BOGOR, MPI – Mutiara Hikmah Jumat, (4/9/2026), Brother Eggi Sudjana (BES) kali ini mengangkat tema tentang takdir Ilahi, usaha manusia, ancaman terhadap kekafiran dan makna hikmah, sebagaimana terkandung dalam Surat Al-Qamar ayat 3 sampai dengan ayat 5.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَكَذَّبُوْا وَا تَّبَعُوْۤا اَهْوَآءَهُمْ وَكُلُّ اَمْرٍ مُّسْتَقِرٌّ
“Dan mereka mendustakan (Muhammad) dan mengikuti keinginannya, padahal setiap urusan telah ada ketetapannya.”
(QS. Al-Qamar 54: Ayat 3)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman:
وَلَقَدْ جَآءَهُمْ مِّنَ الْاَ نْۢبَآءِ مَا فِيْهِ مُزْدَجَرٌ
“Dan sungguh, telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat ancaman (terhadap kekafiran).”
(QS. Al-Qamar 54: Ayat 4)
Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
حِكْمَةٌ ۢ بَا لِغَةٌ فَمَا تُغْنِ النُّذُرُ
“(Itulah) suatu hikmah yang sempurna, tetapi peringatan-peringatan itu tidak berguna (bagi mereka).”
(QS. Al-Qamar 54: Ayat 5)
Pertanyaan seriusnya adalah bagaimana logika kecerdasan manusia untuk memahami bahwa segala urusan sudah ditetapkan oleh Allah apabila dikaitkan dengan dimensi usaha manusia?
Bagaimana pula memahami ancaman kekafiran dan apa sebenarnya makna hikmah? Bagaimana semua itu dipahami dalam perspektif takdir Ilahi?
Menurut Prof. Dr. Brother Eggi Sudjana (BES), tiga ayat tersebut merupakan peringatan yang sangat keras bagi manusia yang merasa dirinya pintar, tetapi justru lebih memilih mengikuti hawa nafsunya.
Intinya adalah:
SUDAH DITETAPKAN + SUDAH DIPERINGATKAN + TETAP SAJA MENGIKUTI HAWA NAFSU.
Segala Urusan Telah Ditetapkan, Lalu Di Mana Posisi Usaha Manusia?
Allah berfirman:
وَكُلُّ اَمْرٍ مُّسْتَقِرٌّ
“Setiap urusan telah ada ketetapannya.”
QS. Al-Qamar ayat 3 tersebut bukan berarti manusia hanya duduk diam dan menyerahkan seluruh kehidupannya tanpa usaha.
Dalam perspektif Islam, terdapat hubungan antara ketetapan Allah dan usaha manusia. Hubungan tersebut dapat dipahami sebagai perpaduan antara Tauhid Rububiyah dan Sunnatullah.
Ada dua rel yang berjalan secara bersamaan.
Rel Pertama: Ketetapan Allah
Qadha dan qadar merupakan ketetapan Allah. Allah mengetahui segala sesuatu dan hasil akhir seluruh urusan berada dalam kekuasaan-Nya.
Rel Kedua: Usaha Manusia
Manusia diperintahkan untuk bergerak, bekerja, berdoa, belajar, berikhtiar dan berusaha.
Manusia bertanggung jawab atas proses yang dilakukannya.
Contohnya, manusia mengetahui bahwa nyawa, rezeki dan jodoh berada dalam ketentuan Allah. Namun manusia tetap diperintahkan untuk bekerja mencari rezeki, menuntut ilmu, menikah dan menjaga kesehatan.
Analogi Seorang Petani
Sebuah sawah berada dalam ketetapan dan Sunnatullah Allah.
Tanahnya tersedia, musim datang, hujan turun dan tanaman memiliki proses pertumbuhannya.
Namun manusia tetap harus membajak, menanam, memberikan pupuk dan menjaga tanaman dari hama.
Apabila manusia tidak mau berusaha, maka ia telah mengabaikan Sunnatullah.
Apabila manusia telah berusaha tetapi hasilnya tidak sesuai dengan keinginannya, maka ia harus belajar menerima ketetapan Allah.
