Mutiara Hikmah Jumat: Eggi Sudjana Ungkap 3 Parameter Iman dalam Al-Qur’an, Dilengkapi 7 Hadis Rasulullah

BOGOR | MATA PENA INDONESIA — Prof. Dr. H. Eggi Sudjana, SH., M.Si atau dengan sebutan Brother Eggi Sudjana (BES) kembali menyampaikan kajian Mutiara Hikmah Jumat, 6 November 2026, dengan mengangkat tema “Jantungnya Iman: Variable Iman Menurut Al-Qur’an dan Hadis.”

Dalam kajian kali ini, BES menguraikan parameter keimanan berdasarkan Al-Qur’an, khususnya QS. Al-Anfal ayat 2, yang kemudian dikaitkan dengan QS. Al-Mu’minun ayat 1–11, QS. Ali Imran ayat 31, serta QS. Al-Ankabut ayat 1–3.

Sebelum menyampaikan kajian tersebut, BES juga menjelaskan alasan dirinya tidak membuat Mutiara Hikmah pada Kamis, 5 November 2026.

Hal itu lantaran dirinya menjalani operasi mata katarak sebelah kiri sebagai lanjutan operasi mata pada hari Rabu sebelumnya. Saat melakukan kontrol di Jakarta Eye Center (JEC)  Kedoya Jakarta Barat, yang ditangani oleh Dr. Setia Budi, ditemukan tekanan bola mata sebelah kiri mencapai angka 55. Kondisi tersebut dinilai sangat tinggi dan berisiko menyebabkan glaukoma.

Atas kondisi tersebut, Dr. Budi segera melakukan tindakan operasi penyedotan cairan berlebih pada mata setelah diberikan bius lokal. Dalam waktu kurang dari lima menit, tekanan bola mata berhasil diturunkan hingga di bawah angka 10.

“Alhamdulillah kini sudah agak membaik, jadi dapat membuat MH Jumat hari ini,” demikian penjelasan BES.

JANTUNGNYA IMAN: VARIABLE IMAN MENURUT AL-QUR’AN

BES menegaskan bahwa parameter iman harus merujuk kepada Al-Qur’an, bukan berdasarkan penilaian manusia, buzzer, ataupun kepentingan politik.

Kajian tersebut mengambil landasan utama QS. Al-Anfal (8):2.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Innamal Mu’minunalladzina Idza Dzukirallahu Wajilat Qulubuhum Wa Idza Tuliyat Alaihim Ayatuhu Zadathum Imana Wa Ala Rabbihim Yatawakkalun.

Artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah kuat imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.”

(QS. Al-Anfal: 2).

Menurut BES, ayat tersebut memuat tiga variabel utama keimanan, yaitu:

Wajilat Qulubuhum, hati yang bergetar ketika nama Allah disebut.

Zadathum Imana, bertambah kuat imannya ketika dibacakan ayat-ayat Allah.

Wa Ala Rabbihim Yatawakkalun, hanya kepada Allah mereka bertawakal.

BES menjelaskan bahwa kata Wajilat bermakna gemetar, takut, dan khauf. Sementara Qulubuhum berarti hati, bukan fisik. Artinya, yang bergetar adalah hati karena mengingat Allah.

Kemudian, Zadathum Imana bermakna bertambahnya iman, bukan bertambahnya harta Rp100 miliar ataupun jabatan. Adapun Yatawakkalun berarti bertawakal secara total hanya kepada Rabb.

BES juga menghubungkan konsep tersebut dengan pembahasan sebelumnya mengenai Ya’tashim Billah, Wa’tashimu Bihablillah, dan Fa Anqadzakum.

