Mutiara Hikmah,  QS An-Nisa Ayat 116–121, Eggi Sudjana: Mengapa Syirik Tidak Diampuni, Bukankah Allah Maha Pengampun?

BOGOR | MATA PENA INDONESIA — Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si., atau yang akrab disapa Brother Eggi Sudjana (BES), kembali mengangkat persoalan mendasar dalam ajaran tauhid melalui renungan Mutiara Hikmah Minggu, 11 Oktober 2026. Kali ini, ia membahas QS An-Nisa ayat 116–121 tentang dosa syirik, pintu ampunan Allah SWT, serta peringatan mengenai tipu daya setan yang dapat menyesatkan manusia.

Melalui rangkaian ayat tersebut, Eggi mengajukan pertanyaan serius: mengapa Allah SWT menegaskan bahwa dosa syirik tidak diampuni, sementara dosa selain syirik dapat diampuni bagi siapa yang Dia kehendaki? Bukankah Allah Maha Pengampun?

Pertanyaan tersebut menjadi pokok pembahasan dalam renungan tauhid yang disampaikan Eggi. Ia menempatkan syirik sebagai persoalan fundamental karena, menurut konstruksi pemikirannya, syirik merupakan akar dari pengkhianatan, kekufuran, janji-janji kosong, dan berbagai bentuk kezaliman.

Allah SWT Berfirman dalam QS An-Nisa Ayat 116–121

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

QS An-Nisa ayat 116

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَآءُ ۗ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِا للّٰهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًاۢ بَعِيْدًا

“Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu) dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh, dia telah tersesat jauh sekali.”

QS An-Nisa ayat 117

اِنْ يَّدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهٖۤ اِلَّاۤ اِنٰـثًـا ۚ وَاِنْ يَّدْعُوْنَ اِلَّا شَيْـطٰنًا مَّرِيْدًا

“Yang mereka sembah selain Allah itu tidak lain hanyalah inasan (berhala), dan mereka tidak lain hanyalah menyembah setan yang durhaka,”

QS An-Nisa ayat 118

لَّـعَنَهُ اللّٰهُ ۘ وَقَا لَ لَاَ تَّخِذَنَّ مِنْ عِبَا دِكَ نَصِيْبًا مَّفْرُوْضًا

“Yang dilaknati Allah dan (setan) itu mengatakan, ‘Aku pasti akan mengambil bagian tertentu dari hamba-hamba-Mu,'”

QS An-Nisa ayat 119

وَّلَاُ ضِلَّـنَّهُمْ وَلَاُ مَنِّيَنَّهُمْ وَلَاٰ مُرَنَّهُمْ فَلَيُبَـتِّكُنَّ اٰذَا نَ الْاَ نْعَا مِ وَلَاٰ مُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللّٰهِ ۗ وَمَنْ يَّتَّخِذِ الشَّيْطٰنَ وَلِيًّا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَا نًا مُّبِيْنًا

“dan pasti akan kusesatkan mereka, dan akan kubangkitkan angan-angan kosong pada mereka, dan akan kusuruh mereka memotong telinga-telinga binatang ternak, (lalu mereka benar-benar memotongnya), dan akan aku suruh mereka mengubah ciptaan Allah, (lalu mereka benar-benar mengubahnya).” Barang siapa menjadikan setan sebagai pelindung selain Allah, maka sungguh, dia menderita kerugian yang nyata.”

QS An-Nisa ayat 120

يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيْهِمْ ۗ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْـطٰنُ اِلَّا غُرُوْرًا

“(Setan itu) memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu hanya menjanjikan tipuan belaka kepada mereka.”

QS An-Nisa ayat 121

اُولٰٓئِكَ مَأْوٰٮهُمْ جَهَـنَّمُ ۖ وَلَا يَجِدُوْنَ عَنْهَا مَحِيْصًا

“Mereka (yang tertipu) itu tempatnya di Neraka Jahanam dan mereka tidak akan mendapat tempat (lain untuk) lari darinya.”

Berdasarkan rangkaian ayat tersebut, mulai ayat 116 sampai dengan 121, Eggi menyoroti penegasan mengenai dosa syirik yang tidak diampuni, sedangkan dosa selainnya dapat diampuni oleh Allah SWT sesuai kehendak-Nya.

