Mutiara Hikmah, BES: Sabar Bukan Berarti Pasrah, tetapi Tetap Kuat dalam Jihad dan Perjuangan

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof Dr Eggi Sudjana, SH., M.Si atau yang sering di panggil Brother Eggi Sudjana (BES) kembali menyampaikan tausiyah dalam program Mutiara Hikmah Ahad, 4 Oktober 2026. Kali ini, ia mengangkat tema tentang trilogi sabar yang bersumber dari tiga ayat Al-Qur’an, yakni QS. Al-Baqarah ayat 155, QS. Al-Baqarah ayat 153, dan QS. Ali ‘Imran ayat 200.

Dalam tausiyahnya, Eggi Sudjana menjelaskan bahwa sabar bukan sekadar sikap menerima keadaan atau berdiam diri ketika menghadapi persoalan. Lebih dari itu, sabar merupakan kemampuan menahan diri, memperkuat keteguhan, menjaga ketaatan, menjauhi larangan Allah SWT, serta tetap istiqamah dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan dan perjuangan.

Sebagai landasan pembahasan, ia mengawali tausiyah dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

QS. Al-Baqarah ayat 155

وَلَـنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَـوْفِ وَا لْجُـوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَ مْوَا لِ وَا لْاَ نْفُسِ وَا لثَّمَرٰتِ ۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 155).

Selanjutnya, ayat tersebut dijunctokan dengan firman Allah SWT dalam QS. Ali ‘Imran ayat 200:

QS. Ali ‘Imran ayat 200

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَا بِرُوْا وَرَا بِطُوْا ۗ وَا تَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”

(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 200).

Kemudian, Eggi menghubungkan kedua ayat tersebut dengan QS. Al-Baqarah ayat 153 sebagai petunjuk bagaimana seorang mukmin memohon pertolongan Allah ketika menghadapi ujian.

QS. Al-Baqarah ayat 153

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِا لصَّبْرِ وَا لصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 153).

Dari ketiga ayat tersebut, Eggi mengajukan sebuah pertanyaan mendasar: bagaimana seseorang meminta pertolongan untuk bersabar, tetapi justru diperintahkan meminta pertolongan dengan cara bersabar dan sholat?

Menurutnya, di sinilah terdapat pemahaman penting tentang hubungan antara kesabaran, sholat, dan jihad. Di sisi lain, perjuangan juga harus disertai jihad sebagaimana dikaitkan dengan QS. Ali ‘Imran ayat 142, dengan tiga prinsip penting, yaitu tidak lemah, tidak patah semangat, dan tidak menyerah.

Ia juga mengutip pandangan Imam Nawawi mengenai tiga dimensi kesabaran, yakni sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar dalam menjauhi segala larangan-Nya, serta sabar dalam menerima takdir buruk atau keadaan tidak menyenangkan yang menimpa diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.

Dalam pemaknaan tersebut, sabar merupakan kemampuan menahan diri dari segala hal yang termasuk dalam kategori ujian sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 155.

Trilogi Sabar: Jihad, Sabar, dan Sholat

Baca juga:  Mutiara Hikmah, BES: Tidak Ada Jalan Tengah, Islam Kaffah Harus Tegas dan Benar

Dalam tausiyahnya, Eggi merangkum ketiga ayat tersebut sebagai satu kesatuan yang disebut Trilogi Sabar, yakni QS. Al-Baqarah ayat 155, QS. Al-Baqarah ayat 153, dan QS. Ali ‘Imran ayat 200.

Menurutnya, ketiga ayat tentang sabar tersebut menjadi satu napas perjuangan bagi kader umat Islam yang memiliki karakter Cerdas, Berani, dan Militan (CBM), khususnya komunitas KORLABI yang dibinanya.

1. Ujian Itu Pasti – QS. Al-Baqarah Ayat 155

Eggi memberikan penekanan terhadap penggalan ayat:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ

“Dan Kami PASTI akan menguji kamu.”

Ia menjelaskan bahwa Allah menggunakan Lam Taukid dan Nun Taukid sebagai bentuk penegasan bahwa ujian benar-benar pasti terjadi. Bukan sekadar kemungkinan.

Menurut penjelasannya, siapa pun yang berjuang membela Islam dan UUD 1945 Asli akan menghadapi berbagai ujian. Ia mengaitkan lima bentuk ujian dalam ayat tersebut dengan pengalaman perjuangan yang disebutnya pernah BES alami.

