Mutiara Hikmah, BES: Kupas Ali Imran 26-27: Kekuasaan dan Kekayaan, Peringatan tentang Suap serta Moralitas Pemimpin

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si., atau yang akrab dikenal sebagai Brother Eggi Sudjana (BES), dalam kajian Mutiara Hikmah Jumat, 2 Oktober 2026, mengangkat pesan mendalam dari Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 26 dan 27 tentang hakikat kekuasaan, kekayaan, kehormatan, serta tanggung jawab moral dan etika seorang pemimpin.

Dalam kajian tersebut, BES mengajak masyarakat untuk menyamakan persepsi, membangun kesadaran, serta meningkatkan ketaatan terhadap pesan moral dan etika yang terkandung dalam kedua ayat tersebut.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلِ اللّٰهُمَّ مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَآءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَآءُ ۖ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَآءُ ۗ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۗ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai Tuhan Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.'”

(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 26).

Ayat tersebut kemudian dijunctokan dengan ayat 27. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

تُوْلِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَا رِ وَتُوْلِجُ النَّهَا رَ فِى الَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَـيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَـيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَا بٍ

“Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Dan Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau berikan rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa perhitungan.”

(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 27).

Kekuasaan dan Kekayaan Saling Memengaruhi

Menurut BES, pesan moral dan etika dari kedua ayat tersebut perlu dipahami bersama, terutama mengenai hubungan antara kekuasaan dan kekayaan yang merupakan satu kesatuan serta saling memengaruhi satu sama lain.

Kekuasaan dapat sangat berpotensi meraih kekayaan relatif mudah dibandingkan mereka yang tidak memiliki kekuasaan. Sebaliknya, kekayaan pun dapat memengaruhi kekuasaan.

Lazim diketahui, untuk keperluan meraih kekuasaan diperlukan kampanye dan berbagai persiapan lainnya yang membutuhkan biaya besar, hingga triliunan rupiah untuk Capres dan Wapres, ratusan miliar rupiah untuk Gubernur dan Wakil Gubernur, serta seterusnya untuk Bupati, Wali Kota dan wakilnya masing-masing.

Di sinilah sering kali muncul persoalan moral dan etika dalam meraih keduanya, yakni kekuasaan dan kekayaan.

Moralitas dan etika dari ajaran Islam sebenarnya sangat terukur presisinya untuk meraih kedua hal tersebut. Contohnya, Rasulullah Muhammad SAW tidak membolehkan orang meminta jabatan, karena jabatan itu merupakan amanah dan dapat mendatangkan kehinaan serta penyesalan di dunia dan akhirat.

Lihatlah sejarah perseteruan Namrud yang dilawan oleh Nabi Ibrahim, Fir’aun yang dilawan Nabi Musa, kaum kafirun Yahudi dan Nasrani [QS. Al-Baqarah ayat 120] yang dilawan oleh Nabi Isa, serta kaum Quraisy, munafikun dan musyrikkun yang dilawan oleh Nabi Muhammad SAW.

Baca juga:  Kebangkitan Nasional: Tantangan Ekonomi Era Habibie dan Prabowo

Seterusnya, sejarah tersebut bergulir hingga hari ini. Tidak terkecuali terjadi juga di NKRI.

Sejak abad ke-15 Masehi, kaum animisme, politeisme, sinkretisme dan paganisme berseteru dengan Wali Songo. Kemudian masuk zaman penjajahan Portugis, Inggris, Belanda dan Jepang yang berseteru dengan Sukarno-Hatta.

Perseteruan berlanjut lagi dengan Suharto, kemudian dengan kaum Reformasi, hingga yang terbaru perseteruan kombinasi Mega-SBY, kemudian Jokowidodo dan Prabowo Subianto.

Garis besarnya, dalam perseteruan tersebut selalu ada pengusaha, pemodal atau oligarkinya, sehingga terjadilah suap-menyuap.

Padahal Rasulullah sudah mengingatkan, “Penyuap dan yang disuap, dua-duanya masuk neraka.”

Saksikanlah fakta, data dan saksi-saksi pada situasi pergantian kekuasaan tersebut. Dipastikan banyak yang tak sanggup menjalankan hadis tersebut. Bahkan, terang-terangan terjadi transaksi dengan uang mahar dan beragam istilah.

Partai yang berbasis Islam pun jelas-jelas disuap agar mendukung si Fulan. Partai yang membawa nilai moralitas dan etika itu pun tak mampu menolak suap.

