MPI – Mutiara Jumat, Tgl 23 Januari 2026
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
مَنْ كَا نَ يُرِيْدُ الْعِزَّةَ فَلِلّٰهِ الْعِزَّةُ جَمِيْعًا ۗ اِلَيْهِ يَصْعَدُ الْـكَلِمُ الطَّيِّبُ وَا لْعَمَلُ الصَّا لِحُ يَرْفَعُهٗ ۗ وَ الَّذِيْنَ يَمْكُرُوْنَ السَّيِّاٰتِ لَهُمْ عَذَا بٌ شَدِيْدٌ ۗ وَمَكْرُ اُولٰٓئِكَ هُوَ يَبُوْرُ
“Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah. Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal kebajikan Dia akan mengangkatnya. Adapun orang-orang yang merencanakan kejahatan mereka akan mendapat azab yang sangat keras, dan rencana jahat mereka akan hancur.”
(QS. Fatir 35: Ayat 10)
Perlu kita menyamakan persepsi, kesadaran dan ketaatan kepada ALLAAH SUBHANNAHU WA TA’ALA mengenai APA dan BAGAIMANA KEMULYAAN ITU? Kemudian bagaimana KESADARAN untuk mencapainya, serta bagaimana bentuk KETAATAN TINDAKAN hingga mendapatkan REDHA-NYA?
Kemulyaan itu sendiri adalah NILAI STRATEGIS seseorang maupun Bangsa dalam Status Sosial di Masyarakatnya. Sayangnya, cara sebagian besar orang dalam menggapai kemulyaan tersebut banyak yang salah jalan, seperti mengejar jabatan, popularitas dan kenikmatan dunia lainnya dengan mengorbankan martabat diri, sehingga akhirnya tidak mulia bahkan bisa berada dalam posisi TERHINA, sebagaimana firman Allah:
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنٰهُ بِهَا وَلٰـكِنَّهٗۤ اَخْلَدَ اِلَى الْاَ رْضِ وَا تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ۗ ذٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰ يٰتِنَا ۚ فَا قْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ
“Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya ia menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 176)
Oleh karena itu, munculkanlah kesadaran kolektif untuk tidak diperdaya oleh dunia, yang nilai kenikmatannya hanya seperti satu tetes jari telunjuk yang dicelupkan dalam laut.
Sisi berikutnya adalah ketaatan pada ALLAAH yang Absolute/mutlak tak tertandingi, tidak boleh musyrik terutama dalam hal prinsipil seperti AQIDAH – tidak ada TUHAN selain ALLAAH.
Dalam praktek nyata, misalnya dalam kasus ijazah Jokowidodo, belum ada pernyataan permintaan maaf dan tidak ada pengakuan penerimaan uang sebagai suap sebesar 100 juta. Jika memang ada, mengapa tidak ada Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Jokowi dan BES? Bagaimana konstruksi teknis BES menerima uang dalam jumlah besar tersebut, di mana dokumentasinya? Jika melalui transfer, di mana bukti transfernya? Sayangnya, HOI (Hati, Otak, Indera) sebagian pihak tampaknya DISFUNGSIONAL!
Salam Ta’ziem, Taqwa dan Jihad,
BES (Brother Eggi Sudjana)



