Mutiara Hikmah BES: Eggi Sudjana Bongkar 7 Penyebab Manusia Mengkhianati Kebenaran

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. H. Eggi Sudjana, SH., M.Si., yang dikenal dengan sapaan BES (Brother Eggi Sudjana), dalam kajian Mutiara Hikmah Senin, 2 November 2026, mengangkat pembahasan mendalam mengenai makna jihad, keimanan, amal saleh, tanggung jawab pribadi, serta penyebab manusia menyimpang dan mengkhianati kebenaran meskipun petunjuk Allah SWT telah dijelaskan secara terang dalam Al-Qur’an.

Mengangkat tema besar “Jihad untuk Diri Sendiri, Allah Maha Kaya dan Mengapa Masih Ada yang Mengkhianati Kebenaran?”, Eggi Sudjana menghubungkan empat ayat Al-Qur’an, yakni QS. Al-Ankabut ayat 6, 7, dan 69 serta QS. An-Nisa ayat 84.

Menurutnya, keempat ayat tersebut membentuk satu konstruksi pemahaman yang saling berkaitan. Jihad bukanlah sesuatu yang dibutuhkan Allah SWT, melainkan merupakan perjuangan manusia untuk keselamatan dan kebaikan dirinya sendiri.

Empat Ayat Al-Qur’an Menjadi Landasan Pembahasan

Dalam kajian tersebut, Eggi Sudjana terlebih dahulu mengutip firman Allah SWT dalam QS. Al-Ankabut ayat 6:

وَمَنْ جَاهَدَ فَاِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَـغَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ

Artinya:

“Dan barang siapa berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu untuk dirinya sendiri. Sungguh, Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.”

Ayat tersebut, menurut Eggi, menegaskan bahwa perjuangan manusia dalam menjalankan perintah Allah pada akhirnya memberikan manfaat bagi dirinya sendiri. Allah SWT tidak membutuhkan ibadah, perjuangan, maupun amal manusia karena Dia Maha Kaya dan tidak bergantung kepada seluruh makhluk.

Selanjutnya, QS. Al-Ankabut ayat 7 memberikan penegasan tentang janji Allah kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan:

وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَـنُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّاٰتِهِمْ وَلَـنَجْزِيَنَّهُمْ اَحْسَنَ الَّذِيْ كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Artinya:

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, pasti akan Kami hapus kesalahan-kesalahannya dan mereka pasti akan Kami beri balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.”

Eggi menekankan dua unsur penting dalam ayat ini, yaitu keimanan (Amanu) dan perbuatan baik (Amilush Shalihat). Menurutnya, keduanya harus berjalan beriringan. Keimanan tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan melalui perbuatan nyata.

Kemudian, ia menghubungkan kedua ayat tersebut dengan QS. An-Nisa ayat 84:

فَقَاتِلْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۚ لَا تُكَلَّفُ اِلَّا نَـفْسَكَ وَحَرِّضِ الْمُؤْمِنِيْنَ ۚ عَسَى اللّٰهُ اَنْ يَّكُفَّ بَأْسَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ۗ وَاللّٰهُ اَشَدُّ بَأْسًا وَّاَشَدُّ تَنْكِيْلًا

Artinya:

“Maka berperanglah engkau (Muhammad) di jalan Allah, engkau tidaklah dibebani melainkan atas dirimu sendiri. Kobarkanlah (semangat) orang-orang beriman (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak (mematahkan) serangan orang-orang yang kafir itu. Allah sangat besar kekuatan-Nya dan sangat keras siksa-Nya.”

Menurut Eggi, bagian penting dari ayat tersebut adalah La Tukallafu Illa Nafsak, yang menegaskan tanggung jawab pribadi. Setiap manusia harus menyadari tanggung jawabnya sendiri dalam menjalankan kebenaran dan tidak melemparkan kewajiban moral kepada orang lain.

Pembahasan kemudian ditutup dengan QS. Al-Ankabut ayat 69:

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ

Artinya:

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.”

Baca juga:  Mutiara Hikmah BES: Bekerja Karena Allah, Berjuang dengan Ikhlas, Militan dan Penuh Hikmah

Eggi menjelaskan bahwa orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari keridaan Allah akan memperoleh petunjuk menuju jalan kebaikan. Ia juga menekankan pentingnya menjadi Muhsinin, yakni orang-orang yang berbuat baik dengan kualitas dan kesungguhan terbaik.

