Mutiara Hikmah BES: Bongkar Ukuran Otentik Jihad dalam QS At-Taubah 105 dan 111, Eggi Sudjana Tegaskan Kerja Nyata dan Prinsip CBM

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si., yang dikenal dengan sapaan Brother Eggi Sudjana (BES), kembali menyampaikan pemikiran keislamannya melalui Mutiara Hikmah Ahad, 1 November 2026. Kali ini, ia mengangkat dua ayat dalam Surah At-Taubah, yakni ayat 105 dan ayat 111, sebagai ukuran otentik jihad sesungguhnya.

Melalui kajian Al-Qur’an tersebut, BES menegaskan bahwa jihad tidak cukup hanya diwujudkan melalui ucapan, teori, pencitraan, maupun aktivitas yang tidak menghasilkan karya nyata. Menurutnya, terdapat dua unsur utama yang harus menyatu, yaitu kerja keras untuk menghasilkan karya nyata dan konkret demi tegaknya ajaran sistem Islam, serta daya dorong CBM yang berarti Cerdas, Berani, dan Militan.

Dalam pembukaannya, BES mengutip firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

QS. At-Taubah [9] Ayat 105

وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَا لْمُؤْمِنُوْنَ ۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَا لشَّهَا دَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

Wa Quli’maluu Fa Sayarallahu Amalakum Wa Rasuluhu Wal Mu’minun, Wa Saturadduna Ila Alimil Ghaibi Wasy Syahadati Fa Yunabbiukum Bima Kuntum Ta’malun.

Artinya:

“Dan katakanlah, Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

(QS. At-Taubah [9]: 105).

Ayat tersebut kemudian dijunctokan dengan QS. At-Taubah ayat 111:

QS. At-Taubah [9] Ayat 111

اِنَّ اللّٰهَ اشْتَرٰى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اَنْفُسَهُمْ وَاَمْوَالَهُمْ بِاَنَّ لَهُمُ الْجَــنَّةَ ۗ يُقَا تِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَيَقْتُلُوْنَ وَيُقْتَلُوْنَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِى التَّوْرٰٮةِ وَا لْاِ نْجِيْلِ وَا لْقُرْاٰ نِ ۗ وَمَنْ اَوْفٰى بِعَهْدِهٖ مِنَ اللّٰهِ فَا سْتَـبْشِرُوْا بِبَيْعِكُمُ الَّذِيْ بَايَعْتُمْ بِهٖ ۗ وَذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

Innallaha Ishtara Minal Mu’minina Anfusahum Wa Amwalahum Bi Anna Lahumul Jannah Yuqatiluna Fi Sabilillahi Fa Yaqtuluna Wa Yuqtaluna Wa’dan Alaihi Haqqan Fit Taurati Wal Injili Wal Qur’an Wa Man Aufa Bi Ahdihi Minallah Fa Istabsyiru Bi Bai’ikumul Ladzi Baya’tum Bihi Wa Dzalika Huwal Fauzul Azim.

Artinya:

“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung.”

(QS. At-Taubah [9]: 111).

Menurut BES, kedua ayat tersebut merupakan satu kesatuan yang menjadi ukuran otentik jihad sesungguhnya. Ayat 105 berbicara mengenai kerja dan amal nyata, sedangkan ayat 111 menjelaskan prinsip bai’ atau jual beli diri dan harta dengan Allah untuk memperoleh surga.

Dua unsur utama ukuran otentik jihad

BES menjelaskan bahwa terdapat dua unsur yang tidak dapat dipisahkan dalam ukuran jihad sesungguhnya.

Pertama, kerja keras untuk menghasilkan karya nyata dan konkret demi tegaknya ajaran sistem Islam.

Kedua, daya dorong CBM, yakni Cerdas, Berani, dan Militan, hingga memiliki kesiapan mengorbankan diri dan harta untuk menggapai surga Allah.

Dalam penjelasannya, BES menegaskan bahwa ukuran tersebut bukan jihad abal-abal, bukan jihad buzzer bayaran, dan bukan jihad pencitraan. Akan tetapi, jihad yang memiliki kerja nyata serta landasan keimanan dan pengorbanan.