Dan apabila manusia berhasil, maka ia tidak boleh menjadi sombong dengan mengatakan bahwa semuanya terjadi hanya karena dirinya hebat.
Karena Allah telah memperingatkan manusia tentang sikap orang yang berkata:
اِنَّمَاۤ اُوْتِيْتُهٗ عَلٰى عِلْمٍ
“Sesungguhnya aku diberi nikmat ini hanyalah karena kepintaranku.”
Kesimpulannya, manusia tidak boleh menjadi fatalis, tetapi juga tidak boleh menjadi sombong.
Manusia wajib berikhtiar secara maksimal dan bertawakal kepada Allah atas hasil akhirnya.
Kisah-Kisah sebagai Peringatan dan Alarm Kehidupan
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ جَآءَهُمْ مِّنَ الْاَ نْۢبَآءِ مَا فِيْهِ مُزْدَجَرٌ
“Dan sungguh, telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat ancaman.”
Menurut Prof. Dr. Brother Eggi Sudjana (BES), kata Muzdajar dapat dipahami sebagai peringatan, penghalang dan alarm bahaya.
Kisah-kisah yang disampaikan Allah bukan sekadar cerita masa lalu.
Kisah tersebut adalah pelajaran agar manusia berhenti sebelum melakukan kesalahan yang sama.
Tujuh Kisah yang Menjadi Muzdajar
1. Kaum Nabi Nuh AS
Kaum Nabi Nuh mendustakan dakwah dan mengejek ajakan kepada kebenaran.
Pelajarannya, manusia tidak boleh mempermainkan kebenaran. Dakwah membutuhkan kesabaran dan keteguhan.
2. Kaum ‘Ad
Kaum ‘Ad dikenal memiliki kekuatan besar. Namun kekuatan tersebut membuat mereka sombong dan melakukan kezaliman.
Pelajarannya:
Kekuatan tanpa iman dan akhlak dapat membawa manusia kepada kehancuran.
3. Kaum Tsamud
Kaum Tsamud mengingkari tanda-tanda dan mukjizat Allah.
Pelajarannya adalah manusia tidak boleh meremehkan tanda-tanda kekuasaan Allah.
4. Kaum Nabi Luth AS
Kisah kaum Nabi Luth menjadi peringatan mengenai kerusakan moral dan penyimpangan manusia dari jalan yang telah ditetapkan Allah.
Pelajarannya adalah bahwa rusaknya moral dapat merusak tatanan kehidupan masyarakat.
5. Kaum Madyan
Kaum Madyan dikenal dengan berbagai bentuk kecurangan dalam kehidupan ekonomi.
Pelajarannya:
Ekonomi yang dibangun di atas kecurangan dan kezaliman dapat membawa kerusakan.
6. Fir’aun dan Bala Tentaranya
Fir’aun menjadi simbol kesombongan kekuasaan, kezaliman dan manusia yang merasa dirinya berada di atas kebenaran.
Pelajarannya adalah:
Kekuasaan bukan alasan bagi manusia untuk merasa dirinya tidak dapat dikritik atau tidak dapat dikalahkan.
7. Kaum Quraisy
Kaum Quraisy mendustakan Nabi Muhammad SAW dan memilih mengikuti hawa nafsu.
Pelajarannya:
Menolak kebenaran tidak akan mengubah kebenaran itu sendiri.
Dari berbagai kisah tersebut terdapat pola yang harus direnungkan:
MENOLAK KEBENARAN → MENGIKUTI HAWA NAFSU → MENGABAIKAN PERINGATAN → MENANGGUNG AKIBAT.
Inilah yang disebut sebagai Muzdajar, yaitu alarm kehidupan agar manusia berhenti, berpikir dan melakukan muhasabah.
Hikmah yang Sempurna, Tetapi Peringatan Tidak Berguna
Allah berfirman:
حِكْمَةٌ ۢ بَا لِغَةٌ فَمَا تُغْنِ النُّذُرُ
“(Itulah) suatu hikmah yang sempurna, tetapi peringatan-peringatan itu tidak berguna bagi mereka.”