1. QS. AL-MU’MINUN 23:1–11: TUJUH SIFAT MUKMIN YANG BERUNTUNG

Rangkaian pertama diperkuat dengan QS. Al-Mu’minun ayat 1–11.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ۝ وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ ۝ وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ ۝ وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ ۝ إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ ۝ فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ ۝ وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ ۝ وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ ۝ أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ ۝ الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Qad Aflahal Mu’minun. Alladzina Hum Fi Shalatihim Khashi’un. Walladzina Hum Anil Laghwi Mu’ridhun. Walladzina Hum Liz Zakati Fa’ilun. Walladzina Hum Lifurujihim Hafizhun. Illa Ala Azwajihim Au Ma Malakat Aimanuhum Fa Innahum Ghairu Malumin. Fa Man Ibtagha Waraa Dzalika Fa Ulaika Humul Adun. Walladzina Hum Li Amanatihim Wa Ahdihim Ra’un. Walladzina Hum Ala Shalawatihim Yuhafizhun. Ulaika Humul Waritsun. Alladzina Yaritsunal Firdausa Hum Fiha Khalidun.

Artinya:

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang yang khusyuk dalam salatnya, orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna, orang yang menunaikan zakat, orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Tetapi barang siapa mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan sungguh, orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya serta orang yang memelihara salatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, yakni yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.”

Baca juga:  OTT Jaksa Berulang di Banten, Bekasi, hingga Kalsel, Rahmad Sukendar: Ada Pola yang Tak Pernah Dijelaskan ke Publik

BES menguraikan tujuh sifat mukmin yang beruntung sebagai berikut:

Fi Shalatihim Khashi’un: Khusyuk dalam salat, tawadhu, dan tidak sombong. BES mengaitkannya dengan pembahasan sebelumnya tentang Tabassum dan sikap tawadhu.

Anil Laghwi Mu’ridhun: Menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak berguna, termasuk hoaks dan tindakan yang tidak bermanfaat.

Liz Zakati Fa’ilun: Menunaikan zakat sebagai bagian dari kewajiban seorang mukmin.

Lifurujihim Hafizhun: Menjaga kehormatan dan kemaluan serta menjauhi perbuatan zina dan penyimpangan seksual.

Li Amanatihim Wa Ahdihim Ra’un: Menjaga amanat dan janji. Jabatan merupakan amanat yang tidak boleh disalahgunakan, apalagi untuk korupsi. BES juga menghubungkannya dengan amanat Sumpah Pemuda: satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa.

Ala Shalawatihim Yuhafizhun: Memelihara salat, bukan sekadar mengerjakannya. Salat harus dijaga dan ditegakkan.

Ulaika Humul Waritsun: Mereka itulah pewaris surga Firdaus dan kekal di dalamnya, bukan sekadar mewarisi harta dunia yang bersifat sementara.

2. QS. ALI IMRAN 3:31: BUKTI CINTA KEPADA ALLAH ADALAH MENGIKUTI RASUL

Rangkaian kedua adalah QS. Ali Imran ayat 31 yang menjelaskan parameter kecintaan seorang hamba kepada Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Qul In Kuntum Tuhibbunallaha Fattabi’uni Yuhbibkumullah Wa Yaghfir Lakum Dzunubakum Wallahu Ghafurur Rahim.

Artinya:

“Katakanlah (Muhammad), jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Menurut BES, ada parameter yang jelas dalam membuktikan kecintaan kepada Allah.

Pertama, In Kuntum Tuhibbunallah, apabila seseorang mengaku mencintai Allah, maka harus dibuktikan dengan Fattabi’uni, yaitu mengikuti Rasulullah.

Bukan mengikuti buzzer, bukan mengikuti oligarki, bukan rayuan politik, tetapi mengikuti Rasul.

BES mengaitkannya dengan ayat Muhammadur Rasulullah Walladzina Ma’ahu Asyidda’u Alal Kuffar Ruhamau Bainahum, yakni Rasulullah dan orang-orang yang bersamanya.

Kedua, Yuhbibkumullah, apabila mengikuti Rasul, Allah akan mencintai hamba tersebut.

Ketiga, Wa Yaghfir Lakum Dzunubakum, Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka.

BES juga menghubungkannya dengan firman Allah mengenai penghapusan kesalahan dan pemberian balasan yang lebih baik atas amal perbuatan manusia.

Keempat, Wallahu Ghafurur Rahim, Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Kata Ghafur berarti Maha Mengampuni, sedangkan Rahim berarti Maha Penyayang.

3. QS. AL-ANKABUT 29:1–3: IMAN HARUS DIUJI

BES menegaskan bahwa iman bukan sekadar pengakuan melalui ucapan. Keimanan harus dibuktikan melalui ujian.