BES kemudian mengajukan pertanyaan serius:

“Adakah SDM (Sumber Daya Manusia) yang lebih hebat daripada kualitas diri yang memiliki dua unsur tersebut?”

Menurutnya, tidak ada. Inilah SDM puncak, SDM Tabuk, SDM Gua Tsur, SDM Sumpah Pemuda, dan SDM yang memiliki tujuh rukun pemimpin.

Ia juga mengajak masyarakat membedah tujuh lapis pembahasan melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an, sirah, filosofis, historis, dan sosiologis.

1. Wa Quli’malu: Kerja nyata yang dilihat Allah, Rasul, dan orang mukmin

BES menjelaskan bahwa QS. At-Taubah ayat 105 mengandung rukun pertama jihad, yaitu kerja keras yang menghasilkan karya nyata dan konkret untuk tegaknya ajaran sistem Islam.

Menurutnya, pekerjaan tersebut bukan sekadar pencitraan, bukan pekerjaan buzzer bayaran, melainkan amal yang dilihat Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin.

Ia menguraikan tiga penilai dalam ayat tersebut.

Pertama, Allah melihat.

Fa Sayarallahu Amalakum, artinya Allah akan melihat pekerjaanmu. Bukan manusia, bukan buzzer, dan bukan oligarki yang menjadi ukuran utama, melainkan Allah.

Karena itu, pekerjaan harus dilandasi keikhlasan. BES mengaitkannya dengan pembahasan Senin sebelumnya, yakni Rabbi Auzi’ni An Asykura Wa An A’mala Shalihan Tardhahu, tentang syukur dan amal saleh yang diridai Allah.

Kedua, Rasul melihat.

Wa Rasuluhu, artinya Rasul-Nya juga melihat.

Menurut BES, pekerjaan harus sesuai dengan Sunnah Rasul dan petunjuk Nabi. Ia menghubungkannya dengan konsep Yahduuna Bi Amrina, yakni memberikan petunjuk berdasarkan perintah Allah, bukan berdasarkan hawa nafsu maupun perintah buzzer.

Ketiga, orang-orang mukmin melihat.

Wal Mu’minun, artinya orang-orang mukmin juga melihat.

BES menjelaskan bahwa pekerjaan harus transparan, dapat dilihat dan dinilai oleh orang mukmin. Bukan pekerjaan gelap, bukan korupsi, dan bukan pekerjaan di balik layar.

Ia mengaitkannya dengan Sumpah Pemuda yang melahirkan semangat Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa.

Lebih lanjut, BES mengingatkan bahwa seluruh pekerjaan manusia pada akhirnya akan dikembalikan kepada Allah, Yang Mengetahui perkara gaib dan nyata.

Fa Yunabbiukum Bima Kuntum Ta’malun, yakni Allah akan memberitakan apa yang telah dikerjakan manusia.

Artinya, seluruh pekerjaan akan diaudit, dihisab, dan dipertanggungjawabkan.

BES juga mengaitkannya dengan ungkapan Wa Lillahi Aqibatul Umur, bahwa kepada Allah kembali segala urusan, serta pembahasan Selasa mengenai hari lahir, wafat, dan dibangkitkan kembali.

Menurutnya, ukuran otentik jihad pertama adalah kerja keras yang menghasilkan karya nyata, bukan sekadar omongan dan teori.

Baca juga:  Pemdes Cikeas Udik Luncurkan Betonisasi Jalan melalui Bankeu Akselerasi 2026

Ia mencontohkan Perang Tabuk dengan 30.000 pasukan yang menempuh perjalanan sekitar 700 kilometer sebagai gambaran kerja nyata, serta Sumpah Pemuda yang menghasilkan karya konkret berupa persatuan bangsa dan Bahasa Indonesia.

Kerja nyata untuk tegaknya ajaran sistem Islam juga dikaitkan dengan tujuh rukun pemimpin, yaitu:

Aqaamush Shalah, menegakkan salat.

Aatawuz Zakah, menegakkan zakat.

Amaru Bil Ma’ruf, mengajak kepada kebaikan.

Nahau Anil Munkar, mencegah kemungkaran.

