BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. Eggi Sudjana, S.H., M.Si., atau yang akrab disapa Brother Eggi Sudjana (BES), dalam Mutiara Hikmah Kamis, 29 Oktober 2026, mengangkat pembahasan tentang janji Allah SWT mengenai kekuasaan, keteguhan agama, dan perubahan keadaan dari rasa takut menjadi aman sentosa sebagaimana tertuang dalam QS An-Nur ayat 55.
Pembahasan tersebut dikaitkan dengan tekad Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Menurut BES, Sumpah Pemuda merupakan syarat duniawi, sedangkan janji Allah merupakan janji ilahiah. Keduanya harus berjalan bersama agar persatuan, keimanan, dan amal saleh menjadi landasan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam kajiannya, BES menyoroti tiga tekanan utama dalam ayat tersebut, yakni janji Allah memberikan kekuasaan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, meneguhkan agama yang diridai-Nya, serta mengubah keadaan dari ketakutan menjadi aman sentosa.
Allah SWT Berfirman dalam QS An-Nur Ayat 55
BISMILLAH, BES: Mutiara Hikmah Kamis, 29 Oktober 2026.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَـيَسْتَخْلِفَـنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَـيُبَدِّلَــنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًا ۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـئًا ۗ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ
Artinya:
“ALLAH telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”
(QS. An-Nur 24: Ayat 55).
Bahwa ada tiga hal yang ALLAH tekankan dalam ayat, yaitu:
JANJI ALLAH MEMBERI KEKUASAAN pada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan.
ALLAH TEGUHKAN KUATNYA AQIDAH dan tidak melakukan syirik bagi orang-orang tersebut.
MAMPU MENGUBAH KEADAAN dari rasa takut menjadi aman sentosa. Bagi yang mengingkari janji-Nya dengan tetap kafir, maka itulah orang fasik.
Pertanyaan sederhananya, apakah JANJI ALLAH ini ada kaitannya dengan TEKAD SUMPAH PEMUDA TANGGAL 28 KEMARIN?
Kamis, 29 Oktober 2026 – HARI INI – sehari setelah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 – QS An-Nur 24:55 – Wa’adallahulladzina Amanu Minkum Wa Amilush Shalihat Layastakhlifannahum Fil Ardi – JANJI ALLAH MEMBERI KEKUASAAN – TIGA TEKANAN – APA KAITANNYA DENGAN TEKAD SUMPAH PEMUDA KEMARIN?
Jawaban: 100% KAITANNYA ERAT.
SUMPAH PEMUDA ADALAH SYARAT DUNIAWI – AYAT INI ADALAH JANJI ILAHIYAH – DUA-DUANYA HARUS BERSAMA – BARU JANJI ALLAH TURUN.
Seperti Ahad Kalimatun Sawa – Senin 3 Doa Sulaiman – Selasa 3 Hari Salam – Rabu Qarin yang hampir mencelakakan – Kamis hari ini Janji Kekuasaan.
MH Kamis: Janji Kekuasaan dan Tiga Tekanan Allah
MH Kamis hari ini, 29 Oktober 2026 – sehari setelah Rabu Sumpah Pemuda – BES mengambil ayat paling monumental tentang kekuasaan, yaitu An-Nur 55.
Satu-satunya ayat di Qur’an yang memakai tiga Lam Taukid, menurut penjelasan BES, adalah:
Layastakhlifannahum.
Walayumakkinanna.
Walayubaddilannahum.
Tiga kali sungguh-sungguh pasti – janji Allah pasti ditepati – dan BES membagi tiga tekanan – tepat – mari kita bedah tujuh lapis – Qur’an bil Qur’an – Sunnah – Sirah – dan Sumpah Pemuda.
