Oleh: Martinus Amin
Praktisi Hukum dan Sosial
MATAPENAINDONESIA.CO.ID – Pada 26 Juli 2026, SMRC merilis hasil survei yang menyebutkan adanya penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serta menurunnya tingkat kepuasan (approval rating) masyarakat terhadap Presiden. Pertanyaannya, apakah hasil survei SMRC tersebut layak dipercaya?
Sebelumnya, Syaiful Muzani dalam sebuah forum diskusi di Utan Kayu menyampaikan pernyataan yang oleh sebagian pihak dinilai mengandung unsur hasutan dan provokasi, yakni seruan kepada massa untuk menggulingkan Presiden Prabowo.
Atas pernyataan tersebut, Syaiful Muzani kemudian dilaporkan oleh sejumlah elemen masyarakat karena dinilai mengandung dugaan ajakan makar terhadap pemerintahan yang sah.
Berangkat dari kondisi itu, muncul pertanyaan di tengah publik: bagaimana hasil survei SMRC dapat dipercaya apabila lembaga tersebut dipimpin oleh sosok yang oleh sebagian kalangan dinilai tidak netral, provokatif, tendensius, serta memiliki kepentingan politik tertentu?
Jauh sebelumnya, keberadaan lembaga survei ini juga kerap menjadi sorotan. Sejumlah pihak menilai lembaga survei diduga bekerja berdasarkan pesanan pihak tertentu.
Menurut pandangan tersebut, siapa pun yang memiliki kemampuan membayar dikhawatirkan dapat memengaruhi objektivitas hasil survei yang dipublikasikan. Kecurigaan tersebut muncul karena beberapa hasil survei yang sebelumnya mengunggulkan calon kepala daerah tertentu ternyata berbeda dengan hasil pemilihan yang sesungguhnya.
Selain itu, pada awal berdirinya LSI yang didirikan oleh Syaiful Muzani bersama rekan-rekannya, Anies Baswedan diketahui pernah menjabat sebagai Direktur Riset lembaga tersebut.
Pada akhirnya, publik berhak menilai dan menarik kesimpulan sendiri mengenai arah, independensi, serta objektivitas survei yang dilakukan SMRC, sekaligus menempatkan hasil-hasil survei tersebut secara proporsional dalam ruang publik.