Yahduuna Bi Amrina, memberikan petunjuk berdasarkan perintah Allah.

Fi’lal Khairat, mengerjakan berbagai kebaikan.

Kaanu Lana Abidin, hanya menyembah Allah.

BES menilai bahwa apabila pekerjaan tidak diarahkan untuk tegaknya ajaran sistem Islam, maka pekerjaan tersebut bukanlah jihad otentik sebagaimana konsep yang dijelaskannya.

Ia juga mengkritik orientasi pembangunan yang hanya mengukur keberhasilan melalui angka pertumbuhan ekonomi atau PDB, tetapi mengabaikan kehidupan akhirat. Ia menghubungkannya dengan QS. Ar-Rum ayat 7 tentang orang-orang yang mengetahui perkara lahiriah kehidupan dunia, tetapi lalai terhadap akhirat.

2. Innallaha Ishtara: Allah membeli diri dan harta orang mukmin dengan surga

Unsur kedua yang dijelaskan BES adalah QS. At-Taubah ayat 111.

Menurutnya, ayat tersebut menjadi landasan daya dorong CBM, yaitu Cerdas, Berani, dan Militan, dengan kesiapan mengorbankan diri dan harta demi memperoleh surga Allah.

BES menjelaskan bahwa Ishtara berarti membeli. Dalam ayat tersebut Allah menjadi pembeli, sementara diri dan harta orang mukmin menjadi sesuatu yang diperjualbelikan dengan balasan surga.

Ia menegaskan bahwa ini bukan jual beli dengan buzzer bayaran atau oligarki, melainkan jual beli dengan Allah.

Allah membeli (Ishtara)

BES menjelaskan bahwa Allah tidak membutuhkan apa pun dari manusia. Namun, melalui ayat tersebut Allah memuliakan orang mukmin dengan memberikan janji surga sebagai balasan atas pengorbanan diri dan hartanya.

Bi Anna Lahumul Jannah, yakni dengan memberikan surga kepada mereka.

Harga yang dijanjikan bukan kenikmatan dunia, bukan jabatan, dan bukan proyek, melainkan surga yang kekal.

Diri dan harta (Anfusahum Wa Amwalahum)

BES menguraikan bahwa diri dan harta merupakan dua modal pengorbanan.

Diri meliputi jiwa, raga, waktu, tenaga, dan pikiran. Sementara harta meliputi uang, rumah, mobil, serta seluruh kemampuan materi yang dimiliki.

Ia menghubungkannya dengan kisah Nabi Sulaiman, seluruh pasukan jin, manusia, dan burung yang berada dalam kekuasaannya, serta Perang Tabuk ketika para sahabat memberikan pengorbanan besar berupa tenaga, kendaraan, makanan, dan harta.

BES juga mengaitkannya dengan Sumpah Pemuda, ketika berbagai suku dan kelompok mengesampingkan ego kesukuan demi persatuan bangsa.

Harga yang dijanjikan adalah surga

Menurut BES, Bi Anna Lahumul Jannah merupakan harga tertinggi dalam jual beli tersebut.

Ia menghubungkannya dengan ungkapan Fama Mata’ul Hayatid Dunya Fil Akhirati Illa Qalil, bahwa kenikmatan kehidupan dunia dibandingkan akhirat hanyalah sedikit.

Karena itu, menurutnya, jual beli diri dan harta untuk mendapatkan surga merupakan bisnis paling menguntungkan.

Hal tersebut kemudian ditegaskan melalui kalimat:

Fa Istabsyiru Bi Bai’ikumul Ladzi Baya’tum Bihi.

Artinya, bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan.

BES menekankan bahwa orang yang memahami prinsip tersebut seharusnya memiliki kegembiraan, bukan kesedihan dan ketakutan, karena balasan yang dijanjikan adalah kemenangan agung.

CBM: Cerdas, Berani, dan Militan

BES kemudian menguraikan tiga unsur CBM sebagai daya dorong dalam menjalankan perjuangan.

Cerdas

Cerdas berarti mengetahui strategi, mengenali keadaan, memahami medan, serta mengetahui waktu yang tepat untuk bertindak.

