Menimbang Rencana Penutupan Ritel Modern: Jalan Tengah untuk Ekonomi Rakyat

Oleh : Prof Eggi Sudjana

BOGOR, MPI – Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰۤى اٰمَنُوْا وَا تَّقَوْا لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَا لْاَ رْضِ وَلٰـكِنْ كَذَّبُوْا فَاَ خَذْنٰهُمْ بِمَا كَا نُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 96)

Rencana dari pihak kementerian terkait untuk menutup atau membatasi ritel modern memantik diskusi luas di tengah masyarakat. Wacana ini tentu lahir dari semangat keberpihakan kepada koperasi dan usaha kecil. Niat untuk memperkuat ekonomi desa dan UMKM adalah tujuan yang mulia. Namun dalam praktiknya, setiap kebijakan ekonomi perlu ditimbang secara menyeluruh agar tidak menimbulkan dampak yang lebih besar dari manfaat yang diharapkan.

Hari ini, ritel modern seperti Alfamart dan Indomaret telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Mereka bukan sekadar toko, melainkan simpul distribusi barang kebutuhan pokok dari produsen ke konsumen. Di dalam ekosistem itu ada pekerja, ada pemasok, ada UMKM yang menitipkan produk, dan ada konsumen yang membutuhkan harga stabil serta akses mudah.

Baca juga:  Ulama tawadu

Karena itu, pertanyaan mendasarnya bukan sekadar “perlu atau tidak ditutup”, melainkan: apa dampaknya bagi perekonomian nasional?

Bahwa perlu dimasukkan dalam analisis kebijakkan publik itu unsur IMAN dan TAQWA , karena element penting untuk dapat keberkahan hidup baik dari Langit dan Bumi , tapi sayang nya unsur tersebut dalam bangunan pembangunan ya sekular tak di indahkan , bahkan DIDUSTAKAN AYAT-AYAT NYA , maka ngeri kedepannya datang terus Azhab NYA. Salah satu yang kentara bentuk Azhab tersebut adalah sebagai berikut :

1 . Dampak Jika Ritel Ditutup
Jika penutupan dilakukan secara luas dan mendadak, beberapa konsekuensi logis bisa muncul :

2.Lapangan kerja terancam.
Ritel modern menyerap tenaga kerja langsung maupun tidak langsung dalam jumlah besar.

3 .Gangguan distribusi barang.
Sistem logistik yang sudah terbangun puluhan tahun bisa terganggu. Ini berisiko memicu kelangkaan atau kenaikan harga di wilayah tertentu.

4.Kepercayaan investor terganggu.
Dalam situasi geopolitik global yang belum stabil mulai dari konflik kawasan hingga gangguan rantai pasok dunia Indonesia membutuhkan kepastian kebijakan, bukan sinyal ketidakpastian.

5.Ekonomi nasional saat ini masih menghadapi tantangan daya beli masyarakat dan tekanan global. Stabilitas distribusi menjadi faktor penting agar inflasi tetap terkendali. Karena itu, kebijakan drastis perlu sangat berhati-hati.

Baca juga:  5 Awak WNI Dikabarkan Selamat Dari Tenggelamnya Kapal Nelayan Jepang

Belajar dari Negara Lain

Beberapa negara menunjukkan bahwa kolaborasi jauh lebih efektif dibanding eliminasi.

Di Jepang, koperasi konsumen seperti Japanese Consumers’ Co-operative Union berkembang berdampingan dengan ritel modern besar seperti 7-Eleven. Kuncinya adalah profesionalisme dan tata kelola yang kuat. Koperasi tidak dimanjakan, tetapi didorong agar efisien dan kompetitif.

Hal serupa terjadi di Finlandia melalui S Group, koperasi ritel yang justru menjadi pemain besar di negaranya. Mereka membuktikan bahwa koperasi bisa unggul tanpa harus mematikan pesaing.

