BOGOR, MPI – Ada kalanya manusia menganggap kesulitan sebagai musibah, sementara kesenangan dianggap sebagai tanda keberhasilan. Namun, Al-Qur’an mengajarkan bahwa keduanya harus dibaca dengan hati-hati. Kesulitan dapat menjadi teguran sekaligus jalan untuk kembali kepada Allah, sedangkan kenikmatan yang datang ketika seseorang terus-menerus bermaksiat juga patut menjadi bahan introspeksi.
Pesan tersebut menjadi bagian dari Mutiara Hikmah Sabtu, (22/8/2026), yang disampaikan Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si. (BES) melalui kajian terhadap QS. Al-An’am ayat 42-44.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ اَرْسَلْنَاۤ اِلٰۤى اُمَمٍ مِّنْ قَبْلِكَ فَاَخَذْنٰهُمْ بِالْبَأْسَآءِ وَالضَّرَّآءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُوْنَ
“Dan sungguh, Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat sebelum engkau, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kemelaratan dan kesengsaraan, agar mereka memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati.”
QS. Al-An’am: 42
Kemudian Allah berfirman:
فَلَوْلَاۤ اِذْ جَآءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوْا وَلٰكِنْ قَسَتْ قُلُوْبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطٰنُ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
“Tetapi mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati ketika siksaan Kami datang menimpa mereka? Bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menjadikan terasa indah bagi mereka apa yang selalu mereka kerjakan.”
QS. Al-An’am: 43
Allah kemudian melanjutkan:
فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهٖ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ اَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ ۗ حَتّٰى اِذَا فَرِحُوْا بِمَآ اُوْتُوْٓا اَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً فَاِذَا هُمْ مُّبْلِسُوْنَ
“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.”
QS. Al-An’am: 44
Lima Rantai yang Perlu Diwaspadai
Dalam perspektif disiplin logika OST JUBEDIL yang dikembangkan BES Theory, tiga ayat tersebut dapat dibaca sebagai gambaran sebuah rangkaian sebab-akibat yang sangat serius.
1. Allah Memberikan Ujian sebagai Peringatan
QS. Al-An’am ayat 42 menyebutkan kemelaratan dan kesengsaraan sebagai bentuk ujian kepada umat terdahulu.
Namun, ayat tersebut juga menjelaskan tujuan yang sangat penting, yaitu:
لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُوْنَ
“Agar mereka memohon dengan kerendahan hati.”
Artinya, ketika manusia menghadapi kesulitan, respons pertama yang seharusnya muncul bukan hanya mengeluh, tetapi melakukan muhasabah dan kembali kepada Allah.
Kesulitan seharusnya menjadi alarm untuk memperbaiki diri, memperbanyak doa, istighfar dan ibadah.
2. Hati Menjadi Keras
Masalah muncul ketika manusia tidak merespons ujian tersebut dengan kembali kepada Allah.
QS. Al-An’am ayat 43 menyebut:
وَلٰكِنْ قَسَتْ قُلُوْبُهُمْ
“Bahkan hati mereka telah menjadi keras.”
Inilah yang dikenal sebagai qoswatul qalb, yaitu kerasnya hati.
Dalam kajian tersebut, keras hati dikaitkan dengan beberapa keadaan, antara lain menumpuknya dosa, terlena oleh kehidupan dunia dan minimnya introspeksi diri.
Kesulitan yang semestinya menjadi peringatan justru dianggap sebagai sekadar kesialan. Manusia sibuk mencari siapa yang harus disalahkan, tetapi lupa bertanya kepada dirinya sendiri: apa yang harus saya perbaiki di hadapan Allah?
3. Setan Membuat Keburukan Terlihat Indah
Ketika hati mulai keras, QS. Al-An’am ayat 43 menyebut adanya peran setan:
وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطٰنُ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
“Dan setan pun menjadikan terasa indah bagi mereka apa yang selalu mereka kerjakan.”
Di sinilah keburukan dapat mengalami perubahan dalam cara pandang manusia.
Perbuatan yang salah bisa dicari pembenarannya. Keserakahan dapat disebut ambisi, kemaksiatan dianggap gaya hidup, sementara tindakan yang merugikan orang lain dibungkus dengan berbagai alasan.
Karena itu, salah satu bahaya terbesar bukan hanya melakukan dosa, tetapi ketika seseorang sudah tidak lagi merasa bahwa dosa tersebut adalah kesalahan.
4. Pintu Kesenangan Dibuka
Bagian berikutnya justru menjadi peringatan yang lebih keras.
Allah berfirman:
فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ اَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ
“Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka.”
Dalam tradisi keislaman, kondisi ketika seseorang terus berada dalam kemaksiatan namun mendapatkan kelapangan dan kenikmatan yang semakin besar dapat dikaitkan dengan konsep istidraj.
Namun, istilah ini tidak boleh dipakai secara sembarangan untuk menghakimi seseorang. Ukuran akhirnya adalah bagaimana manusia menggunakan nikmat tersebut: apakah semakin dekat kepada Allah atau justru semakin jauh.
Karena itu, seseorang yang memperoleh rezeki, jabatan, kekayaan atau keberhasilan tidak otomatis berarti sedang mengalami istidraj. Yang harus dilakukan adalah muhasabah terhadap hubungan antara nikmat, ketaatan dan perilaku dirinya.
5. Azab Datang Secara Tiba-Tiba
Allah kemudian berfirman:
اَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً
“Kami siksa mereka secara tiba-tiba.”
Kata baghtatan menggambarkan sesuatu yang datang secara mendadak.