BES mencontohkan Perang Tabuk. Rasulullah mengetahui adanya kekuatan Romawi, jarak perjalanan sekitar 700 kilometer, musim panas, serta kondisi masyarakat yang sedang menghadapi masa panen kurma.

Karena itu, persiapan dilakukan dengan menyiapkan bekal, kendaraan, kurma, dan air.

Ia juga menghubungkan kecerdasan dengan Sumpah Pemuda 1928. Para pemuda memahami bahwa politik adu domba Belanda harus dihadapi melalui persatuan Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa.

Cerdas, menurut BES, juga berarti memahami Al-Qur’an, Sunnah, dan sirah Nabi.

Berani

Berani berarti tidak terjebak dalam sikap Tsaqaltum Ilal Ardi, yakni berat kepada bumi atau terlalu terikat dengan kehidupan dunia.

BES mengaitkannya dengan perintah Infiru, yakni berangkatlah.

Ia mencontohkan keberanian pasukan Tabuk, semangat pemuda pada 1928, serta keteguhan Rasulullah bersama Abu Bakar ketika berada di Gua Tsur.

Prinsip La Tahzan Innallaha Ma’ana, jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita, menjadi landasan keberanian tersebut.

Militan

Militan berarti memiliki kesungguhan dan komitmen yang tidak setengah-setengah.

BES menghubungkan unsur ini dengan kalimat Fa Yaqtuluna Wa Yuqtaluna, yang secara tekstual berarti mereka membunuh atau terbunuh dalam perjuangan di jalan Allah.

Dalam uraian BES, prinsip tersebut merupakan gambaran kesiapan menghadapi risiko perjuangan, bukan sekadar keberanian tanpa perhitungan.

Ia menegaskan bahwa militan harus didahului kecerdasan dan keberanian, sehingga CBM tidak dimaknai sebagai tindakan nekat.

Menurut BES, apabila kerja keras tidak disertai CBM, maka kerja tersebut bisa berubah menjadi kerja rodi atau pekerjaan yang kehilangan arah.

Sebaliknya, CBM tanpa kerja keras juga hanya menjadi omong kosong karena tidak menghasilkan karya nyata.

Oleh sebab itu, kedua unsur tersebut harus menyatu.

3. Janji Allah dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an

BES selanjutnya menyoroti bagian QS. At-Taubah ayat 111:

Wa’dan Alaihi Haqqan Fit Taurati Wal Injili Wal Qur’an.

Artinya, janji tersebut merupakan janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an.

Menurut BES, penyebutan tiga kitab tersebut menunjukkan bahwa prinsip pengorbanan dan janji Allah merupakan bagian dari kesinambungan ajaran para nabi.

Ia kemudian membagi pembahasannya menjadi tiga bagian.

Taurat – Nabi Musa

BES mengaitkan perjuangan Nabi Musa menghadapi Fir’aun dengan pengorbanan diri dan harta untuk membebaskan Bani Israil dari penindasan.

Ia menghubungkannya dengan konsep CBM, keberanian menghadapi kekuasaan Fir’aun, hingga akhirnya Fir’aun tenggelam dan Bani Israil diselamatkan.

Baca juga:  Mengapa Allah Menyebut Sedekah sebagai ‘Pinjaman’? Prof Eggi Sudjana Ungkap Makna QS Al-Baqarah 245

Dalam penjelasannya, hal tersebut dikaitkan dengan prinsip Kalimatullah Hil Ulya, yakni kalimat Allah yang tinggi.

Injil – Nabi Isa

BES kemudian menghubungkan Injil dengan perjuangan Nabi Isa dan para pengikutnya.

Ia menyebut Hawariyyun, yakni para sahabat Nabi Isa, sebagai bagian dari gambaran kesetiaan dalam perjuangan.

BES juga mengaitkannya dengan ayat:

Wa Salamun Alaihi Yauma Wulida Wa Yauma Yamutu Wa Yauma Yub’atsu Hayya.

Menurutnya, rangkaian tersebut menjadi pengingat tentang keselamatan dan kesejahteraan pada hari kelahiran, kematian, serta kebangkitan.

