BOGOR | MATA PENA INDONESIA — Mutiara Hikmah Jumat, 18 September 2026, Brother Eggi Sudjana (BES) mengangkat pembahasan yang cukup serius mengenai persoalan aqidah melalui tema “Jangan Memilih-Milih Iman: Memahami QS. An-Nisa’ Ayat 150–152.”
BES menegaskan bahwa QS. An-Nisa’ ayat 150–152 merupakan ayat yang penting untuk dipahami secara utuh, terutama ketika berbicara mengenai orang yang mengatakan “kami beriman kepada sebagian dan kami kafir kepada sebagian”, kemudian berusaha mengambil apa yang disebut sebagai “jalan tengah”.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْفُرُوْنَ بِاللّٰهِ وَرُسُلِهٖ وَيُرِيْدُوْنَ اَنْ يُّفَرِّقُوْا بَيْنَ اللّٰهِ وَرُسُلِهٖ وَيَقُوْلُوْنَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَّنَكْفُرُ بِبَعْضٍ ۙ وَّيُرِيْدُوْنَ اَنْ يَّتَّخِذُوْا بَيْنَ ذٰلِكَ سَبِيْلًا
QS. An-Nisa’ ayat 150
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang ingkar kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, ‘Kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian (yang lain),’ serta bermaksud mengambil jalan tengah (iman atau kafir).”
Kemudian Allah SWT menegaskan dalam ayat berikutnya:
اُولٰٓئِكَ هُمُ الْـكٰفِرُوْنَ حَقًّا ۚ وَ اَعْتَدْنَا لِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابًا مُّهِيْنًا
QS. An-Nisa’ ayat 151
Artinya:
“Merekalah orang-orang kafir yang sebenarnya. Dan Kami sediakan untuk orang-orang kafir itu azab yang menghinakan.”
Sementara Allah SWT memberikan penjelasan mengenai lawannya dalam QS. An-Nisa’ ayat 152:
وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرُسُلِهٖ وَلَمْ يُفَرِّقُوْا بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْهُمْ اُولٰٓئِكَ سَوْفَ يُؤْتِيْهِمْ اَجُوْرَهُمْ ۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا
Artinya:
“Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan di antara mereka (para rasul), kelak Allah akan memberikan pahala kepada mereka. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Pertanyaan Serius: Mengapa “Jalan Tengah” Disebut Kafir?
BES kemudian mengajukan pertanyaan serius.
Bagaimana pemahamannya bagi mereka yang mengambil “jalan tengah”, tetapi justru disebut dalam ayat sebagai orang-orang kafir yang sebenarnya?
Bagaimana pula dengan orang yang sudah jelas non-Muslim?
Dan pertanyaan berikutnya:
Bagaimana bila ada yang berpandangan bahwa saat ini yang kita ikuti adalah Sunnah Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bukan lagi nabi-nabi sebelumnya?
Menurut BES, ketiga pertanyaan tersebut harus dijawab dengan ilmu karena menyangkut persoalan aqidah.
Ayat 150: “Kami Beriman kepada Sebagian dan Kafir kepada Sebagian”
BES membedah bagian ayat:
وَيَقُوْلُوْنَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَّنَكْفُرُ بِبَعْضٍ
“Kami beriman kepada sebagian dan kafir kepada sebagian.”
Kemudian:
وَّيُرِيْدُوْنَ اَنْ يَّتَّخِذُوْا بَيْنَ ذٰلِكَ سَبِيْلًا
“Mereka ingin mengambil jalan tengah.”
Namun, BES menegaskan bahwa “jalan tengah” yang dimaksud dalam konteks ayat tersebut bukan jalan tengah yang netral, melainkan sikap beriman kepada sebagian dan mengingkari sebagian yang lain.
Allah SWT bahkan memberikan penegasan:
اُولٰٓئِكَ هُمُ الْـكٰفِرُوْنَ حَقًّا
“Merekalah orang-orang kafir yang sebenarnya.”
BES menyoroti penggunaan kata هُمُ (hum) dan حَقًّا (haqqan) sebagai bentuk penegasan dalam ayat tersebut.
Iman Tidak Bisa Dicicil
Dalam materi kajiannya, BES menegaskan bahwa iman tidak dapat dicicil atau dipilih berdasarkan selera.
