Mutiara Hikmah BES: QS Al-Mujadilah Ayat 5 dan Peringatan Bagi Orang yang Menentang Allah dan Rasulnya

BOGOR, MATAPENAINDONESIA.CO.ID — Prof. Dr. H. Eggi Sudjana, SH., M.Si., kembali menyampaikan renungan keislaman melalui Mutiara Hikmah Rabu, (12/8/2026). Dalam renungan kali ini, Prof. Eggi mengajak umat Islam memahami secara lebih mendalam kandungan QS. Al-Mujadilah ayat 5, terutama mengenai peringatan Allah SWT terhadap orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya serta makna “azab yang menghinakan”.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ يُحَآدُّوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ كُبِتُوْا كَمَا كُبِتَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَقَدْ اَنْزَلْنَاۤ اٰيٰتٍۢ بَيِّنٰتٍ ۗ وَلِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابٌ مُّهِيْنٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya pasti mendapat kehinaan sebagaimana kehinaan yang telah didapat oleh orang-orang sebelum mereka. Dan sungguh, Kami telah menurunkan bukti-bukti yang nyata. Dan bagi orang-orang yang mengingkarinya akan mendapat azab yang menghinakan.”

(QS. Al-Mujadilah 58: Ayat 5)

Berangkat dari ayat tersebut, Prof. Eggi mengajukan sebuah pertanyaan serius kepada AI mengenai bagaimana memahami secara konkret bukti-bukti kehancuran atau kehinaan orang-orang yang menentang dan mengingkari ayat-ayat Allah SWT.

Makna “Menentang Allah dan Rasul-Nya”

Menurut renungan tersebut, kata yuhaddun atau yuhadduuna dalam konteks ayat menggambarkan sikap mengambil posisi berhadap-hadapan atau menentang ketentuan Allah dan Rasul-Nya.

Namun, peringatan ayat tersebut tidak semestinya digunakan untuk sembarangan melabeli seseorang sebagai kafir atau musuh Allah. Penilaian terhadap keimanan seseorang merupakan perkara yang sangat serius dan tidak boleh dilakukan hanya berdasarkan perbedaan pendapat, konflik politik, kritik, ataupun persoalan pribadi.

Pesan utama ayat justru menjadi peringatan bagi setiap Muslim agar tidak dengan sengaja menolak kebenaran setelah datang kepadanya bukti yang jelas.

Baca juga:  Pembentukan Panitia Forum Dialog Kejahatan Lingkungan Hidup

Allah menyebut:

“Wa qad anzalnaa aayaatin bayyinaat”

yang berarti bahwa Allah telah menurunkan bukti-bukti yang nyata.

Dengan demikian, keimanan tidak dibangun semata-mata berdasarkan emosi, tetapi juga melalui ilmu, dalil, dan kesadaran terhadap kebenaran wahyu.

Bukti dari Kisah Umat Terdahulu

Dalam Al-Qur’an, terdapat banyak kisah umat terdahulu yang menjadi pelajaran bagi manusia.

Fir’aun, misalnya, digambarkan sebagai penguasa yang melampaui batas dan bahkan mengklaim kedudukan ketuhanan. Al-Qur’an kemudian menceritakan bagaimana kekuasaannya berakhir.

Qarun menjadi gambaran manusia yang tertipu oleh kekayaan dan kesombongan. Al-Qur’an menceritakan bahwa ia dan rumahnya dibenamkan ke dalam bumi.

Demikian pula kaum ‘Ad yang dikenal memiliki kekuatan dan kesombongan. Mereka kemudian mendapatkan azab sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an.

Sementara itu, para penentang dakwah Nabi Muhammad SAW pada masa awal Islam juga menghadapi konsekuensi sejarah. Abu Jahal, salah satu tokoh utama yang menentang Rasulullah SAW, tewas dalam Perang Badar.

Kisah-kisah tersebut menunjukkan bahwa kekuasaan, harta, kekuatan fisik, dan kedudukan tidak menjamin manusia dapat menghindari ketetapan Allah SWT.

Apa yang Dimaksud “Azab yang Menghinakan”?

Prof. Eggi kemudian mengajak pembaca memahami istilah “adzabun muhin”, atau azab yang menghinakan.

Dalam perspektif Al-Qur’an, azab tidak hanya berkaitan dengan penderitaan fisik, tetapi juga berkaitan dengan kehinaan akibat penolakan terhadap kebenaran dan konsekuensi perbuatan manusia.

Namun, penting untuk membedakan antara peringatan Allah dalam wahyu dengan penilaian manusia terhadap sebuah peristiwa.

Baca juga:  Eggi Sudjana Buka Suara Terkait Penangkapan Roy Suryo dan Dokter Tifa

Bencana, kegagalan, kebangkrutan, penyakit, atau jatuhnya seseorang dari kekuasaan tidak dapat secara otomatis dinyatakan sebagai hukuman Allah terhadap orang tersebut. Hakikat suatu musibah dan nasib seseorang sepenuhnya berada dalam pengetahuan Allah SWT.

Karena itu, seorang Muslim seharusnya mengambil pelajaran dari setiap peristiwa tanpa merasa memiliki kewenangan untuk memastikan bahwa seseorang sedang menerima azab Allah.

Kehinaan Tidak Selalu Tampak Secara Fisik

Renungan ini juga mengingatkan bahwa manusia sering kali hanya melihat ukuran keberhasilan dari apa yang tampak.

Seseorang bisa memiliki kekayaan, jabatan, popularitas, dan kekuasaan, tetapi semua itu bukan jaminan keselamatan di hadapan Allah.