Al-Qur’an – Nabi Muhammad SAW

BES menjelaskan bahwa perjuangan Rasulullah Muhammad SAW bersama kaum Muhajirin dan Anshar merupakan gambaran pengorbanan diri dan harta dalam menegakkan ajaran Islam.

Ia mencontohkan Perang Tabuk dengan 30.000 pasukan, perjuangan menghadapi kekuatan Quraisy, serta perjalanan dakwah yang akhirnya membawa kemenangan Islam.

BES kemudian menyimpulkan bahwa janji Allah mengenai jual beli diri dan harta dengan surga bukanlah janji palsu, melainkan janji yang benar.

Ia mengutip:

Wa Man Aufa Bi Ahdihi Minallah.

Artinya, siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah?

Menurut BES, tidak ada yang lebih tepat dalam menepati janji selain Allah SWT.

4. Fa Istabsyiru: Bergembiralah dengan jual beli yang dilakukan bersama Allah

BES menyebut bagian ini sebagai puncak pembahasan QS. At-Taubah ayat 111.

Kalimat Fa Istabsyiru Bi Bai’ikumul Ladzi Baya’tum Bihi berarti bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan.

Menurutnya, kegembiraan tersebut muncul karena orang mukmin memahami bahwa pengorbanan diri dan harta memiliki balasan berupa surga.

BES menghubungkannya dengan pembahasan Mutiara Hikmah Selasa, yakni Farihina, serta kisah Nabi Yahya, Nabi Isa, dan Rasulullah di Gua Tsur.

Ia juga mengaitkannya dengan Perang Tabuk dan Sumpah Pemuda yang menghasilkan semangat persatuan serta kemerdekaan.

Selanjutnya, BES menekankan frasa:

Wa Dzalika Huwal Fauzul Azim.

Artinya, dan demikian itulah kemenangan yang agung.

Menurutnya, kemenangan agung bukan sekadar kemenangan Pilkada, kemenangan proyek bernilai Rp100 miliar, atau kemenangan duniawi lainnya. Kemenangan sesungguhnya adalah memperoleh surga Allah SWT.

5. Adakah SDM lebih hebat daripada dua unsur tersebut?

BES kembali mengajukan pertanyaan serius mengenai kualitas sumber daya manusia.

Menurutnya, tidak ada SDM yang lebih hebat daripada manusia yang memiliki dua unsur tersebut, yakni kerja keras yang menghasilkan karya nyata dan konkret serta CBM Cerdas, Berani, dan Militan.

Ia menyebut kualitas tersebut sebagai SDM puncak, SDM Tabuk, SDM Gua Tsur, SDM Sumpah Pemuda, serta SDM yang memiliki tujuh rukun pemimpin.

BES menjelaskan bahwa SDM tersebut memiliki tiga penilai, yaitu Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin.

Selain itu, pengorbanannya memiliki harga berupa surga, sebagaimana dijanjikan dalam QS. At-Taubah ayat 111.

Ia juga mengkritik kualitas sebagian pejabat dengan mengangkat klaim angka 75 persen tidak salat dan 73 persen tidak bisa membaca Al-Qur’an yang disebutnya merujuk pada Monash University.

BES mengaitkan persoalan tersebut dengan pentingnya tujuh rukun pemimpin.

Menurutnya, seorang pemimpin harus menegakkan salat, zakat, amar makruf nahi mungkar, memberikan petunjuk berdasarkan perintah Allah, mengerjakan kebaikan, dan hanya menyembah Allah.

Ia menghubungkannya dengan kalimat:

Wa Man Kafara Ba’da Dzalika Fa Ulaika Humul Fasiqun.

Menurut BES, ayat tersebut menjadi pengingat tentang konsekuensi kefasikan, yang dalam rangkaian pembahasannya dikaitkan dengan Yastabdil Qauman Ghairakum, yakni Allah mengganti suatu kaum dengan kaum yang lain.

BES juga mencontohkan SDM pada Perang Tabuk, ketika 30.000 pasukan menghadapi kondisi sulit, perjalanan sekitar 700 kilometer, cuaca panas, dan ancaman kekuatan Romawi.

Meskipun demikian, mereka tetap berangkat dengan semangat Infiru.

