Anatomi Perpecahan Aktivis: Antara Strategi Jihad dan Jebakan Narasi

Oleh: M. Idris Hardy, S.E.

BOGOR, MPI – Perdebatan mengenai peran dan langkah strategis para aktivis sering kali berujung pada polemik yang menguras energi. Fokus utamanya sederhana: sebuah pesan moral yang ditujukan kepada figur berpengaruh agar membuka hati dengan kejujuran. Namun, dinamika di lapangan menunjukkan bahwa perjuangan ini tidak pernah linier, melainkan penuh dengan intrik, manuver, dan risiko perpecahan.

Fenomena kunjungan tokoh aktivis senior seperti Eggi Sudjana (BES) ke Solo untuk menemui mantan presiden ke-7, Joko Widodo, memicu obrolan hangat sekaligus panas di berbagai lapisan masyarakat—mulai dari elit politik hingga rakyat jelata di kedai kopi. Bagi sebagian pihak, langkah ini dianggap sebagai pemicu keretakan kubu yang semula solid, terutama ketika narasi mengenai Restorative Justice untuk BES dan Damai Hari Lubis (DHL) mulai bergulir.

Namun, jika ditinjau secara mendalam, manuver semacam ini seharusnya dipandang sebagai bagian dari strategi perjuangan. Jihad, dalam konteks pergerakan, sering kali merupakan adu strategi. Ibarat pepatah, jika ingin melihat ikan di dalam kolam, tenangkan dahulu airnya. Langkah yang tampak bertolak belakang dengan idealisme moral sering kali merupakan metode spesifik untuk mencapai fokus tertentu yang tidak bisa dipahami oleh mereka yang hanya melihat dari permukaan.

Baca juga:  Prof Eggi Sudjana: Peringatan dan Tanggung Jawab Moral Dalam Kehidupan

Tokoh seperti Eggi Sudjana, yang telah digembleng sejak era 1980-an dalam perlawanan terhadap kebijakan Orde Baru, memiliki rekam jejak manuver yang sarat pengalaman. Gerakannya sering kali mewakili aspirasi komunitas bawah tanah yang terbiasa memadukan idealisme dengan realitas pahit. Ketidakmampuan sebagian aktivis untuk bersikap dewasa dalam memahami konteks strategi bersama membuat mereka mudah terprovokasi untuk saling membuka “rahasia” yang sebenarnya tidak perlu menjadi konsumsi publik.

Sering kali muncul tuntutan bahwa seorang penyampai pesan moral atau pendakwah harus memiliki moralitas yang sempurna sebelum mengajak orang lain. Namun, secara praktis, terdapat tiga tingkatan dalam penyampaian kebenaran, yakni:

1. Minimal (Menggugurkan Kewajiban): Seseorang tetap berkewajiban menyampaikan kebaikan meski dirinya belum sempurna. Prinsipnya adalah “Dengarlah apa yang disampaikan, jangan melihat siapa yang menyampaikan.”

Baca juga:  Prof Eggi Sudjana: Salah Pilih Teman, Sesat Selamanya

2. Maksimal (Dimensi Spiritual): Bergerak semata-mata mengharap rida Allah SWT, mencakup aspek kognitif, ritualistik, hingga praksis.

3. Ideal (Tanggung Jawab): Keselarasan penuh antara ucapan dan tindakan sebagai bentuk tanggung jawab kepada Sang Pencipta.

Seorang aktivis yang kerap menukil ayat suci dalam tuntutan keadilannya tidak harus divonis secara hitam-putih. Kita semua dianggap baik hanya karena Tuhan masih menutupi aib kita. Menilai seorang tokoh pergerakan secara terburu-buru hanya akan memperlemah barisan perjuangan itu sendiri.

Perpecahan antar saudara dalam satu kubu bukanlah hal baru. Sejarah mencatat Perang Jamal dan Perang Shiffin di era Khalifah Ali bin Abi Thalib sebagai bukti bahwa perbedaan pendapat mengenai kepemimpinan dan politik kekuasaan dapat memicu benturan fisik di antara mereka yang semula seiring sejalan.

