Beranda blog Halaman 11

Ravindra Airlangga Dorong Sinergi Cegah Krisis Kesehatan di Bogor

0

Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar, Ravindra Airlangga, mengajak masyarakat Kabupaten Bogor untuk memperkuat sinergi dalam mencegah krisis kesehatan sejak dini. Ajakan ini disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan serta Bimbingan Teknis (Bimtek) Kesehatan yang digelar di Saung Bogania Babakanmadang dan Cibinong, pada Rabu, (4/3/2026).

Dalam sosialisasi, Ravindra menekankan bahwa UU Kesehatan menjadi fondasi transformasi sistem kesehatan nasional, mulai dari penguatan layanan primer, peningkatan kualitas tenaga medis, hingga sistem pembiayaan dan ketahanan menghadapi krisis.

“Undang-undang ini hadir untuk memastikan setiap warga negara mendapatkan layanan kesehatan yang adil dan berkualitas. Namun regulasi tidak akan bermakna tanpa dipahami dan dikawal bersama-sama,” ujarnya.

Pada sesi Bimtek bertema “Koordinasi Pusat dan Daerah dalam Upaya Pengurangan Risiko Krisis Kesehatan”, Ravindra menegaskan pentingnya koordinasi lintas level pemerintahan serta partisipasi aktif masyarakat. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diikuti sekitar 400 peserta dari berbagai kalangan.

“Krisis kesehatan tidak bisa ditangani secara parsial. Diperlukan koordinasi solid antara pusat dan daerah, serta kesiapsiagaan masyarakat,” tegasnya.

Sebagai wujud nyata komitmen promotif dan preventif, program CKG menjadi sarana deteksi dini sekaligus edukasi kesehatan. Ravindra menutup dengan pesan bahwa pencegahan selalu lebih baik dan lebih murah dibanding pengobatan.

[ Aldi ]

THR ASN Sudah Cair Rp 3,12 Triliun, Target Rampung Pekan Depan

0

JAKARTA, MPI Pemerintah mulai menyalurkan tunjangan hari raya (THR) 2026 bagi aparatur sipil negara (ASN). Hingga Jumat (6/3/2026), realisasi penyaluran THR mencapai sekitar Rp 3,12 triliun untuk ASN di pemerintah pusat dan daerah.

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan proses pencairan masih berlangsung di masing-masing instansi. Pemerintah memperkirakan seluruh pembayaran THR bagi ASN dapat rampung dalam sekitar satu minggu ke depan.

“Sebagian besar sudah keluar kan sekarang. Kalau instansinya belum minta, ya belum dicairkan, belum keluar,” ujar Purbaya kepada awak media di Jakarta, Jumat (6/3/).

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, pembayaran THR bagi aparatur negara di pemerintah pusat telah diberikan kepada 631.000 pegawai dari total sekitar 2,2 juta ASN pusat.

Sementara itu, penyaluran THR bagi pensiunan sudah berjalan lebih cepat. Pemerintah mencatat realisasi pembayaran mencapai sekitar Rp 11,4 triliun kepada 3.568.570 pensiunan atau sekitar 93,55% dari total penerima.

Adapun pencairan THR bagi ASN daerah masih terbatas. Hingga awal Maret, realisasinya baru mencapai Rp 127,6 miliar untuk 16.848 pegawai yang disalurkan oleh tiga pemerintah daerah (pemda) dari total 546 pemda.

Purbaya menegaskan, seluruh anggaran THR sebenarnya telah disiapkan pemerintah. Namun, kecepatan pencairan bergantung pada proses administrasi pada masing-masing instansi.

Secara keseluruhan, pemerintah mengalokasikan anggaran THR Idulfitri 2026 sebesar Rp 55 triliun, meningkat sekitar 10% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 49 triliun.

Dana tersebut dialokasikan untuk sekitar 2,4 juta ASN di pemerintah pusat, termasuk TNI dan Polri, sebesar Rp 22,2 triliun. Selain itu, sekitar 4,3 juta ASN daerah mendapat alokasi Rp 20,2 triliun, serta sekitar 3,8 juta pensiunan sebesar Rp 12,7 triliun.