Pertanyaan seriusnya, mengapa Allah sampai tegas seperti tidak mengampuni perbuatan orang-orang musyrik? Bukankah Allah Maha Pengampun?

Dalam pembahasannya, Eggi memberikan jawaban melalui lima alasan tauhid yang ia kaitkan dengan rangkaian ayat tersebut.

Pertanyaan Fundamental dalam Tauhid: Mengapa Syirik Tidak Diampuni?

Eggi mengawali pembahasannya dengan menegaskan bahwa pertanyaan tersebut merupakan persoalan paling fundamental dalam tauhid.

“Pertanyaan hari ini adalah pertanyaan paling fundamental dalam Tauhid. Sangat tajam,” demikian pokok penekanan dalam renungan Mutiara Hikmah tersebut.

Ia menghubungkan pembahasan hari Minggu ini dengan rangkaian materi Mutiara Hikmah selama enam hari sebelumnya, mulai dari Power Tauhid, Muttaqin, Anti OMON2, Istighfar, 5 Ciri, hingga Moral Perang.

Baca juga:  Usai Upacara HUT RI ke-81, Eggi Sudjana Soroti Pidato Prabowo hingga Menjelang Salat Jumat

Menurut konstruksi pemikiran Eggi, puncak pembahasan pada Ahad adalah syirik, yang ia sebut sebagai akar dari Khawwan, Kafur, OMON2, dan kezaliman.

“Inilah yang tidak diampuni,” menjadi penekanan utama dalam pembahasan tersebut.

1. Dudukkan QS An-Nisa Ayat 116: Dua Jenis Ampunan

Eggi mengutip kembali firman Allah SWT:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ

“Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa Dia kehendaki.”

Menurut Eggi, terdapat dua skenario yang kerap disalahpahami dalam memahami ayat tersebut.

Pertama, seseorang meninggal dunia membawa dosa syirik tanpa bertobat. Dalam penjelasannya, keadaan ini merupakan kondisi yang dimaksud dalam penegasan QS An-Nisa ayat 116, yakni dosa syirik yang dibawa sampai mati tanpa pertobatan tidak diampuni.

Kedua, seseorang masih hidup dan bertobat dari syirik. Eggi menegaskan bahwa orang tersebut tetap memiliki kesempatan untuk mendapatkan ampunan Allah SWT.

Ia mencontohkan Abu Sufyan, Khalid bin Walid, dan Wahsyi, pembunuh Hamzah, sebagai mantan orang musyrik yang kemudian bertobat dan mendapatkan ampunan Allah.

Dengan demikian, menurut penjelasan Eggi, persoalannya bukan karena Allah pelit memberikan ampunan, melainkan karena syirik yang dibawa sampai mati tanpa pertobatan berarti seseorang menutup pintu ampunan bagi dirinya sendiri.

2. Mengapa Syirik Tidak Diampuni Jika Dibawa Mati? Ini Lima Alasan Tauhidi

Eggi kembali mengajukan pertanyaan, “Bukankah Allah Maha Pengampun?”

Jawabannya, menurut Eggi, justru karena Allah Maha Pengampun, persoalan syirik harus ditempatkan secara tegas. Ia kemudian menguraikan lima alasan tauhidi yang diangkat dari rangkaian QS An-Nisa ayat 116–121.

Alasan Pertama: Syirik Adalah Kezaliman Terbesar

Eggi menghubungkan alasan pertama ini dengan QS Luqman ayat 13 dan prinsip Haqqa Tuqatihi.

Dalam materi Mutiara Hikmah sebelumnya, ia menyoroti firman:

اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ

Menurut Eggi, hak Allah yang sebenar-benarnya adalah di-Esa-kan.

Ia menjelaskan bahwa syirik berarti menyamakan makhluk dengan Khaliq. Dalam kritik yang ia sampaikan, Eggi menggunakan sejumlah analogi, seperti menyamakan uang korupsi senilai Rp500 miliar dengan kekuasaan Allah, menyamakan jabatan Mahkamah Konstitusi (MK) dengan keadilan Allah, serta menyamakan oligarki dengan kekuasaan Allah.

Eggi kemudian menghubungkannya dengan frasa:

ضَلَالًا بَعِيدًا

“Tersesat jauh sekali.”