Jihad untuk Diri Sendiri, Bukan karena Allah Membutuhkan

Dalam lapisan analisis filosofis, Eggi menyebut QS. Al-Ankabut ayat 6 sebagai ayat yang mengandung pesan mendalam tentang manfaat perjuangan manusia.

Menurutnya, frasa Linafsih menunjukkan bahwa jihad dan seluruh amal kebaikan pada hakikatnya kembali kepada kepentingan keselamatan manusia itu sendiri.

Allah SWT tidak membutuhkan shalat, zakat, perjuangan, maupun amal saleh manusia. Sebaliknya, manusialah yang membutuhkan semua itu untuk memperoleh ampunan, balasan kebaikan, petunjuk, dan keridaan Allah.

Ia menghubungkan pemikiran tersebut dengan pembahasan sebelumnya mengenai konsep Bai’, yakni jual beli diri dan harta manusia dengan Allah SWT demi memperoleh surga.

Dalam pandangannya, perjuangan di jalan Allah bukanlah kerugian, melainkan investasi terbesar bagi kehidupan akhirat.

Eggi juga menghubungkan pesan tersebut dengan doa Nabi Sulaiman AS:

رَبِّ أَوْزِعْنِيْ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْ أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَأَدْخِلْنِيْ بِرَحْمَتِكَ فِيْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ

Doa tersebut, menurutnya, mengandung tiga permohonan penting, yakni kemampuan untuk bersyukur, kemampuan mengerjakan amal saleh yang diridai Allah, serta memohon agar dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang saleh.

Menghubungkan Jihad dengan Perang Tabuk dan Sumpah Pemuda

Dalam kajian tersebut, Eggi tidak hanya membahas ayat secara tekstual, tetapi juga menghubungkannya dengan sejarah perjuangan umat Islam, khususnya Perang Tabuk, serta momentum Sumpah Pemuda.

Perang Tabuk dijadikan contoh tentang kesungguhan dan pengorbanan dalam menjalankan perintah Allah. Ia mengangkat kisah sekitar 30.000 kaum Muslimin yang menghadapi perjalanan panjang, kondisi panas, keterbatasan bekal, dan ancaman kekuatan Romawi.

Dalam penjelasannya, perjalanan sekitar 700 kilometer, keterbatasan kendaraan, serta pengorbanan harta menjadi gambaran tentang kesungguhan para sahabat dalam menjalankan perjuangan.

Eggi mengaitkan peristiwa tersebut dengan konsep Infiru, yakni seruan untuk bergerak dan tidak hanya berhenti pada keyakinan tanpa tindakan.

Sementara itu, momentum Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dipandang sebagai contoh perjuangan kolektif yang dilandasi semangat persatuan.

Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa Indonesia menjadi gambaran bahwa perbedaan suku, daerah, dan bahasa dapat disatukan melalui kesadaran serta kerja nyata untuk kepentingan bangsa.

Menurutnya, semangat tersebut sejalan dengan prinsip keimanan dan amal saleh. Persatuan tidak cukup hanya menjadi slogan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan.

Tujuh Lapis Analisis: Mengapa Manusia Bisa Menyimpang dan Mengkhianati Kebenaran?

Dalam pembahasan berikutnya, Eggi menguraikan tujuh lapis analisis yang digunakan untuk menjawab pertanyaan mengapa sebagian manusia masih tidak yakin, menyimpang, bahkan mengkhianati kebenaran meskipun petunjuk Allah telah dijelaskan.

Analisis tersebut meliputi pendekatan Qur’an bil Qur’an, sirah, filosofis, historis, sosiologis, psikologis, dan refleksi terhadap kehidupan masyarakat.

Dari pembahasan itu, ia menguraikan tujuh faktor yang dinilai dapat menjadi penyebab manusia menjauh dari kebenaran.

Baca juga:  Ucapan, Ikhtiar, dan Rezeki: Menjemput Berkah dengan Berbagi

1. Ridha terhadap kebodohan (Ridho Jahl)

Eggi mengingatkan bahaya sikap merasa cukup dengan ketidaktahuan dan tidak memiliki kemauan untuk belajar.

Menurutnya, seseorang yang tidak mau mempelajari Al-Qur’an, memahami ajaran agama, dan mengambil pelajaran dari sejarah akan mudah kehilangan arah ketika menghadapi persoalan kehidupan.

Ia menekankan pentingnya membangun tradisi belajar agar manusia mampu memahami perintah Allah secara benar.

2. Jahl atau kebodohan

Faktor kedua adalah kebodohan atau ketidaktahuan terhadap ajaran agama.

