BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Brother Eggi Sudjana (BES) dalam Mutiara Hikmah pada Kamis, 24 September 2026, membahas tentang cara setan menggoda manusia dengan merujuk pada sejumlah ayat Al-Qur’an, yakni QS Al-Hajj ayat 52, QS Ta-Ha ayat 120, QS Al-A’raf ayat 200 dan 201.
Dalam kajiannya, BES menjelaskan bahwa cara setan menggoda manusia dilakukan melalui keinginan dan bisikan pikiran jahat. Karena itu, manusia diperintahkan untuk berlindung kepada Allah SWT.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
QS Al-Hajj Ayat 52
وَمَاۤ اَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُوْلٍ وَّلَا نَبِيٍّ اِلَّاۤ اِذَا تَمَنّٰۤى اَلْقَى الشَّيْطٰنُ فِيْۤ اُمْنِيَّتِهٖ ۚ فَيَنْسَخُ اللّٰهُ مَا يُلْقِى الشَّيْطٰنُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ ۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ
Artinya:
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul dan tidak (pula) seorang nabi sebelum engkau (Muhammad), melainkan apabila dia mempunyai suatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan ke dalam keinginannya itu. Tetapi Allah menghilangkan apa yang dimasukkan setan itu. Dan Allah akan menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 52)
BES kemudian mengaitkannya dengan QS Ta-Ha ayat 120:
QS Ta-Ha Ayat 120
فَوَسْوَسَ اِلَيْهِ الشَّيْطٰنُ قَا لَ يٰۤاٰدَمُ هَلْ اَدُلُّكَ عَلٰى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَى
Artinya:
“Kemudian setan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya, dengan berkata, ‘Wahai Adam! Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian (khuldi) dan kerajaan yang tidak akan binasa?’”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 120)
Dari kedua ayat tersebut, BES menjelaskan bahwa cara setan menggoda manusia berkaitan dengan keinginan dan bisikan pikiran jahat.
Karena itu, menurut BES, manusia harus berlindung kepada Allah SWT.
Berlindung kepada Allah dari Godaan Setan
BES kemudian mengutip QS Al-A’raf ayat 200:
وَاِمَّا يَنْزَغَـنَّكَ مِنَ الشَّيْطٰنِ نَزْغٌ فَا سْتَعِذْ بِا للّٰهِ ۗ اِنَّهٗ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
Artinya:
“Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 200)
Kemudian Allah SWT berfirman dalam QS Al-A’raf ayat 201:
اِنَّ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا اِذَا مَسَّهُمْ طٰٓئِفٌ مِّنَ الشَّيْطٰنِ تَذَكَّرُوْا فَاِذَا هُمْ مُّبْصِرُوْنَ
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 201)
Bagaimana Penjelasan Teknis Cara Setan Menggoda?
BES kemudian masuk pada pembahasan inti mengenai teknis cara setan menggoda manusia.
Menurut kajian tersebut, musuh tidak kelihatan, tetapi teknik godaannya sangat teknis. BES merujuk pada empat ayat yang dikirimkan dan menjelaskan beberapa tahapan.
1. Pintu Masuknya: Tamanna atau Keinginan
BES menjelaskan bahwa pintu masuk godaan bukan langsung pada hati, melainkan melalui tamanna atau keinginan.
Dalam QS Al-Hajj ayat 52, terdapat frasa:
“إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ”
Menurut uraian BES, tamanna berarti angan-angan, harapan atau keinginan yang belum menjadi amal.
“Bukan dosa, tapi celah,” demikian penjelasan dalam materi tersebut.
BES menjelaskan bahwa setan tidak dapat memaksa manusia. Setan memanfaatkan keinginan yang sudah ada.
Ia kemudian mengaitkannya dengan kisah Nabi Adam dalam QS Ta-Ha ayat 120, ketika setan menawarkan pohon keabadian dan kerajaan yang tidak akan binasa.
