Oleh: BES – Brother Eggi Sudjana
Matapenaindonesia.co.id – MUTIARA HIKMAH – Jumat, 10 Juli 2026 | Bedah QS. Al-Hadid 57: 1–5
Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
Ayat 1
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَا لْاَرْضِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
“Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
Ayat 2
لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَرْضِ ۚ يُحْيٖ وَيُمِيْتُ ۚ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
“Milik-Nyalah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Ayat 3
هُوَ الْاَوَّلُ وَا لْاٰخِرُ وَا لظَّاهِرُ وَا لْبَاطِنُ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
“Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir, dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Ayat 4
هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ ۗ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِى الْاَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَآءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيْهَا ۗ وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۗ وَا للّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari dalamnya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
Ayat 5
لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَرْضِ ۗ وَاِ لَى اللّٰهِ تُرْجَعُ الْاُمُوْرُ
“Milik-Nyalah kerajaan langit dan bumi. Dan hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan.”
✅ INTI PESAN
Kelima ayat ini menegaskan secara mutlak bahwa ALLAH ITU ABSOLUT, DISTINCT, DAN UNIK. Tiga ciri khas inilah yang menjadi kriteria tunggal Tuhan, sehingga tidak ada yang pantas disebut Tuhan selain Allah.
Pertanyaan kritis yang kami ajak renungkan bersama:
Secara intelektual, pantaskah ada Tuhan selain Allah? Dan jika keesaan Allah sudah sangat jelas, mengapa masih banyak yang mengingkari-Nya? Apakah HATI, OTAK, dan INDERA mereka disfungsikan secara sengaja
📚 BAHASAN LENGKAP & BAHAN DAKWAH
1. TIGA KRITERIA MUTLAK KETUHANAN
Pertama: ABSOLUTE (Maha Mutlak)
Berdasarkan Ayat 1, 2, dan 5. Maknanya: Allah tidak bergantung pada apapun dan siapapun. Sebaliknya, langit, bumi, seluruh makhluk, bahkan kekuasaan tertinggi sekalipun semuanya bergantung pada-Nya. Segala keputusan hidup dan mati, kaya dan miskin, menang dan kalah sepenuhnya berada di tangan-Nya. Dia tidak butuh sekutu, tidak butuh bantuan, dan tidak butuh disembah. Kitalah yang sungguh-sungguh membutuhkan-Nya.
Kedua: DISTINCT (Maha Berbeda)
Berdasarkan Ayat 3. Maknanya: Allah sama sekali berbeda dengan seluruh makhluk yang pernah tercipta. Dia adalah Yang Awal, tidak ada sesuatu yang mendahului-Nya. Dia adalah Yang Akhir, tidak ada sesuatu yang akan mengakhiri-Nya. Dia Zahir, segala bukti ciptaan menunjuk pada keberadaan-Nya. Dia juga Batin, zat-Nya tidak bisa dijangkau oleh akal maupun panca indera manusia. Dia tidak pernah lelah, tidak tidur, tidak makan, dan tidak memiliki keturunan.
Ketiga: UNIQUE (Maha Esa & Maha Hadir)
Berdasarkan Ayat 4. Maknanya: Hanya Allah satu-satunya yang berhak disembah, tidak ada yang setara dengan-Nya. Dia Maha Mengetahui segala hal yang tersembunyi maupun yang tampak. Dia Maha Hadir, bersama kita di mana saja kita berada – saat sepi, saat difitnah, saat bersujud, maupun saat berbuat kesalahan. Dia juga Maha Melihat setiap niat dan amal yang kita kerjakan.
2. UJIAN LOGIKA: TIDAK MUNGKIN ADA TUHAN SELAIN ALLAH
Secara akal sehat, konsep adanya lebih dari satu Tuhan pasti gagal melewati tiga ujian berikut:
Ujian Kuasa Mutlak
Jika ada dua Tuhan yang berkuasa, lalu kehendak mereka berbeda – misalnya satu ingin hujan dan satu lagi ingin kemarau – maka alam semesta pasti akan hancur dan berantakan. Namun kenyataannya alam ini tetap teratur rapi. Sesuai firman Allah dalam QS. Al-Anbiya ayat 22: “Seandainya ada tuhan selain Allah, pasti langit bumi rusak.” Maka sudah pasti Tuhan itu hanya satu.
Ujian Sifat Tuhan
Tuhan tidak boleh memiliki sifat makhluk: tidak lahir, tidak mati, tidak lemah, dan tidak lupa. Jika ada sosok yang bisa mati, bisa lapar, bisa dikalahkan, atau memiliki kekurangan, maka itu bukan Tuhan, melainkan makhluk yang diciptakan. Sesuai QS. Al-Ikhlas ayat 3 sampai 4: “Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”
Ujian Pengetahuan & Kehadiran
Jika ada dua Tuhan, pasti ada satu yang mengetahui sesuatu lebih dulu atau lebih lengkap daripada yang lain. Yang kurang tahu berarti tidak sempurna, sehingga tidak layak disebut Tuhan. Maka pengetahuan dan kehadiran mutlak harus dimiliki oleh Satu Zat saja.