Ia memberikan gambaran sederhana. Seseorang tidak bisa mengatakan:
“Saya shalat Subuh saja, tetapi Dzuhur tidak.”
Demikian pula dalam persoalan keimanan, menurut BES, seseorang tidak bisa memilih sebagian ajaran lalu mengingkari bagian lainnya sesuai kepentingan pribadi.
BES kemudian memberikan contoh “jalan tengah” yang menurutnya perlu diwaspadai pada zaman sekarang:
“Saya Islam, tetapi syariat jangan dibawa ke negara.”
“Saya beriman kepada Al-Qur’an, tetapi hadis yang tidak masuk akal saya tolak.”
“Saya beriman kepada Allah, tetapi tidak perlu mengikuti Rasul.”
Menurut BES, sikap seperti itu perlu dikaji secara serius karena berkaitan dengan prinsip:
نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَّنَكْفُرُ بِبَعْضٍ
“Kami beriman kepada sebagian dan mengingkari sebagian.”
Namun BES juga memberikan catatan penting bahwa persoalan tersebut harus dilihat berdasarkan ilmu dan pengetahuan yang telah sampai kepada seseorang.
Bagaimana dengan Non-Muslim?
BES kemudian membahas pertanyaan kedua, yaitu bagaimana dengan orang yang sudah jelas non-Muslim.
Dalam kerangka QS. An-Nisa’ ayat 150–151, BES menjelaskan bahwa ayat tersebut berbicara mengenai sikap terhadap Allah dan rasul-rasul-Nya.
Namun, menurut BES, harus dibedakan antara menjelaskan status suatu keyakinan secara umum dengan memberikan vonis terhadap individu tertentu.
Di sinilah BES memberikan catatan mengenai takfir mu’ayyan, yakni penetapan seseorang secara individual sebagai kafir.
Persoalan tersebut, menurut BES, tidak boleh dilakukan secara sembarangan.
Vonis terhadap orang per orang harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan diserahkan kepada ulama yang memiliki ilmu dan otoritas.
Karena itu, BES mengingatkan:
“Tugas kita adalah berdakwah, bukan menghakimi tetangga.”
Mengikuti Muhammad SAW Bukan Berarti Mengingkari Nabi Sebelumnya
Pertanyaan ketiga menjadi bagian penting dalam pembahasan BES.
Apakah karena umat Islam sekarang mengikuti Rasulullah Muhammad SAW berarti membeda-bedakan para nabi?
BES menjawab bahwa hal tersebut berbeda total.
Ada dua hal yang harus dibedakan:
A. IMAN KEPADA SEMUA NABI = WAJIB
Umat Islam wajib beriman kepada seluruh nabi dan rasul Allah SWT.
Nabi Adam AS, Nabi Nuh AS, Nabi Ibrahim AS, Nabi Musa AS, Nabi Isa AS dan seluruh nabi yang diutus Allah harus diyakini sebagai bagian dari risalah Allah.
Tidak boleh mengatakan:
“Musa berbohong.”
Karena para nabi merupakan utusan Allah SWT.
Hal ini berkaitan dengan firman Allah:
وَلَمْ يُفَرِّقُوْا بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْهُمْ
“Tidak membeda-bedakan di antara mereka.”
Dalam pembahasan BES, maknanya adalah mengimani seluruh nabi dan rasul Allah.
B. ITTI’BA’ / MENGIKUTI SYARIAT = MUHAMMAD SAW
BES kemudian menegaskan bahwa dalam menjalankan syariat bagi umat Nabi Muhammad SAW, umat Islam mengikuti syariat yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW.
BES mengaitkannya dengan QS. Al-Ma’idah ayat 48:
وَّاَنْزَلْنَاۤ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ مُهَيْمِنًا
“Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan sebagai penjaga terhadapnya.”
Karena itu, BES merumuskan dengan tegas:
IMAN = SEMUA NABI
ITTI’BA’ = MENGIKUTI MUHAMMAD SAW
Menurut BES, syariat nabi-nabi terdahulu berlaku bagi umat mereka masing-masing, sedangkan umat Nabi Muhammad SAW mengikuti syariat yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW sebagai rasul terakhir.
“Saya Mengikuti Nabi Isa Saja”
BES kemudian memberikan contoh untuk memperjelas persoalan tersebut.
