JAKARTA | MATA PENA INDONESIA – Brother Eggi Sudjana (BES) dalam Mutiara Hikmah Selasa, 15 September 2026, mengajak umat Islam memahami kembali makna bersyukur atas seluruh nikmat yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Dalam kajiannya, Brother Eggi Sudjana membedah kandungan Surah Al-Kausar ayat 1-3 dan menghubungkannya dengan Surah Ibrahim ayat 7. Menurutnya, kedua surat tersebut memberikan gambaran mengenai nikmat, cara bersyukur, serta konsekuensi dari rasa syukur kepada Allah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّاۤ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَ
“Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak.”
QS. Al-Kausar: 1
Kemudian Allah berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَا نْحَرْ
“Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).”
QS. Al-Kausar: 2
Selanjutnya:
اِنَّ شَا نِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ
“Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).”
QS. Al-Kausar: 3
Menurut Brother Eggi, Surah Al-Kausar merupakan surat yang sangat singkat, tetapi memiliki kandungan yang padat. Ia merumuskannya menjadi sebuah rangkaian: nikmat → syukur → kemenangan.
Al-Kausar dan Sumber Segala Nikmat
Brother Eggi menjelaskan, kata Al-Kausar mengandung makna nikmat yang banyak dan melimpah. Dalam penjelasan ulama tafsir, Al-Kausar antara lain dikaitkan dengan telaga di surga, Al-Qur’an, kenabian, umat yang banyak, serta nikmat Islam.
Menurutnya, ayat pertama menunjukkan bahwa Allah memberikan nikmat terlebih dahulu kepada manusia.
“Sebelum diminta bersyukur, Allah sudah memberikan nikmat-Nya. Itu merupakan bagian dari adab Allah kepada manusia,” demikian inti penjelasan Brother Eggi.
Sholat dan Berkurban sebagai Bentuk Syukur
Pada ayat kedua, Allah memerintahkan sholat dan berkurban.
Brother Eggi menilai, syukur yang benar tidak berhenti pada ucapan Alhamdulillah, tetapi harus diwujudkan melalui ibadah dan pengorbanan.
فَصَلِّ atau sholat, menurutnya, merupakan bentuk pengabdian melalui badan, waktu, dan jiwa kepada Allah.
Sementara وَانْحَرْ atau berkurban menjadi simbol pengorbanan harta dan kesediaan mendahulukan Allah dibanding kecintaan berlebihan kepada dunia.
Ia kemudian merumuskan bahwa sholat dapat dipahami sebagai bentuk pengorbanan waktu, sedangkan kurban merupakan pengorbanan harta. Keduanya menjadi bagian dari pembuktian rasa syukur dan kecintaan seorang hamba kepada Allah.
Brother Eggi juga mengingatkan hadis:
مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللّٰهَ
“Siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.”
HR. Tirmidzi
Makna Al-Abtar dan Konsekuensi Orang yang Memusuhi Kebenaran
Pada ayat ketiga, Allah menyebut istilah الْاَبْتَرُ (Al-Abtar) yang bermakna terputus.
Brother Eggi menjelaskan bahwa dalam konteks sejarah turunnya ayat, terdapat pihak yang mencela Nabi Muhammad SAW dengan sebutan abtar. Namun Allah justru menegaskan bahwa pihak yang membenci dan memusuhi Rasulullah-lah yang terputus.
Dalam pandangan Brother Eggi, makna “kalah” atau “tewas” dalam konteks tersebut tidak selalu harus dipahami sebagai kematian fisik. Kekalahan juga dapat bermakna kalah pengaruh, kalah gagasan, kehilangan pengaruh, atau terputusnya keberlanjutan suatu kebatilan.
Ia mengaitkannya dengan berbagai kisah sejarah mengenai tokoh-tokoh yang akhirnya kehilangan kekuasaan dan pengaruhnya.
Sholat dan Kurban sebagai Sumber Kekuatan
Brother Eggi kemudian menghubungkan sholat dan kurban dengan kekuatan seorang Muslim.
Menurutnya, sholat merupakan sarana memperkuat iman dan kedekatan kepada Allah, sedangkan pengorbanan harta melalui kurban dan infak menjadi bukti bahwa seorang Muslim tidak diperbudak oleh kecintaan terhadap dunia.
Ia juga mengaitkan pembahasannya dengan sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW, termasuk peristiwa Badar dan Uhud. Dalam pandangannya, kemenangan dan ujian dalam sejarah umat Islam harus dibaca sebagai pelajaran mengenai ketaatan, kedisiplinan, pengorbanan, serta hubungan manusia dengan Allah.