Ironisnya, saat para aktivis sibuk berselisih secara terbuka, kelompok asing dan antek-anteknya justru bekerja dengan sangat rapi dan tertutup untuk menguasai Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia. Mereka mampu menutupi friksi internal dengan persekutuan yang solid, sehingga rakyat tidak memiliki celah untuk memecah konsentrasi mereka. Akibatnya, kekayaan alam kita lebih banyak dinikmati oleh korporasi asing melalui tangan-tangan anak bangsa yang memegang kekuasaan.

Baca juga:  Pangdam I/BB Pimpin Sidang Pantukhir, 678 Caba PK Ikuti Seleksi Pusat TNI AD

Pertanyaan besarnya adalah: mengapa para aktivis tidak belajar dari musuh-musuh bangsa yang mampu bergerak secara sunyi (silent) dan tidak mudah terpecah? Apa yang sebenarnya diburu sehingga ego pribadi sering kali mengalahkan kepentingan kolektif?

Sebuah kutipan masyhur mengingatkan kita: “Al-haqqu bilaa nidzom, yaghlibuhul baathilu binidzomin” – kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir. Tanpa kedewasaan, strategi yang matang, dan solidaritas yang kuat, perjuangan moral hanya akan menjadi panggung sandiwara yang melelahkan bagi rakyat yang menaruh harapan.

Penulis : Sekjen, Aliansi Damai Anti Penistaan Islam (ADA API)

Latest

Mutiara Hikmah BES, Jangan Mudah Kafirkan Orang! BES Bedah Makna Berhala dalam QS At-Taubah 24

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Brother Eggi Sudjana (BES)...

Bikin Heboh! Ombudsman Temukan Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong

CIBINONG | MATA PENA INDONESIA – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas...

Mutiara Hikmah, BES: Cara Setan Menggoda Manusia, dari Keinginan hingga Bisikan

BOGOR |  MATA PENA INDONESIA – Brother Eggi Sudjana...

Khianat, Amanah, Kesepakatan dan Kewajiban Menegakan Kebenaran

Oleh: Prof. Dr. H, Eggi Sudjana,  SH., M.Si JAKARTA |...

Newsletter

Don't miss

Mutiara Hikmah BES, Jangan Mudah Kafirkan Orang! BES Bedah Makna Berhala dalam QS At-Taubah 24

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Brother Eggi Sudjana (BES)...

Bikin Heboh! Ombudsman Temukan Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong

CIBINONG | MATA PENA INDONESIA – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas...

Mutiara Hikmah, BES: Cara Setan Menggoda Manusia, dari Keinginan hingga Bisikan

BOGOR |  MATA PENA INDONESIA – Brother Eggi Sudjana...

Khianat, Amanah, Kesepakatan dan Kewajiban Menegakan Kebenaran

Oleh: Prof. Dr. H, Eggi Sudjana,  SH., M.Si JAKARTA |...

Mutiara Hikmah, BES: KHIANAT, Perjanjian, Garis Komando dan Pentingnya Fakta, Data serta Saksi

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Brother Eggi Sudjana (BES) dalam...

Mutiara Hikmah BES, Jangan Mudah Kafirkan Orang! BES Bedah Makna Berhala dalam QS At-Taubah 24

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Brother Eggi Sudjana (BES) dalam Mutiara Hikmah Jumat, 25 September 2026, mengangkat pembahasan tentang QS. At-Taubah ayat 24. Dalam...

Bikin Heboh! Ombudsman Temukan Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong

CIBINONG | MATA PENA INDONESIA – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Cibinong di kawasan Pondok Rajeg, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menjadi sorotan setelah Ombudsman Republik...

Mutiara Hikmah, BES: Cara Setan Menggoda Manusia, dari Keinginan hingga Bisikan

BOGOR |  MATA PENA INDONESIA – Brother Eggi Sudjana (BES) dalam Mutiara Hikmah pada Kamis, 24 September 2026, membahas tentang cara setan menggoda manusia...