Dalam narasi BES, ketika seseorang memiliki keinginan yang kuat, seperti ingin mendapatkan kekuasaan, harta atau pengakuan, keinginan tersebut dapat menjadi celah masuknya godaan.
BES menggunakan istilah “Alqo” (ألقى) yang berarti melempar atau menyisipkan.
Dalam analogi yang digunakan BES, proses tersebut diibaratkan seperti seseorang menyisipkan kode ke dalam program yang sedang terbuka.
Contoh yang Dikaitkan dengan TPUA
BES kemudian memberikan contoh dalam konteks perjuangan TPUA.
Menurutnya, keinginan untuk menegakkan kebenaran mengenai persoalan ijazah merupakan keinginan yang disebutnya baik.
Namun, menurut BES, setan dapat menyisipkan pikiran seperti:
“Kalau kamu begini, kamu dapat Rp100 miliar, dapat proyek Rp1 triliun.”
BES menegaskan bahwa sisipan tersebut menurut kerangka kajiannya bukan berasal dari keinginan awal seseorang, tetapi merupakan godaan yang dilemparkan.
Jika tidak disadari, menurut BES, seseorang dapat menganggap pikiran tersebut sebagai keinginannya sendiri.
2. Senjatanya: Waswas, Nazgh dan Thaif
BES kemudian menjelaskan tiga istilah yang disebut dalam ayat-ayat Al-Qur’an, yaitu waswas, nazgh dan thaif.
Menurut kajian tersebut, ketiganya menggambarkan bentuk serangan yang berbeda.
A. Waswasa
Dalam QS Ta-Ha ayat 120 terdapat kalimat:
“فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ”
BES menjelaskan waswasah sebagai bisikan halus yang berulang-ulang.
Tekniknya adalah berbisik secara perlahan dan berulang sehingga seolah-olah suara tersebut berasal dari pikiran sendiri.
Sasarannya adalah pikiran.
Setan, menurut BES, tidak selalu memaksa, tetapi menawarkan sesuatu.
Contohnya adalah tawaran kepada Nabi Adam:
“Wahai Adam! Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian dan kerajaan yang tidak akan binasa?”
BES menjelaskan cirinya sebagai ide yang datang secara tiba-tiba, terlihat indah dan masuk akal, tetapi pada akhirnya mengarah kepada pelanggaran.
B. Nazgh
Selanjutnya adalah nazgh, sebagaimana terdapat dalam QS Al-A’raf ayat 200:
“وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ”
Dalam kajian BES, nazgh dijelaskan sebagai sentakan atau tusukan yang dapat memicu emosi.
Bentuknya dapat berupa marah secara tiba-tiba, kebencian, hasad atau keinginan untuk melakukan pembalasan.
Menurut BES, jika bisikan tidak berhasil, godaan dapat diarahkan kepada emosi sehingga pertimbangan akal terganggu.
Dalam narasinya, BES memberikan contoh pihak yang menuduh dirinya khianat dan menyebut kemungkinan terkena nazgh. Namun, bagian tersebut merupakan ilustrasi dalam kajian BES dan bukan penetapan mengenai kondisi batin seseorang.
C. Thaif
Istilah ketiga adalah thaif, sebagaimana disebut dalam QS Al-A’raf ayat 201:
“إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ”
BES menjelaskan thaif sebagai sesuatu yang mengelilingi atau bayangan yang datang dan berlalu.
Dalam kajian tersebut, bentuknya digambarkan sebagai bayangan ketakutan atau khayalan yang membuat seseorang menjadi terlalu waswas, melihat persoalan lebih besar daripada kenyataan, atau sebaliknya menganggap dosa sebagai sesuatu yang kecil.
BES menyebutnya sebagai bentuk serangan psikologis dalam kerangka penjelasan kajiannya.
3. Antidot: Isti’adzah dan Tadzakkur
Menurut BES, Allah tidak mengajarkan manusia untuk berdebat dengan setan. Allah memberikan dua langkah yang perlu dilakukan ketika menghadapi godaan.
