Oleh: Prof Dr H. Eggi Sudjana SH., M.Si
BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Brother Eggi Sudjana (BES) dalam Mutiara Hikmah, Minggu 13 September 2026, mengajak umat Islam merenungkan kandungan QS. An-Nisa ayat 114 dan 115.
Menurut Brother Eggi Sudjana, kedua ayat tersebut memiliki keterkaitan yang kuat karena memberikan pedoman mengenai standar pembicaraan sekaligus standar jalan hidup seorang Muslim.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰٮهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَاحٍۢ بَيْنَ النَّاسِ ۗ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُـؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا
“Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barang siapa berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar.”
QS. An-Nisa’ 4: Ayat 114
Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman:
وَمَنْ يُّشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدٰى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهٖ مَا تَوَلّٰى وَنُصْلِهٖ جَهَنَّمَ ۗ وَسَآءَتْ مَصِيْرًا
“Dan barang siapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam Neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.”
QS. An-Nisa’ 4: Ayat 115
Dua Ayat, Dua Standar Kehidupan
Brother Eggi Sudjana menjelaskan, kedua ayat tersebut dapat dipahami sebagai satu kesatuan pesan.
QS. An-Nisa ayat 114 memberikan standar mengenai apa yang seharusnya dibicarakan, sedangkan ayat 115 memberikan standar mengenai jalan hidup yang harus ditempuh.
Dengan demikian, seorang Muslim tidak hanya dituntut untuk memiliki pembicaraan yang baik, tetapi juga harus memastikan bahwa tindakan dan jalan hidupnya sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
Tiga Ukuran Bicara yang Bernilai
Dalam QS. An-Nisa ayat 114, Allah memberikan tiga bentuk pembicaraan yang memiliki nilai kebaikan.
Pertama, amar bish-shadaqah atau mengajak kepada sedekah.
Pembicaraan yang mendorong manusia untuk bersedekah, berinfak, membantu sesama, serta membangun kepedulian sosial merupakan bagian dari kebaikan.
Brother Eggi Sudjana mengaitkannya dengan upaya melawan persoalan sosial dan membantu masyarakat yang membutuhkan.
Kedua, amar bil-ma’ruf atau mengajak kepada kebaikan.
Mengajak kepada salat, membaca Al-Qur’an, berlaku jujur, menjauhi kemaksiatan, serta melakukan berbagai bentuk kebaikan merupakan pembicaraan yang memiliki nilai di sisi Allah.
Ketiga, ishlah bainannas atau mendamaikan manusia.
Mendamaikan pihak-pihak yang berselisih juga menjadi bentuk pembicaraan yang bernilai.
Menurut Brother Eggi Sudjana, semangat ishlah dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari mendamaikan keluarga, masyarakat, hingga kelompok yang berbeda pendapat.
Allah menegaskan bahwa semua itu harus dilakukan dengan niat mencari keridaan-Nya.
وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُـؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا
“Barang siapa berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar.”
Dari ayat tersebut, Brother Eggi Sudjana menekankan bahwa ukuran utama bukan sekadar kepandaian seseorang dalam berbicara, melainkan isi dan tujuan dari pembicaraan tersebut.
Rapat, diskusi, pertemuan, percakapan maupun komunikasi di berbagai ruang, menurutnya, seharusnya diarahkan kepada sedekah, kebaikan dan perdamaian.
Sebaliknya, pembicaraan yang berisi ghibah, fitnah, berita bohong atau adu domba tidak memberikan kebaikan.
QS. An-Nisa Ayat 115: Standar Jalan Hidup
Selanjutnya, Brother Eggi Sudjana menjelaskan QS. An-Nisa ayat 115 sebagai pedoman mengenai jalan hidup.
Ayat tersebut memberikan peringatan agar seorang Muslim tidak menentang Rasulullah SAW setelah kebenaran dan petunjuk telah jelas.
