mutiara Hikmah BES: Janji Allah dalam QS An-Nur 55 dan Kaitannya dengan Sumpah Pemuda

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. Eggi Sudjana,...

Dinas Tata Ruang Kabupaten Bogor Akui PT Dejavu Belum Kantongi PBG, Satpol PP Didesak Bertindak

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Dinas Tata Ruang Kabupaten...

KPK Panggil Wakil Bupati Bogor Ade Ruhandi dalam Kasus Dugaan Korupsi Upah Pungut Pajak

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Komisi Pemberantasan Korupsi...

Newsletter

Don't miss

Mutiara Hikmah BES: Janji Allah dalam QS An-Nur 55 dan Kaitannya dengan Sumpah Pemuda

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. Eggi Sudjana,...

Dinas Tata Ruang Kabupaten Bogor Akui PT Dejavu Belum Kantongi PBG, Satpol PP Didesak Bertindak

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Dinas Tata Ruang Kabupaten...

KPK Panggil Wakil Bupati Bogor Ade Ruhandi dalam Kasus Dugaan Korupsi Upah Pungut Pajak

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Komisi Pemberantasan Korupsi...

Mutiara Hikmah BES: Janji Allah dalam QS An-Nur 55 dan Kaitannya dengan Sumpah Pemuda

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. Eggi Sudjana, S.H., M.Si., atau yang akrab disapa Brother Eggi Sudjana (BES), dalam Mutiara Hikmah Kamis, 29...

Dinas Tata Ruang Kabupaten Bogor Akui PT Dejavu Belum Kantongi PBG, Satpol PP Didesak Bertindak

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Dinas Tata Ruang Kabupaten Bogor mengakui bahwa PT Dejavu belum mengantongi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) untuk bangunan tiga lantai...

KPK Panggil Wakil Bupati Bogor Ade Ruhandi dalam Kasus Dugaan Korupsi Upah Pungut Pajak

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil Wakil Bupati Bogor, Ade Ruhandi, sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi pemotongan upah...