Pertama, بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ (sedikit ketakutan), yaitu ketakutan menghadapi kemungkinan ditangkap, dicap makar, atau dibungkam oleh buzzer.

Kedua, وَالْجُوعِ (kelaparan), yakni kesulitan ekonomi karena melawan oligarki.

Ketiga, وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ (kekurangan harta), seperti rekening dibekukan atau usaha diganggu.

Keempat, وَالْأَنْفُسِ (kekurangan jiwa), yaitu ketika sahabat seperjuangan wafat, sakit, atau berkhianat.

Kelima, وَالثَّمَرَاتِ (kekurangan buah-buahan), yakni ketika hasil perjuangan belum terlihat dan panen keberhasilan masih harus ditunda.

Eggi menegaskan bahwa ujian tersebut bukan semata-mata azab, melainkan bagian dari sunnatullah atau ketentuan Allah dalam menguji hamba-Nya.

Bahkan, menurut penjelasannya, apabila seseorang tidak pernah mengalami ujian dalam perjuangannya, perlu melakukan introspeksi apakah benar-benar berada di jalan yang diyakininya.

Ia kemudian menyoroti penutup QS. Al-Baqarah ayat 155:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Menurut Eggi, kabar gembira yang dijanjikan Allah tersebut adalah kemenangan pada ujung perjuangan bagi mereka yang mampu menjaga kesabaran.

2. Bagaimana Meminta Pertolongan dengan Sabar dan Sholat? – QS. Al-Baqarah Ayat 153

Pada bagian kedua, Eggi membahas firman Allah:

اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ

“Mohonlah pertolongan dengan sabar dan sholat.”

Ia mengajukan pertanyaan yang menurutnya penting untuk direnungkan: mengapa ketika seseorang meminta pertolongan agar mampu bersabar, justru diperintahkan kembali untuk bersabar?

Eggi menjelaskan bahwa jawabannya dapat dipahami melalui tiga dimensi kesabaran sebagaimana pandangan Imam Nawawi yang dikutipnya. Ketiganya merupakan bentuk kemampuan menahan diri.

A. Sabar dalam Ketaatan (Menahan Malas)

Sabar dalam ketaatan berarti mampu menahan kemalasan untuk tetap menjalankan perintah Allah.

Contohnya, tetap melaksanakan sholat tahajud dan tetap mengikuti kuliah subuh di Al-Hikmah VIP Bogor meskipun dalam keadaan lelah.

Selain itu, tetap membela kebenaran meskipun tidak populer. Hal tersebut merupakan bentuk kemampuan menahan hawa nafsu yang menginginkan kenyamanan dan kesenangan pribadi.

B. Sabar dalam Menjauhi Larangan (Menahan Syahwat)

Dimensi kedua adalah kemampuan menahan diri agar tidak terjerumus dalam perbuatan yang dilarang Allah.

Baca juga:  Gudang Limbah Terbakar, Dugaan B3 dan Legalitas Disorot

Eggi memberikan contoh tidak ikut suap, tidak ikut mahar politik, serta tidak ikut proyek haram oligarki.

Menurutnya, di sinilah banyak orang mengalami kegagalan ketika menghadapi ujian. Saat seseorang diuji dengan kekurangan harta sebagaimana QS. Al-Baqarah ayat 155, setan dapat membisikkan godaan untuk mengambil jalan yang dilarang, termasuk menerima suap.

Karena itu, sabar berarti kemampuan untuk MENAHAN diri dari godaan tersebut.

C. Sabar dalam Menerima Takdir Buruk (Menahan Keluh Kesah)

Dimensi ketiga adalah kesabaran dalam menerima takdir buruk atau keadaan tidak menyenangkan.

Eggi memberikan contoh ketika seseorang ditahan di penjara, kalah dalam persidangan, atau difitnah oleh media. Dalam kondisi tersebut, seseorang tidak seharusnya larut dalam keluhan kepada manusia, melainkan menyampaikan segala persoalan dan pengaduannya kepada Allah melalui sholat.

Menurutnya, inilah alasan mengapa sabar selalu digandengkan dengan sholat dalam ayat tersebut.

Ia kemudian memberikan perumpamaan sederhana untuk menjelaskan hubungan keduanya.