Sebaliknya, di Kuba, ketika distribusi terlalu terpusat dan ritel swasta dibatasi, muncul tantangan efisiensi dan keterbatasan pilihan barang. Pengalaman ini menunjukkan bahwa sistem yang terlalu tertutup dapat menghadapi kendala dalam inovasi dan ketersediaan barang.

– Jalan Tengah yang Rasional dan Solutif , melihat dari berbagai contoh tersebut, kita belajar bahwa:

– Koperasi akan kuat jika dikelola profesional.

– Ritel modern perlu regulasi agar tidak memonopoli.

– Persaingan sehat lebih produktif daripada penghapusan sepihak.

– Solusi yang lebih moderat dan konstruktif bisa berupa:

Baca juga:  Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis Desak Menkeu Purbaya Selesaikan Sengketa Lahan dan Dugaan Maladministrasi di Bea Cukai

– Pengaturan zonasi agar JANGAN warung tradisional terdesak.

– Kewajiban kemitraan ritel dengan UMKM lokal.

– Digitalisasi dan pelatihan manajemen koperasi.

– Transparansi serta pengawasan tata kelola koperasi.

– Dengan pendekatan ini, koperasi naik kelas tanpa harus mematikan ritel modern.

Optimisme ke Depan

Tulisan ini bukan untuk menggurui atau merasa paling benar untuk Solusinya . Penulis yakin setiap kebijakan yang dirancang pemerintah berangkat dari niat baik untuk membela rakyat kecil. Namun kebijakan ekonomi harus mempertimbangkan dampak menyeluruh, bukan hanya semangat sesaat.

Di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, saya percaya cita-cita kesejahteraan rakyat dapat diwujudkan melalui kebijakan yang rasional, inklusif, dan berpihak pada stabilitas jangka panjang. Indonesia membutuhkan kolaborasi, bukan polarisasi.

Pada akhirnya, yang kita perjuangkan bukan bentuk tokonya ritel modern atau koperasi melainkan kesejahteraan rakyat nya . Jika keduanya bisa berjalan dalam keseimbangan yang adil, maka ekonomi nasional akan lebih kokoh menghadapi tantangan global. Oleh karenanya dengan segala kekurangan tulisan ini, insyaaAllaah pandangan sederhana ini dapat menjadi bahan pertimbangan yang mencerahkan bagi kita semua yang mau di cerahkan.

[ Tim – Brother Eggi Sudjana BES]

Latest

Mutiara Hikmah: Eggi Sudjana Uraikan Rumus Jiwa Tenang: Anti-Syirik dan Dzikir 24 Jam Menuju Surga Allah

BOGOR | MATA PENA INDONESIA — Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH.,...

Warga Sukmajaya Tolak Kafe Samping Masjid Al-Huda Depok dan Tutup Permanen

DEPOK | MATA PENA INDONESIA — Kebijakan dan komitmen Pemerintah Kota...

Newsletter

Don't miss

Mutiara Hikmah: Eggi Sudjana Uraikan Rumus Jiwa Tenang: Anti-Syirik dan Dzikir 24 Jam Menuju Surga Allah

BOGOR | MATA PENA INDONESIA — Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si., atau Brother Eggi Sudjana (BES), dalam kajian Mutiara Hikmah Senin, 12 Oktober 2026, menguraikan...

Warga Sukmajaya Tolak Kafe Samping Masjid Al-Huda Depok dan Tutup Permanen

DEPOK | MATA PENA INDONESIA — Kebijakan dan komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Depok dalam menjaga kondusivitas sosial serta keberadaan rumah ibadah kini tengah diuji. Gelombang penolakan keras...

Mutiara Hikmah,  QS An-Nisa Ayat 116–121, Eggi Sudjana: Mengapa Syirik Tidak Diampuni, Bukankah Allah Maha Pengampun?

BOGOR | MATA PENA INDONESIA — Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si., atau yang akrab disapa Brother Eggi Sudjana (BES), kembali mengangkat persoalan mendasar...