[ ATS ]

Viral !! Penolakan Paket MBG, Pemilik Yayasan di Majalengka Janji Perbaiki Kualitas Pelayanan

0

MAJALENGKA, MPI Sekretaris Yayasan Bakti Mitra Widyatama, M. Nurman, angkat bicara terkait viralnya penolakan paket menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Ramadan di sejumlah sekolah yang dilayani dapur SPPG milik yayasan tersebut.‎‎

Saat ditemui pada Kamis (05/03/2026), Nurman menyampaikan permohonan maaf atas polemik yang terjadi serta memastikan pihak yayasan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelayanan dapur SPPG.‎‎

Menurutnya, yayasan berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas menu serta variasi makanan bergizi bagi para penerima manfaat program.‎‎

“Kami dari Yayasan tidak pernah mengintervensi menu di SPPG, karena di sana sudah ada staf dapur dan pengawas gizi yang memahami bagaimana komposisi gizi seimbang dan jenis menu yang tepat,” kata Nurman.‎‎

Ia menjelaskan, dalam pelaksanaan program tersebut yayasan juga telah mengimbau agar setiap menu memiliki perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) yang jelas. Hal ini penting agar masyarakat memahami bahwa biaya setiap menu bisa berbeda karena adanya variasi bahan makanan.‎‎

Menurutnya, tidak semua menu bisa disamakan dengan nilai anggaran yang sama setiap hari.‎‎

“Setiap menu itu variasi. Ada yang mungkin lebih dari Rp10.000, ada juga yang di bawah. Itu harus kita edukasi ke masyarakat, karena tidak mungkin setiap hari menunya flat dengan harga yang sama,” ujarnya.‎‎

Nurman mencontohkan, apabila seluruh menu dipatok Rp10.000, maka beberapa bahan seperti daging sapi sulit dimasukkan ke dalam menu karena keterbatasan anggaran.‎‎

“Kalau kita mengacu Rp10.000 terus, menu seperti daging sapi tidak akan masuk. Padahal kami juga ingin memberikan variasi menu yang lebih baik,” katanya.‎‎

Selain persoalan biaya, ia mengakui terdapat kendala teknis di lapangan, terutama dalam penyusunan menu makanan selama Ramadan. Hal ini disebabkan banyaknya pembatasan bahan makanan dalam standar gizi program MBG.‎‎

Beberapa bahan makanan seperti makanan ultra processed food (UPF) atau makanan olahan dengan pengawet tidak diperbolehkan digunakan, sehingga menyulitkan staf dapur dalam menyusun menu yang tahan lama hingga waktu berbuka puasa.‎‎

“Staf kami juga kebingungan karena banyak larangan. Makanan ultra processed food tidak boleh, makanan frozen juga dibatasi. Sementara makanan dibagikan pagi, tapi dikonsumsi saat berbuka puasa,” jelasnya.‎‎

Menurut Nurman, kondisi tersebut menjadi dilema bagi pengelola dapur karena makanan harus disiapkan saat jam sekolah berlangsung, sementara waktu konsumsi siswa berada beberapa jam setelahnya.

‎‎Ia juga menyebut sebagian staf pengawas gizi di dapur masih relatif baru sehingga masih beradaptasi dengan standar yang berlaku.‎‎

Meski demikian, pihak yayasan memastikan akan melakukan evaluasi besar-besaran terhadap operasional dapur SPPG, khususnya terkait keamanan pangan dan kualitas menu.‎‎

“Kami akan melakukan evaluasi besar-besaran terhadap staf SPPG, terutama terkait keamanan pangan dan kualitas menu,” katanya.‎‎

Nurman juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kejadian yang sempat viral tersebut.‎‎ “Kami memohon maaf sebagai yayasan atas kelalaian yang terjadi. Ini kelalaian yang tidak disengaja karena ada kendala teknis di lapangan,” ucapnya.

