JAKARTA | MATA PENA INDONESIA — Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si., atau Brother Eggi Sudjana (BES), melalui kajian Mutiara Hikmah Selasa, 20 Oktober 2026, mengangkat kandungan Surah Ar-Rum ayat 2–7 tentang janji kemenangan Allah yang tidak pernah meleset. Ia sekaligus menyampaikan kritik tajam terhadap orientasi pembangunan Generasi Emas Indonesia 2045 apabila hanya berfokus pada pencapaian material duniawi tanpa membangun Generasi Taqwa (GT).
Dalam kajian tersebut, BES menyoroti kisah Bangsa Romawi (Rum) yang mengalami kekalahan, tetapi kemudian dijanjikan kemenangan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Menurutnya, peristiwa sejarah yang diabadikan dalam Al-Qur’an itu memberikan pelajaran mendalam tentang keyakinan terhadap janji Allah, pergantian generasi, serta pentingnya menempatkan ketakwaan sebagai fondasi kehidupan bangsa.
BES juga mengaitkan kajian tersebut dengan pergantian generasi yang dibahas dalam Mutiara Hikmah Senin sebelumnya, yakni konsep Sunatullah Qarn — Ihlak lalu Insya Qarn Akharin. Ia berharap Indonesia dapat mengambil pelajaran dari wahyu Allah dan Al-Qur’an, terlebih masih terdapat tiga tahun ke depan dalam masa pemerintahan Prabowo Subianto yang diharapkannya menjadi momentum munculnya Generasi Taqwa.
Surah Ar-Rum Ayat 2–7: Janji Kemenangan yang Tak Pernah Meleset
Dalam pembukaan rilisnya, BES mengutip firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
غُلِبَتِ الرُّوْمُ
“Bangsa Romawi telah dikalahkan,”
(QS. Ar-Rum 30: Ayat 2).
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فِيْۤ اَدْنَى الْاَ رْضِ وَهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُوْنَ
“di negeri yang terdekat dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang,”
(QS. Ar-Rum 30: Ayat 3).
فِيْ بِضْعِ سِنِيْنَ ۗ لِلّٰهِ الْاَ مْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْۢ بَعْدُ ۗ وَيَوْمَئِذٍ يَّفْرَحُ الْمُؤْمِنُوْنَ
“dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allahlah urusan sebelum dan setelah (mereka menang). Dan pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman,”
(QS. Ar-Rum 30: Ayat 4).
بِنَصْرِ اللّٰهِ ۗ يَنْصُرُ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُ
“karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Perkasa, Maha Penyayang.”
(QS. Ar-Rum 30: Ayat 5).
وَعْدَ اللّٰهِ ۗ لَا يُخْلِفُ اللّٰهُ وَعْدَهٗ وَلٰـكِنَّ اَكْثَرَ النَّا سِ لَا يَعْلَمُوْنَ
“(Itulah) janji Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
(QS. Ar-Rum 30: Ayat 6).
يَعْلَمُوْنَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۖ وَهُمْ عَنِ الْاٰ خِرَةِ هُمْ غٰفِلُوْنَ
“Mereka mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia; sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai.”
(QS. Ar-Rum 30: Ayat 7).
BES menegaskan bahwa ketetapan dan atau janji ALLAH PASTI BENAR, tak pernah meleset seinci pun. Dahsyat luar biasanya kisah Bangsa Romawi [RUM] yang dikisahkan dalam Al-Qur’an tersebut.
Pertanyaan seriusnya, bagaimana ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA MENGARISKAN KEMENANGAN SETELAH BANGSA RUM KALAH? Juga, mengapa kaum beriman bersuka cita dengan bangsa Rum? Bangsa mana saat itu lawannya?