Sebaliknya, seseorang yang hidup sederhana atau mengalami kesulitan juga tidak otomatis berarti sedang dihinakan Allah.

Ukuran yang lebih penting adalah iman, ketakwaan, kejujuran, keadilan, dan amal perbuatan.

Dalam konteks kehidupan modern, sikap seperti korupsi, penipuan, fitnah, kezaliman, penyalahgunaan kekuasaan, dan tindakan merugikan orang lain harus menjadi bahan introspeksi bagi setiap manusia.

Bukan karena setiap pelakunya langsung dapat dinyatakan menerima azab Allah di dunia, melainkan karena Al-Qur’an telah memberikan peringatan keras mengenai konsekuensi perbuatan zalim dan kemaksiatan.

“Bukti Nyata” yang Harus Menjadi Pelajaran

Pertanyaan Prof. Eggi mengenai bukti nyata kehancuran orang-orang yang menentang Allah dapat dijadikan momentum untuk melihat sejarah dan wahyu secara lebih luas.

Ada tiga hal yang dapat menjadi pelajaran.

Pertama, kesombongan tidak menjamin seseorang bertahan.

Baca juga:  Mutiara Hikmah, BES: Kupas Ali Imran 26-27: Kekuasaan dan Kekayaan, Peringatan tentang Suap serta Moralitas Pemimpin

Kekuasaan dan kekayaan yang tidak disertai ketaatan dapat membuat manusia lupa bahwa seluruh yang dimiliki pada hakikatnya adalah amanah.

Kedua, kebenaran tidak selalu langsung menghasilkan kemenangan secara kasatmata.

Dalam banyak kisah Al-Qur’an, proses antara datangnya peringatan dan terjadinya akibat dapat berlangsung dalam waktu yang tidak singkat.

Ketiga, manusia harus melakukan introspeksi sebelum menghakimi orang lain.

Peringatan Al-Qur’an bukan hanya ditujukan untuk menunjuk kesalahan orang lain, tetapi juga untuk mengoreksi diri sendiri.

Hikmah untuk Kehidupan Saat Ini

Dari QS. Al-Mujadilah ayat 5, terdapat sejumlah pesan penting yang dapat direnungkan.

Jangan menentang kebenaran setelah bukti yang jelas datang.

Jangan menjadikan kekuasaan, harta, dan kedudukan sebagai ukuran kemuliaan.

Jangan mudah menghakimi nasib seseorang sebagai azab Allah.

Jadikan kisah umat terdahulu sebagai pelajaran, bukan sekadar cerita sejarah.

Perkuat dakwah dengan ilmu, dalil, akhlak, dan kebijaksanaan.

Jadikan peringatan Al-Qur’an sebagai sarana memperbaiki diri.

Pada akhirnya, Mutiara Hikmah Prof. Eggi Sudjana mengajak umat Islam untuk memahami bahwa Al-Qur’an memberikan peringatan sekaligus jalan keselamatan.

Kehancuran orang-orang terdahulu bukan sekadar untuk dikenang, tetapi menjadi pelajaran agar manusia tidak mengulangi kesombongan, kezaliman, dan penolakan terhadap kebenaran.

“Salam Jihad” dan semangat jihadul qalam dapat dimaknai sebagai perjuangan menyampaikan kebenaran dengan ilmu, tulisan, argumentasi yang baik, serta tetap menjunjung akhlak dan keadilan.

Mutiara Hikmah – Rabu, 12 Agustus 2026

Salam Jihad,  Brother Eggi Sudjana (BES).

Latest

Bukan Sekadar Ucapan Selamat, Ini Pesan Eggi Sudjana untuk Kapolri Suyudi

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Ucapan selamat atas dilantiknya...

Mutiara Hikmah, BES: Kun Fayakun Allah dan Makna Hari Kesaktian Pancasila

MALAYSIA | MATA PENA INDONESIA – BISMILLAH. Mutiara Hikmah Kamis,...

Newsletter

Don't miss

Bukan Sekadar Ucapan Selamat, Ini Pesan Eggi Sudjana untuk Kapolri Suyudi

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Ucapan selamat atas dilantiknya...

Mutiara Hikmah, BES: Kun Fayakun Allah dan Makna Hari Kesaktian Pancasila

MALAYSIA | MATA PENA INDONESIA – BISMILLAH. Mutiara Hikmah Kamis,...

Mutiara Hikmah, BES: Siapa Bala Tentaramu Selain Allah? Pesan QS Al-Mulk 67:20 di Tengah Memori G30S 1965

MALAYSIA | MATA PENA INDONESIA – Memperingati 30 September...

Perlawanan Terhadap Orde Baru Hingga Perjuangan Politik Prabowo : Kekuasaan, Kepemimpinan, Amanah Serta Cara Berfikir OST dan Berjiwa Intelektual JUBEDIL

Oleh: Prof. Dr. Eggi Sudjana, S.H., M.Si. JAKARTA | MATA PENA INDONESIA - Dalam sejarah bangsa dan perjuangan membaca perjalanan Seorang Aktivis, Praktisi Hukum dan...

Bukan Sekadar Ucapan Selamat, Ini Pesan Eggi Sudjana untuk Kapolri Suyudi

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Ucapan selamat atas dilantiknya Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) disampaikan Tokoh Nasional...

Mutiara Hikmah, BES: Kupas Ali Imran 26-27: Kekuasaan dan Kekayaan, Peringatan tentang Suap serta Moralitas Pemimpin

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si., atau yang akrab dikenal sebagai Brother Eggi Sudjana (BES), dalam kajian Mutiara Hikmah...