MUTIARA HIKMAH – Ahad, 31 Mei 2026
Matapenaindonesia – Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
📚 QS. Ali ‘Imran (3) : 8
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّا بُ
“(Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.”
🤲 Ayat Al-Qur’an ini mengandung pesan mendasar yang wajib menjadi pegangan hidup setiap orang beriman, berisi tiga permohonan utama kepada Allah:
1️⃣ Memohon agar hati tidak pernah condong kepada kesesatan, meski telah mendapat petunjuk.
2️⃣ Memohon agar senantiasa diberi hidayah dan bimbingan lurus.
3️⃣ Memohon dikaruniai rahmat-Nya yang melimpah.
🧠 Maknanya sangat dalam: manusia tidak boleh merasa paling benar, paling suci, atau merasa aman dari kesalahan. Hati manusia bisa berubah arah kapan saja jika tidak dijaga dengan petunjuk dan rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
📖 Setelah berdoa memohon petunjuk, ada kewajiban lain yang tak boleh dilalaikan: memegang teguh janji setia hanya kepada Allah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
📚 QS. An-Nahl (16) : 91
وَ اَوْفُوْا بِعَهْدِ اللّٰهِ اِذَا عَاهَدْتُّمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْاَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيْدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللّٰهَ عَلَيْكُمْ كَفِيْلًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُوْنَ
“Dan tepatilah janji dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu melanggar sumpah setelah diikrarkan, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah itu). Sesungguhnya, Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.”
⚖️ Ini peringatan tegas: janji, sumpah, dan amanah bukan sekadar ucapan formalitas, melainkan tanggung jawab berat yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
📚 Bahkan peringatan itu dipertegas lagi dalam ayat berikutnya:
📚 QS. An-Nahl (16) : 92
وَلَا تَكُوْنُوْا كَا لَّتِيْ نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ اَنْكَا ثًا ۗ تَتَّخِذُوْنَ اَيْمَانَكُمْ دَخَلًاۢ بَيْنَكُمْ اَنْ تَكُوْنَ اُمَّةٌ هِيَ اَرْبٰى مِنْ اُمَّةٍ ۗ اِنَّمَا يَبْلُوْكُمُ اللّٰهُ بِهٖ ۗ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَـكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ مَا كُنْـتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ
“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai-berai kembali. Kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu…”
🧵 Perumpamaan ini sangat nyata: menyusun rencana atau kebijakan dengan sangat baik, namun kemudian merusaknya kembali hingga berantakan tak berguna.
🧠 Dalam pandangan Brother Eggi Sudjana (BES), perilaku seperti ini sering kita saksikan pada para “NAKHODOT” — istilah untuk pemimpin atau pejabat yang membuat kebijakan besar, namun pelaksanaannya kacau, tidak konsisten, dan jauh dari harapan.
🏛️ Contoh nyata: pembangunan IKN yang digadang-gadang sebagai langkah besar bangsa, namun kenyataannya belum tampak hasil yang stabil dan jelas seperti yang dijanjikan.
⚠️ Lebih miris lagi: sumpah jabatan sering kali hanya menjadi seremonial belaka.
✅ Bersumpah di atas Al-Qur’an,
✅ Mengatasnamakan amanah rakyat,
❌ Namun kenyataannya, janji-janji itu tak pernah terwujud.
❗ Inilah inti dari perilaku “NAKHODOT”: banyak ucapan, banyak sumpah, tetapi kosong bukti dan jauh dari fakta.
🤲 Maka dari itu, kita semua — terlebih yang memegang jabatan dan amanah — wajib kembali pada kejujuran, integritas, dan rasa takut kepada Allah. Ingatlah: Allah Maha Mengetahui segala isi hati, segala janji, dan segala perbuatan, baik yang tampak di mata manusia maupun yang tersembunyi di dalam dada.
🌟 Karena pada akhirnya, segala sesuatu akan dinilai dan dipertanggungjawabkan hanya kepada-Nya.
Salam Jihad, Brother Eggi Sudjana (BES)



