JAKARTA | MATA PENA INDONESIA — Benarkah rezeki hanya soal harta, jabatan dan kekuasaan? Pertanyaan tersebut menjadi bahasan Koh Halim dalam refleksi Curhat Pagi Hari ini pada Rabu (16/9/2026).yang mengajak masyarakat memahami makna rezeki secara lebih luas.
Menurut Koh Halim, dalam kehidupan sehari-hari masih banyak orang yang memahami rezeki sebatas uang, harta, jabatan, kekuasaan, serta berbagai kesenangan duniawi.
“Benar, dalam kehidupan sehari-hari banyak orang memahami rezeki hanya sebagai uang, harta, jabatan, atau kekuasaan. Padahal dalam Islam, makna rezeki jauh lebih luas,” ujar Koh Halim.
Ia menjelaskan, rezeki tidak selalu berbentuk materi yang dapat dilihat dan dimiliki. Rezeki mencakup segala sesuatu yang Allah SWT berikan dan memberikan manfaat bagi kehidupan manusia, baik berupa materi maupun nonmateri.
“Rezeki adalah segala sesuatu yang Allah berikan dan dapat memberi manfaat bagi kehidupan manusia, baik berupa materi maupun nonmateri,” jelasnya.
Harta Hanya Salah Satu Bentuk Rezeki
Koh Halim menyebutkan, harta memang termasuk rezeki. Penghasilan, makanan, rumah dan kendaraan merupakan contoh rezeki yang bersifat materi.
Namun, menurutnya, ada banyak bentuk rezeki lain yang terkadang justru kurang disadari manusia.
“Kesehatan juga merupakan rezeki. Tubuh yang sehat membuat kita mampu bekerja dan beribadah. Karena itu, jangan hanya melihat rezeki dari apa yang masuk ke dalam rekening,” ungkap Koh Halim.
Selain kesehatan, keluarga juga merupakan bentuk rezeki yang sangat berharga.
“Pasangan, anak dan keluarga yang menyayangi kita adalah rezeki. Kebersamaan dengan keluarga tidak bisa hanya diukur dengan nilai materi,” katanya.
Ilmu dan Ketenangan Hati Juga Rezeki
Menurut Koh Halim, ilmu dan akal juga merupakan bagian dari rezeki karena keduanya dapat membantu manusia memahami kebenaran dan mengambil keputusan yang baik.
“Ilmu dan akal merupakan rezeki. Kemampuan memahami kebenaran dan mengambil keputusan yang baik adalah nikmat yang sangat besar,” tegasnya.
Begitu pula dengan ketenangan hati.
Seseorang mungkin memiliki kehidupan yang sederhana, tetapi jika hatinya tenteram, kehidupannya dapat menjadi sangat berarti.
“Hidup sederhana tetapi hati tenteram juga merupakan rezeki. Sebab, tidak semua orang yang memiliki banyak harta mendapatkan ketenangan hati,” jelas Koh Halim.
Bertemu Orang Baik dan Mendapat Kesempatan Juga Rezeki
Koh Halim juga mengingatkan bahwa bertemu dengan orang-orang baik merupakan salah satu bentuk rezeki.
“Bertemu guru, sahabat atau orang yang membantu kita ketika membutuhkan pertolongan juga merupakan rezeki. Kehadiran orang-orang baik dalam kehidupan patut kita syukuri,” ujarnya.
Selain itu, waktu dan kesempatan yang masih diberikan Allah SWT juga merupakan rezeki.
“Masih diberi umur dan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan serta beribadah, itu juga rezeki. Selama masih diberikan kesempatan, berarti masih ada ruang untuk memperbaiki diri,” tuturnya.
Jabatan dan Gaji Besar Bukan Satu-satunya Ukuran
Koh Halim kemudian memberikan contoh mengenai seseorang yang memperoleh kenaikan jabatan dan gaji besar.
Menurutnya, kenaikan jabatan dan bertambahnya penghasilan memang merupakan rezeki. Namun, hal tersebut tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran keberlimpahan rezeki.
“Seseorang mendapat kenaikan jabatan dan gaji besar. Itu memang rezeki. Tetapi jika setelah itu ia kehilangan kesehatan, keluarganya berantakan dan hatinya tidak tenang, maka harta dan jabatan bukanlah satu-satunya ukuran rezeki,” tegas Koh Halim.
Sebaliknya, seseorang yang memiliki penghasilan sederhana tetapi diberikan kesehatan, keluarga yang harmonis, hati yang tenang, ilmu yang bermanfaat dan kesempatan untuk berbuat baik juga sedang mendapatkan rezeki yang besar.
“Sebaliknya, seseorang yang penghasilannya sederhana tetapi sehat, keluarganya harmonis, hatinya tenang, memiliki ilmu yang bermanfaat dan selalu diberi kesempatan berbuat baik, ia juga sedang mendapatkan rezeki yang sangat besar,” jelasnya.
Karena itu, Koh Halim mengajak masyarakat untuk tidak mempersempit makna rezeki hanya pada sesuatu yang dapat dimiliki secara materi.
“Rezeki tidak selalu berbentuk sesuatu yang bisa dimiliki. Terkadang justru berupa sesuatu yang membuat kita mampu menikmati dan mensyukuri kehidupan,” pungkas Koh Halim.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa rezeki memiliki bentuk yang beragam. Harta, jabatan dan kekuasaan memang dapat menjadi rezeki, tetapi kesehatan, keluarga, ilmu, ketenangan hati, orang-orang baik, waktu dan kesempatan untuk berbuat baik juga merupakan nikmat yang patut disyukuri.
Dengan demikian, memaknai rezeki tidak hanya berbicara tentang seberapa banyak yang dimiliki, tetapi juga tentang seberapa besar seseorang mampu menikmati, memanfaatkan dan mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah SWT. (Red)