TEKS LENGKAP QS AN-NUR 24:55 – JANJI ISTIKHLAF – JANJI KEKUASAAN DI BUMI
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Wa’adallahulladzina Amanu Minkum Wa Amilush Shalihat Layastakhlifannahum Fil Ardi Kamas Takhlafal Ladzina Min Qablihim Walayumakkinanna Lahum Dinahumul Ladzir Tadha Lahum Walayubaddilannahum Min Ba’di Khaufihim Amna Ya’budunani La Yusyrikuna Bi Syai’a Wa Man Kafara Ba’da Dzalika Fa Ulaika Humul Fasiqun.
Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah keadaan mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa tetap kafir setelah janji itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.
Tiga Tekanan Allah Menurut Urutan Al-Qur’an
Tiga tekanan Allah seperti yang BES tulis, tetapi urutan Qur’an berbeda dan harus mengikuti urutan Qur’an karena, menurut penjelasan BES, urutan Qur’an adalah urutan sejarah.
BES menulis:
Janji Allah memberi kekuasaan pada orang beriman dan amal saleh.
Allah teguhkan kuatnya akidah dan tidak syirik.
Mampu mengubah keadaan dari rasa takut menjadi aman sentosa. Bagi yang mengingkari janji dengan tetap kafir, maka fasik.
Bahwa urutan Qur’an:
1. LAYASTAKHLIFANNAHUM FIL ARDI
Sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi – Istikhlaf – kekuasaan – seperti Daud, Khalifatan Fil Ardi Fahkum Bil Haqqi, Jumat – seperti Sulaiman, Senin, punya Junud Jin Ins Thayr.
2. WALAYUMAKKINANNA LAHUM DINAHUMUL LADZIR TADHA LAHUM
Sungguh akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridai – Tamkin Ad-Din – peneguhan agama – agama yang diridai – seperti Ali Imran 19, Innad Dina Indallahil Islam – bukan Yahudi Nasrani, Ahad Ali Imran 67, Ibrahim Hanifan Muslima.
3. WALAYUBADDILANNAHUM MIN BA’DI KHAUFIHIM AMNA
Sungguh benar-benar mengubah keadaan mereka setelah takut menjadi aman sentosa – Tabdil Khauf Ila Amn – dari takut ke aman – seperti Wa Salamun Alaihi Yauma Wulida Wa Yauma Yamutu, Selasa – salam kesejahteraan – bukan takut.
Syaratnya di tengah: YA’BUDUNANI LA YUSYRIKUNA BI SYAI’A.
Mereka menyembah-Ku tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun – La Yusyrikuna Bi Syai’a – tidak syirik sedikit pun – seperti Ahad Kalimatun Sawa, Alla Na’budu Illallah Wa La Nusyrika Bihi Syai’a Wa La Yattakhidza Ba’dhuna Arbaban Min Dunillah – tidak menjadikan manusia sebagai arbab – uang korupsi sebagai Tuhan.
Ancaman: WA MAN KAFARA BA’DA DZALIKA FA ULAIKA HUMUL FASIQUN.
Siapa kafir setelah janji itu maka mereka fasik – seperti Tabarra Ahad Baqarah 166–167 – terputus asbab hasarat, tidak keluar dari neraka.
Tujuh Lapis Jawaban: Apa Kaitan Janji Allah dengan Tekad Sumpah Pemuda?
1. Sumpah Pemuda adalah Wa’dun Nas, Janji Manusia, Sedangkan Ayat Ini Wa’dullah, Janji Allah
Sumpah Pemuda adalah Wa’dun Nas – janji manusia – ayat ini adalah Wa’dullah – janji Allah. Wa’dun Nas harus didahului sebelum Wa’dullah turun – seperti QS Ar-Ra’d 11, Innallaha La Yughayyiru Ma Biqaumin Hatta Yughayyiru Ma Bi Anfusihim.
Bahwa ALLAH tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri – Ar-Ra’d 11.