Frasa tersebut terdapat pada ujung QS An-Nisa ayat 116. Menurut penjelasannya, kesesatan yang jauh berarti seseorang semakin jauh dari jalan kembali kepada Allah sehingga tidak memperoleh ampunan apabila tidak mau kembali kepada-Nya.

Alasan Kedua: Syirik Adalah Pengkhianatan Cinta

Alasan kedua dihubungkan dengan QS Al-Ma’idah ayat 54 yang menjadi pembahasan Mutiara Hikmah sebelumnya.

Eggi menyoroti ciri pertama kaum yang dicintai Allah melalui firman:

يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ

“Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.”

Menurut Eggi, syirik merupakan pengkhianatan terhadap cinta tersebut. Allah memberikan rezeki, hutan, dan laut kepada manusia, tetapi manusia justru menyekutukan-Nya dengan menyembah uang, jabatan, maupun oligarki.

Untuk menggambarkan hal tersebut, Eggi menggunakan analogi seorang istri yang berselingkuh di hadapan suami yang sangat mencintainya. Menurut analogi yang ia sampaikan, pengkhianatan tersebut merupakan luka yang paling dalam.

Ia kemudian mengaitkannya dengan firman Allah:

لَا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّانٍ كَفُورٍ

Allah tidak menyukai setiap orang yang berkhianat lagi kufur.

Eggi menghubungkan ungkapan tersebut dengan QS Al-Hajj ayat 38 yang dibahas pada Mutiara Hikmah sebelumnya. Dalam pandangannya, syirik merupakan bentuk pengkhianatan paling besar atau Khawwan paling besar.

Alasan Ketiga: Syirik Membuka Pintu Setan

Baca juga:  Kuliah Umum USB Bandung Berubah Jadi Alarm Bahaya, MS Kaban: Bencana Ekologi Bukti Tatakelola Negara Gagal

Eggi menjelaskan bahwa QS An-Nisa ayat 117–120 menggambarkan bagaimana syirik bekerja dan bagaimana setan menyesatkan manusia.

Ayat 117: Berhala yang Dianggap Kuat, Padahal Lemah

Eggi menyoroti frasa:

يَدْعُونَ إِلَّا إِنَاثًا

Menurut penjelasannya, kata inatsan dalam ayat tersebut merujuk pada berhala-berhala yang dianggap lemah.

Ia kemudian menarik analogi dengan kehidupan masa kini. Menurut Eggi, berhala tidak selalu berbentuk patung, tetapi dapat berupa berhala uang Rp300 triliun, berhala jabatan, berhala kekuasaan oligarki, hingga berhala jumlah likes.

Semuanya, menurut kritik yang ia sampaikan, terlihat kuat padahal sesungguhnya lemah.

Pada bagian akhir ayat 117, Eggi juga menyoroti frasa:

إِلَّا شَيْطَانًا مَرِيدًا

Menurutnya, penyembahan selain kepada Allah pada akhirnya berkaitan dengan setan yang durhaka. Uang, jabatan, dan oligarki ia gambarkan sebagai topeng, sementara di belakangnya terdapat pengaruh setan.

Ayat 118: Setan yang Dilaknat Allah

Eggi mengutip frasa:

لَعَنَهُ اللَّهُ

Setan dilaknat Allah, lalu setan bersumpah:

لَأَتَّخِذَنَّ مِنْ عِبَادِكَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا

“Aku pasti akan mengambil bagian tertentu dari hamba-hamba-Mu.”

Bagian tersebut menjadi pengantar bagi penjelasan mengenai program setan yang disebutkan dalam ayat berikutnya.

Ayat 119: Empat Program Setan bagi Pengikut Syirik

Eggi menguraikan empat program setan sebagaimana yang ia pahami dari QS An-Nisa ayat 119.

وَلَأُضِلَّنَّهُمْ — Pasti Kusesatkan Mereka.

Menurut Eggi, program pertama adalah menyesatkan manusia hingga jauh dari jalan yang benar. Ia menghubungkannya kembali dengan frasa dhalaalan ba’iidan dalam ayat 116.

وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ — Kubangkitkan Angan-Angan Kosong.

Program kedua adalah membangkitkan angan-angan kosong. Eggi menghubungkannya dengan istilah OMON2, yakni kritik terhadap janji-janji manis yang tidak diwujudkan.

فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الْأَنْعَامِ — Kusuruh Memotong Telinga Ternak.