Ia juga menyebut SDM Sumpah Pemuda 1928 sebagai contoh generasi yang memiliki kecerdasan, keberanian, dan militansi untuk mewujudkan persatuan bangsa hingga Indonesia merdeka pada 1945.

Selain itu, BES menghubungkan SDM unggul dengan tujuh rukun pemimpin yang sebelumnya telah dibahas.

Menurutnya, pemimpin yang memiliki tujuh rukun tersebut harus mengutamakan kepentingan rakyat, menegakkan kebaikan, serta tidak menjadikan jabatan dan harta sebagai tujuan utama.

6. Kaitan Mutiara Hikmah Senin sampai Sabtu dengan QS. At-Taubah 105 dan 111

Dalam pembahasan berikutnya, BES menjelaskan bahwa dua ayat pada Ahad, 1 November 2026, merupakan kesimpulan dari rangkaian Mutiara Hikmah selama sepekan terakhir.

Seluruh pembahasan dari Senin hingga Sabtu, menurutnya, bermuara pada dua unsur utama, yaitu kerja nyata dan jual beli dengan Allah, amal dan bai’, serta kehidupan dunia dan akhirat.

Senin, 26 Oktober 2026 – Tiga doa Nabi Sulaiman

BES mengangkat ayat Fatabassama Dhahikan Min Qauliha dan tiga doa Nabi Sulaiman:

Rabbi Auzi’ni An Asykura Wa An A’mala Shalihan Tardhahu Wa Adkhilni Birahmatika Fi Ibadikas Shalihin.

Pembahasannya meliputi syukur, amal saleh yang diridai Allah, serta permohonan agar dimasukkan ke dalam golongan orang-orang saleh dengan rahmat-Nya.

Ia juga menghubungkannya dengan lima sifat yang harus dihindari, yakni ridho jahl, hubbud dunya, bakhil, riya, dan ujub.

Menurut BES, pembahasan tersebut berkaitan dengan Wa Qul I’malu, yaitu bekerja dan menghasilkan amal saleh, serta Innallaha Ishtara, yakni pengorbanan diri dan harta demi surga.

Selasa, 27 Oktober 2026 – Salam kesejahteraan hari lahir, wafat, dan kebangkitan

BES mengangkat ayat:

Wa Salamun Alaihi Yauma Wulida Wa Yauma Yamutu Wa Yauma Yub’atsu Hayya.

Ia menjelaskan bahwa hari lahir merupakan momentum untuk bersyukur, sementara kematian dan kebangkitan menjadi pengingat tentang kehidupan akhirat.

Pembahasan tersebut dihubungkan dengan prinsip Fa Istabsyiru Bi Bai’ikum, yaitu bergembiralah dengan jual beli yang dilakukan bersama Allah.

BES mencontohkan Nabi Yahya, Nabi Isa, serta Rasulullah di Gua Tsur dengan prinsip La Tahzan Innallaha Ma’ana.

Rabu, 28 Oktober 2026 – Memilih teman dan semangat Sumpah Pemuda

BES mengangkat ayat:

Baca juga:  Mutiara Hikmah, BES: Rasionalitas “Rasa Takut” dalam QS Ali Imran 149-151

Inni Kana Li Qarin dan Taullahi In Kidta Laturdin, serta Walau La Ni’matu Rabbi.

Pembahasan tersebut berkaitan dengan pentingnya memilih teman atau pendamping yang baik.

Ia menghubungkannya dengan Sumpah Pemuda 1928, ketika para pemuda memilih persatuan melalui Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa.

Menurut BES, pilihan terhadap lingkungan yang baik akan mendorong kerja keras, menghasilkan karya nyata, serta menguatkan pengorbanan diri dan harta untuk tujuan yang benar.

Kamis, 29 Oktober 2026 – Tiga janji Allah: Istikhlaf, Tamkin, dan Tabdil

BES membahas janji Allah melalui ayat:

Wa’adallahulladzina Amanu Minkum Wa Amilush Shalihat.

Pembahasan tersebut meliputi tiga janji, yakni Istikhlaf, Tamkin, dan Tabdil.

