BOGOR, MPI — Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si dalam Mutiara Hikmah Selasa, (25/8/2026), mengangkat keteguhan Nabi Yusuf AS dalam mempertahankan iman dan kehormatan melalui firman Allah SWT dalam QS. Yusuf ayat 33.
Pesan tersebut menekankan bahwa mempertahankan prinsip terkadang membutuhkan pengorbanan, bahkan ketika seseorang harus menghadapi penderitaan atau kehilangan sesuatu yang bersifat duniawi.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِيْ إِلَيْهِ ۖ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّيْ كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ
“Yusuf berkata, ‘Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk memenuhi keinginan mereka dan tentu aku termasuk orang yang bodoh.'”
(QS. Yusuf: 12:33)
Menurut BES, pernyataan Nabi Yusuf AS, “Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka,” menunjukkan keteguhan seorang hamba dalam mempertahankan kehormatan dan keimanannya.
Nabi Yusuf AS memilih kehilangan kebebasan fisik daripada kehilangan kehormatan dan keimanan. Ia juga memohon pertolongan Allah SWT agar dijauhkan dari tipu daya yang dapat menjerumuskannya.
Tadabbur QS. Yusuf Ayat 33
Dalam tadabbur QS. Yusuf ayat 33, BES menyoroti kalimat yang diucapkan Nabi Yusuf AS ketika menghadapi godaan dan tipu daya:
قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِيْ إِلَيْهِ
“Yusuf berkata, ‘Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka.'”
(QS. Yusuf: 12:33)
Kalimat tersebut menunjukkan keteguhan Nabi Yusuf AS dalam menentukan pilihan. Ia lebih memilih penderitaan dunia berupa penjara daripada kehilangan kehormatan dan keimanan karena mengikuti ajakan menuju kemaksiatan.
Menurut BES, dari ayat tersebut terdapat tiga pilihan penting Nabi Yusuf AS yang dapat menjadi pelajaran bagi umat Islam.
1. Memilih Penjara
Nabi Yusuf AS memilih penjara, yang berarti bersedia kehilangan kebebasan fisik demi mempertahankan prinsip dan kehormatan dirinya.
Pilihan tersebut menunjukkan bahwa kebebasan fisik bukanlah satu-satunya bentuk kebebasan. Seorang manusia tetap harus menjaga kebebasan hati dan jiwanya agar tidak diperbudak oleh hawa nafsu.
2. Daripada Maksiat
Nabi Yusuf AS menolak ajakan yang dapat menjerumuskannya ke dalam kemaksiatan.
Ia menyadari bahwa memenuhi ajakan tersebut mungkin memberikan kenikmatan sesaat, tetapi konsekuensinya dapat merusak kehormatan, iman dan masa depannya.
Karena itu, Nabi Yusuf AS memilih penderitaan yang bersifat sementara daripada kehilangan kehormatan dan menghadapi akibat dosa.
3. Memohon Pertolongan Allah SWT
Keteguhan Nabi Yusuf AS tidak hanya mengandalkan kekuatan dirinya sendiri. Ia juga memohon agar Allah SWT melindunginya dari tipu daya.
Allah SWT berfirman:
وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّيْ كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِّنَ الْجَاهِلِينَ
“Jika Engkau tidak menghindarkan aku dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung kepada mereka dan tentu aku termasuk orang yang bodoh.”
(QS. Yusuf: 12:33)
Doa tersebut mengajarkan bahwa manusia harus menyadari kelemahannya. Keteguhan iman bukan hanya karena kekuatan diri, tetapi juga karena pertolongan Allah SWT.
Penjara atau Maksiat, Nabi Yusuf AS Sudah Menentukan Pilihan
Pesan penting dari ayat ini adalah keberanian Nabi Yusuf AS menentukan pilihan ketika berhadapan dengan dua jalan.
Ia tidak memilih jalan yang mudah apabila jalan tersebut mengharuskannya mengorbankan iman dan kehormatan.
Penjara dipilih karena lebih ringan daripada maksiat.
Inilah yang kemudian menjadi refleksi bagi kehidupan manusia pada zaman sekarang. Bentuk “penjara” tidak selalu berupa jeruji besi. Seseorang mungkin kehilangan jabatan, harta, popularitas, teman atau kenyamanan karena mempertahankan prinsip.