Dikaitkan dengan Mutiara Hikmah Senin kemarin yang membahas pergantian generasi, bagaimana konstruksi sejarah mengaitkannya sehingga muncul Generasi Taqwa [GT]? Dalam konteks Bangsa Indonesia, mengapa yang dikejar Generasi Emas? Bukankah ini materialistik? Apakah ini indikasi Bangsa Indonesia lalai dari peristiwa akhirat kelak yang harus dipertanggungjawabkan lewat pengadilan akhirat?
BES mengangkat tema:
Q.S. AR-RUM Ayat 2–7 — GHULIBATIR RUM — JANJI KEMENANGAN YANG TAK PERNAH MELESET DAN GENERASI TAQWA VS GENERASI EMAS MATERIALISTIK.
Selasa, 20 Oktober 2026, menurut rilis tersebut, bertepatan dengan dua tahun Prabowo Subianto memimpin Indonesia. BES masuk ke ayat yang disebutnya paling dahsyat dari sisi nubuwat sejarah, yakni Surah Ar-Rum. Ia menyebutnya sebagai satu-satunya surah yang Allah namai dengan bangsa kafir yang kalah lalu dijanjikan menang.
Ini merupakan sambungan sempurna dari Mutiara Hikmah Senin sebelumnya tentang Sunatullah Qarn — Ihlak lalu Insya Qarn Akharin. Hari ini Allah memberikan contoh konkret melalui peristiwa sejarah Bangsa Rum. BES berharap Bangsa Indonesia dapat mengambil pelajaran dari wahyu Allah, Al-Qur’an, karena masih ada sisa tiga tahun ke depan masa pemerintahan Prabowo Subianto yang diharapkannya melahirkan Generasi Taqwa [GT].
BES mencoba menjawab persoalan tersebut secara serius melalui tiga lapis kajian atau analisis: GHULIBAT — SAYAGHLIBUN — FARAHAL MUKMINUN.
غُلِبَتِ الرُّومُ فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ فِي بِضْعِ سِنِينَ
1. Ghulibatir Rum — Bangsa Romawi Telah Dikalahkan
Rum adalah Byzantium Romawi Timur, Nasrani Ahli Kitab, yang pada tahun 615–616 Masehi dikalahkan telak oleh Persia, Majusi penyembah api, di Adnal Ardhi atau negeri yang terdekat.
Menurut penjelasan dalam rilis BES, para mufasir menyebut Adnal Ard sebagai wilayah dekat Syam, Baitul Maqdis, atau Laut Mati, yang merupakan titik terendah di bumi, sekitar minus 400 meter. Persia menghancurkan Yerusalem, membakar gereja, dan membawa Salib Suci.
Ketika berita tersebut sampai ke Makkah, kaum musyrik Quraisy bersorak. Mereka mengatakan, “Ahli Kitab kalah oleh penyembah api, seperti kami musyrik akan kalahkan kalian Muslim!”
Mereka menjadikan kekalahan Rum sebagai ejekan terhadap iman. BES menghubungkan peristiwa ini dengan ayat 5 dalam Mutiara Hikmah Senin sebelumnya, yakni Yastahzi’un — mengolok-olok.
2. Wa Hum Min Ba’di Ghalabihim Sayaghlibun — Setelah Kalah, Mereka Akan Menang
Inilah janji yang menurut BES mustahil secara akal. Rum sudah hancur total. Kaisarnya, Heraclius, melarikan diri ke Konstantinopel. Tentara Persia sudah berada di pintu Anatolia. Secara militer, Rum dinilai mustahil bangkit.
Namun, Allah menyatakan Sayaghlibun — dengan Sin Taukid, pasti akan menang. BES menegaskan bahwa ini bukan sekadar prediksi, melainkan Wa’dullah, janji Allah dalam ayat 6.
Batas waktunya disebutkan melalui frasa Fi Bid’i Sinin, yakni dalam beberapa tahun. Dalam bahasa Arab, Bid’i berarti tiga sampai sembilan tahun.