‎‎Terkait informasi bahwa pihak sekolah bersedia kembali melanjutkan program MBG, Nurman menyatakan pihak yayasan menyambut baik hal tersebut. Namun sebelum program kembali berjalan optimal, pihaknya akan lebih dulu melakukan evaluasi internal.‎‎

“Kami menyambut baik jika sekolah ingin melanjutkan. Tapi kami sebagai yayasan perlu mengevaluasi staf dapur terlebih dahulu agar ke depan pelayanan menu bisa lebih baik,” pungkasnya.

[ATS]

Sumber: Tintahijau.com

Silaturahmi Ulama di Istana Bukan Justifikasi Board of Peace (BoP)

0

Matapenaindonesia.co.id – Pertemuan yang digelar Presiden Prabowo Subianto bersama ratusan ulama dan pimpinan organisasi Islam di Istana Merdeka pada Kamis malam, (5/3/2026). patut dilihat sebagai sebuah langkah politik yang penting sekaligus menarik untuk dicermati secara jernih.

Dalam suasana bulan Ramadhan, forum berbuka puasa bersama yang dihadiri 158 pimpinan ormas dari 86 organisasi Islam perlu kita apresiasi positif dalam konteks Ukhuwah Islamiah.

Pertemuan selama tiga jam tersebut menunjukkan bahwa pemerintah merasa perlu menjelaskan secara langsung kepada para tokoh agama mengenai situasi geopolitik global yang tengah memanas, khususnya konflik di Timur Tengah.

Hadir dalam forum itu sejumlah tokoh penting umat Islam Indonesia, pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI), para kiai dari Nahdlatul Ulama (NU), hingga tokoh-tokoh Muhammadiyah. Bahkan tokoh yang selama ini dikenal kritis terhadap pemerintah seperti Habib Rizieq Shihab juga disebut diundang (sumber: Menteri Nusron Wahid), namun berhalangan hadir dan diwakili oleh keluarganya. Fakta ini menunjukkan bahwa Presiden berupaya membuka ruang komunikasi dengan berbagai elemen umat Islam yang selama ini memiliki pengaruh moral cukup besar di tengah masyarakat, terlebih mayoritas ulama yang hadir pendung Presiden Prabowo di beberapa pilpres tahun lalu.

Namun, di balik suasana silaturahmi tersebut, kita dapat memahami bahwa konteks pertemuan ini tidak dapat dipisahkan dari dinamika global yang sedang berkembang, khususnya sorotan kerjasama Presiden dengan Donald Trump dalam forum internasional Board of Peace (BoP) yang dipimpin oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Di banyak negara, sejumlah pengamat hubungan internasional telah mengkritik efektivitas forum tersebut. Mereka menilai bahwa pendekatan geopolitik yang dibangun melalui BoP berpotensi memperkuat blok kekuatan tertentu (tidak netral), bukan menciptakan keseimbangan yang benar-benar adil bagi perdamaian dunia. Kritik itu semakin menguat setelah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama pasca serangan militer yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran. Ini semakin membuktikan analisis publik bahwa Trump telah berpihak kepada Israel.

Dalam konteks ini, kritik terhadap Trump bukan hanya datang dari luar negeri, tetapi juga dari dalam Amerika sendiri. Bahkan mantan Presiden AS Barack Obama pernah menyampaikan kritik keras terhadap gaya kepemimpinan Trump yang dianggap konfrontatif dan merusak citra demokrasi Amerika di mata dunia. Rekam jejak kebijakan Timur Tengah pada era Trump juga sering dipertanyakan, terutama karena dianggap tidak cukup memberikan jalan yang adil bagi kemerdekaan Palestina.

Presiden Prabowo pun tak lepas dari kritik, salah satunya datang dari kalangan ulama. Majelis Ulama Indonesia secara resmi mendesak pemerintah untuk mempertimbangkan kembali keanggotaan Indonesia dalam BoP. Pernyataan itu disampaikan setelah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada akhir Februari 2026.

Penulis pun dengan objektif dan konsisten, menyampaikan hal senada yang disampaikan MUI lewat tulisan opini publik yang telah tayang diberbagai media.