Namun, menurut pesan yang disampaikan BES, semua itu tidak sebanding dengan kehilangan iman dan kehormatan diri.
Nabi Yusuf AS dan Rasulullah SAW: Berbeda Ujian, Sama-Sama Istiqomah
BES kemudian membandingkan perjalanan Nabi Yusuf AS dengan Rasulullah Muhammad SAW.
Nabi Yusuf AS menghadapi ujian berupa fitnah wanita dan godaan yang berkaitan dengan jabatan. Pilihannya adalah penjara daripada melakukan kemaksiatan. Setelah keluar dari penjara, Nabi Yusuf AS mendapatkan kedudukan penting sebagai pengelola perbendaharaan negara.
Sementara Rasulullah SAW menghadapi fitnah kaum, pemboikotan, ancaman pembunuhan dan berbagai tekanan dalam menjalankan dakwah.
Rasulullah SAW tidak dipenjara sebagaimana Nabi Yusuf AS, tetapi pernah mengalami pemboikotan selama tiga tahun di Syi’ib Abi Thalib bersama kaum Muslimin dan keluarga Bani Hasyim.
Keduanya menghadapi bentuk ujian yang berbeda, tetapi memiliki kesamaan dalam mempertahankan istiqomah.
Nabi Yusuf AS memilih derita dunia daripada azab akhirat. Demikian pula Rasulullah SAW mempertahankan dakwah meskipun harus menghadapi tekanan dan penderitaan.
Dengan demikian, menurut BES, inti persoalannya bukan sekadar apakah seseorang dipenjara atau tidak, melainkan seberapa besar harga yang bersedia dibayar seseorang demi mempertahankan iman dan prinsipnya.
“Penjara” Zaman Sekarang Tidak Selalu Berbentuk Jeruji Besi
Dalam konteks kehidupan masa kini, BES menggambarkan bahwa “penjara” dapat hadir dalam berbagai bentuk.
1. “Penjara” Kekuasaan
Ajakan yang datang bisa berupa korupsi, kolusi, atau menjual prinsip demi mendapatkan jabatan.
Pilihan yang dicontohkan dari keteguhan Nabi Yusuf AS adalah lebih baik tidak mendapatkan jabatan daripada mengkhianati amanah.
2. “Penjara” Harta
Godaan dapat hadir dalam bentuk riba, suap maupun proyek yang tidak halal.
Prinsipnya adalah lebih baik hidup sederhana dengan harta halal daripada memperoleh kekayaan melalui cara yang haram.
3. “Penjara” Popularitas
Godaan zaman sekarang juga dapat berupa keinginan mendapatkan popularitas dengan cara menjilat penguasa, menjual prinsip agama demi viral, atau mengorbankan keyakinan demi mendapatkan pengakuan.
Dalam konteks ini, lebih baik menghadapi cibiran atau perundungan daripada menjual akidah.
4. “Penjara” Syahwat
Godaan lain adalah berbagai bentuk kemaksiatan yang berkaitan dengan syahwat.
Pesan yang ditekankan adalah menjaga diri, menutup pintu menuju kemaksiatan dan memilih jalan yang halal.
Tiga Kunci agar Kuat Seperti Nabi Yusuf AS
BES juga menyampaikan tiga hal yang dapat menjadi pegangan agar seseorang mampu menjaga keteguhan seperti Nabi Yusuf AS.
1. Doa Nabi Yusuf AS
Nabi Yusuf AS menyadari bahwa manusia memiliki kelemahan. Karena itu, pertolongan Allah harus selalu dimohon.
Allah SWT mengabadikan permohonan Nabi Yusuf AS:
وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّيْ كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِّنَ الْجَاهِلِينَ
“Jika Engkau tidak menghindarkan aku dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung kepada mereka dan tentu aku termasuk orang yang bodoh.”
(QS. Yusuf: 12:33)
Artinya, manusia perlu mengakui kelemahannya dan senantiasa meminta pertolongan Allah SWT.