Istikhlaf berkaitan dengan pemberian kedudukan atau kekuasaan di bumi, Tamkin berkaitan dengan pengokohan agama, sedangkan Tabdil berkaitan dengan perubahan keadaan dari ketakutan menjadi keamanan.

Menurut BES, ketiga janji tersebut memiliki kaitan erat dengan Sumpah Pemuda dan kemerdekaan Indonesia.

Ia menegaskan bahwa hasil tersebut harus didahului kerja keras, amal saleh, serta pengorbanan diri dan harta.

Jumat, 30 Oktober 2026 – Tujuh rukun pemimpin

BES mengangkat dua rangkaian ayat, yakni:

Alladzina In Makkannahum Fil Ardi Aqaamush Shalata Wa Aatawuz Zakata Wa Amaru Bil Ma’rufi Wa Nahau Anil Munkar Wa Lillahi Aqibatul Umur.

Serta:

Waja’alnahum A’immatan Yahduuna Bi Amrina Wa Auḥaina Ilaihim Fi’lal Khairati Wa Iqaamash Shalati Wa Iitaa Az Zakaati Wa Kaanu Lana Abidin.

Dari kedua rangkaian tersebut, BES menguraikan tujuh rukun pemimpin:

Aqaamush Shalah.

Aatawuz Zakah.

Amaru Bil Ma’ruf.

Nahau Anil Munkar.

Yahduuna Bi Amrina.

Fi’lal Khairat.

Kaanu Lana Abidin.

Menurut BES, tujuh rukun tersebut merupakan rincian konkret dari Wa Qul I’malu dan Innallaha Ishtara.

Ia juga mengangkat persoalan kualitas ibadah pejabat, termasuk klaim angka 75 persen tidak salat dan 73 persen tidak bisa membaca Al-Qur’an yang disebutnya merujuk pada Monash University.

BES mempertanyakan bagaimana kebijakan dapat dijalankan dengan baik apabila nilai-nilai dasar tersebut tidak ditegakkan.

Sabtu, 31 Oktober 2026 – Infiru, Tsaqaltum Ilal Ardi, dan pertolongan Allah

BES mengangkat QS. At-Taubah ayat 38–40 tentang perintah berangkat dalam perjuangan, teguran terhadap orang yang terlalu berat kepada kehidupan dunia, ancaman penggantian suatu kaum, serta jaminan pertolongan Allah.

Ia menyoroti tiga konstruksi logika.

Pertama, teguran terhadap sikap Tsaqaltum Ilal Ardi, yaitu terlalu berat kepada kehidupan dunia.

Kedua, ancaman berupa azab dan penggantian kaum apabila tidak menjalankan perintah Allah.

Ketiga, jaminan pertolongan Allah melalui kalimat La Tahzan Innallaha Ma’ana, disertai Sakinah, Junud La Tarauha, dan kemenangan Kalimatullah Hil Ulya.

BES kemudian menghubungkannya dengan Perang Tabuk pada 9 Hijriah, ketika Jaisyul Usrah yang berjumlah sekitar 30.000 pasukan menempuh perjalanan sekitar 700 kilometer dalam kondisi panas dan sulit.

Ia juga mengaitkannya dengan persoalan hubbud dunya, khauf, pilihan teman yang buruk, serta kritik terhadap kualitas ibadah dan kemampuan membaca Al-Qur’an yang disebutnya merujuk pada data Monash University.

Menurut BES, apabila manusia memilih Tsaqaltum Ilal Ardi, maka tidak akan menjalankan Infiru, sehingga tidak menghasilkan kerja nyata dan pengorbanan.

Sebaliknya, apabila menjalankan Infiru dan berpegang pada La Tahzan Innallaha Ma’ana, maka akan lahir kerja nyata dan pengorbanan yang berorientasi kepada Allah.

Ahad, 1 November 2026 – Puncak kesimpulan QS. At-Taubah ayat 105 dan 111

Pada hari Ahad, BES menyimpulkan seluruh pembahasan tersebut melalui dua ayat utama.