Landasannya adalah QS. Al-Ankabut ayat 1–3.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

الم ۝ أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ۝ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Alif Lam Mim. Ahasiban Nasu An Yutraku An Yaqulu Amanna Wa Hum La Yuftanun. Wa Laqad Fatannalladzina Min Qablihim Falaya’lamannallahulladzina Shadaqu Wa Laya’lamannal Kadzibin.

Artinya:

“Alif Lam Mim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.”

BES menguraikan bahwa ujian iman merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari.

Beberapa contoh ujian keimanan yang disampaikan dalam kajian tersebut antara lain:

Hudaibiyah: Ujian melalui perjanjian yang dianggap merugikan. Apakah seseorang tetap beriman?

Perang Uhud: Ujian ketika sekitar 70 sahabat gugur sebagai syuhada. Apakah keimanan tetap terjaga?

Perang Tabuk: Ujian berat ketika kaum muslimin menghadapi cuaca panas, paceklik, musim panen kurma, perjalanan sekitar 700 kilometer, dan ancaman kekuatan Romawi.

BES juga mengingatkan bahwa para nabi dan umat terdahulu mengalami ujian keimanan.

Nabi Musa diuji oleh Firaun, Nabi Isa menghadapi penentangan kaum Yahudi, sedangkan Nabi Muhammad SAW menghadapi kaum Quraisy, Romawi, dan Persia. Para sahabat juga diuji melalui peristiwa Uhud, Hudaibiyah, dan Tabuk.

Dari rangkaian ayat tersebut, BES menegaskan bahwa iman harus dibuktikan melalui kesabaran, ketaatan, dan keteguhan menghadapi ujian.

TAMBAHAN KETERANGAN HADIS: TUJUH HADIS SHAHIH TENTANG VARIABLE IMAN

Dalam kajian berikutnya, BES menambahkan tujuh hadis sebagai penjelasan mengenai variabel iman berdasarkan hadis yang dikaitkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an.

HADIS 1: DEFINISI IMAN – HADIS JIBRIL

Baca juga:  Kader PSI Bogor Raya Membludak di Rakorda, Jokowi dan Kaesang Disambut Antusias di Sentul

Rasulullah SAW menjelaskan tentang iman:

الإيمان أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره

Al-Imanu An Tu’mina Billahi Wa Malaikatihi Wa Kutubihi Wa Rusulihi Wal Yaumil Akhir Wa Tu’mina Bil Qadari Khairihi Wa Syarrihi.

Artinya:

“Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.”

(HR. Muslim, Hadis Jibril).

BES menghubungkan enam rukun iman tersebut dengan Al-Qur’an:

Billah: Beriman kepada Allah, dikaitkan dengan QS. Al-Anfal 8:2, yakni hati yang bergetar ketika nama Allah disebut.

Malaikatihi: Beriman kepada malaikat, dikaitkan dengan keberadaan tentara Allah yang tidak terlihat, ketenangan, dan pertolongan Allah.

Kutubihi: Beriman kepada kitab-kitab Allah. Dibacakan ayat-ayat-Nya, maka bertambah iman. Kitab-kitab Allah mencakup Al-Qur’an, Taurat, dan Injil.

Rusulihi: Beriman kepada rasul-rasul Allah. Hal ini dikaitkan dengan perintah mengikuti Rasul melalui Fattabi’uni.

Yaumil Akhir: Beriman kepada hari akhir, yaitu hari ketika manusia mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya.

Qadari Khairihi Wa Syarrihi: Beriman kepada takdir baik dan buruk. BES mengaitkannya dengan perubahan keadaan manusia dari bermusuhan menjadi bersaudara atas ketentuan Allah.

HADIS 2: IMAN BERTAMBAH DAN BERKURANG

Hadis berikutnya menjelaskan bahwa iman dapat bertambah dan berkurang.

الإيمان يزيد وينقص يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية

Al-Imanu Yazidu Wa Yanqus Yazidu Bit Tha’ati Wa Yanqusu Bil Ma’shiyah.