Pertanyaan sederhananya, apakah generasi penerus bangsa Indonesia ini akan terus berlangsung dalam kezaliman, kemaksiatan dan suap-menyuap itu?

Kiranya perlu ada gagasan yang cemerlang untuk mengatasi masalah ini bagi kita, bangsa Indonesia yang berperikemanusiaan yang adil dan beradab.

Meneladani Abu Dzar Al-Ghifary dalam Integritas Kepemimpinan

Salah satu gagasan yang disampaikan BES adalah mengganti orang yang menjabat dengan standar rekam jejak seperti Abu Dzar Al-Ghifary, yaitu jujur, berani, zuhud dan memiliki kepedulian serta empati yang tinggi kepada kaum miskin dan marginal.

Akan tetapi, dalam kisahnya, Rasulullah Muhammad SAW masih melarang orang sekaliber Abu Dzar Al-Ghifary tersebut untuk mengambil kekuasaan itu, dengan mengingatkan kelemahan Al-Ghifary dalam kepemimpinan (leadership) dan administrasi kepemimpinannya atau keterampilannya (skill).

Jadi, jujur, berani, zuhud dan empati kepada orang miskin ternyata tidaklah cukup.

Lantas, bagaimana kita membangun dua hal penting tersebut?

Pertama, mengganti orangnya dengan mereka yang memiliki integritas, kapasitas dan otoritas fungsional.

Kedua, membangun sistem pergantian kekuasaan yang tidak lagi diwarnai nepotisme dan kepentingan materialistik serta tidak menafikan moralitas dan etika.

BES juga mengajak masyarakat untuk menjadi saksi terhadap pergantian kabinet saat ini, mulai dari Kapolri, para menteri dan lembaga negara lainnya, apakah masih terlihat jelas adanya pelanggaran moral dan etika.

Inspirasi Mutiara Hikmah ini disampaikan setelah kuliah subuh di Masjid Al Hikmah VIP Bogor.

Analisis QS Ali Imran 3:26-27: Malikal Mulk, Pemilik Kekuasaan Hakiki

Dalam uraian analisis lanjutan terhadap pesan Mutiara Hikmah tersebut, Prof. BES menyentuh ayat yang membahas hakikat kekuasaan dan menghubungkannya dengan persoalan bangsa Indonesia hari ini.

Jumat barokah, ba’da kuliah subuh Ustadz Rasyid, ayat ini menjadi bahan renungan untuk memahami persoalan kekuasaan dan moralitas.

1. Pesan Moral Etika dari Ayat 26-27

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ

“Katakanlah, Wahai Allah Pemilik Kekuasaan.”

Ayat ini menegaskan empat kunci yang digarisbawahi BES.

a. Tu’til Mulka man tasya’ – Allah memberikan kekuasaan kepada siapa yang Dia kehendaki.

Baca juga:  Saiful Chaniago: Kapolda Metro Jaya Harus Jaga Profesionalitas

Bukan rakyat yang memberi, bukan oligarki yang memberi, bukan isi TAS yang memberi. Allah yang memberi.

Rakyat dan sistem hanya menjadi jalan (kausalitas), sedangkan pemilik hakiki tetap Allah. Kalau Allah tidak menghendaki, sekuat apa pun uang dan kampanye, tidak akan jadi.

b. Wa tanzi’ul mulka mimman tasya’ – Allah mencabut kekuasaan dari siapa yang Dia kehendaki.

Fir’aun dicabut oleh Musa, Namrud dicabut oleh Ibrahim, kaum Quraisy dicabut oleh Muhammad SAW, PKI dicabut pada 1966. Hari ini pun bisa dicabut dalam sekejap dengan Kun Fayakun, sebagaimana yang terjadi kemarin.

c. Tu’izzu man tasya’ wa tudzillu man tasya’ – Allah memuliakan dan menghinakan siapa yang Dia kehendaki.

Jabatan bukan pemulia. Abu Dzar Al-Ghifari yang disebut BES menjadi contoh paling presisi.

Beliau memiliki beberapa karakter:

Jujur: Lurus, tidak bisa basa-basi.

Berani: Berani melawan Muawiyah soal harta.

Zuhud: Hidup miskin, baju tambal-tambal.

Empati: Sangat peduli kepada kaum miskin marginal.

Namun, Rasulullah SAW bersabda kepada Abu Dzar:

“Ya Aba Dzar, innaka dha’if…”

“Wahai Abu Dzar, engkau lemah dalam kepemimpinan dan administrasi.”

