DEPOK | MATA PENA INDONESIA — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar di Sanggar Silat Pengsimatoga, RT 01/RW 07, Jalan Raya Curug, Kelurahan Curug, Kecamatan Bojongsari, Kota Depok, pada Sabtu (12/9/2026) Malam. menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi dan persaudaraan di tengah masyarakat.
Dalam acara tersebut, Brother Eggi Sudjana (BES) menyampaikan tausiah tentang pentingnya mensyukuri setiap hembusan napas yang masih diberikan Allah SWT dengan diwujudkan melalui ketaatan kepada-Nya.
“Hingga hari ini kita masih diberikan hembusan napas. Apabila napas telah dicabut, posisi kita menjadi mayit. Bukan lagi manusia, tetapi sudah jenazah. Oleh karena itu, hembusan napas yang masih tersisa, yang Allah berikan, harus sungguh-sungguh diwujudkan dalam ketaatan kepada-Nya,” ujar Eggi.
Menurut Eggi, ketaatan kepada Allah SWT merupakan buah dari edukasi dan pelajaran yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril dan diturunkan melalui Al-Qur’an.
Ia menegaskan, peringatan Maulid Nabi hendaknya tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi sarana memperkuat hubungan antarsesama.
“Inti dari Maulid ini adalah membangun silaturahmi, membangun rasa persaudaraan di antara kita,” tegasnya.
Tiga Pilar Persaudaraan
Dalam tausiyahnya, Eggi menjelaskan tiga hal penting yang menurutnya menjadi bagian dari terbentuknya persaudaraan di tengah masyarakat, yakni sangka baik, empati dan solidaritas.
Pertama, masyarakat harus membangun sangka baik atau husnuzan. Menurutnya, kebersamaan akan sulit terwujud apabila di antara masyarakat tumbuh rasa iri, dengki, fitnah maupun prasangka buruk.
“Jangan ada intrik, jangan ada kegiatan-kegiatan iri dan dengki yang membuat fitnah sehingga orang menjadi sangka buruk. Itu perbuatan dosa karena termasuk menghina hamba Allah yang seharusnya dimuliakan,” katanya.
Kedua adalah empati. Eggi menjelaskan bahwa empati bukan hanya merasa prihatin terhadap penderitaan orang lain, tetapi juga diwujudkan melalui tindakan nyata dengan membantu sesama.
“Empati itu adalah kegiatan hati dan pikiran kita ikut merasakan penderitaan dan keprihatinan orang lain serta membantu. Empati ini lebih tinggi dari simpati. Kalau simpati sudah prihatin tetapi tidak membantu, kalau empati sudah prihatin dan membantu saudaranya,” jelasnya.
Menurut Eggi, empati harus dibangun mulai dari lingkungan terdekat, seperti keluarga, saudara, tetangga dan masyarakat sekitar.
Dari sangka baik dan empati tersebut, lanjut Eggi, akan lahir solidaritas sebagai wujud nyata persaudaraan.
“Kalau muncul sangka baik dan empati satu sama lain, tidak mungkin kampung ini bisa terpecahkan. Kalau diperluas, kampung ini menjadi bangsa dan negara. Kalau satu sama lain sangka baik dan juga terasa ada empati, maka muncul yang ketiga namanya solidaritas,” tuturnya.
Silaturahmi Membuka Rezeki dan Meningkatkan Kualitas Kehidupan
Eggi juga mengingatkan pentingnya menjaga silaturahmi. Menurutnya, silaturahmi tidak hanya mempererat hubungan sosial, tetapi juga membuka kesempatan dan rezeki.
“Orang yang bersilaturahmi akan mendapat pahala. Satu, panjang umur. Yang kedua, murah rezekinya. Dengan saya bertemu di sini, banyak orang yang tadinya tidak kenal menjadi kenal. Kemudian ada tawaran proyek dan lain sebagainya,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa makna panjang umur tidak semata-mata berkaitan dengan jumlah usia seseorang.
“Panjang umur bukan dalam arti nominal. Dari 60, 70, 90, 100, kita tidak tahu kapan dipanggil. Tetapi panjang umur yang dimaksud adalah dalam arti kualitas,” katanya.
Eggi menilai, kualitas kehidupan seseorang juga dipengaruhi oleh pendidikan dan hubungan sosial yang baik. Sebaliknya, kurangnya komunikasi dan silaturahmi dapat menimbulkan kesenjangan hingga persoalan sosial.
“Kalau jarang menyapa, terjadi gap komunikasi dan menimbulkan stres, menimbulkan segala bentuk penyakit sosial, kedengkian dan lain sebagainya. Itu bisa berujung pada konflik karena kurang silaturahmi,” ujarnya.
Dari Kampung hingga Persatuan Bangsa
Eggi kemudian memperluas pesan Maulid Nabi tersebut dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ia mengajak masyarakat untuk tetap menjaga sangka baik, komunikasi dan persaudaraan, termasuk dalam menyikapi berbagai persoalan yang terjadi di tingkat nasional.
Dalam kaitannya dengan program pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG), Eggi menyampaikan pentingnya melihat tujuan baik dari program tersebut sekaligus menyikapi berbagai kendala secara konstruktif.
“Dalam konteks nasional, kita tinggal perluas saja. Sangka baiklah kepada pemerintah yang sedang membangun rakyatnya, walaupun banyak kendala soal MBG dan lain sebagainya, kita tetap sangka baik. Karena ini perbuatan yang baik, memberi makan kepada rakyat. Memang ada kendala,” ungkapnya.
Ia mengingatkan agar berbagai persoalan tidak dijadikan bahan provokasi yang berpotensi memecah persatuan.
“Jangan diprovokasi menjadi gerakan-gerakan anti kepada pemerintah. Itu tidak bersilaturahmi. Bahkan orang-orang yang ada kedengkiannya, orang-orang yang tidak suka, akan selalu memprovokasi dan terjadilah perpecahan bangsa ini,” tegas Eggi.
Menutup tausiyahnya, Eggi mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga persatuan Indonesia dengan memperkuat persaudaraan, empati dan solidaritas.
Peringatan Maulid Nabi di Sanggar Silat Pengsimatoga tersebut menjadi momentum kebersamaan antara tokoh masyarakat, keluarga besar sanggar, para pesilat dan warga sekitar untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus mengambil pelajaran dari keteladanan Nabi Muhammad SAW. (Ats)