Rilis BES menyebut Rasulullah bertaruh dengan Abu Bakar. Abu Bakar bertaruh bahwa Rum akan menang dalam rentang tiga sampai sembilan tahun. Allah kemudian menangkan taruhan tersebut. Pada tahun 622–624 Masehi, atau sekitar enam sampai delapan tahun setelah kekalahan, Heraclius kembali menyerang Persia, mengalahkannya di Nineveh, merebut kembali Salib, dan Persia mengalami keruntuhan saat itu.
Fi Bid’i Sinin berarti dalam hitungan tahun yang sedikit. Lillahil Amru Min Qablu Wa Min Ba’du berarti bagi Allahlah urusan sebelum dan setelah mereka menang.
Artinya, sebelum Rum kalah, Allah yang mengatur; setelah Rum menang, Allah juga yang mengatur. Bukan analisis geopolitik, bukan kekuatan militer, melainkan Amrullah — ketetapan ALLAH.
BES menghubungkannya dengan Mutiara Hikmah Senin sebelumnya: Tamkin Midrara Ihlak, semuanya Allah yang mengatur.
3. Wa Yaumaidzin Yafrahul Mukminun — Orang Beriman Bergembira atas Kemenangan Rum
BES mengajukan pertanyaan tajam: mengapa kaum beriman bersuka cita dengan kemenangan bangsa Rum, padahal Rum bukan Islam?
Jawaban tafsir yang dipaparkannya memiliki dua lapisan.
Lapis pertama, historis. Mukmin senang karena Ahli Kitab menang atas Majusi. Kemenangan tauhid, meskipun tauhid Nasrani yang sudah menyimpang, atas syirik penyembah api menjadi alasan kegembiraan tersebut.
Menurut BES, ini merupakan kegembiraan karena kesamaan iman. Ia mengibaratkannya dengan keadaan saat ini, ketika seseorang merasa senang jika keadilan menang atas kezaliman, meskipun pelakunya belum sempurna dalam Islam.
Lapis kedua, lebih dalam. Wa Yaumaidzin Yafrahul Mukminun Bi Nasrillah berarti yang membuat senang bukan Rum-nya, melainkan Bi Nasrillah — karena pertolongan Allah, sebagaimana ayat 5.
Hari kemenangan Rum, menurut rilis BES, bertepatan dengan kemenangan Badar. Pada tahun kedua Hijriah, ketika Allah mengabarkan Rum menang, ALLAH juga menangkan Muslim di Badar atas kaum Quraisy musyrik.
Dengan demikian, Yafrahul Mukminun memiliki dua makna kegembiraan: Farah atas kemenangan Rum melawan Persia dan Farah atas kemenangan Muslim melawan Quraisy.
Satu hari, dua kemenangan: kemenangan Ahli Kitab atas Majusi dan kemenangan Muslim atas kaum musyrik.
Itulah Binashrillah — karena pertolongan Allah. Yanshuru Man Yasya’ — Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Wahuwal Azizur Rahim — Maha Perkasa, Maha Penyayang.
Rum ditolong meskipun bukan Muslim karena masih termasuk Ahli Kitab, sedangkan Muslim ditolong di Badar. Aziz berarti Perkasa, mampu mengalahkan Persia yang merupakan kekuatan adidaya. Rahim berarti Maha Penyayang, yang memberikan Farah kepada orang-orang beriman.
Ayat 6–7: Janji Tak Pernah Meleset dan Kritik terhadap Generasi Emas Materialistik
BES kemudian menyoroti ayat 6–7 Surah Ar-Rum:
وَعْدَ اللَّهِ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ وَعْدَهُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
(Itulah) janji Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka mengetahui yang lahir tampak dari kehidupan dunia; sedangkan terhadap akhirat mereka lalai.
Menurut BES, inilah kunci jawaban atas tiga pertanyaan terakhir yang diajukannya.
Pertanyaan 1: Bagaimana Allah Menggariskan Kemenangan Setelah Rum Kalah?