Sumpah Pemuda 1928 adalah perubahan Ma Bi Anfusihim – dari terpecah jadi bersatu – Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa – baru setelah itu Allah mengubah Ma Bi Qaum – dari terjajah jadi merdeka – dari takut jadi aman – Walayubaddilannahum Min Ba’di Khaufihim Amna.
Pemuda 1928 tidak langsung meminta kekuasaan – Layastakhlifannahum Fil Ardi – tetapi mereka mulai dengan perubahan diri – Sumpah – Tekad – Janji – seperti Wa’adallahulladzina Amanu Minkum Wa Amilush Shalihat – beriman dan amal saleh – Sumpah Pemuda adalah amal saleh persatuan – seperti As-Saffat Rabu kemarin, Inni Kana Li Qarin – memilih Qarin baik – bukan Qarin yang hampir mencelakakan, Tallaahi In Kidta Laturdin.
Bahwa kaitannya: Sumpah Pemuda adalah syarat duniawi – Layastakhlifannahum Fil Ardi adalah janji ilahiah – keduanya harus bersatu. Sumpah Pemuda tanpa iman dan amal saleh tidak akan dapat Istikhlaf – dan Istikhlaf tanpa Sumpah Pemuda, persatuan juga tidak akan langgeng.
2. Layastakhlifannahum Fil Ardi Kamas Takhlafal Ladzina Min Qablihim – Kekuasaan Seperti Orang Sebelum Mereka
Sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Ini sejarah – pemuda 1928 ingin seperti orang sebelum mereka – yaitu Sriwijaya, Majapahit, Demak – yang pernah Istikhlaf Fil Ardi – berkuasa di bumi Nusantara.
Bahwa ALLAH bilang Kamas Takhlafal Ladzina Min Qablihim – sebagaimana DIA menjadikan orang sebelum mereka berkuasa – siapa orang sebelum mereka?
Dalam tafsir Ibnu Katsir: Bani Israil setelah Firaun, Daud dan Sulaiman, dan sahabat Muhammad SAW setelah kafir Quraisy.
Bahwa untuk Indonesia: orang sebelum Sumpah Pemuda yang pernah Istikhlaf Fil Ardi adalah Prabu Siliwangi, Sriwijaya – Majapahit – Gajah Mada, Sumpah Palapa 1334 – Satu Nusa – mirip Sumpah Pemuda 1928 Satu Nusa – Demak – Aceh – mereka pernah berkuasa di bumi Nusantara.
Pemuda 1928 dengan Sumpah Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa ingin mengulang Kamas Takhlafal Ladzina Min Qablihim – ingin kembali berkuasa di bumi Nusantara seperti Majapahit – yang dulu pernah Istikhlaf – berkuasa dari Semenanjung sampai Papua.
Bahwa Sumpah Pemuda adalah tekad untuk dapat Layastakhlifannahum Fil Ardi – janji kekuasaan – dan Allah tunaikan 17 Agustus 1945 – 17 tahun setelah sumpah – Indonesia Istikhlaf Fil Ardi – berkuasa di bumi sendiri – setelah sebelumnya Kamas Takhlafal Ladzina Min Qablihim – seperti Majapahit.
3. Walayumakkinanna Lahum Dinahumul Ladzir Tadha Lahum – Meneguhkan Agama yang Diridai
Sungguh akan meneguhkan agama yang diridai – ini kaitan langsung dengan isi Sumpah Pemuda – bahasa persatuan – Bahasa Indonesia – adalah Din yang diteguhkan – karena bahasa adalah agama yang diridai untuk persatuan.
Bahwa ALLAH telah meneguhkan Dinahumul Ladzir Tadha Lahum – agama yang DIA ridai – apa agama yang diridai untuk Indonesia?
QS Ali Imran 19, Innad Dina Indallahil Islam – Islam adalah agama mayoritas Indonesia – tetapi dalam konteks Sumpah Pemuda – Din yang diteguhkan adalah Din persatuan – yaitu Bahasa Indonesia – Satu Bahasa – yang diridai – karena bahasa adalah Din – jalan hidup – yang menyatukan.