Eggi menilai kurangnya pemahaman terhadap Al-Qur’an, Sunnah, sirah Nabi, dan sejarah perjuangan umat dapat membuat seseorang mudah terpengaruh oleh informasi maupun kepentingan yang menyimpang.

Karena itu, ia mengajak umat Islam memperkuat pengetahuan dan pemahaman keagamaan.

3. Hubbud Dunya atau cinta dunia secara berlebihan

Faktor ketiga adalah kecintaan berlebihan terhadap kehidupan dunia.

Menurut Eggi, jabatan, uang, proyek, kekuasaan, dan kepentingan pribadi dapat membuat seseorang melupakan tanggung jawab moral dan akhirat.

Ia menghubungkan hal ini dengan QS. At-Taubah ayat 38 yang mengingatkan manusia agar tidak terlalu berat terhadap kehidupan dunia ketika diperintahkan untuk berjuang di jalan Allah.

4. Bakhil atau sifat kikir

Faktor keempat adalah sifat pelit dan enggan berkorban.

Eggi menjelaskan bahwa perjuangan membutuhkan kesediaan memberikan tenaga, waktu, pikiran, bahkan harta untuk kepentingan yang benar.

Ia mengambil pelajaran dari Perang Tabuk, ketika para sahabat menunjukkan pengorbanan besar meskipun menghadapi keterbatasan.

Semangat pengorbanan tersebut juga dikaitkan dengan Sumpah Pemuda, ketika para pemuda bersedia menempatkan kepentingan persatuan bangsa di atas kepentingan kelompok masing-masing.

5. Riya atau pamer

Faktor kelima adalah riya, yaitu melakukan sesuatu demi memperoleh pujian dan pengakuan manusia.

Menurut Eggi, amal dan perjuangan seharusnya dilandasi keikhlasan, bukan sekadar pencitraan.

Ia mengkritik perilaku yang lebih mengutamakan penampilan dan popularitas daripada kebenaran serta manfaat nyata bagi masyarakat.

6. Ujub atau membanggakan diri

Faktor keenam adalah ujub, yaitu merasa diri paling baik, paling benar, paling pintar, atau paling hebat dibandingkan orang lain.

Eggi menghubungkannya dengan kisah kesombongan Iblis melalui ungkapan Ana Khairun Minhu, yang berarti aku lebih baik daripadanya.

Menurutnya, sifat ujub dapat membuat manusia menolak nasihat, enggan memperbaiki diri, dan merasa tidak membutuhkan petunjuk.

7. Qarin buruk dan Tsaqaltum Ilal Ardi

Faktor ketujuh adalah pengaruh teman atau lingkungan yang buruk serta kecenderungan terlalu berat kepada kehidupan dunia.

Eggi menghubungkannya dengan ungkapan Inni Kana Li Qarin, tentang seseorang yang dahulu memiliki teman yang mempertanyakan keyakinannya terhadap hari kebangkitan.

Ia juga mengangkat frasa Tsaqaltum Ilal Ardi, yang menggambarkan sikap berat untuk bergerak ketika dipanggil menjalankan perjuangan.

Menurutnya, lingkungan yang buruk dapat melemahkan keyakinan, sementara kecintaan berlebihan terhadap dunia membuat seseorang enggan berkorban dan menjalankan tanggung jawab.

Menghubungkan Tujuh Faktor dengan Tujuh Rukun Kepemimpinan

Dalam kajian sebelumnya, Eggi juga telah membahas konsep tujuh rukun pemimpin berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an.

Tujuh prinsip tersebut meliputi:

Baca juga:  Mutiara Hikmah, BES: Kun Fayakun Allah dan Makna Hari Kesaktian Pancasila

Aqaamush Shalah – menegakkan salat.

Aatawuz Zakah – menunaikan zakat.

Amaru Bil Ma’ruf – mengajak kepada kebaikan.

Nahau Anil Munkar – mencegah kemungkaran.

Yahduuna Bi Amrina – memberikan petunjuk berdasarkan perintah Allah.

Fi’lal Khairat – melaksanakan berbagai kebajikan.

Kaanu Lana Abidin – menjadi hamba yang senantiasa beribadah kepada Allah.

Menurut Eggi, tujuh faktor penyebab penyimpangan yang dibahas dalam Mutiara Hikmah kali ini memiliki hubungan erat dengan tujuh prinsip tersebut.