Artinya:

“Iman bertambah dan berkurang. Bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.”

(Dinukil dari riwayat Al-Baihaqi dan Ibnu Abi Syaibah).

BES menghubungkannya dengan QS. Al-Anfal 8:2, khususnya kalimat Zadathum Imana, yakni bertambah kuat imannya ketika dibacakan ayat-ayat Allah.

Menurut BES, tilawah dan mendengarkan ayat-ayat Allah menjadi bagian dari upaya memperkuat iman.

Ia juga mengaitkannya dengan rangkaian Mutiara Hikmah selama 11 hari, mulai Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Ahad, hingga Rabu dan Kamis berikutnya.

Sebaliknya, Yanqusu Bil Ma’shiyah berarti iman berkurang karena kemaksiatan.

Dalam penjelasannya, BES menyinggung orang yang meninggalkan salat, tidak membaca Al-Qur’an, menyebarkan hoaks, serta melakukan korupsi sebagai contoh perilaku yang bertentangan dengan nilai keimanan.

HADIS 3: TANDA HATI BERGETAR KETIKA NAMA ALLAH DISEBUT

Hadis berikutnya membahas tanda hati yang bergetar ketika mengingat Allah.

إذا ذكر الله وجل قلبه وإذا ذكر الناس قسا قلبه

Idza Dzukirallahu Wajila Qalbuhu Wa Idza Dzukira Nasu Qasa Qalbuhu.

Artinya:

“Apabila disebut nama Allah, gemetar hatinya, dan apabila disebut manusia, keras hatinya.”

(Dinukil dari riwayat Thabrani).

BES kembali menghubungkannya dengan QS. Al-Anfal 8:2, yakni Wajilat Qulubuhum.

Menurutnya, hati seorang mukmin seharusnya bergetar karena Allah, bukan karena manusia, jabatan, uang, buzzer, ataupun oligarki.

BES juga mengaitkannya dengan sikap kesombongan Iblis melalui ungkapan Ana Khairun Minhu, yang berarti aku lebih baik darinya.

Sikap sombong dan keras hati merupakan kebalikan dari hati yang tunduk kepada Allah.

HADIS 4: TAWAKAL SECARA TOTAL KEPADA ALLAH

Rasulullah SAW bersabda:

لو أنكم تتوكلون على الله حق توكله لرزقكم كما يرزق الطير تغدو خماصا وتروح بطانا

Lau Annakum Tatawakkaluna Alallahi Haqqa Tawakkulihi Larazaqakum Kama Yarzuquth Thair Taghdu Khimasan Wa Taruhu Bithanan.

Artinya:

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung. Burung pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.”

(HR. Tirmidzi, dinilai hasan sahih).

BES menghubungkannya dengan QS. Al-Anfal 8:2, yakni Wa Ala Rabbihim Yatawakkalun.

Menurut BES, tawakal harus dilakukan secara total, bukan setengah-setengah.

Haqqa Tawakkulihi berarti sebenar-benar tawakal. Tawakal bukan hanya bersandar kepada Allah sekaligus menggantungkan harapan kepada buzzer, oligarki, ataupun uang.

BES memberikan gambaran burung yang keluar mencari rezeki pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.

Artinya, tawakal tetap harus disertai ikhtiar, bukan hanya berdiam diri.

BES juga menghubungkannya dengan Perang Tabuk, ketika sekitar 30.000 pasukan muslim berangkat menempuh perjalanan sekitar 700 kilometer menghadapi ancaman Romawi dalam kondisi panas dan paceklik.

HADIS 5: KHUSYUK DALAM SALAT

Rasulullah SAW bersabda:

ما من امرئ مسلم تحضره صلاة مكتوبة فيحسن وضوءها وخشوعها وركوعها إلا كانت كفارة لما قبلها من الذنوب ما لم يؤت كبيرة وذلك الدهر كله

Baca juga:  Juli E. Restu War: Kutuk Dugaan Penganiayaan dan Pelecehan Seksual Pekerja di Tangerang

Ma Min Imri’in Muslimin Tahdhuruhu Shalatun Maktubatun Fayuhsinu Wudhuaha Wa Khusyu’aha Wa Ruku’aha Illa Kanat Kaffaratan Lima Qablaha Minadz Dzunub Ma Lam Yu’ta Kabirah Wa Dzalikad Dahru Kulluh.