3. JAWABAN ATAS PERTANYAAN: “SIAPA YANG MENCIPTAKAN TUHAN?”
Pertanyaan ini sebenarnya memiliki kesalahan pada premis dasarnya. Tuhan didefinisikan sebagai Zat yang Tidak Diciptakan. Jika ada sesuatu yang menciptakan-Nya, berarti Dia adalah makhluk, bukan Tuhan.
Secara dalil, Allah adalah Al-Awwal atau Yang Pertama. Tidak ada apapun yang ada sebelum Dia. Secara logika, rantai sebab dan akibat tidak bisa berjalan terus tanpa henti sampai tak terhingga. Harus ada satu titik berhenti sebagai Sebab Pertama yang tidak disebabkan oleh apapun. Titik itulah yang disebut Allah.
Sederhananya, pertanyaan ini sama persis seperti bertanya: “Sebelum angka 1 ada angka berapa?” Atau “Berapa berat warna putih?” Pertanyaan itu tidak nyambung dengan hakikat yang ditanyakan.
Kartu Jawab Singkat Untuk Debat:
1. “Pertanyaannya salah. Tuhan itu yang tidak diciptakan. Kalau ada yang ciptain, berarti dia bukan Tuhan.”
2. “Allah itu Yang Pertama. Tidak ada sebelum Dia, sama seperti tidak ada angka sebelum 1.”
3. “Harus ada satu yang tidak diciptakan untuk menghentikan rantai penciptaan. Itulah Allah.”
4. MENGAPA MASIH BANYAK YANG MENGINGKARI ALLAH?
Padahal bukti kebesaran Allah sudah terpampang nyata di langit dan bumi, masih banyak orang yang mengingkari-Nya. Jawabannya: Benar, mereka memiliki Hati, Otak, dan Indera yang lengkap, namun mereka sendiri yang menonaktifkan atau mendisfungsikannya dengan sengaja.
Mengenai Hati
Sebenarnya hati diciptakan untuk menerima kebenaran dan merasa takut serta tenang kepada Allah. Namun banyak hati yang terkunci karena kesombongan, dengki, dan terlalu mencintai dunia. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 7: “Allah telah mengunci hati mereka.”
Mengenai Otak dan Akal
Akal seharusnya digunakan untuk berpikir, meneliti, dan membedakan mana yang hak serta mana yang bathil. Namun banyak orang yang menutup akalnya dengan ikut-ikutan nenek moyang tanpa mau mencari tahu sendiri, atau memutarbalikkan fakta demi hawa nafsunya.
Mengenai Indera
Mata diciptakan untuk melihat tanda kebesaran Allah, telinga untuk mendengar pesan kebenaran. Namun banyak yang menggunakan mata untuk menatap maksiat dan menyebar fitnah, telinga untuk mendengar ghibah dan berita bohong. Sesuai QS. Al-A’raf ayat 179: “Mereka memiliki hati tapi tidak digunakan untuk memahami, memiliki mata tapi tidak digunakan untuk melihat.”
Ada tiga penyakit utama penyebab pengingkaran: Pertama, kesombongan persis seperti Fir’aun yang tahu kebenaran tapi menolak karena merasa lebih hebat. Kedua, buta tradisi yang hanya meniru apa yang dilakukan leluhur. Ketiga, lebih memilih kenikmatan dunia sesaat daripada kebenaran yang berat untuk dijalani.
5. CEKLIST: HOI SEHAT VERSUS HOI SAKIT
Hati
Hati yang sehat akan langsung tunduk dan tenang saat mendengar ayat Allah, beramal dengan ikhlas tanpa mengharap pujian manusia, serta menjauhi rasa dengki. Sebaliknya hati yang sakit akan terasa kaku dan berat saat diajak mengingat Allah, beramal hanya untuk dilihat orang lain, serta mudah gelisah dan iri hati.
Otak dan Akal
Akal yang sehat gemar berpikir tentang ciptaan langit dan bumi, berani membedakan mana yang benar dan salah, serta selalu ingin menambah ilmu. Sedangkan akal yang sakit hanya mengikuti arus mayoritas, membenarkan kesalahan demi keuntungan sendiri, dan merasa dirinya paling pintar.
Indera
Indera yang sehat menggunakan mata untuk mengambil pelajaran dari ciptaan Allah, telinga untuk mendengar nasihat, dan lisan untuk berkata jujur. Indera yang sakit justru menggunakan mata untuk melihat hal yang haram, telinga untuk mendengar aib orang lain, dan lisan untuk menyebar fitnah serta kebohongan.
Tugas kita hanya menyampaikan kebenaran dengan sabar dan hikmah. Hidayah adalah hak mutlak Allah untuk siapa yang Dia kehendaki.
Salam Jihad, BES – Brother Eggi Sudjana
Red