Wa Qul I’malu Fa Sayarallahu Amalakum Wa Rasuluhu Wal Mu’minun menjadi landasan kerja keras yang menghasilkan karya nyata dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sementara Innallaha Ishtara Minal Mu’minina Anfusahum Wa Amwalahum Bi Anna Lahumul Jannah menjadi landasan pengorbanan diri dan harta dengan balasan surga.

Menurut BES, inilah puncak pembahasan Mutiara Hikmah selama sepekan, yakni menyatukan kerja nyata dengan daya dorong CBM, Cerdas, Berani, dan Militan.

Kesimpulan: SDM tangguh adalah SDM yang bekerja nyata dan berpegang pada ajaran Islam

Dalam bagian kesimpulannya, BES kembali menegaskan bahwa tidak ada SDM yang lebih hebat daripada manusia yang memiliki dua unsur utama tersebut.

Pertama, Wa Qul I’malu, yakni kerja keras yang menghasilkan karya nyata dan konkret untuk tegaknya ajaran sistem Islam melalui tujuh rukun pemimpin.

Kedua, Innallaha Ishtara, yakni daya dorong CBM, Cerdas, Berani, dan Militan, dengan kesiapan mengorbankan diri dan harta demi mendapatkan surga Allah.

BES menegaskan bahwa kedua unsur tersebut tidak dapat dipisahkan, sebagaimana dua sisi mata uang.

Ia kembali menguraikan bahwa pengorbanan diri dan harta tersebut memiliki janji yang benar dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an.

Allah merupakan pihak yang paling menepati janji, sebagaimana firman-Nya:

Wa Man Aufa Bi Ahdihi Minallah.

Kemudian dilanjutkan dengan:

Fa Istabsyiru Bi Bai’ikumul Ladzi Baya’tum Bihi Wa Dzalika Huwal Fauzul Azim.

Menurut BES, hasil akhir dari perjuangan tersebut adalah kegembiraan karena memperoleh kemenangan agung berupa surga Allah SWT.

Ia juga menegaskan kembali bahwa SDM hebat bukanlah manusia yang hanya mengejar kenikmatan dunia yang sementara, sebab kehidupan dunia dibandingkan akhirat hanyalah sedikit.

Fama Mata’ul Hayatid Dunya Fil Akhirati Illa Qalil.

BES kemudian menutup rangkaian pemikirannya dengan menegaskan bahwa SDM yang tangguh adalah SDM yang mengikuti sistem ajaran Islam, bekerja nyata, memiliki kecerdasan, keberanian, militansi, serta menjadikan Allah sebagai tujuan utama.

Ia mengaitkan kualitas tersebut dengan SDM Perang Tabuk, SDM Gua Tsur, SDM Sumpah Pemuda, dan SDM yang menjalankan tujuh rukun kepemimpinan.

“Adakah SDM lebih hebat dari itu? Tidak ada. SDM yang tangguh selain SDM yang ikut sistem ajaran Islam,” demikian penegasan dalam Mutiara Hikmah BES Ahad, 1 November 2026.

Wallahu A’lam.

Salam Jihad dan Sabar.

Brother Eggi Sudjana (BES)

Latest

Newsletter

Don't miss

Mutiara Hikmah BES: Bongkar 3 Ayat Infiru dalam QS At-Taubah 38–40, Eggi Sudjana Uraikan Teguran, Ancaman Penggantian Kaum, dan Jaminan Pertolongan Allah

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si., atau yang akrab disapa Brother Eggi Sudjana (BES), kembali menyampaikan kajian keislaman...

BIOGRAFI POLITIK EGGI SUDJANA: Dari Aktivis, Pengacara hingga Tokoh Nasional, Konsisten Mengkritisi Kekuasaan dan Memperjuangkan Keadilan

JAKARTA | MATA PENA INDONESIA – Perjalanan panjang Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si., merupakan potret seorang aktivis yang menapaki berbagai bidang kehidupan, mulai dari...

Mutiara Hikmah BES: Bongkar 7 Rukun Pemimpin dalam Al-Qur’an, Eggi Sudjana Pertanyakan Kualitas Ibadah dan Akhlak Pejabat

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si., yang akrab disapa Brother Eggi Sudjana (BES), kembali menyampaikan pesan keagamaan dan refleksi...