Eggi mengaitkan bagian ini dengan kerusakan peternakan dan ekologi. Ia memberikan contoh persoalan batu bara, hutan yang berubah fungsi, serta pagar laut.

فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ — Kusuruh Mengubah Ciptaan Allah.

Dalam penafsirannya, Eggi menghubungkan bagian ini dengan perubahan hukum Allah, perubahan konstitusi dan persoalan di MK, perubahan kebenaran menjadi kebohongan, serta perubahan demokrasi menjadi oligarki.

Eggi kemudian menekankan bahwa siapa pun yang menjadikan setan sebagai pelindung selain Allah akan mengalami kerugian nyata, sebagaimana firman:

فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا

“Sungguh, dia telah menderita kerugian yang nyata.”

Ayat 120: Janji Setan Hanyalah Tipuan

Eggi kembali mengutip firman Allah SWT:

يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا

“(Setan itu) memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu hanya menjanjikan tipuan belaka kepada mereka.”

Menurut Eggi, ayat tersebut memiliki keterkaitan dengan materi OMON2 yang dibahas pada Rabu melalui QS As-Saff ayat 61:2–3.

Ia mengaitkannya dengan janji pemberantasan korupsi dan janji kesejahteraan yang tidak diwujudkan. Dalam penjelasannya, istilah ghurur menjadi penekanan bahwa janji tersebut hanyalah tipuan.

Dari rangkaian ayat 117–120 tersebut, Eggi menyimpulkan bahwa syirik tidak diampuni apabila dibawa mati tanpa pertobatan karena syirik berarti masuk ke dalam sistem setan yang programnya merusak kehidupan.

Menurutnya, seseorang tidak dapat memperoleh ampunan apabila tetap bertahan dalam sistem tersebut dan tidak mau kembali kepada Allah.

Alasan Keempat: Syirik Menutup Pintu Istighfar

Alasan keempat dihubungkan dengan QS Hud ayat 3 yang menjadi materi Mutiara Hikmah pada Kamis sebelumnya.

Eggi menyoroti pentingnya istighfar sebagai jalan memohon ampun dan menjauhkan diri dari azab.

Dalam kritik yang ia sampaikan, orang yang melakukan syirik tidak memohon ampun kepada Allah, tetapi justru menggantungkan diri kepada berhala, oligarki, uang, dan partai politiknya.

Baca juga:  Istiqomah di Jalan Haq: Pola Sunnatullah dan Ujian Para Penegak Kebenaran

Ia menghubungkan keadaan tersebut dengan hilangnya kesempatan memperoleh mata’an hasanan.

Pertanyaan yang kemudian diajukan Eggi adalah bagaimana seseorang dapat memperoleh ampunan apabila tidak meminta ampun kepada Zat Yang Maha Pengampun?

Menurut penjelasannya, syirik menutup pintu istighfar karena seseorang tidak lagi menempatkan Allah sebagai satu-satunya tempat untuk memohon ampunan.

Alasan Kelima: Syirik Membunuh Fitrah Tauhid dan Menjadi Akar Khawwan Kafur

Alasan kelima dihubungkan dengan QS Al-Hajj ayat 38 yang dibahas pada Mutiara Hikmah sebelumnya.

Eggi kembali menyoroti firman Allah mengenai orang-orang yang berkhianat dan kufur nikmat, atau Khawwan Kafur.

Ia kemudian mengajukan pertanyaan: dari mana Khawwan Kafur lahir?

Menurut Eggi, jawabannya adalah syirik.

Ia menjelaskan bahwa ketika seseorang menyekutukan Allah dengan uang, orang tersebut dapat terdorong melakukan pengkhianatan demi uang Rp300 triliun. Ketika seseorang menyekutukan Allah dengan jabatan, ia dapat terjerumus dalam kekufuran nikmat hingga merusak hutan dan laut.

Dalam konstruksi pemikiran Eggi, syirik merupakan akar, sedangkan Khawwan Kafur merupakan buahnya.

Karena itu, ia menegaskan bahwa syirik menjadi persoalan mendasar yang harus diberantas dari kehidupan manusia agar tidak melahirkan pengkhianatan, kekufuran nikmat, dan berbagai bentuk kezaliman.