Langkah Pertama: Isti’adzah
Allah berfirman:
“فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ”
Artinya, berlindunglah kepada Allah.
Hal tersebut terdapat dalam QS Al-A’raf ayat 200.
BES menjelaskan bahwa isti’adzah bukan sekadar mengucapkan “A’udzubillah”, tetapi bermakna masuk ke dalam perlindungan Allah.
Dalam narasi BES, ketika terkena waswas, nazgh atau thaif, seseorang perlu memutus godaan tersebut dan kembali berlindung kepada Allah.
BES menyebut beberapa bentuk ikhtiar seperti berwudu, berpindah posisi, memperbanyak istighfar dan menyebut nama Allah.
Menurutnya, hal tersebut menjadi upaya untuk memutus rangkaian godaan yang masuk melalui keinginan.
Allah menutup ayat tersebut dengan:
“إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ”
“Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
BES menjelaskan bahwa Allah Maha Mendengar permohonan seorang hamba dan Maha Mengetahui godaan yang sedang dihadapi manusia.
Langkah Kedua: Tadzakkur
Langkah berikutnya adalah tadzakkur, sebagaimana disebut dalam QS Al-A’raf ayat 201:
“تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ”
Menurut BES, orang-orang yang bertakwa ketika disentuh godaan setan segera mengingat Allah.
Tadzakkur berarti kembali mengingat Allah, mengingat tujuan awal dan mengingat akibat dari perbuatan.
Hasilnya adalah:
“فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ”
Artinya, ketika itu juga mereka melihat dengan jelas.
BES menjelaskan mubshirun sebagai keadaan ketika penglihatan menjadi jernih kembali sehingga sesuatu yang sebelumnya kabur akibat bisikan dapat dilihat dengan terang.
Analogi Komando Modern
Untuk memudahkan pemahaman, BES menggunakan analogi komando modern.
Dalam analogi tersebut:
Tamanna = radar keinginan manusia menyala.
Waswasa, Nazgh dan Thaif = musuh melakukan electronic jamming atau menyusupkan sinyal palsu.
Isti’adzah = masuk ke mode perlindungan dari gangguan.
Tadzakkur = melakukan kalibrasi kembali sehingga dapat melihat persoalan dengan lebih jernih atau mubshirun.
Kesimpulan untuk Kader Umat Islam yang CBM
Dalam bagian kesimpulan, BES menyampaikan beberapa pesan kepada kader umat Islam yang disebutnya CBM.
Pertama, menurut BES, semakin besar keinginan dalam perjuangan, semakin besar pula godaan yang harus diwaspadai. Karena itu, ia mengingatkan agar tidak terkejut apabila dalam perjuangan TPUA terdapat berbagai bisikan.
Kedua, harus dibedakan antara keinginan yang tulus dan sisipan godaan. Menurut BES, tanda sisipan tersebut antara lain mengajak kepada jalan pintas, kecintaan berlebihan terhadap dunia, serta keputusasaan.
Ketiga, bisikan tidak perlu dilawan dengan perdebatan. Menurut BES, langkah yang harus dilakukan adalah Isti’adzah dan Tadzakkur: berlindung kepada Allah, memutus godaan dan kembali mengingat tujuan awal.
BES kemudian kembali merujuk pada QS Al-Hajj ayat 52:
“فَيَنْسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آيَاتِهِ”
Artinya:
“Tetapi Allah menghilangkan apa yang dimasukkan setan itu. Dan Allah akan menguatkan ayat-ayat-Nya.”
Menurut BES, selama manusia cepat menyadari godaan dan berlindung kepada Allah, apa yang dilemparkan atau disisipkan setan dapat dihilangkan oleh Allah, sementara ayat-ayat-Nya dikokohkan.
BES menutup Mutiara Hikmah tersebut dengan pesan:
“Wallahu A’lam.”
“Salam Jihad dan Sabar.”
Brother Eggi Sudjana (BES)