Keterlibatan Indonesia dalam forum yang dipimpin oleh Trump yang juga merupakan kekuatan yang terlibat langsung dalam konflik jelas dan pasti menimbulkan pertanyaan moral. Secara nyata dan terbuka pimpinan forum BoP tidak konsisten ke arah terciptanya perdamaian yang adil, justru memperkuat arsitektur keamanan global yang timpang dan berpotensi mengubur cita-cita kemerdekaan Palestina.

Tidak bermaksud menjastifikasi sikap Indonesia terhadap konflik internasional seharusnya tetap berpegang pada amanat konstitusi. Pembukaan UUD 1945 secara tegas menyatakan bahwa Indonesia ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Prinsip inilah yang selama puluhan tahun menjadi landasan politik luar negeri bebas aktif Indonesia.

Dari sudut pandang itu, langkah Presiden mengundang para ulama ke Istana saya memaknainya sebagai upaya untuk menjelaskan posisi pemerintah sekaligus meredakan kekhawatiran publik.

Dialog dengan tokoh agama merupakan tradisi penting dalam kehidupan berbangsa, karena ulama sering kali menjadi jembatan moral antara negara dan masyarakat.

Namun di sisi lain, pertemuan ulama tadi malam menimbulkan pertanyaan reflektif. Sangat disayangkan keputusan bergabung dalam forum geopolitik global (BoP) diambil lebih awal, sementara dialog dengan para tokoh bangsa (mantan presiden dan wakil, mantan Menlu) baru dilakukan setelahnya, maka wajar jika muncul kesan bahwa proses konsultasi publik belum berjalan secara optimal.

Padahal, kebijakan yang menyentuh isu geopolitik global memiliki konsekuensi moral, diplomatik, dan bahkan keamanan yang sangat besar bagi sebuah negara. Oleh karena itu, banyak pihak berpendapat bahwa proses pengambilan keputusan seharusnya melibatkan diskusi yang lebih luas sejak awal, tidak hanya di kalangan pemerintah, tetapi juga dengan tokoh bangsa, ulama, akademisi, dan masyarakat sipil.

Situasi yang terjadi saat ini bisa menjadi pelajaran penting bagi tata kelola kebijakan strategis nasional. Dalam sistem pemerintahan modern, masukan dari para pembantu presiden memang sangat menentukan. Namun kualitas masukan tersebut juga sangat bergantung pada keberanian memberikan analisis yang jujur dan komprehensif, termasuk memaparkan berbagai resiko yang mungkin muncul.

Jika tidak, keputusan strategis
yang diambil dalam suasana yang terlalu optimis, bahkan mungkin dipengaruhi oleh kecenderungan “asal bapak senang”. Ketika realitas geopolitik berkembang tidak sesuai harapan, presiden akhirnya terjebak dan harus menghadapi tekanan publik yang lebih besar

Dalam kerangka itulah pertemuan Presiden dengan para ulama dapat dipandang secara lebih konstruktif. Dialog ini menunjukkan bahwa ruang komunikasi antara negara dan masyarakat masih terbuka.

Meski ada yang terlewat dalam pengambilan keputusan gabung ke BoP, namun di tengah dinamika global yang semakin kompleks, komunikasi seperti inilah yang menjadi sangat penting.

Dalam semangat itulah, dengan rasa cinta dan bangga saya kepada Presiden, saya mengusulkan, tanpa sedikit pun bermaksud menggurui atau merendahkan, agar pemerintah tidak melanjutkan kerja sama dengan Donald Trump dalam forum BoP. Akan lebih mulia dan terhormat bila Indonesia kembali menegaskan amanah politik luar negeri non-blok yang bebas aktif, yaitu membangun kerja sama dengan negara-negara yang setara, memiliki visi yang sama dalam menciptakan perdamaian dunia secara adil dan bermartabat, termasuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

Hal yang juga penting untuk disadari oleh semua pihak adalah, bahwa Prabowo Subianto sebagai Presiden Republik Indonesia ke-8 merupakan seorang Muslim. Sebagai seorang yang beriman kepada Allah SWT, secara logis tentu beliau memiliki komitmen untuk berusaha menjalankan nilai-nilai ketaatan kepada Allah SWT:

وَجَعَلْنٰهُمْ اَئِمَّةً يَّهْدُوْنَ بِاَ مْرِنَا وَاَ وْحَيْنَاۤ اِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرٰتِ وَاِ قَا مَ الصَّلٰوةِ وَاِ يْتَآءَ الزَّكٰوةِ ۚ وَكَا نُوْا لَـنَا عٰبِدِيْنَ

“Dan Kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan Kami wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksanakan sholat, dan menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami mereka menyembah.”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 73).