Artinya:

“Tidaklah seorang muslim yang didatangi salat wajib, lalu dia memperbagus wudhu, kekhusyukan, dan rukuknya, kecuali salat itu menjadi penghapus dosa-dosa sebelumnya selama dia tidak melakukan dosa besar. Dan demikianlah sepanjang masa.”

(HR. Muslim).

BES mengaitkannya dengan QS. Al-Mu’minun 23:2, yaitu Fi Shalatihim Khashi’un.

Khusyuk berarti tunduk, tawadhu, dan tidak sombong. BES menghubungkannya dengan sikap Nabi Sulaiman yang tersenyum dalam kisah Fatabassama Dhahikan.

Khusyuk juga harus tercermin melalui wudhu yang baik, rukuk yang baik, dan pelaksanaan salat yang benar.

Hadis tersebut menjelaskan bahwa salat dapat menjadi penghapus dosa selama tidak melakukan dosa besar.

BES juga mengaitkannya dengan ujian Uhud dan Tabuk, yang mengajarkan kesabaran, keteguhan, serta keikhlasan dalam menghadapi ujian.

HADIS 6: MENJAUHI PERKARA YANG TIDAK BERMANFAAT

Rasulullah SAW bersabda:

من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه

Min Husni Islamil Mar’i Tarkuhu Ma La Ya’nihi.

Artinya:

“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.”

(HR. Tirmidzi, hasan sahih).

BES menghubungkannya dengan QS. Al-Mu’minun 23:3, yaitu Anil Laghwi Mu’ridhun.

Seorang mukmin harus menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat. Termasuk di dalamnya perbuatan yang menimbulkan fitnah, kebohongan, dan kerusakan.

HADIS 7: MENGIKUTI RASULULLAH SEBAGAI JALAN MENUJU SURGA

Rasulullah SAW bersabda:

كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أبى قالوا يا رسول الله ومن يأبى قال من أطاعني دخل الجنة ومن عصاني فقد أبى

Kullu Ummati Yadkhulunal Jannah Illa Man Aba Qalu Ya Rasulallah Wa Man Ya’ba Qala Man Atha’ani Dakhalal Jannah Wa Man Ashani Faqad Aba.

Artinya:

“Setiap umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa yang enggan?”

Rasulullah menjawab, “Barang siapa menaatiku, dia masuk surga, dan barang siapa mendurhakaiku, sungguh dia telah enggan.”

(HR. Bukhari).

BES menghubungkan hadis tersebut dengan QS. Ali Imran 3:31, yakni Fattabi’uni Yuhbibkumullah.

Mengikuti Rasulullah merupakan bukti kecintaan kepada Allah. Ketaatan kepada Rasul menjadi jalan mendapatkan cinta dan ampunan Allah.

BES kemudian mengaitkannya dengan rangkaian Mutiara Hikmah selama 11 hari, yaitu Atha’ani, taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dengan mengikuti Rasul, seorang mukmin berharap mendapatkan cinta Allah, ampunan atas dosa-dosanya, serta rahmat-Nya.

Yuhbibkumullah, Wa Yaghfir Lakum Dzunubakum, Ghafurur Rahim.

Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

KESIMPULAN: PARAMETER IMAN MENURUT AL-QUR’AN DAN HADIS

BES menegaskan kembali bahwa parameter iman menurut Al-Qur’an memiliki rangkaian yang jelas dan saling berkaitan.

Pertama, QS. Al-Anfal 8:2, dengan tiga variabel utama:

Wajilat Qulubuhum: hati bergetar ketika nama Allah disebut.

Zadathum Imana: bertambah kuat iman ketika dibacakan ayat-ayat Allah.

Yatawakkalun: hanya kepada Allah bertawakal.

Kedua, QS. Al-Mu’minun 23:1–11, dengan tujuh sifat mukmin beruntung:

Fi Shalatihim Khashi’un.

Anil Laghwi Mu’ridhun.

Liz Zakati Fa’ilun.