Selain itu, manusia juga diperingatkan agar tidak mengikuti jalan yang bertentangan dengan jalan orang-orang beriman.
Menurut Brother Eggi Sudjana, terdapat dua prinsip penting yang harus diperhatikan.
Pertama, jangan menentang Rasul.
Seorang Muslim harus menjadikan ajaran Rasulullah SAW sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.
Kedua, jangan meninggalkan jalan orang-orang beriman.
Brother Eggi Sudjana menekankan pentingnya mengikuti jalan yang sesuai dengan petunjuk Islam dan nilai-nilai keimanan.
Ayat tersebut juga mengandung peringatan serius tentang konsekuensi ketika seseorang dengan sengaja memilih jalan yang bertentangan setelah kebenaran telah jelas.
Bicara dan Tindakan Harus Selaras
Brother Eggi Sudjana kemudian menghubungkan kedua ayat tersebut dengan prinsip CBM: Cerdas, Berani, Militan.
Menurutnya, ayat 114 dan 115 harus dipahami sebagai satu paket: bicara dan tindakan harus selaras.
QS. An-Nisa ayat 114 memberikan pertanyaan: Apa yang kita bicarakan?
Jawabannya adalah pembicaraan yang mengarah kepada sedekah, kebaikan dan perdamaian.
Sementara QS. An-Nisa ayat 115 memberikan pertanyaan: Ke mana jalan hidup kita diarahkan?
Jawabannya adalah mengikuti petunjuk Rasulullah SAW dan jalan orang-orang beriman.
Dari sini, Brother Eggi Sudjana merumuskan tiga prinsip CBM.
Cerdas, yaitu mampu menyaring setiap pembicaraan, diskusi maupun narasi dan memastikan isinya membawa kepada kebaikan.
Berani, yaitu berani mempertahankan jalan yang diyakini sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, meskipun menghadapi berbagai tekanan.
Militan, yaitu konsisten meluruskan niat dan menjadikan keridaan Allah sebagai tujuan utama.
Jangan Hanya Baik dalam Bicara
Brother Eggi Sudjana menegaskan bahwa pesan utama dari dua ayat tersebut bukan hanya mengenai bagaimana manusia berbicara, tetapi juga bagaimana manusia menjalani kehidupannya.
Ada orang yang berbicara tentang perdamaian, tetapi tindakannya justru menimbulkan perselisihan.
Ada pula yang berbicara tentang kebaikan, tetapi perilakunya tidak mencerminkan apa yang disampaikannya.
Karena itu, menurut Brother Eggi Sudjana, lisan dan tindakan harus berjalan searah.
QS. An-Nisa ayat 114 mengajarkan agar manusia menyaring pembicaraannya, sedangkan QS. An-Nisa ayat 115 mengingatkan agar manusia berhati-hati dalam memilih jalan hidup.
Dua Garis Merah
Brother Eggi Sudjana kemudian menyimpulkan kedua ayat tersebut dalam dua garis besar.
Pertama, garis merah lisan.
Jangan menghabiskan waktu dalam pembicaraan yang tidak membawa kepada sedekah, kebaikan dan perdamaian.
Kedua, garis merah jalan hidup.
Jangan menukar jalan yang telah diberikan Allah dan Rasul-Nya dengan jalan yang bertentangan dengan petunjuk-Nya.
Bagi Brother Eggi Sudjana, inilah salah satu tantangan umat Islam di zaman sekarang: bagaimana memastikan antara apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan tetap berada dalam satu garis perjuangan.
Pada akhirnya, kedua ayat tersebut mengingatkan bahwa kualitas seorang Muslim tidak hanya terlihat dari kata-katanya, tetapi juga dari jalan hidup dan tindakannya.
Doa
Sebagai penutup Mutiara Hikmah, Brother Eggi Sudjana mengajak umat Islam memanjatkan doa:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
QS. Al-Furqan 25: Ayat 74
Salam Jihad. Brother Eggi Sudjana (BES)




