BOGOR, MPI — Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH.,, M.Si yang di kenal dengan Sebutan Brother Eggi Sudjana ( BES ) melalui Mutiara Hikmah Ahad, (23/8/2026), mengangkat tema “Nabi Muhammad SAW adalah Orang yang Sempurna Berdasarkan Logika Disiplin Ilmu Al-Qur’an.” Pembahasan tersebut dikaitkan dengan lima ayat Al-Qur’an sekaligus momentum perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid At-Thohiriyah, Empang, Bogor, Sabtu (22/8/2026).
Dalam narasi Mutiara Hikmah tersebut, kedudukan Rasulullah Muhammad SAW dijelaskan melalui ayat-ayat Al-Qur’an yang menggambarkan beliau sebagai pembawa cahaya dan petunjuk, teladan bagi manusia, sekaligus utusan Allah yang wajib ditaati.
Rasulullah SAW sebagai Cahaya dari Allah
Landasan pertama yang digunakan adalah QS. Al-Ma’idah ayat 15:
يٰۤـاَهْلَ الْكِتٰبِ قَدْ جَآءَكُمْ رَسُوْلُـنَا يُبَيِّنُ لَـكُمْ كَثِيْرًا مِّمَّا كُنْتُمْ تُخْفُوْنَ مِنَ الْكِتٰبِ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍ ۗ قَدْ جَآءَكُمْ مِّنَ اللّٰهِ نُوْرٌ وَّكِتٰبٌ مُّبِيْنٌ
“Wahai Ahli Kitab! Sungguh, Rasul Kami telah datang kepadamu, menjelaskan kepadamu banyak hal dari (isi) kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula) yang dibiarkannya. Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menjelaskan.”
QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 15
Ayat tersebut menjadi dasar bahwa Rasulullah SAW hadir membawa petunjuk dan penjelasan bagi manusia.
Rasulullah SAW sebagai Uswatun Hasanah
Landasan kedua adalah QS. Al-Ahzab ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”
QS. Al-Ahzab 33: Ayat 21
Dalam Mutiara Hikmah BES, ayat tersebut menjadi salah satu dasar untuk menjelaskan Rasulullah SAW sebagai Uswatun Hasanah, yakni teladan terbaik bagi umat manusia.
Kesempurnaan Rasulullah SAW dalam narasi ini tidak hanya dipahami dari sisi fisik, tetapi terutama dalam menjalankan risalah, akhlak, amanah, penyampaian wahyu dan keteladanan.
Islam Telah Disempurnakan
Landasan ketiga adalah QS. Al-Ma’idah ayat 3:
اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًا
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.”
QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 3
Ayat tersebut digunakan sebagai dasar bahwa Islam merupakan agama yang telah disempurnakan Allah SWT sebagai pedoman kehidupan.
Apa yang Diberikan Rasul Harus Diterima
Landasan keempat adalah QS. Al-Hasyr ayat 7:
وَمَاۤ اٰتٰٮكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ ۚ وَمَا نَهٰٮكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۖ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya.”
QS. Al-Hasyr 59: Ayat 7
Ayat tersebut menjadi dasar mengenai kewajiban menerima apa yang diberikan Rasulullah SAW dan meninggalkan apa yang dilarangnya.
Tidak Ada Pilihan Lain Setelah Allah dan Rasul Menetapkan
Landasan kelima adalah QS. Al-Ahzab ayat 36:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗۤ اَمْرًا اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيْنًا
“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.”
QS. Al-Ahzab 33: Ayat 36
Kelima ayat tersebut menjadi rangkaian landasan dalam Mutiara Hikmah BES untuk menjelaskan kedudukan Rasulullah SAW dan kewajiban umat Islam dalam menaati Allah serta Rasul-Nya.
Maulid Nabi di Masjid At-Thohiriyah Empang
Pembahasan mengenai kesempurnaan Rasulullah SAW kemudian dikaitkan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang berlangsung di Masjid At-Thohiriyah, Empang, Bogor, Sabtu (22/8/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Imam Besar Habib Muhammad Rizieq Shihab hadir sebagai salah satu penceramah.
Menurut narasi yang disampaikan, Habib Rizieq menjelaskan besarnya pengorbanan dan perjuangan Rasulullah Muhammad SAW dalam kehidupannya sehingga Rasulullah disebut sebagai figur manusia yang paling sempurna.
Habib Rizieq juga disebut menyampaikan bahwa apabila ada pihak yang mengatakan Baginda Rasulullah SAW merupakan sosok manusia yang tidak sempurna, maka orang tersebut masuk kategori “jahiliyah dan tak beradab.”