Rasulullah mengingatkan agar tidak meminta jabatan, karena jabatan merupakan amanah yang pada hari kiamat dapat menjadi kehinaan dan penyesalan (HR. Muslim).

Pelajaran: Jujur, berani, zuhud dan empati tidaklah cukup. Harus ada KAPASITAS, INTEGRITAS dan OTORITAS FUNGSIONAL.

Inilah yang hilang hari ini. Banyak yang jujur tetapi tidak mampu mengelola. Banyak yang mampu mengelola tetapi tidak jujur.

Rasulullah melarang orang meminta jabatan (HR. Bukhari), karena yang meminta biasanya karena isi TAS, bukan karena mampu.

d. Biyadikal Khair – Di tangan-Mu segala kebajikan.

Kekuasaan itu merupakan Khair (baik) apabila berada di tangan yang benar. Kekuasaan menjadi buruk apabila dijadikan alat suap.

2. Kekuasaan dan Kekayaan: Lingkaran Suap yang Disebut BES

Dalam analisis BES, sejak abad ke-15 hingga hari ini terdapat pola yang sama dalam hubungan kekuasaan dan kekayaan.

Beberapa gambaran yang disampaikan antara lain:

Animisme versus Wali Songo: Kekuasaan dukun dan kekayaan sesajen.

Penjajahan versus Sukarno-Hatta: Kekuasaan kolonial dan kekayaan rempah.

Orde Baru versus Reformasi: Kekuasaan Soeharto versus pengusaha Cendana.

Hari ini, Mega-SBY, Jokowi dan Prabowo: Kekuasaan membutuhkan triliunan rupiah untuk Capres dan ratusan miliar rupiah untuk Gubernur. Dari mana uangnya? Dugaan kuat dari kaum oligarki pemodal atau pengusaha.

Di sinilah hadis tentang suap berlaku:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ

“Rasulullah melaknat penyuap dan yang disuap, keduanya di neraka.”

Fakta yang dilihat BES adalah partai berbasis Islam pun disuap untuk mendukung si Fulan. Mengapa? Karena sistemnya memaksa.

Biaya kampanye triliunan rupiah tidak mungkin ditutup dari iuran kader. Maka terjadilah mahar politik, uang saksi dan uang perahu. Semua merupakan istilah halus dari suap.

Ini bukan lagi kesalahan personal, melainkan cacat sistem pergantian kekuasaan yang menafikan moralitas dan etika.

3. Apakah Generasi Penerus Akan Terus dalam Kezaliman Ini?

Baca juga:  Mutiara Hikmah BES: Jihad Doa dan Jihad Aksi, Memohon Perlindungan dari Empat Perkara

Jawabannya terdapat dalam ayat 27:

تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ… وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ

“Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati.”

Allah bisa memasukkan malam ke dalam siang dan mengeluarkan yang hidup dari yang mati.

Artinya, dari sistem yang mati, penuh suap dan gelap seperti malam, Allah bisa melahirkan generasi yang hidup dan berintegritas.

Dari rahim partai yang korup, bisa lahir satu anak muda yang menolak suap. Itu Kun Fayakun.

Namun, diperlukan ikhtiar sistem.

Gagasan Cemerlang untuk NKRI yang Adil dan Beradab

Dalam analisis lanjutan tersebut, disampaikan gagasan untuk NKRI yang adil dan beradab versi kader umat Islam yang CBM, yaitu KORLABI [Komando Pelaporan Bela Islam], sisi lain dari Exponen TPUA.

A. Ganti Orangnya – Standar Abu Dzar dan Umar bin Abdul Aziz

Jangan melihat ISI TAS, tetapi lihat lima syarat berikut:

1. INTEGRITAS

Takut kepada Allah, bukan takut kepada oligarki. Menolak suap meskipun partai membutuhkan uang.

2. KAPASITAS

Mampu dalam administrasi dan kepemimpinan, hal yang tidak dimiliki Abu Dzar. Memahami negara.

3. OTORITAS FUNGSIONAL

Berani memecat anak buah yang melakukan suap, bukan berlindung di balik pencitraan.

4. ZUHUD

Tidak hidup mewah dari jabatan.

5. EMPATI

Memiliki perhatian tinggi kepada masyarakat miskin dan marginal, seperti Abu Dzar.

Rasulullah melarang Abu Dzar karena kurang pada nomor 2 dan 3. Hari ini, kebanyakan pejabat kita kurang pada nomor 1, 4 dan 5.