Menghubungkan Al-Kausar dengan Ibrahim Ayat 7
Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan Surah Ibrahim ayat 7, yang menurut Brother Eggi memiliki hubungan erat dengan Surah Al-Kausar.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan: Sungguh, jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat berat.”
QS. Ibrahim: 7
Brother Eggi menekankan kata شَكَرْتُمْ (syakartum) yang berarti bersyukur dan لَاَزِيْدَنَّكُمْ (la-azidannakum) yang berarti “niscaya Aku akan menambah”.
Menurutnya, ayat tersebut menunjukkan adanya janji Allah bahwa rasa syukur akan menjadi sebab bertambahnya nikmat.
Dari sini ia menyusun hubungan antara kedua surat tersebut:
Al-Kausar:
اِنَّاۤ اَعْطَيْنٰكَ → فَصَلِّ + وَا نْحَرْ
Allah memberikan nikmat → manusia bersyukur melalui sholat dan kurban.
Ibrahim ayat 7:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ → لَاَزِيْدَنَّكُمْ
Jika bersyukur → Allah menambah nikmat.
Dengan demikian, menurut Brother Eggi, rangkaian tersebut dapat dirumuskan:
NIKMAT → SHOLAT + QURBAN/INFAQ → NIKMAT DITAMBAH → KEMBALI BERSYUKUR.
Ia menyebutnya sebagai lingkaran keberkahan.
Tiga Bentuk Bertambahnya Nikmat
Brother Eggi menjelaskan bahwa tambahan nikmat tidak selalu berarti bertambahnya jumlah materi.
Pertama, bertambah jenis nikmat, misalnya seseorang memperoleh kesehatan, kemudian mendapatkan rezeki, keluarga, dan anak-anak yang saleh.
Kedua, bertambah kualitas nikmat, yaitu harta yang sama tetapi menjadi lebih berkah dan mencukupi kebutuhan.
Ketiga, bertambah kekuatan menghadapi berbagai ujian dan tantangan.
Dalam konteks ini, Brother Eggi kembali menghubungkannya dengan ayat ketiga Surah Al-Kausar tentang Al-Abtar, yakni pihak yang memusuhi kebenaran pada akhirnya akan terputus menurut pemahamannya.
Rumus CBM: Cerdas, Berani, Militan
Dalam penerapannya kepada gerakan CBM (Cerdas, Berani, Militan), Brother Eggi mengajak umat untuk menjadikan nikmat yang diberikan Allah sebagai alasan memperkuat ibadah dan kepedulian sosial.
Menurutnya, apabila umat mendapatkan nikmat berupa sumber daya, kekuatan, ilmu, serta jumlah umat yang besar, maka bentuk syukurnya harus diwujudkan melalui:
فَصَلِّ — Memperkuat sholat, termasuk kedisiplinan waktu dan sholat berjamaah.
وَانْحَرْ — Memperkuat pengorbanan, antara lain melalui infak, kurban, membantu sesama, dan membangun kemandirian ekonomi umat.
Dalam konteks CBM, ia juga mengaitkannya dengan koperasi syariah dan upaya melawan praktik riba.
Brother Eggi kemudian menyampaikan rumus yang menjadi inti Mutiara Hikmah kali ini:
DAPAT NIKMAT → SHOLAT + QURBAN/INFAQ → MUSUH KEBAIKAN TERPUTUS.
Ia menegaskan bahwa keselamatan dan perubahan kehidupan, dalam pandangannya, harus dimulai dari penguatan hubungan manusia dengan Allah.
Al-Kausar dan Ibrahim Ayat 7 sebagai Obat Putus Asa
Menutup kajiannya, Brother Eggi menyebut Surah Al-Kausar sebagai salah satu pengingat agar umat Islam tidak mudah berputus asa.
Menurutnya, Allah telah memberikan berbagai nikmat kepada manusia. Tugas manusia adalah mengenali nikmat tersebut dan mewujudkan syukur dalam bentuk ibadah serta pengorbanan.
Ia kemudian merangkum dua surat tersebut dalam tiga tahapan:
1. DAPAT NIKMAT
اِنَّاۤ اَعْطَيْنٰكَ
Sesungguhnya Kami telah memberimu nikmat.
2. SYUKUR DENGAN IBADAH
فَصَلِّ + وَانْحَرْ
Sholat dan berkurban.
3. JANJI ALLAH
لَاَزِيْدَنَّكُمْ
Niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.
Sebagai penutup, Brother Eggi membacakan doa:
رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ
“Ya Tuhanku, anugerahkan aku agar selalu bersyukur atas nikmat-Mu.”
QS. An-Naml: 19
Salam Jihad, Brother Eggi Sudjana (BES)