Sabar diibaratkan sebagai baterai, sedangkan sholat merupakan charger. Baterai tanpa diisi ulang akan habis. Karena itu, cara memohon pertolongan agar tetap mampu bersabar adalah dengan menjaga kesabaran itu sendiri sekaligus menghubungkan diri kepada Allah melalui sholat.

Eggi juga menekankan penggalan ayat:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Menurut penjelasannya, Allah bukan sekadar melihat orang-orang yang bersabar, tetapi juga membersamai mereka.

3. Jihad Harus Memiliki Tiga Syarat Tidak – QS. Ali ‘Imran Ayat 142 dan 200

Pada pembahasan ketiga, Eggi menghubungkan kesabaran dengan jihad melalui QS. Ali ‘Imran ayat 142 dan ayat 200.

Ia mengutip penggalan QS. Ali ‘Imran ayat 200:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga.”

Menurut Eggi, sabar dalam jihad memiliki tiga rumusan penting agar seseorang tidak gugur di tengah perjuangan.

Dalam penjelasannya, QS. Ali ‘Imran ayat 200 membagi kesabaran ke dalam tiga tingkatan.

Pertama, ISBIRU (اصْبِرُوا)

Isbiru berarti bersabar untuk diri sendiri. Seseorang harus mampu menahan dirinya dan menjaga keteguhan pribadi ketika menghadapi berbagai ujian.

Kedua, SHABIRU (صَابِرُوا)

Shabiru berarti menguatkan kesabaran dalam menghadapi pihak yang menjadi lawan atau tantangan perjuangan.

Eggi menjelaskan bahwa apabila pihak lain bersabar, maka kita harus lebih kuat dalam mempertahankan kesabaran. Ini merupakan adu kesabaran.

Ia kemudian memberikan contoh dengan menyebut PKI yang menurut pandangannya dahulu bersabar selama 20 tahun dalam menyusun kekuatan. Karena itu, ia menyerukan agar umat Islam lebih sabar lagi dalam membongkar kekuatan tersebut.

Ketiga, RABITHU (رَابِطُوا)

Rabithu berarti tetap bersiap siaga dan menjaga kesiapan di perbatasan.

Eggi menghubungkan makna tersebut dengan KORLABI dan istilah RABITHAH. Artinya, tetap berada dalam kesiapsiagaan, tetap siaga, serta tidak membubarkan barisan.

Dalam konteks yang disampaikannya, ia mengajak untuk terus menjaga perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari ideologi komunis, liberal, dan oligarki.

Baca juga:  Prof. Eggi Sudjana Hadiri Peresmian Kantor Redaksi Mata Pena Group di Cibinong

Selanjutnya, Eggi menegaskan bahwa untuk menjalankan ketiga prinsip tersebut, seorang pejuang harus memiliki tiga sikap penting.

1. TIDAK LEMAH (Laa Tahinu)

Tidak lemah berarti tidak mudah menyerah karena kelemahan fisik, mental, maupun visi perjuangan.

Menurutnya, kelemahan tersebut harus dilawan dengan sholat dan jamaah.

2. TIDAK PATAH SEMANGAT (Laa Tahzanu)

Tidak patah semangat bukan berarti seseorang tidak boleh merasa sedih.

Sedih diperbolehkan, tetapi jangan sampai kehilangan semangat perjuangan. Misalnya, merasa sedih karena kalah dalam persidangan merupakan hal yang wajar. Namun, patah semangat hingga berhenti berjuang merupakan sikap yang tidak boleh terjadi.

3. TIDAK MENYERAH (Laa Tasta’limu)

Tidak menyerah berarti tidak tunduk kepada oligarki dan ketidakadilan.

Menurut Eggi, menyerah terhadap ketidakadilan sama artinya dengan menyetujui kezaliman.

Karena itu, ia menegaskan bahwa konsep Sabar Jihad bukanlah kesabaran yang pasrah dan diam tanpa tindakan, melainkan kesabaran aktif yang diwujudkan melalui prinsip RABITHU, yakni tetap siaga di medan perjuangan.

Penutup: Sabar Itu Menahan

Pada bagian penutup tausiyahnya, Eggi kembali menegaskan bahwa definisi paling tepat dari kesabaran dalam pembahasan QS. Al-Baqarah ayat 155 adalah kemampuan MENAHAN diri.