Inilah persoalan paling serius.
Manusia dapat menerima nasihat berkali-kali, melihat peristiwa berkali-kali, membaca ayat Allah berkali-kali, tetapi tetap tidak berubah.
Mengapa?
Pertama, Mengikuti Hawa Nafsu
Allah menjelaskan:
اِتَّبَعُوْۤا اَهْوَآءَهُمْ
“Mereka mengikuti hawa nafsu.”
Akal akhirnya dikalahkan oleh hawa nafsu.
Nafsu terhadap kekuasaan.
Nafsu terhadap harta.
Nafsu terhadap popularitas.
Nafsu terhadap kesenangan.
Manusia mengetahui suatu perbuatan salah, tetapi tetap melakukannya karena hawa nafsu lebih kuat daripada kesadaran.
Kedua, Mendustakan Kebenaran
Allah berfirman:
وَكَذَّبُوْا
“Mereka mendustakan.”
Ada manusia yang meremehkan ayat, meragukan peringatan, menolak nasihat dan merasa bahwa ajaran agama tidak relevan dengan kehidupannya.
Padahal Allah telah memberikan hikmah yang sempurna.
Ketiga, Melupakan Ketetapan Allah
Manusia merasa bahwa dirinya dapat mengendalikan seluruh kehidupan.
Ia merasa:
“Saya yang mengatur semuanya.”
Padahal Allah berfirman:
وَكُلُّ اَمْرٍ مُّسْتَقِرٌّ
Setiap urusan berada dalam ketetapan Allah.
Ketika manusia melupakan hal tersebut, maka muncul kesombongan.
Seperti perkataan:
اِنَّمَاۤ اُوْتِيْتُهٗ عَلٰى عِلْمٍ
“Ini semua karena kepintaranku.”
Tiga Tingkatan Memahami Takdir Ilahi
Tingkat Pertama: Pemahaman Fatalistik
Seseorang berkata:
“Sudah takdir.”
Kemudian ia tidak mau berusaha.
Bahkan kalimat tersebut dijadikan alasan untuk melakukan kesalahan.
Pemahaman seperti ini tidak benar.
Tingkat Kedua: Pemahaman yang Cerdas
Seseorang berusaha secara maksimal.
Ia berdoa.
Ia melakukan ikhtiar.
Kemudian bertawakal dan menerima hasil yang Allah tetapkan.
Inilah keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal.
Tingkat Ketiga: Tingkatan Para Nabi
Seseorang tidak hanya berusaha untuk dirinya sendiri.
Ia juga berdakwah dan berusaha agar manusia lain memperoleh keselamatan.
Ia berusaha, bertawakal dan mengajak manusia kepada jalan yang benar.
Apa Sebenarnya Hikmah?
حِكْمَةٌ ۢ بَا لِغَةٌ
Hikmah dapat dipahami sebagai kemampuan untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya berdasarkan ilmu, kebenaran dan petunjuk Allah.
Hikmah tidak sama dengan kecerdasan.
Orang cerdas mungkin mengetahui cara mencari keuntungan dengan memanfaatkan kelemahan orang lain.
Namun orang yang memiliki hikmah mengetahui mana yang benar dan salah, kemudian memilih kebenaran karena takut kepada Allah.
Tiga Unsur Hikmah
Pertama, Ilmu.
Memahami mana yang benar dan salah.
Memahami mana yang halal dan haram.
Kedua, Amal.
Ilmu tidak hanya disimpan dalam pikiran, tetapi diwujudkan dalam perbuatan.
Ketiga, Dakwah.
Ilmu dan kebaikan disampaikan agar manusia lain juga memperoleh manfaat.
Rumus 3T untuk Memahami dan Mengamalkan Hikmah
T1: Tafaqquh
Dalami ilmu.
Pelajari Al-Qur’an, sejarah dan pelajaran kehidupan.
Tanpa ilmu, manusia dapat salah memahami hikmah.
T2: Tafakkur
Renungkan kehidupan.
Bertanya kepada diri sendiri:
Apa pelajaran dari peristiwa yang sedang terjadi?