Lifurujihim Hafizhun.

Li Amanatihim Wa Ahdihim Ra’un.

Ala Shalawatihim Yuhafizhun.

Waritsun Firdaus.

Ketiga, QS. Ali Imran 3:31, dengan parameter cinta kepada Allah melalui Fattabi’uni Yuhbibkumullah, yaitu mengikuti Rasulullah agar mendapatkan cinta dan ampunan Allah.

Keempat, QS. Al-Ankabut 29:1–3, yang menegaskan bahwa keimanan harus diuji. Allah menguji orang-orang terdahulu untuk memperlihatkan siapa yang benar dalam keimanannya dan siapa yang berdusta.

Seluruh rangkaian tersebut kemudian diperkuat dengan tujuh hadis yang membahas definisi iman, iman bertambah dan berkurang, hati yang bergetar, tawakal, khusyuk dalam salat, menjauhi perkara tidak bermanfaat, serta mengikuti Rasulullah.

BES menutup kajiannya dengan mengajak umat Islam melakukan tadabbur melalui tujuh lapis pembahasan, yakni Al-Qur’an bil Qur’an, lima rangkaian surat yang saling dikaitkan, serta hadis-hadis Rasulullah SAW.

Menurutnya, parameter keimanan sudah sangat jelas. Iman bukan sekadar pengakuan melalui lisan, tetapi harus tercermin dalam hati, bertambah melalui ayat-ayat Allah, diwujudkan melalui amal, dibuktikan dengan mengikuti Rasul, serta diuji melalui berbagai keadaan kehidupan.

Wallahu A’lam.

Salam Jihad dan Sabar,

 Brother Eggi Sudjana (BES)

Latest

GEGER! Tiga Jenderal Polri Terseret Kasus Dugaan Penyadapan Presiden Prabowo, Listyo Sigit Disebut Jadi Tersangka

JAKARTA | MATA PENA iNDONESIA – Publik dikejutkan oleh pengungkapan kasus...

Dugaan Penyadapan Presiden Prabowo, Advokat Ahmad Muhibullah: Kejahatan Serius

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Dugaan penyadapan ilegal...

Polemik Ijazah Memanas, Eggi Sudjana Kirim Pesan Moral Tegas kepada Jokowi!

JAKARTA |  MATA PENA INDONESIA – Polemik terkait keaslian...

Newsletter

Don't miss

GEGER! Tiga Jenderal Polri Terseret Kasus Dugaan Penyadapan Presiden Prabowo, Listyo Sigit Disebut Jadi Tersangka

JAKARTA | MATA PENA iNDONESIA – Publik dikejutkan oleh pengungkapan kasus...

Dugaan Penyadapan Presiden Prabowo, Advokat Ahmad Muhibullah: Kejahatan Serius

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Dugaan penyadapan ilegal...

Polemik Ijazah Memanas, Eggi Sudjana Kirim Pesan Moral Tegas kepada Jokowi!

JAKARTA |  MATA PENA INDONESIA – Polemik terkait keaslian...

Situs Terbaik Kasino Tanpa Setoran 2026

Situs Terbaik Kasino Tanpa Setoran 2026 Namun, mengumpulkan poin...

GEGER! Tiga Jenderal Polri Terseret Kasus Dugaan Penyadapan Presiden Prabowo, Listyo Sigit Disebut Jadi Tersangka

JAKARTA | MATA PENA iNDONESIA – Publik dikejutkan oleh pengungkapan kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto. Dalam perkembangan penanganan perkara tersebut, tiga...

Dugaan Penyadapan Presiden Prabowo, Advokat Ahmad Muhibullah: Kejahatan Serius

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden RI Prabowo Subianto menjadi sorotan praktisi hukum. Ahmad Muhibullah, S.H., advokat dan konsultan...

Mutiara Hikmah: Eggi Sudjana Bedah QS Ali Imran 101–103: Lima Variabel Iman, Jika Satu Hilang, Dipertanyakan Keutuhan Iman

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. H. Eggi Sudjana, SH., M.Si. atau Brother Eggi Sudjana (BES) kembali menyampaikan kajian Mutiara Hikmah, Rabu,...