2. Siap Membayar Harga
Keteguhan pada prinsip terkadang membutuhkan pengorbanan. Nabi Yusuf AS harus menjalani masa penjara sebelum kemudian mendapatkan kedudukan yang lebih baik.
Pesan yang dapat diambil adalah bahwa meninggalkan sesuatu karena Allah harus dilakukan dengan keyakinan bahwa Allah mampu memberikan pengganti yang lebih baik.
3. Menjaga Batasan
Nabi Yusuf AS tidak melakukan kompromi dengan kemaksiatan. Ia berusaha menjauh dan menutup pintu yang dapat membawanya kepada fitnah.
Prinsipnya, tutup pintu fitnah sebelum masuk ke dalamnya.
Aplikasi “Jejak Para Rasul” untuk Kehidupan Hari Ini
Menurut BES, keteguhan Nabi Yusuf AS dapat diterapkan dalam kehidupan anak bangsa saat ini.
Ketika seseorang berhadapan dengan “penjara” kekuasaan, ajakannya bisa berupa korupsi, kolusi atau menjual prinsip demi kursi. Pilihannya adalah lebih baik tidak menjadi pejabat daripada mengkhianati amanah.
Ketika berhadapan dengan “penjara” harta, godaannya bisa berupa riba, suap dan proyek haram. Pilihannya adalah lebih baik miskin dalam keadaan halal daripada kaya melalui cara yang haram.
Dalam “penjara” popularitas, godaannya dapat berupa menjilat penguasa, menjual ayat demi viral atau mengorbankan keyakinan. Pilihannya adalah lebih baik dibully daripada menjual akidah.
Sedangkan dalam “penjara” syahwat, seseorang diuji dengan berbagai godaan kemaksiatan. Pilihannya adalah lebih baik menjaga diri dan memilih jalan halal daripada terjerumus dalam maksiat.
Mengikuti Jejak Para Rasul Bukan Berarti Harus Dipenjara
Pada bagian akhir, BES menegaskan bahwa mengikuti jejak para rasul bukan berarti seseorang harus mengalami penjara secara fisik.
Yang lebih utama adalah keberanian mengatakan “tidak” kepada kemungkaran, meskipun terdapat konsekuensi yang harus dihadapi.
Konsekuensi tersebut bisa berupa kehilangan jabatan, kehilangan uang, dijauhi teman, menghadapi fitnah, bahkan dalam kondisi tertentu harus menghadapi hukuman penjara.
Hal tersebut dikaitkan dengan firman Allah SWT:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ٢ وَ لَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ ٣
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji? Sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka, Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.”
(QS. Al-Ankabut: 29:2-3)
Karena itu, ketika seseorang dihadapkan pada pilihan antara jabatan dan prinsip, uang dan kehalalan, atau ketenaran dan akidah, maka pesan yang diangkat dalam Mutiara Hikmah kali ini adalah keteguhan Nabi Yusuf AS:
“PENJARA LEBIH AKU SUKAI DARIPADA MEMENUHI AJAKAN MEREKA.”
Bukan Soal Penjara, Tetapi Harga Sebuah Keimanan
Pesan utama Mutiara Hikmah BES kali ini adalah bahwa ujian keimanan setiap orang dapat berbeda.
Ada yang diuji dengan jabatan, harta, popularitas, kekuasaan, godaan maupun tekanan lingkungan. Namun, prinsip yang harus dijaga tetap sama, yakni tidak mengorbankan iman dan kehormatan demi kepentingan duniawi.
Mengikuti jejak para rasul bukan berarti harus mengalami ujian yang sama, tetapi memiliki keteguhan yang sama dalam menghadapi ujian.
Ketika seseorang dipaksa memilih antara jabatan versus prinsip, uang versus halal, atau tenar versus akidah, maka jawabannya adalah keberanian untuk mempertahankan prinsip, sebagaimana keteguhan Nabi Yusuf AS.
Doa
Pada akhirnya, BES mengajak umat untuk memohon kepada Allah SWT agar diberikan kehormatan, kecukupan dan ketakwaan.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعِفَّةَ وَالْغِنَى وَالتُّقَى
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kehormatan, kecukupan dan ketakwaan.”
Salam Jihad, Brother Eggi Sudjana (BES)