BES menjawab bahwa kemenangan tersebut digariskan melalui Wa’dullah — janji yang La Yukhlifullah Wa’dah, tidak pernah meleset seinci pun, sebagaimana ditulisnya di bagian awal.
Allah menggariskannya melalui Fi Bid’i Sinin, yakni hitungan tahun yang pasti. Bukan ramalan yang kabur, melainkan kepastian.
Hal tersebut, menurut BES, membuktikan ayat Senin sebelumnya: Tamkin Midrara Ihlak Insya Qarn Akharin, semuanya berada dalam Amrullah — Lillahil Amru Min Qablu Wa Min Ba’du.
Persia yang mengalami Tamkin luar biasa, sebagai kekaisaran selama 1.000 tahun, Allah Ihlak dalam Bid’i Sinin, yakni beberapa tahun, sekitar tiga sampai sembilan tahun sebagaimana rentang yang dijelaskannya.
Sementara itu, Rum yang Ghulibat, atau kalah telak, Allah jadikan melalui Insya’ sebagai Qarn Akharin yang Ghulib — menang. BES menyebutnya sebagai pola yang persis dengan kajian hari Senin.
Pertanyaan 2: Bagaimana Konstruksi Sejarah Menghubungkan Pergantian Generasi dengan Lahirnya Generasi Taqwa?
BES menjelaskan bahwa Ar-Rum merupakan contoh Qarn Akharin dalam ayat 6 yang dibahas pada Mutiara Hikmah Senin sebelumnya.
Persia adalah Qarn yang mengalami Makannahum fil Ardhi Ma Lam Numakkin Lakum — kekuasaan di bumi yang tidak diberikan kepada pihak lain. Persia mengalami Tamkin selama 1.000 tahun, Arsalna Sama’a Midrara — hujan kekayaan, serta Anhar Tajri — sungai Eufrat dan Tigris yang mengalir di bawah mereka.
Rum adalah pihak yang Ghulibat, kalah, seakan-akan mengalami Ahlakna.
Namun, Allah membalik keadaan tersebut. Persia mengalami Fa Ahlaknahum Bi Dzunubihim, binasa karena dosa syirik Majusi. Sementara itu, Rum mengalami Wa Ansya’na Qarnan Akharin, diciptakan kembali menjadi generasi pengganti yang menang.
BES menjelaskan bahwa Generasi Taqwa [GT] muncul di sela peristiwa tersebut. Pada hari yang sama ketika Rum menang, kaum Mukmin di Badar juga menang Bi Nasrillah.
Dengan demikian, GT bukan Rum. GT adalah Mukmin Badar yang Yafrah — bersuka cita karena melihat Wa’dullah terbukti.
GT merupakan generasi yang yakin bahwa Wa’dullah pasti benar, walaupun secara lahiriah terlihat mustahil. Abu Bakar yakin Rum akan menang dalam Bid’i Sinin, meskipun semua orang menertawakannya. Menurut BES, itulah GT.
Muslim di Badar yang berjumlah 313 orang juga yakin menang atas 1.000 Quraisy, walaupun secara lahiriah tampak mustahil. Itulah GT.
BES menegaskan bahwa Generasi Taqwa lahir dari Yaqin Wa’dullah, bukan dari hitungan zahir.
Pertanyaan 3: Mengapa Indonesia Mengejar Generasi Emas? Bukankah Itu Materialistik dan Berpotensi Membuat Bangsa Lalai terhadap Akhirat?
BES menyebut persoalan ini sebagai tamparan ayat 7 bagi Indonesia Emas 2045.
Ya’lamuna Zhahiran Minal Hayatid Dunya Wa Hum Anil Akhirati Hum Ghafilun.
Mereka mengetahui yang lahir tampak dari kehidupan dunia; sedangkan terhadap akhirat mereka lalai — Ghafilun.
Menurut BES, Generasi Emas yang dikejar hari ini merupakan gambaran dari Zhahiran Minal Hayatid Dunya.