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT juga memberikan pedoman tentang tanggung jawab seorang pemimpin. Di antaranya, seorang pemimpin harus memberi petunjuk kepada masyarakat berdasarkan perintah Allah, memastikan setiap kebijakannya berorientasi pada kebaikan dan kemaslahatan rakyat, menegakkan ibadah seperti shalat dan zakat, serta menjaga kemurnian tauhid dengan tidak melakukan kemusyrikan yakni hanya menyembah Allah SWT semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun. Nilai-nilai kepemimpinan tersebut tercermin dalam firman Allah SWT dalam Surah Al-Hajj ayat 41:

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَ لَّذِيْنَ اِنْ مَّكَّنّٰهُمْ فِى الْاَ رْضِ اَقَا مُوا الصَّلٰوةَ وَاٰ تَوُا الزَّكٰوةَ وَاَ مَرُوْا بِا لْمَعْرُوْفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَلِلّٰهِ عَا قِبَةُ الْاُ مُوْرِ

“(Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan sholat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.”

Dalam Al-Qur’an Surah Al-Hajj ayat 41 dijelaskan sejumlah prinsip penting yang seharusnya menjadi pedoman bagi seseorang yang memegang kedudukan atau amanah kepemimpinan. Ayat tersebut menegaskan bahwa ketika seseorang diberi kekuasaan di muka bumi, ia memiliki tanggung jawab moral untuk menegakkan nilai-nilai kebaikan.

Di dalam ayat tersebut terkandung lima unsur penting yang menjadi karakter kepemimpinan yang ideal.

Pertama, pemimpin harus menegakkan shalat sebagai wujud ketaatan kepada Allah SWT. Kedua, menunaikan zakat sebagai bentuk kepedulian sosial terhadap masyarakat. Ketiga, menjalankan amar makruf, yaitu mengajak kepada kebaikan. Keempat, melakukan nahi mungkar, yakni mencegah kemungkaran dan ketidakadilan. Kelima, memastikan bahwa segala urusan pada akhirnya dikembalikan kepada ketentuan Allah SWT sebagai pemilik segala keputusan.

Dengan demikian, ayat ini memberi pesan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal kekuasaan, tetapi juga amanah spiritual dan moral yang sangat besar.

Karena itu, masyarakat tentu wajar melakukan refleksi terhadap perilaku para pemimpin atau tokoh yang memiliki kedudukan penting.

Pertanyaan yang sering muncul bukanlah untuk menghakimi, tetapi sebagai bentuk evaluasi bersama, apakah lima unsur nilai kepemimpinan tersebut benar-benar dijalankan dalam praktek kehidupan berbangsa dan bernegara?

Refleksi seperti ini misalnya dapat dikaitkan dengan berbagai peristiwa kebangsaan, termasuk pertemuan pada 5 Maret 2026 antara Presiden Prabowo Subianto dengan para ulama serta tokoh-tokoh bangsa di Istana Merdeka. Mereka adalah figur-figur yang memiliki kedudukan terhormat dan pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat.

Dalam perspektif nilai keagamaan, masyarakat tentu berharap agar setiap keputusan, sikap, dan kebijakan yang diambil oleh para pemimpin tersebut tetap berada dalam koridor ketaatan kepada Allah SWT.

Dalam Al-Qur’an Surah At-Tahrim ayat 9, umat juga diingatkan tentang pentingnya bersikap tegas dalam membela kebenaran dan menolak kemungkaran.

