Oleh: Agusto Sulistio
Matapenaindonesia – Dalam peta politik modern, seringkali apa yang terlihat di permukaan bukanlah realitas sesungguhnya. Isu muncul silih berganti, narasi dibangun, dan perhatian publik terus dialihkan ke berbagai arah. Suasana terlihat begitu dinamis, gaduh, dan seolah kekuasaan akan segera tumbang. Namun, banyak yang tidak menyadari adanya satu pola: isu seringkali diangkat bukan untuk menyelesaikan masalah, melainkan untuk memecah konsentrasi publik.
Strategi ini bukan hal baru. Pakar komunikasi Harold Lasswell pernah menegaskan bahwa politik bukan hanya soal kekuasaan, tetapi juga seni mengelola persepsi. Di sini, isu dijadikan alat—ditiupkan, diperbesar, dan disebarkan masif—agar masyarakat kehilangan fokus pada satu titik utama. Ketika perhatian terpecah, kekuatan kolektif pun melemah.
Di era digital saat ini, teknik ini semakin canggih. Data psikologis dan demografis massa dapat dibaca dengan mudah, lalu diolah untuk menyusun narasi spesifik bagi setiap segmen masyarakat. Akibatnya, bukan hanya perbedaan pendapat yang muncul, melainkan perbedaan “versi kebenaran” dan cara pandang terhadap realitas. Publik terbelah, dan prinsip “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” justru bekerja sebaliknya: selama masyarakat terpecah, stabilitas kekuasaan relatif aman.
Sejarah yang Berulang
Fakta ini bisa kita telusuri dari berbagai peristiwa besar. Di Amerika Serikat, Donald Trump pernah menghadapi proses pemakzulan (impeachment) yang sangat serius pada 2019. Gelombang protes besar-besaran seperti gerakan Black Lives Matter juga sempat mengguncang negaranya. Namun, kekuasaannya tetap berdiri tegak hingga masa jabatan berakhir.
Hal serupa terjadi di Indonesia. Aksi 212 pada 2016 yang memobilisasi jutaan orang, hingga demonstrasi menolak Undang-Undang Cipta Kerja pada 2020, merupakan tekanan massa yang luar biasa. Namun sekali lagi, roda pemerintahan terus berjalan tanpa gangguan signifikan pada struktur kekuasaan.
Ada benang merah yang jelas dari semua peristiwa ini: Kekuasaan modern tidak mudah runtuh hanya karena isu panas, kritik keras, atau demonstrasi massal.
Mengapa? Karena kekuasaan tidak hanya bertumpu pada opini publik semata, melainkan ditopang oleh struktur yang jauh lebih kokoh: institusi negara, dukungan legislatif, stabilitas keamanan, dan jaringan elite yang saling menguatkan. Selama pilar-pilar ini utuh, tekanan dari luar hanyalah riak di atas air, bukan tsunami yang mampu menumbangkan.
Jebakan Aktivisme Digital
Teknologi justru memperkuat kondisi ini. Internet memudahkan masyarakat bersuara, namun di saat yang sama membuat mereka lebih mudah terdistraksi. Aktivisme perlahan bergeser menjadi apa yang disebut slacktivism—partisipasi semu yang hanya sebatas like, share, dan komentar. Ini memberi rasa puas bahwa seseorang sudah “berjuang”, padahal dampaknya terhadap struktur kekuasaan sangat minim.
Kita hidup dalam paradoks: dunia tampak semakin bebas dan demokratis, namun kekuasaan justru semakin stabil. Bukan karena tidak ada oposisi, melainkan karena kritik tersebut gagal terorganisir menjadi kekuatan yang mampu menyentuh inti kekuasaan.
Relevansi dengan Situasi Saat Ini
Melihat realitas sejarah dan pola tersebut, kita bisa menarik kesimpulan mengenai situasi politik hari ini. Tekanan dan volume massa yang turun ke jalan pada era sekarang, jika dibandingkan dengan skala Aksi 212 atau gelombang reformasi sebelumnya, terlihat jauh lebih kecil dan tersegmentasi.
Oleh karena itu, wacana bahwa pemerintahan Prabowo-Gibran akan jatuh atau berhenti di tengah jalan hanya karena desakan isu atau narasi media—baik itu soal ijazah, korupsi, maupun kebijakan kontroversial—adalah hal yang sangat kecil kemungkinannya terjadi sebelum periode 2029. Jika pun ada perubahan, itu harus lahir melalui mekanisme konstitusional, bukan sekadar riuh media sosial.
Kita perlu bijak melihat siapa yang sebenarnya diuntungkan dari setiap kegaduhan yang muncul. Seringkali, di balik polemik yang memecah belah, terselip mekanisme halus untuk memastikan satu hal tetap terjaga: bahwa kekuasaan tetap berdiri kokoh, di tengah suara yang seolah ingin merobohkannya.
Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis 9 April 2026, 18:45 WIB.