Jika seseorang mengatakan:
“Saya mengikuti Nabi Isa saja dan tidak mengikuti Muhammad SAW,”
maka dalam kerangka ayat yang sedang dibahas, sikap tersebut berkaitan dengan:
نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَّنَكْفُرُ بِبَعْضٍ
“Beriman kepada sebagian dan mengingkari sebagian.”
Sebaliknya, apabila seorang Muslim mengatakan:
“Saya beriman bahwa Isa adalah Nabi Allah, tetapi syariat yang saya amalkan adalah syariat Muhammad SAW,”
maka hal tersebut bukan berarti membeda-bedakan para nabi dalam keimanan.
Justru, menurut penjelasan BES, seorang Muslim mengimani Nabi Isa AS sebagai nabi Allah sekaligus mengikuti syariat Rasulullah Muhammad SAW.
Bahaya “Jalan Tengah” Zaman Now
BES kemudian membawa pembahasan tersebut ke persoalan kehidupan umat Islam saat ini.
Menurutnya, persoalan memilih-milih ajaran tidak hanya berbicara mengenai identitas keagamaan tertentu, tetapi juga menyangkut sikap seorang Muslim dalam menerima ajaran Islam.
BES mencontohkan:
“Ekonomi syariah tidak perlu, yang penting ekonomi.”
“Al-Qur’an iya, tetapi jangan dibawa ke politik.”
“Shalat iya, tetapi riba tidak apa-apa.”
Menurut BES, sikap memilih-milih ajaran seperti itu merupakan persoalan serius yang perlu diluruskan dengan ilmu.
Sebagai jawabannya, BES kembali menekankan QS. An-Nisa’ ayat 152:
اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرُسُلِهٖ وَلَمْ يُفَرِّقُوْا
“Beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya serta tidak membeda-bedakan di antara mereka.”
Prinsip yang disampaikan BES adalah:
1. Iman kepada Allah 100 persen.
2. Iman kepada seluruh rasul 100 persen.
3. Mengamalkan syariat Muhammad SAW dengan sungguh-sungguh.
Termasuk, dalam pembahasan BES, persoalan kehidupan seperti ekonomi, politik dan hukum tidak semestinya dipilih hanya berdasarkan kepentingan pribadi.
Jawaban Singkat BES
BES kemudian merangkum pembahasan tersebut dalam beberapa jawaban.
Mengapa “jalan tengah” disebut kafir dalam ayat ini?
Karena yang dimaksud adalah sikap beriman kepada sebagian dan mengingkari sebagian. Dalam kerangka ayat tersebut, iman tidak bisa dicicil atau dipilih-pilih.
Bagaimana dengan non-Muslim yang jelas?
Ayat menjelaskan sikap terhadap orang yang mengingkari Allah dan rasul-rasul-Nya. Namun, penetapan terhadap individu harus memperhatikan ilmu dan ketentuan yang berlaku dalam persoalan takfir.
Bagaimana dengan orang yang mengaku Islam tetapi memilih-milih ajaran?
Menurut BES, sikap tersebut merupakan persoalan serius yang harus diluruskan dengan ilmu dan tidak boleh disederhanakan tanpa memahami konteks aqidah serta ketentuan takfir.
Kalau kita hanya mengikuti Muhammad SAW, bukan nabi-nabi lain, apakah kafir?
Menurut BES, tidak demikian. Umat Islam wajib beriman kepada seluruh nabi dan rasul Allah, sementara syariat yang diamalkan umat Muhammad SAW adalah syariat yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW.
“Iman kepada Semua Nabi dan Rasul, Mengikuti Syariat Muhammad SAW”
Pada akhirnya, inti Mutiara Hikmah Jumat BES kali ini dirangkum dalam satu prinsip:
IMAN KEPADA SEMUA NABI DAN RASUL.
MENGIKUTI SYARIAT MUHAMMAD SAW.
BES mengajak umat Islam untuk tidak memahami ayat secara sepotong-sepotong, melainkan terus belajar dan memahami agama dengan ilmu.
Kajian tersebut ditutup dengan doa:
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا
Artinya:
“Ya Rabb kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami.”
BES berharap ayat-ayat tersebut dapat menjadi benteng aqidah sekaligus mendorong umat Islam untuk terus belajar, memahami agama dengan ilmu dan mengamalkannya dengan penuh keikhlasan.
“Semoga Allah menjaga hati kita dalam iman dan hidayah-Nya.”
Salam Jihad, Brother Eggi Sudjana (BES)