Pesan-pesan moral seperti inilah yang pada akhirnya menjadi pengingat bagi siapa pun yang memegang amanah kepemimpinan, bahwa kekuasaan bukan semata mandat politik, tetapi juga tanggung jawab spiritual yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

يٰۤاَ يُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّا رَ وَا لْمُنٰفِقِيْنَ وَا غْلُظْ عَلَيْهِمْ ۗ وَمَأْوٰٮهُمْ جَهَنَّمُ ۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ

“Wahai Nabi! Perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keras lah terhadap mereka. Tempat mereka adalah Neraka Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”
(QS. At-Tahrim 66: Ayat 9).

Mengapa Israel dan Amerika Serikat tidak mendapat sikap tegas atau bahkan tindakan yang konsisten dari pemerintah, misalnya dengan mempertimbangkan keluar dari BoP sesuai doktrin politik luar negeri non-blok Indonesia sejak Konferensi Asia-Afrika 1955?

Mengapa para tokoh dan ulama tidak memberikan nasehat berdasarkan pedoman Al-Qur’an, namun justru terlihat sebagian memberikan dukungan atau tetap memposisikan diri mendukung keterlibatan Indonesia dalam BoP?

Jika dilihat dari perspektif nilai-nilai yang diajarkan Al-Qur’an, sikap seperti ini tentu menimbulkan pertanyaan serius tentang konsistensi moral dan kepemimpinan bangsa dalam menghadapi ketidakadilan global. Hal ini bila dilihat dari pandangan Quran Surah At Taubah ayat 39 dan 41 nya :

اِلَّا تَـنْفِرُوْا يُعَذِّبْكُمْ عَذَا بًا اَلِيْمًا ۙ وَّيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّوْهُ شَيْئًــا ۗ وَا للّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Jika kamu tidak berangkat (untuk berperang), niscaya Allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih dan menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan merugikan-Nya sedikit pun. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 39).

Adapun ayat 41 nya :

اِنْفِرُوْا خِفَا فًا وَّثِقَا لًا وَّجَاهِدُوْا بِاَ مْوَا لِكُمْ وَاَ نْفُسِكُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ ذٰ لِكُمْ خَيْرٌ لَّـكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 41).

Bahwa dari kejelasan dan tegasnya ayat Quran tersebut, ada kalimat di ayat 39:

“Niscaya Allah akan menegakkan hukuman yang pedih dan mengganti kamu dengan kaum yang lain.”

Firasat penulis ini menjadi pengingat penting, apabila Presiden Prabowo Subianto beserta para ulama dan tokoh bangsa tidak menyadari kesalahan atau tidak bertaubat, maka ancaman tersebut bisa terjadi cepat atau lambat waktunya, sesuai kehendak Allah SWT.

Namun, masih ada kesempatan untuk memperbaiki arah.

Semoga Presiden berkenan menempatkan ketaatan kepada Allah SWT sebagai pedoman utama, tanpa terbawa oleh pendapat kebanyakan orang. Mengikuti arus mayoritas yang salah bisa menjerumuskan pada kesesatan nyata. Ketaatan dan istiqamah pada perintah-Nya adalah jalan aman dan terhormat bagi setiap pemimpin yang ingin memimpin dengan benar dan adil.

وَاِ نْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى الْاَ رْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِ نْ هُمْ اِلَّا يَخْرُصُوْنَ

“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 116 ).

Sejarah negara kita telah memberikan teladan yang sangat kuat. Pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno, Indonesia bersama negara-negara yang memiliki nasib serupa pernah menunjukkan kepemimpinan moral dunia melalui Konferensi Asia Afrika tahun 1955 di Bandung. Forum tersebut menjadi tonggak penting bagi lahirnya solidaritas negara-negara Asia dan Afrika dalam memperjuangkan kemerdekaan dari penjajahan serta membangun tatanan dunia yang lebih adil.

Pengalaman sejarah itu menunjukkan bahwa Indonesia memiliki modal moral dan diplomatik yang besar untuk berperan sebagai jembatan perdamaian dunia tanpa harus berada dalam konfigurasi geopolitik yang berpotensi memunculkan ketegangan baru seperti yang dilakukan Donald Trump.

Pada akhirnya, kita semua berharap agar setiap langkah diplomasi yang diambil pemerintah benar-benar sejalan dengan amanat konstitusi, memperjuangkan kemerdekaan, menegakkan keadilan, dan menjaga perdamaian dunia.

