BOGOR, MPI — Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si yang di sapa Akrab dengan panggilan Brother Eggi Sudjana (BES) dalam Mutiara Hikmah Jumat, (28/8/2026), mengajak umat Islam untuk memahami makna bekerja, berjuang, berkorban dan membangun perjuangan dengan niat yang benar serta cara yang tepat.
Pesan tersebut merujuk pada firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam QS. At-Taubah ayat 105:
وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَا لْمُؤْمِنُوْنَ ۖ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَا لشَّهَا دَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
“Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.'”
Menurut Prof. Dr. BES, ayat tersebut memberikan pesan bahwa manusia diperintahkan untuk bekerja dan beramal. Namun, pekerjaan dan perjuangan tersebut harus dilandasi niat yang benar, yakni karena Allah SWT.
Persoalannya, bagaimana membedakan niat yang benar-benar karena Allah dengan dorongan ego maupun rasa takut?
Prof. Dr. BES mengajak melihatnya dari tiga sisi, yakni intuisi atau hati nurani, ego, dan rasa takut.
Menguji Niat: Ikhlas, Ego atau Takut?
Dalam perspektif tazkiyatun nafs, menurut narasi Mutiara Hikmah BES, terdapat sejumlah tanda yang dapat menjadi bahan introspeksi.
Orang yang bekerja karena Allah akan tetap tenang meskipun tidak mendapatkan pujian. Ia tetap bersemangat meskipun amal atau pekerjaannya tidak diketahui banyak orang.
Sebaliknya, apabila seseorang merasa kecewa karena tidak diapresiasi, gelisah karena tidak disebut atau membutuhkan pengakuan terus-menerus, maka hal tersebut patut menjadi bahan evaluasi terhadap ego dan keikhlasan.
Begitu pula ketika seseorang mendapatkan kritik.
Jika kritik diterima sebagai bahan introspeksi dan perbaikan, maka hal itu menunjukkan adanya upaya mengendalikan ego. Namun apabila kritik justru dibalas dengan kemarahan, menyalahkan orang lain atau mencari kambing hitam, maka seseorang perlu kembali memeriksa niat dan sikapnya.
Begitu pula dengan rasa takut.
Dalam pesan Prof. Dr. BES, rasa takut yang paling mendasar bagi seorang mukmin adalah kesadaran bahwa Allah selalu melihat apa yang dikerjakan manusia. Bukan semata-mata takut kehilangan jabatan, popularitas, kekuasaan ataupun kedudukan.
Salah satu pertanyaan penting dalam menguji keikhlasan adalah:
“Bagaimana perasaan kita ketika amal atau pekerjaan kita tidak diketahui siapa pun?”
Jika tetap bersemangat menjalankannya, maka ada tanda bahwa motivasi tidak semata-mata bergantung pada pujian manusia.
Prof. Dr. BES merumuskan prinsip niat tersebut dengan:
LILLAH → BILLAAH → FILLAH → ‘ALALLAH
Yakni karena Allah, dengan pertolongan Allah, di jalan Allah dan untuk Allah.
QS. At-Taubah Ayat 111: Makna Pengorbanan
Selain QS. At-Taubah ayat 105, Prof. Dr. BES juga mengaitkan perjuangan dengan QS. At-Taubah ayat 111:
اِنَّ اللّٰهَ اشْتَرٰى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اَنْفُسَهُمْ وَاَمْوَالَهُمْ بِاَنَّ لَهُمُ الْجَـنَّةَ ۗ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَيَقْتُلُوْنَ وَيُقْتَلُوْنَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِى التَّوْرٰٮةِ وَا لْاِ نْجِيْلِ وَا لْقُرْاٰ نِ ۗ وَمَنْ اَوْفٰى بِعَهْدِهٖ مِنَ اللّٰهِ فَا سْتَبْشِرُوْا بِبَيْعِكُمُ الَّذِيْ بَايَعْتُمْ بِهٖ ۗ وَذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung.”
Prof. Dr. BES menempatkan ayat 105 dan ayat 111 sebagai dua bagian yang saling melengkapi.
QS. At-Taubah ayat 105 berbicara tentang kerja dan amal, sedangkan ayat 111 berbicara tentang pengorbanan.
Dari sana lahir sebuah prinsip:
Niat yang benar + cara yang benar = perjuangan menuju kemenangan.
Dalam konteks perjuangan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, semangat pengorbanan tersebut perlu diwujudkan melalui jalan yang bijaksana, damai, bertanggung jawab, serta sesuai hukum dan konstitusi.
IDEA, METODE dan CARA TEKNIS dalam Berjuang
Prof. Dr. BES menekankan bahwa perjuangan tidak cukup hanya dengan semangat. Perjuangan membutuhkan idea, metode dan cara teknis yang jelas.
1. IDEA/AQIDAH: Visi Peradaban
Dasar perjuangan adalah membangun visi peradaban yang berlandaskan tauhid, keadilan dan kesejahteraan.
Prof. Dr. BES mengaitkannya dengan QS. At-Taubah ayat 33, tentang misi menghadirkan petunjuk Allah dan agama yang benar.
Karena itu, perjuangan tidak semestinya hanya berorientasi pada pergantian orang atau jabatan, melainkan bagaimana membangun kehidupan yang lebih adil, bermartabat dan sejahtera.
2. METODE/MANHAJ: Belajar dari Sunnah Nabi
Prof. Dr. BES membagi metode perjuangan ke dalam tiga tahapan, yaitu:
Ta’lim — Pendidikan
Membangun manusia melalui pendidikan, pembinaan tauhid dan akhlak. Secara teknis dapat dilakukan melalui kajian, pesantren, sekolah kader, pendidikan masyarakat dan media.