Pemuda 1928 memilih Bahasa Indonesia – bukan Bahasa Jawa, Sunda, Batak, Ambon – tetapi Bahasa Melayu yang diteguhkan menjadi Bahasa Indonesia – ini adalah Tamkin Ad-Din – peneguhan agama persatuan – seperti Tamkin Ad-Din Islam di Madinah setelah hijrah – dari takut jadi aman.
Jika Sumpah Pemuda tidak meneguhkan bahasa persatuan – maka Din tidak akan Mumakkin – tidak teguh – akan terpecah seperti Yugoslavia – seperti Uni Soviet – karena tidak punya bahasa persatuan yang diridai – maka Indonesia berhasil karena Walayumakkinanna Lahum Dinahum – Bahasa Indonesia diteguhkan.
Bahwa Bahasa Indonesia adalah bahasa yang La Yusyrikuna Bi Syai’a – tidak menyekutukan – karena Bahasa Indonesia tidak milik suku tertentu – tidak syirik kepada suku – tidak menjadikan suku sebagai arbab – seperti Ahad Kalimatun Sawa, Wa La Yattakhidza Ba’dhuna Arbaban Min Dunillah – tidak menjadikan sebagian kita sebagai tuhan selain Allah – Sumpah Pemuda tidak menjadikan Jawa sebagai tuhan – tidak menjadikan Sunda sebagai tuhan – tetapi satu bangsa Indonesia – La Yusyrikuna Bi Syai’a.
4. Walayubaddilannahum Min Ba’di Khaufihim Amna – Mengubah Takut Menjadi Aman Sentosa
Sungguh akan mengubah dari takut jadi aman sentosa – ini puncak Sumpah Pemuda – dari Khauf penjajahan jadi Amn kemerdekaan – dari takut diadu domba jadi aman bersatu.
Pemuda sebelum 1928 hidup dalam Khauf – takut – takut Belanda – takut diadu domba – takut beda suku – takut beda bahasa – takut seperti Qarin Rabu yang di Sawaal Jahim – tengah neraka penjajahan – Tallaahi In Kidta Laturdin – hampir celaka.
Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 adalah tekad untuk Tabdil – mengubah – dari Khauf jadi Amn – dari takut jadi aman – Satu Nusa – aman dari penjajahan – Satu Bangsa – aman dari adu domba – Satu Bahasa – aman dari salah paham.
Bahwa ALLAH tunaikan Walayubaddilannahum Min Ba’di Khaufihim Amna – 1945 – dari takut jadi aman – dari dijajah jadi merdeka – dari 350 tahun takut Belanda jadi aman sentosa Indonesia merdeka – seperti Wa Salamun Alaihi Yauma Wulida Wa Yauma Yamutu, Selasa – kesejahteraan pada hari lahir dan wafat – dari takut jadi salam.
Ini juga seperti Sulaiman, Senin – Fatabassama Dhahikan Min Qauliha – dari takut semut terinjak jadi senyum tawadhu – aman.
5. Ya’budunani La Yusyrikuna Bi Syai’a – Syarat Istikhlaf dan Sumpah Pemuda
Mereka menyembah-Ku tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun – ini syarat Istikhlaf – dan ini syarat Sumpah Pemuda – Sumpah Pemuda tidak syirik – tidak menjadikan suku sebagai Tuhan – tidak menjadikan bahasa daerah sebagai arbab – tetapi satu bangsa Indonesia.
MH Ahad kemarin lusa, BES membahas Kalimatun Sawa – Alla Na’budu Illallah Wa La Nusyrika Bihi Syai’a Wa La Yattakhidza Ba’dhuna Ba’dhan Arbaban Min Dunillah – jangan menjadikan sebagian kita sebagai tuhan selain Allah – ini adalah Ya’budunani La Yusyrikuna Bi Syai’a – versi An-Nur 55.