Ketika manusia telah terlena dengan kesenangan dan melupakan peringatan, datanglah akibat yang tidak disangka-sangka.
Akhirnya mereka menjadi:
مُّبْلِسُوْنَ
yaitu berada dalam keadaan terdiam, terpukul dan putus asa.
Pesannya sangat jelas: jangan menunggu sampai peringatan berubah menjadi penyesalan yang tidak lagi dapat diperbaiki.
Mengapa Manusia Bisa Menjadi Bebal dan Keras Hati?
Pertanyaan penting dari rangkaian ayat tersebut adalah mengapa seseorang yang sedang mengalami kesulitan justru tidak kembali kepada Allah?
Dalam refleksi BES, terdapat tiga hal yang perlu diwaspadai:
Pertama, tumpukan dosa. Dosa yang terus dilakukan tanpa taubat dapat memengaruhi kepekaan hati.
Kedua, terlena oleh dunia. Manusia dapat begitu sibuk mengejar materi, jabatan dan kesenangan sehingga melupakan tujuan hidup dan kehidupan akhirat.
Ketiga, tidak melakukan tafakkur dan muhasabah. Setiap ujian hanya dipandang sebagai persoalan eksternal, tanpa pernah bertanya apakah ada sesuatu yang harus diperbaiki dari diri sendiri.
Dengan demikian, kesulitan bukan hanya persoalan yang harus dilewati, tetapi juga momentum untuk bercermin.
Kisah Fir’aun dan Qarun sebagai Peringatan
Gambaran tersebut juga dapat direnungkan melalui kisah Fir’aun dan Qarun dalam Al-Qur’an.
Fir’aun memiliki kekuasaan yang sangat besar. Ia bahkan sampai menyombongkan dirinya sebagai penguasa tertinggi dan menindas Bani Israil. Kekuasaan yang seharusnya menjadi amanah justru digunakan untuk kesombongan dan penindasan.
Akhirnya, kekuasaan tersebut tidak menyelamatkannya ketika Allah menenggelamkannya.
Sementara Qarun merupakan gambaran manusia yang diberi kekayaan luar biasa. Al-Qur’an menggambarkan kekayaannya sedemikian besar hingga kunci-kunci gudangnya saja terasa berat dipikul oleh orang-orang yang kuat.
Namun kekayaan itu justru melahirkan kesombongan. Qarun tidak menjadikan nikmat sebagai jalan untuk mendekat kepada Allah.
Allah kemudian menenggelamkan Qarun beserta rumah dan hartanya ke dalam bumi.
Kedua kisah tersebut memberikan pelajaran bahwa kekuasaan dan kekayaan bukan jaminan keselamatan. Nilai sebuah nikmat ditentukan oleh bagaimana manusia menggunakannya dan apakah nikmat tersebut membuatnya semakin tunduk kepada Allah.
Rantai Istidraj dalam Perspektif BES
Jika diringkas, pesan QS. Al-An’am ayat 42-44 dapat digambarkan dalam lima tahapan:
Allah memberi ujian → manusia seharusnya merendah dan berdoa → hati justru mengeras → keburukan terasa indah → kesenangan dibuka → manusia semakin terlena → kemudian datang akibat secara tiba-tiba.
Inilah yang oleh BES dalam kerangka OST JUBEDIL dipandang sebagai sebuah rantai yang harus diputus sejak awal.
Jangan menunggu sampai berada pada tahap terakhir.
Tiga M sebagai Antidot
Untuk memutus rantai tersebut, terdapat tiga langkah yang dapat dijadikan pegangan:
1. Muhasabah
Ketika menghadapi ujian, jangan hanya bertanya, “Mengapa saya?” tetapi tanyakan pula, “Apa yang harus saya perbaiki di hadapan Allah?”
2. Munajat
Perbanyak doa dan kembalikan seluruh persoalan kepada Allah. Salah satu doa yang dapat direnungkan adalah permohonan agar Allah tidak menjadikan musibah menimpa agama kita.
3. Muraqabah
Senantiasa merasa diawasi Allah dalam setiap tindakan. Ketika memperoleh nikmat, jangan hanya bertanya apakah nikmat itu menyenangkan, tetapi apakah nikmat tersebut membuat kita semakin taat.
QS. Ali Imran ayat 26 mengingatkan bahwa Allah-lah yang memberikan kerajaan kepada siapa yang Dia kehendaki dan mencabut kerajaan dari siapa yang Dia kehendaki.
Dengan demikian, jabatan, harta, kekuasaan dan seluruh kenikmatan dunia pada hakikatnya adalah amanah.
Jangan Tunggu Sampai Peringatan Terakhir
Pesan utama Mutiara Hikmah BES kali ini adalah jangan sampai manusia baru mengingat Allah ketika seluruh pintu dunia telah tertutup.
Saat kesulitan datang, tadhar’u atau merendahlah kepada Allah.
Saat mendapatkan kesenangan, jangan terlena.
Saat mendapatkan kekuasaan, jangan sombong.
Saat memperoleh kekayaan, jangan lupa bersyukur dan berbagi.
Dan ketika melakukan kesalahan, jangan menunda taubat.
Sebab manusia tidak pernah tahu kapan datangnya baghtatan, sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba.
Sebagaimana pesan yang ditekankan dalam refleksi OST JUBEDIL:
“Jangan tunggu sampai nomor lima. Bertaubatlah sejak nomor satu.”
Dengan kata lain, jangan menunggu azab datang untuk kemudian kembali kepada Allah.
Allahu Akbar.
Salam Jihad, – Brother Eggi Sudjana (BES)