Apabila sifat buruk seperti kebodohan, cinta dunia, kikir, riya, ujub, serta pengaruh lingkungan yang buruk dibiarkan, maka pelaksanaan nilai-nilai kepemimpinan yang berlandaskan Al-Qur’an juga dapat melemah.

Ia mengingatkan bahwa jabatan dan kekuasaan seharusnya menjadi sarana pengabdian, bukan alat untuk memenuhi kepentingan pribadi.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, prinsip tersebut dapat menjadi bahan refleksi bagi para pemimpin dan pejabat publik agar senantiasa mengedepankan integritas, keadilan, serta kepentingan masyarakat.

Solusi: Bersihkan Diri, Perkuat Iman, dan Wujudkan Amal Nyata

Sebagai penutup, Eggi Sudjana menawarkan solusi dengan mengajak umat Islam membebaskan diri dari sifat-sifat buruk yang telah diuraikannya.

Ia kembali mengingatkan lima sifat yang dikaitkan dengan nasihat Sayyidina Ali bin Abi Thalib, yakni ridha terhadap kebodohan, jahl, hubbud dunya, bakhil, riya, dan ujub. Dalam rangkaian pembahasannya, ia juga menambahkan pengaruh teman buruk serta sikap Tsaqaltum Ilal Ardi sebagai faktor yang harus dihindari.

Eggi mengajak masyarakat memilih lingkungan pergaulan yang baik, memperkuat persatuan, meningkatkan pengetahuan, serta tidak membiarkan diri terbelenggu oleh kepentingan duniawi.

Ia juga menghubungkan solusi tersebut dengan tiga prinsip utama yang menjadi benang merah kajian Mutiara Hikmah sebelumnya, yaitu:

Wa Qul I’malu: bekerja dan menghasilkan karya nyata.

Innallaha Ishtara: memahami konsep jual beli diri dan harta dengan Allah SWT demi memperoleh surga.

La Tukallafu Illa Nafsak: menyadari tanggung jawab pribadi dan tidak melemparkannya kepada orang lain.

Selain itu, umat Islam diajak mengamalkan Harridhil Mu’minin, yaitu membangkitkan semangat orang-orang beriman untuk menjalankan kebaikan.

Eggi menegaskan bahwa perjuangan harus dilandasi keikhlasan, dilakukan untuk mencari keridaan Allah, dan diwujudkan melalui perbuatan baik dengan kualitas terbaik.

Pesan Penutup: Jangan Hanya Beriman, tetapi Buktikan dengan Perbuatan

Melalui Mutiara Hikmah Senin, 2 November 2026, Eggi Sudjana mengajak umat Islam kembali memahami bahwa jihad, keimanan, dan amal saleh merupakan tanggung jawab setiap individu.

Empat ayat yang dibahas memberikan pesan bahwa perjuangan manusia memberikan manfaat bagi dirinya sendiri, keimanan harus disertai amal kebajikan, tanggung jawab tidak boleh dihindari, dan orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari keridaan Allah akan mendapatkan petunjuk-Nya.

Ia mengajak umat untuk meninggalkan kebodohan, kesombongan, kecintaan berlebihan terhadap dunia, serta segala bentuk perilaku yang menjauhkan manusia dari kebenaran.

Kajian tersebut ditutup dengan pesan agar manusia tidak hanya mengaku beriman, tetapi membuktikannya melalui kerja keras, pengorbanan, tanggung jawab, dan amal nyata.

Wallahu A’lam.

Salam Jihad dan Sabar,

Brother Eggi Sudjana (BES)

Latest

Newsletter

Don't miss

Petisi 26 Desak Kejagung Ambil Alih Kasus Dugaan Kongkalikong Tender RSUD Parung Rp109 Miliar

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Dugaan persekongkolan tender dalam proyek pembangunan gedung Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Parung, Kabupaten Bogor, senilai Rp109 miliar kembali...

Mutiara Hikmah BES: Bongkar Ukuran Otentik Jihad dalam QS At-Taubah 105 dan 111, Eggi Sudjana Tegaskan Kerja Nyata dan Prinsip CBM

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si., yang dikenal dengan sapaan Brother Eggi Sudjana (BES), kembali menyampaikan pemikiran keislamannya melalui...

Mutiara Hikmah BES: Bongkar 3 Ayat Infiru dalam QS At-Taubah 38–40, Eggi Sudjana Uraikan Teguran, Ancaman Penggantian Kaum, dan Jaminan Pertolongan Allah

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si., atau yang akrab disapa Brother Eggi Sudjana (BES), kembali menyampaikan kajian keislaman...