Sumpah Pemuda memenuhi ini: tidak menyekutukan Indonesia dengan suku – tidak syirik – tidak menjadikan Jawa sebagai tuhan – tidak menjadikan Sunda sebagai tuhan – tetapi Ya’budunani – menyembah Indonesia – Satu Nusa, Satu Bangsa – dengan La Yusyrikuna Bi Syai’a – tidak syirik suku.
Jika Sumpah Pemuda syirik – menjadikan Jawa sebagai penguasa mutlak – atau menjadikan Bahasa Jawa sebagai bahasa persatuan – maka akan terjadi syirik – akan terjadi perpecahan – tidak akan dapat Istikhlaf – karena syarat Ya’budunani La Yusyrikuna Bi Syai’a tidak terpenuhi – seperti Ahad Baqarah 166–167, Tabarra, terputus asbab – karena syirik menjadikan manusia sebagai arbab – uang 100M sebagai Tuhan – maka tidak keluar dari neraka – Wa Ma Hum Bi Kharijina Minan Nar.
Bahwa Sumpah Pemuda berhasil karena La Yusyrikuna Bi Syai’a – tidak syirik suku – tidak syirik bahasa – semua sama – Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa – tidak ada yang dituhankan selain Indonesia.
6. Wa Man Kafara Ba’da Dzalika Fa Ulaika Humul Fasiqun – Peringatan bagi Pemuda Hari Ini
Siapa kafir setelah janji itu maka mereka fasik – ini peringatan untuk pemuda hari ini, 29 Oktober 2026 – setelah Sumpah Pemuda 1928 dan merdeka 1945 – jika kafir terhadap Sumpah Pemuda – maka fasik – seperti Rabu Qarin yang kafir terhadap hari berbangkit.
ALLAH memberi janji Istikhlaf – Tamkin – Tabdil – lalu Allah bilang jika kafir setelah janji itu maka fasik – fasik adalah keluar dari ketaatan – seperti Iblis Jumat kemarin, Ana Khairun Minhu – aku lebih baik darinya – fasik karena sombong, merasa besar diri – tidak mau sujud pada Adam, padahal itu perintah-NYA.
Pemuda hari ini 2026 – setelah 98 tahun Sumpah Pemuda – setelah 81 tahun merdeka – jika kafir terhadap Sumpah Pemuda – tidak percaya Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa – malah percaya sukuisme, rasialisme, bahasa asing lebih hebat – maka dia fasik – keluar dari janji – seperti Qarin MH Rabu kemarin yang berkata, A Innaka Laminal Musaddiqin – apakah kamu termasuk yang membenarkan hari berbangkit? – meragukan kebangkitan Indonesia – meragukan Yauma Yub’atsu Hayya – hari kebangkitan bangsa – MH Selasa.
Bahwa fasik ini sama dengan generasi emas yang Zhahiran Minal Hayatid Dunya Wa Hum Anil Akhirah Hum Ghafilun – Rum 7 – hanya tahu luar dunia – lupa akhirat – hanya tahu PDB naik tetapi lupa akhirat – hanya tahu memperkaya diri tetapi lupa Kalimah Sawa – maka itulah fasik.
Bahwa peringatan An-Nur 55: jangan kafir setelah diberi janji Istikhlaf – jangan kafir setelah merdeka – tetap Ya’budunani La Yusyrikuna Bi Syai’a – tetap Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa – La Yusyrikuna – jangan syirik suku – jangan menjadikan uang haram/hasil korupsi/suap sebagai Tuhan – seperti MH Ahad kemarin lusa.
7. Kesimpulan: Apa Kaitan Janji Allah An-Nur 55 dengan Tekad Sumpah Pemuda 28 Oktober?
Jawaban: sangat erat – tiga kaitan – seperti tiga tekanan yang BES sudah tulis tersebut – tetapi dengan urutan sejarah.