Penutup QS An-Nisa Ayat 121: Tidak Ada Tempat untuk Melarikan Diri

Eggi menutup pembahasan dengan mengutip QS An-Nisa ayat 121:

أُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَلَا يَجِدُونَ عَنْهَا مَحِيصًا

“Mereka tempatnya Jahanam dan tidak akan mendapat tempat lari darinya.”

Menurut Eggi, tidak ada mahish, yakni tempat untuk melarikan diri, bagi orang-orang yang berakhir dalam keadaan tersebut.

Ia menjelaskan bahwa ketika di dunia manusia melarikan diri dari Allah dan memilih mengikuti setan, maka di akhirat tidak ada lagi tempat untuk melarikan diri.

Penutup ayat ini menjadi penegasan mengenai konsekuensi yang digambarkan dalam rangkaian QS An-Nisa ayat 116–121.

Kesimpulan Jawaban Eggi Sudjana: Allah Maha Pengampun, tetapi Jangan Membawa Syirik Sampai Mati

Dalam kesimpulan Mutiara Hikmah Minggu, 11 Oktober 2026, Eggi menegaskan kembali pertanyaan utama: jika Allah Maha Pengampun, mengapa syirik tidak diampuni?

Melalui lima alasan tauhidi yang diuraikannya, Eggi menyampaikan bahwa syirik yang dibawa sampai mati tanpa pertobatan tidak diampuni karena:

Syirik menolak ke-Maha Pengampunan Allah itu sendiri.

Syirik merupakan pengkhianatan cinta paling besar, yang ia hubungkan dengan QS Al-Ma’idah ayat 54.

Syirik berarti masuk ke dalam sistem setan dengan empat program penghancuran sebagaimana dibahas dalam QS An-Nisa ayat 119.

Syirik menutup pintu istighfar, yang ia hubungkan dengan QS Hud ayat 3.

Syirik merupakan akar dari Khawwan Kafur, OMON2, dan kezaliman yang selama ini menjadi sasaran kritiknya.

Lantas, apa solusinya?

Eggi mengajak manusia kembali kepada tauhid, sebagaimana materi Power Tauhid pada Senin melalui QS Al-Anfal ayat 19. Menurutnya, kekuasaan Allah merupakan satu-satunya kekuasaan yang harus menjadi landasan utama kehidupan.

Ia juga menekankan bahwa selama napas masih ada, pintu pertobatan dari syirik tetap terbuka lebar. Allah mengampuni semua dosa, termasuk syirik, apabila seseorang bertobat sebelum meninggal dunia.

Konstruksi Lengkap Tujuh Hari Mutiara Hikmah BES

Eggi merangkai materi Mutiara Hikmah selama tujuh hari menjadi satu kesatuan pembahasan tauhid, yaitu:

Senin: Power Tauhid.

Selasa: Muttaqin.

Rabu: Anti OMON2.

Kamis: Istighfar.

Jumat: 5 Ciri.

Sabtu: Dibela dan Ditolong.

Ahad: Anti Syirik — Jangan Masuk Sistem Setan.

Rangkaian tersebut menjadi penutup refleksi Eggi mengenai pentingnya tauhid sebagai landasan moral, spiritual, dan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Wallahu A’lam Bishawab.

Salam Jihad dan Sabar

Brother Eggi Sudjana (BES)

Latest

Newsletter

Don't miss

Dugaan Sarang Prostitusi Online Berkedok “Kontrakan Reformasi” di Gunung Putri Resahkan Warga

GUNUNG PUTRI | MATA PENA INDONESIA - Sebuah bangunan indekos dua lantai bernama Kontrakan Reformasi yang berlokasi di Desa Nagrak, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten...

Mutiara Hikmah QS Al-Hajj 22:38–40, Eggi Sudjana Uraikan Rumusan Moral Perang dalam Islam: Dibela, Diizinkan, dan Ditolong Allah

BOGOR | MATA PENA INDONESIA — Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si., atau yang dikenal sebagai Brother Eggi Sudjana (BES), dalam renungan Mutiara Hikmah...

MK Harus Jujur, Benar, Adil (JUBEDIL) Mengoreksi Diri: Menguji Rasa Keadilan dalam Kasus Gibran

BOGOR | MATA PENA INDONESIA — Prof. Eggi Sudjana menyoroti putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Presiden dan Wakil...