Pada penghujung ceramah, Habib Rizieq disebut sempat menyapa Prof. Dr. H. Eggi Sudjana dan menyebutnya sebagai Tokoh Nasional yang turut hadir di tengah jamaah perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Damai Hari Lubis Soroti Sapaan Habib Rizieq
Momentum tersebut kemudian menjadi perhatian Damai Hari Lubis (DHL), Ketua Umum KORLABI, melalui tulisan berjudul “Saat Maulid di Empang Bogor Habib Rizieq: ‘Eggi Sudjana Tokoh Nasional’.”
DHL menyampaikan dirinya tidak dapat hadir dalam acara tersebut karena tetangga sekitar 25 meter dari rumahnya meninggal dunia, bertepatan dengan acara perayaan Maulid.
Menurut DHL, sapaan Habib Rizieq kepada Eggi Sudjana menjadi hal penting karena disampaikan di hadapan jamaah.
DHL juga mengaitkan momentum tersebut dengan dinamika TPUA dan KORLABI. Dalam tulisannya, ia menyampaikan pandangan mengenai pihak-pihak yang disebutnya sebagai “antek-antek” atau “komprador” pemecah belah TPUA.
Menurut DHL, pihak tersebut dinilai memiliki misi untuk membunuh karakter Eggi Sudjana dan dirinya di hadapan publik.
Namun, DHL menilai sapaan Habib Rizieq kepada Eggi Sudjana di hadapan jamaah menjadi momentum yang dapat dimaknai secara positif oleh publik.
Mengapa Ada yang Mengatakan Tidak Ada Manusia Sempurna?
Mutiara Hikmah BES kemudian mengangkat pertanyaan mengenai pernyataan sebagian orang Islam yang mengatakan “tidak ada manusia yang sempurna.”
Dalam narasi tersebut dijelaskan bahwa pernyataan itu benar jika yang dimaksud adalah manusia biasa. Setiap manusia memiliki kesalahan, kekurangan dan keterbatasan.
Namun, Rasulullah SAW memiliki kedudukan khusus sebagai utusan Allah dan teladan bagi umat manusia.
Kesempurnaan Rasulullah SAW dalam narasi tersebut tidak dimaknai sebagai kesempurnaan fisik semata, tetapi kesempurnaan dalam menjalankan risalah, akhlak dan syariat.
Rasulullah SAW juga dikenal memiliki sifat sidq, amanah, tabligh dan fathonah sebagai bagian dari sifat utama seorang Rasul.
Karena itu, narasi Mutiara Hikmah tersebut membedakan antara manusia biasa dengan Rasulullah SAW ketika membicarakan istilah “manusia sempurna”.
Maulid Bukan Sekadar Seremonial
Mutiara Hikmah BES juga menyampaikan bahwa majelis Maulid bukan hanya kegiatan seremonial.
Majelis Maulid dipandang sebagai momentum untuk memuliakan Nabi Muhammad SAW, memperkuat kecintaan kepada Rasulullah, memahami ajarannya dan menjadikan beliau sebagai teladan dalam kehidupan.
Lima ayat yang menjadi landasan pembahasan tersebut kemudian dirangkum sebagai berikut:
QS. Al-Ma’idah ayat 3 tentang kesempurnaan agama Islam.
QS. Al-Ma’idah ayat 15 tentang datangnya cahaya dari Allah dan kitab yang menjelaskan.
QS. Al-Ahzab ayat 21 tentang Rasulullah SAW sebagai Uswatun Hasanah.
QS. Al-Hasyr ayat 7 tentang perintah menerima apa yang diberikan Rasul dan meninggalkan apa yang dilarangnya.
QS. Al-Ahzab ayat 36 tentang kewajiban menaati Allah dan Rasul-Nya setelah suatu ketetapan ditetapkan.
Dari rangkaian ayat tersebut, Mutiara Hikmah BES menegaskan bahwa Rasulullah SAW memiliki kedudukan istimewa sebagai utusan Allah, pembawa petunjuk dan teladan bagi umat manusia.
Di akhir tulisan disampaikan doa:
“Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad. Kama shollaita ‘ala Ibrahim.”
Semoga umat Islam digolongkan sebagai umat yang mencintai, menaati dan meneladani Rasulullah Muhammad SAW.
JAZAKALLAHU KHAIR KOMANDAN BES. BAROKALLAHUFIIK DHL & KORLABI. Mutiara Hikmah Ahad, 23 Agustus 2026 / 27 Safar 1448 H.
Slam Jihad, Brother Eggi Sudjana (BES)