Kaitan 1 – Layastakhlifannahum Fil Ardi: Janji Kekuasaan
Sumpah Pemuda adalah tekad untuk dapat kekuasaan kembali seperti Majapahit – Kamas Takhlafal Ladzina Min Qablihim – dari terjajah jadi berkuasa – dari Qarin yang hampir mencelakakan, Tallaahi In Kidta Laturdin, Rabu – jadi Walau La Ni’matu Rabbi – nikmat persatuan.
Sumpah Pemuda 1928 adalah Wa’dun Nas – janji manusia untuk bersatu – agar dapat Wa’dullah – janji Allah untuk berkuasa – 1945 terbukti Istikhlaf.
Kaitan 2 – Walayumakkinanna Lahum Dinahum: Meneguhkan Agama yang Diridai
Sumpah Pemuda meneguhkan Din persatuan – Bahasa Indonesia – Satu Bahasa – yang diridai – yang La Yusyrikuna Bi Syai’a – tidak syirik suku – seperti Kalimah Sawa Ahad, Alla Na’budu Illallah Wa La Nusyrika Bihi Syai’a – tidak menjadikan manusia sebagai arbab – Sumpah Pemuda tidak menjadikan suku sebagai arbab – tetapi satu bangsa – maka Din diteguhkan – Bahasa Indonesia teguh sampai hari ini, 98 tahun – karena diridai.
Kaitan 3 – Walayubaddilannahum Min Ba’di Khaufihim Amna: Mengubah Takut Jadi Aman
Sumpah Pemuda mengubah dari Khauf penjajahan jadi Amn kemerdekaan – dari takut diadu domba jadi aman bersatu – seperti Wa Salamun Alaihi Yauma Wulida Wa Yauma Yamutu, Selasa – dari takut wafat jadi salam kesejahteraan.
Dan ini dengan syarat Ya’budunani La Yusyrikuna Bi Syai’a – menyembah Indonesia dengan tidak syirik suku – Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa – tidak syirik – dan jika kafir setelah itu maka fasik – seperti buzzer bayaran yang kafir terhadap persatuan – hanya pikir uang sogokan – maka fasik – Wa Ma Hum Bi Kharijina Minan Nar – tidak keluar dari neraka – MH Ahad kemarin lusa.
Penegasan BES: Sumpah Pemuda sebagai Syarat Duniawi, Janji Allah sebagai Janji Ilahiah
Bahwa jawaban BES: janji ALLAH An-Nur 55 ada kaitannya sangat erat dengan Sumpah Pemuda – Sumpah Pemuda adalah syarat duniawi untuk mendapatkan janji Ilahi.
Tanpa Sumpah Pemuda – Satu Nusa, Bangsa, Bahasa – tidak akan ada Istikhlaf – Tamkin – Tabdil. Dan tanpa iman, amal saleh, Ya’budunani La Yusyrikuna Bi Syai’a – Sumpah Pemuda hanya jadi sumpah kosong – tidak akan dapat kekuasaan.
Maka, 1928 pemuda beriman dan amal saleh persatuan – 1945 Allah tunaikan janji Istikhlaf Fil Ardi – berkuasa di bumi Indonesia – Tamkin Din – Bahasa Indonesia teguh – Tabdil Khauf Amna – dari takut jadi aman merdeka.
Seperti MH Senin, 3 Doa Sulaiman:
Rabbi Auzi’ni An Asykura Wa An A’mala Shalihan Tardhahu Wa Adkhilni Birahmatika Fi Ibadikas Shalihin.
Syukur persatuan – amal persatuan yang diridai – masuk golongan saleh dengan rahmat – bebas dari lima sifat: Ridho, Jahl, Hubbud Dunya, Bakhil, Riya, Ujub – Sayidina Ali.
Wallahu A’lam.
Salam Jihad dan Sabar,
Brother Eggi Sudjana (BES)