Tanzim — Organisasi
Membangun jamaah, jaringan, pembagian tugas dan disiplin organisasi. Persatuan dan kerja sama menjadi bagian penting dalam mencapai tujuan.
Tanfidz — Eksekusi
Gagasan harus diwujudkan dalam tindakan nyata melalui berbagai jalur yang sah, seperti advokasi, diplomasi, kegiatan sosial, pemberdayaan ekonomi dan partisipasi dalam kebijakan publik.
Prinsip yang ditekankan adalah tidak asal bergerak, melainkan mempertimbangkan kemaslahatan dan mencegah kerusakan.
3. CARA TEKNIS/TAKTIS: Memahami Realitas
Menurut Prof. Dr. BES, perjuangan juga membutuhkan pemahaman terhadap realitas atau fiqhul waqi’.
Dalam dakwah, misalnya, umat didorong untuk hadir di tengah masyarakat dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami rakyat.
Dalam bidang ekonomi, perjuangan dapat diwujudkan melalui koperasi, wakaf produktif dan berbagai solusi ekonomi yang memberikan manfaat nyata.
Dalam politik, partisipasi masyarakat dan kaderisasi menjadi bagian penting untuk memperjuangkan perubahan melalui jalur demokrasi dan konstitusi.
Sementara dalam bidang media, penguasaan narasi menjadi penting untuk menyampaikan informasi, nilai dan solusi kepada masyarakat secara bertanggung jawab.
Dalam setiap bentuk perjuangan, Prof. Dr. BES menekankan pentingnya ketertiban, kedamaian dan kepatuhan terhadap hukum.
Kekuatan Tidak Hanya Fisik
Prof. Dr. BES juga mengingatkan QS. Al-Anfal ayat 60 mengenai perintah mempersiapkan kekuatan sesuai kemampuan.
Kekuatan tersebut tidak hanya dimaknai secara fisik, tetapi dapat berupa:
Ilmu pengetahuan;
Kekuatan ekonomi;
Sumber daya manusia;
Mental dan karakter;
Jaringan;
Kepemimpinan;
Organisasi yang kuat.
Dengan demikian, perjuangan umat harus dibangun dengan kecerdasan, kesiapan dan strategi yang matang.
Ikhlas, Militan dan Berhikmah
Dari keseluruhan pesan tersebut, Prof. Dr. BES merumuskan:
JUANG = IKHLAS + MILITANSI + HIKMAH
Ikhlas tercermin dari QS. At-Taubah ayat 105.
Militansi dan kesiapan berkorban dikaitkan dengan QS. At-Taubah ayat 111.
Sedangkan hikmah diwujudkan melalui pembelajaran dari sirah Nabi serta penerapan strategi yang tepat sesuai keadaan.
Prof. Dr. BES kemudian memberikan tiga pesan praktis.
Pertama, cek niat setiap pagi.
“Ya Allah, ini untuk-Mu, bukan untukku.”
Kedua, berjuang secara total.
Siap memberikan waktu, tenaga, pikiran dan harta untuk kebaikan.
Ketiga, gunakan akal dan strategi.
Memiliki idea yang jelas, metode yang tertata dan cara teknis yang terukur.
Sementara hasil akhirnya diserahkan kepada Allah SWT. Manusia diperintahkan untuk berusaha, sedangkan hasil merupakan kehendak Allah.
Pakta Integritas Kader Umat Islam
Dalam bagian akhir Mutiara Hikmah, Prof. Dr. BES menyampaikan gagasan “Pakta Integritas Kader Umat Islam” dengan semangat:
“IKHLAS & MILITAN UNTUK INDONESIA BERTAQWA.”
Pakta tersebut berisi lima prinsip utama.
1. Niat Lillah
Bekerja karena Allah, bukan karena jabatan, nama, popularitas maupun kepentingan pribadi.
2. Jujur dan Amanah
Menjauhi korupsi, dusta dan pengkhianatan serta menyadari bahwa setiap pekerjaan akan dipertanggungjawabkan.
3. Siap Dikoreksi
Mampu mengalahkan ego, mengakui kesalahan dan menerima kritik sebagai bagian dari proses perbaikan.
4. Siap Berkorban
Bersedia memberikan waktu, tenaga, pikiran dan harta untuk perjuangan di jalan kebaikan serta kepentingan bangsa.
5. Bergerak dengan Hikmah
Memiliki idea yang jelas, metode yang tertata dan cara teknis yang terukur, tanpa emosi, anarkisme maupun tindakan ceroboh.
Pada bagian penutup, Prof. Dr. BES kembali mengutip firman Allah:
وَمَنْ اَوْفٰى بِعَهْدِهٖ مِنَ اللّٰهِ
“Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah?”
Pesan utama Mutiara Hikmah kali ini adalah bahwa perjuangan tidak cukup hanya dengan keberanian dan semangat. Perjuangan harus diawali niat yang ikhlas, dilakukan dengan pengorbanan, kemudian dijalankan melalui ilmu, strategi, hikmah dan cara-cara yang benar.
Dengan demikian, QS. At-Taubah ayat 105 dan ayat 111 menjadi dua landasan penting dalam pesan Prof. Dr. BES: bekerja dengan ikhlas dan berjuang dengan penuh pengorbanan.
Bukan sekadar slogan, melainkan sebuah komitmen untuk bekerja, berjuang dan memberikan manfaat bagi umat serta bangsa dengan tetap berpegang pada nilai agama, hukum dan konstitusi.
Salam Jihad. Brother Eggi Sudjana ( BES )