Ia menguraikan lima bentuk kemampuan menahan tersebut.

Menahan rasa takut agar tidak lari dari medan perjuangan.

Menahan lapar agar tidak mengambil atau memakan sesuatu yang haram.

Menahan kekurangan harta agar tidak tergoda melakukan suap.

Menahan diri ketika menghadapi persoalan jiwa agar tidak melakukan balas dendam secara membabi buta.

Menahan keinginan untuk memperoleh hasil perjuangan sebelum waktunya, sehingga tidak menggunakan cara-cara curang untuk mempercepat keberhasilan.

Menurutnya, apabila seluruh ujian tersebut mampu dihadapi dengan kesabaran dan menjadikan sholat sebagai sarana memohon pertolongan Allah, maka janji keberuntungan sebagaimana penutup QS. Ali ‘Imran ayat 200 menjadi pedoman perjuangan.

وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”

Eggi menjelaskan bahwa keberuntungan atau Falah memiliki dua dimensi. Pertama, Falah di dunia, yakni UUD 1945 Asli kembali dan keadilan dapat ditegakkan. Kedua, Falah di akhirat, yakni memperoleh surga Allah SWT.

Pesan untuk Kader Umat Islam yang CBM dan KORLABI

Mengakhiri tausiyah Mutiara Hikmah Ahad, 4 Oktober 2026, Eggi menyampaikan pesan khusus kepada kader umat Islam yang memiliki karakter Cerdas, Berani, dan Militan (CBM), termasuk komunitas KORLABI.

Menurutnya, saat ini umat Islam sedang menghadapi lima bentuk ujian sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 155.

Karena itu, tugas seorang pejuang bukan sekadar mengeluh menghadapi keadaan, melainkan menjalankan tiga prinsip sebagaimana QS. Ali ‘Imran ayat 200, yaitu Isbiru, Shabiru, dan Rabithu.

Tetap bersabar, menguatkan kesabaran dalam menghadapi kezaliman, serta senantiasa siaga di perbatasan.

Tausiyah tersebut ditutup dengan pesan:

Wallahu A’lam.

Salam Jihad dan Sabar.

Brother Eggi Sudjana (BES)

Latest

Bukan Sekadar Ucapan Selamat, Ini Pesan Eggi Sudjana untuk Kapolri Suyudi

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Ucapan selamat atas dilantiknya...

Mutiara Hikmah, BES: Kun Fayakun Allah dan Makna Hari Kesaktian Pancasila

MALAYSIA | MATA PENA INDONESIA – BISMILLAH. Mutiara Hikmah Kamis,...

Newsletter

Don't miss

Bukan Sekadar Ucapan Selamat, Ini Pesan Eggi Sudjana untuk Kapolri Suyudi

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Ucapan selamat atas dilantiknya...

Mutiara Hikmah, BES: Kun Fayakun Allah dan Makna Hari Kesaktian Pancasila

MALAYSIA | MATA PENA INDONESIA – BISMILLAH. Mutiara Hikmah Kamis,...

Mutiara Hikmah, BES: Siapa Bala Tentaramu Selain Allah? Pesan QS Al-Mulk 67:20 di Tengah Memori G30S 1965

MALAYSIA | MATA PENA INDONESIA – Memperingati 30 September...

Perlawanan Terhadap Orde Baru Hingga Perjuangan Politik Prabowo : Kekuasaan, Kepemimpinan, Amanah Serta Cara Berfikir OST dan Berjiwa Intelektual JUBEDIL

Oleh: Prof. Dr. Eggi Sudjana, S.H., M.Si. JAKARTA | MATA PENA INDONESIA - Dalam sejarah bangsa dan perjuangan membaca perjalanan Seorang Aktivis, Praktisi Hukum dan...

Bukan Sekadar Ucapan Selamat, Ini Pesan Eggi Sudjana untuk Kapolri Suyudi

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Ucapan selamat atas dilantiknya Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) disampaikan Tokoh Nasional...

Mutiara Hikmah, BES: Kupas Ali Imran 26-27: Kekuasaan dan Kekayaan, Peringatan tentang Suap serta Moralitas Pemimpin

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si., atau yang akrab dikenal sebagai Brother Eggi Sudjana (BES), dalam kajian Mutiara Hikmah...