Emas diartikan sebagai IPK tinggi, juara olimpiade, penguasaan kecerdasan buatan atau AI, penguasaan ekonomi, politik, dan hukum, bonus demografi, PDB besar, hilirisasi nikel, serta IKN yang megah.
Semua itu, menurutnya, merupakan Zhahir — sesuatu yang tampak lahir — dari Hayatid Dunya, kehidupan dunia.
BES menilai bahwa seseorang dapat mengetahui teknologi, ekonomi, Midrara atau hujan proyek, serta Anhar Tajri atau sungai uang, sebagaimana Persia juga mengetahuinya.
Namun, persoalan muncul ketika Wa Hum Anil Akhirati Hum Ghafilun — terhadap akhirat mereka lalai. Ghafilun berarti lalai total, lupa, dan tidak mengingat pengadilan akhirat.
BES kemudian mengajukan sejumlah pertanyaan:
Apakah Generasi Emas diajari 25 Pilar Bir yang dibahas pada Mutiara Hikmah Ahad sebelumnya? Apakah mereka diajari Aqama Shalat Wa Ata Zakah? Hafizhin Furujahum? Mufun bi Ahdihim? Shabirin fil Ba’sa Wad Dharra Wa Hinal Ba’s? Atau hanya diajari coding dan investasi?
BES menegaskan bahwa Ya’lamuna Zhahiran bukan pujian, melainkan celaan. Allah mencela orang yang pintar dalam urusan dunia, tetapi buta terhadap akhirat.
Persia pintar dalam urusan dunia, memiliki militer terkuat dan ekonomi terkuat, tetapi Ghafilun anil Akhirah. Karena itu, menurut rangkaian penjelasan BES, mereka mengalami Ahlaknahum Bi Dzunubihim.
Sementara itu, Rum meskipun kalah secara lahiriah, masih memiliki sisa iman sebagai Ahli Kitab sehingga ditolong oleh-Nya.
BES memperingatkan bahwa jika Indonesia mengejar Generasi Emas hanya dengan Zhahiran Dunya, tanpa Generasi Taqwa, nasibnya dikhawatirkan akan seperti Persia: Tamkin Midrara lalu Ihlak.
Emas yang dicapai, menurutnya, dapat menjadi istidraj yang menghancurkan sebelum kebinasaan sesungguhnya.
Karena itu, BES menegaskan bahwa yang harus dikejar bukan hanya Generasi Emas, melainkan Generasi Taqwa [GT], yang berpegang pada Surah Ar-Rum ayat 5–6: Yafrahul Mukminun Bi Nasrillah — bergembira karena pertolongan Allah; Wa’dullah La Yukhlif — janji Allah tidak akan meleset; serta Lillahil Amru Min Qablu Wa Min Ba’du — segala urusan berada dalam ketetapan Allah.
Generasi Taqwa bukan hanya generasi yang mengetahui Zhahir Dunya, tetapi generasi yang memahami dan meyakini janji Allah.
Generasi Taqwa merupakan Qarn Akharin yang dibahas pada kajian Senin sebelumnya, yakni generasi yang Allah Insya’ setelah generasi Kadzabu Yastahzi’un binasa.
Generasi Taqwa bukan diukur dari emasnya, melainkan dari Yaqin-nya terhadap Wa’dullah, walaupun secara lahiriah terlihat mustahil, serta Farah-nya karena Nasrullah, bukan karena proyek.
BES menegaskan bahwa apabila Generasi Emas tidak disertai ketakwaan, hal itu menjadi indikasi Ghafilun anil Akhirah — lalai terhadap pengadilan akhirat — sebagaimana peringatan ayat 7. Pada akhirnya, mereka akan diadili pada Yaumil Akhir yang selama ini mereka lalaikan.
Wallahu A’lam.
Salam Jihad dan Sabar,
Brother Eggi Sudjana (BES)