Apa yang Allah ingin ajarkan kepada saya?
Tanpa tafakkur, ilmu dapat menjadi kering.
T3: Tatbiq
Amalkan dalam kehidupan.
Sebelum mengambil keputusan, tanyakan:
Apakah keputusan ini mengikuti kebenaran atau hanya mengikuti hawa nafsu?
Tanpa penerapan, hikmah hanya akan menjadi teori.
Hikmah sebagai Kesadaran Kolektif
Prof. Dr. Brother Eggi Sudjana (BES) menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif.
Kesadaran kolektif berarti keluarga, organisasi, masyarakat dan bangsa memiliki kesadaran bersama untuk membangun kehidupan berdasarkan kebenaran dan keadilan.
Di Tingkat Keluarga
Bangun kebiasaan belajar dan berdiskusi.
Luangkan waktu untuk membaca kisah-kisah dalam Al-Qur’an dan mengambil pelajaran darinya.
Di Tingkat Organisasi
Setiap keputusan perlu mempertimbangkan nilai moral dan keadilan.
Sebelum mengambil keputusan, perlu ditanyakan:
Apakah keputusan ini merugikan orang lain?
Apakah terdapat kezaliman di dalamnya?
Di Tingkat Masyarakat
Bangun budaya saling mengingatkan.
Apabila terdapat kesalahan, lakukan nasihat dan pembinaan dengan cara yang baik.
Di Tingkat Negara
Para pemimpin dan pengambil kebijakan memiliki tanggung jawab besar.
Kekuasaan harus dipahami sebagai amanah, bukan alat untuk memenuhi hawa nafsu.
Obat Agar Peringatan Tidak Menjadi Sia-Sia
1. Tafakkur Sejarah
Pelajari kisah para nabi dan kaum terdahulu.
Sejarah harus menjadi pelajaran agar manusia tidak mengulangi kesalahan yang sama.
2. Mujahadah Melawan Hawa Nafsu
Belajar melawan ego.
Belajar berkata:
“Saya harus mengikuti kebenaran, bukan hanya mengikuti keinginan saya.”
3. Memohon Petunjuk kepada Allah
Panjatkan doa:
اَللّٰهُمَّ اَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَّارْزُقْنَا اتِّبَا عَهٗ
“Ya Allah, tunjukkan kepada kami bahwa yang benar itu benar dan berikanlah kami kekuatan untuk mengikutinya.”
Doa Memohon Hikmah
Salah satu doa yang dapat dipanjatkan adalah:
رَبِّ هَبْ لِيْ حُكْمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِا لصّٰلِحِيْنَ
“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh.”
Kesimpulan
QS. Al-Qamar ayat 3 sampai 5 memberikan tiga pelajaran besar.
Pertama: وَكُلُّ اَمْرٍ مُّسْتَقِرٌّ
Segala urusan berada dalam ketetapan Allah.
Manusia wajib berusaha dan bertawakal.
Kedua: مَا فِيْهِ مُزْدَجَرٌ
Belajarlah dari sejarah.
Jangan mengulangi kesalahan yang telah dilakukan oleh kaum terdahulu.
Ketiga: حِكْمَةٌ ۢ بَا لِغَةٌ
Allah telah memberikan hikmah dan pelajaran yang sempurna.
Namun manusia harus membuka hati agar peringatan tersebut memberikan manfaat.
Jangan sampai kita menerima begitu banyak peringatan, tetapi tetap tidak berubah dan menjadi bagian dari mereka yang disebut:
فَمَا تُغْنِ النُّذُرُ
“Peringatan-peringatan itu tidak berguna bagi mereka.”
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan kita semua sebagai manusia yang mampu memahami takdir dengan benar, tetap berusaha secara maksimal, bertawakal kepada Allah, mengambil pelajaran dari sejarah dan memiliki hikmah dalam menjalani kehidupan.
Semoga pula kita memiliki kesadaran kolektif untuk menjalankan amar ma’ruf nahi munkar.
Allahumma la taj’alna minal ghaafiliin.
“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang lalai.”
Salam Jihad.
Brother Eggi Sudjana (BES)