B. Ganti Sistemnya – Putus Lingkar Setan Kekuasaan dan Kekayaan

Ada tiga gagasan yang disampaikan:

1. Biaya Politik Murah

Kembalikan ke UUD 45 Asli. Pemilu tidak perlu kampanye triliunan rupiah. Cukup musyawarah mufakat perwakilan yang beradab.

2. Audit Total Mahar Politik

Setiap perpindahan dukungan partai harus diaudit KPK, bukan dibiarkan menjadi budaya.

3. Sumpah Jabatan dengan Hadis Suap

Saat pelantikan Kapolri, Menteri dan Kepala Lembaga, bacakan hadis tentang laknat terhadap penyuap dan yang disuap.

Ingatkan mereka bahwa bukan hanya sumpah di bawah Al-Qur’an, tetapi juga ada ancamannya.

C. Jadi Saksi – Seperti Pesan BES

BES menyampaikan:

“Mari kita jadi saksi terhadap pergantian kabinet saat ini.”

Hal tersebut sesuai dengan QS Al-Mulk kemarin. Kita saksikan, apakah Kapolri baru, Menteri baru dan lembaga baru masih ada pelanggaran moral dan etika? Apakah masih ada jual beli jabatan?

Jika ada, maka mereka bukan Tu’izzu (dimuliakan Allah), tetapi sedang menuju Tudzillu (dihinakan Allah). Karena Malikal Mulk akan mencabutnya kembali.

Dalam penutup analisisnya, BES menyampaikan pesan:

“Generasi akan terus zalim kalau kita diam. Generasi akan berubah kalau kita jadi saksi dan berani menolak suap, mulai dari tingkat RT, ormas, sampai istana.”

Wallahu A’lam.

Terima kasih kepada Ustadz Rasyid, tetangga BES, atas inspirasi kuliah subuh ini.

Salam Jihad dan Sabar.

Brother Eggi Sudjana (BES

Latest

Bukan Sekadar Ucapan Selamat, Ini Pesan Eggi Sudjana untuk Kapolri Suyudi

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Ucapan selamat atas dilantiknya...

Mutiara Hikmah, BES: Kun Fayakun Allah dan Makna Hari Kesaktian Pancasila

MALAYSIA | MATA PENA INDONESIA – BISMILLAH. Mutiara Hikmah Kamis,...

Mutiara Hikmah, BES: Siapa Bala Tentaramu Selain Allah? Pesan QS Al-Mulk 67:20 di Tengah Memori G30S 1965

MALAYSIA | MATA PENA INDONESIA – Memperingati 30 September...

Newsletter

Don't miss

Bukan Sekadar Ucapan Selamat, Ini Pesan Eggi Sudjana untuk Kapolri Suyudi

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Ucapan selamat atas dilantiknya...

Mutiara Hikmah, BES: Kun Fayakun Allah dan Makna Hari Kesaktian Pancasila

MALAYSIA | MATA PENA INDONESIA – BISMILLAH. Mutiara Hikmah Kamis,...

Mutiara Hikmah, BES: Siapa Bala Tentaramu Selain Allah? Pesan QS Al-Mulk 67:20 di Tengah Memori G30S 1965

MALAYSIA | MATA PENA INDONESIA – Memperingati 30 September...

BAPPENDA Kabupaten Bogor Raih Nilai IKM 86,24% dengan Predikat Sangat Baik

CIBINONG |  MATA PENA INDONESIA – Penyelenggaraan pelayanan publik...

Perlawanan Terhadap Orde Baru Hingga Perjuangan Politik Prabowo : Kekuasaan, Kepemimpinan, Amanah Serta Cara Berfikir OST dan Berjiwa Intelektual JUBEDIL

Oleh: Prof. Dr. Eggi Sudjana, S.H., M.Si. JAKARTA | MATA PENA INDONESIA - Dalam sejarah bangsa dan perjuangan membaca perjalanan Seorang Aktivis, Praktisi Hukum dan...

Bukan Sekadar Ucapan Selamat, Ini Pesan Eggi Sudjana untuk Kapolri Suyudi

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Ucapan selamat atas dilantiknya Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) disampaikan Tokoh Nasional...

Mutiara Hikmah, BES: Kun Fayakun Allah dan Makna Hari Kesaktian Pancasila

MALAYSIA | MATA PENA INDONESIA – BISMILLAH. Mutiara Hikmah Kamis, 1 Oktober 2026. Dalam Mutiara Hikmah Kamis, 1 Oktober 2026, Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si.,...