Jalan menuju tujuan tersebut memang tidak selalu mudah. Namun melalui dialog terbuka, kritik yang sehat, serta kebijakan yang matang dan bijaksana, Indonesia tetap dapat memainkan peran bermartabat di panggung dunia.

Bogor, Jumat, 6/3/2026, 09 : 01 Wib.

Brother Eggi Sudjana ( BES )

Mutiara Jumat Tgl 6 Maret 2026

0

Allaah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

الصَّلٰوةِ وَاِ يْتَآءَ الزَّكٰوةِ ۚ وَكَا نُوْا لَـنَا عٰبِدِيْنَ

“Dan Kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan Kami wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksanakan sholat, dan menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami mereka menyembah.”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 73) .

Mohon perhatikan Perintah NYA :
1 . Pemimpin harus MEMBERI petunjuk berdasar Perintah NYA .
2 . Segala kebijakkan nya harus pada orientasi KEBAIKKAN buat Rakyatnya .
3. Melaksanakan Sholat dan Zakat .
4. Tidak boleh melakukan kemusyrikkan / harus hanya menyembah ALLAAH saja tak ada tuhan2 lain nya .

Di Surah Al Hajj ayat 41 : Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَ لَّذِيْنَ اِنْ مَّكَّنّٰهُمْ فِى الْاَ رْضِ اَقَا مُوا الصَّلٰوةَ وَاٰ تَوُا الزَّكٰوةَ وَاَ مَرُوْا بِا لْمَعْرُوْفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَلِلّٰهِ عَا قِبَةُ الْاُ مُوْرِ

“(Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan sholat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.”
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 41) .

Bahwa di Ayat ini ada tambahan 1 Element , yaitu HARUS BERBUAT AMAR MAKRUF dan NAHI MUNGKAR . Oleh karena itu jadi ada 5 unsur nilai yang harus di Emban oleh Orang yang punya KEDUDUKKAN dan berkapasitas seorang PEMIMPIN .

Bahwa kini lihat lah behavior / kelakuan para pemimpin dan atau yang punya kedudukkan , apakah 5 unsur penting tersebut dilaksanakan ??? Bisa di ambil contoh pertemuan kemarin tgl 5 Maret 2026 antara Presiden PS dengan Para Ulama dan Tokoh2 Bangsa Indonesia , Mereka Jelas Para Pemimpin dan yang punya Kedudukkan terhormat , TAPI APAKAH MEREKA MENGIKUTI TAAT PADA PERINTAH ALLAAH , dalam Quran Surah At Tahrim ayat 9 :

يٰۤاَ يُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّا رَ وَا لْمُنٰفِقِيْنَ وَا غْلُظْ عَلَيْهِمْ ۗ وَمَأْوٰٮهُمْ جَهَنَّمُ ۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ

“Wahai Nabi! Perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keras lah terhadap mereka. Tempat mereka adalah Neraka Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”
(QS. At-Tahrim 66: Ayat 9) .

Mengapa Israel dan AS kok tidak di perangi atau kalau tidak bersikap KERAS lah dengan Keluar dari BoP sesuai doktrin Non Blok kita sejak konfrensi Asia – Afrika thn 1955 , kok para tokoh dan Ulama tidak ada yang Nasehat kan PS dengan Quran tersebut , malah semua SUPORT / DUKUNG TETAP DI BOP ??? .

Sungguh mengerikkan kelakuan Merka bila di tilik dari pandangan Quran Surah At Taubah ayat 39 dan 41 nya :

اِلَّا تَـنْفِرُوْا يُعَذِّبْكُمْ عَذَا بًا اَلِيْمًا ۙ وَّيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّوْهُ شَيْئًــا ۗ وَا للّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Jika kamu tidak berangkat (untuk berperang), niscaya Allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih dan menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan merugikan-Nya sedikit pun. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 39) .

Adapun ayat 41 nya :

اِنْفِرُوْا خِفَا فًا وَّثِقَا لًا وَّجَاهِدُوْا بِاَ مْوَا لِكُمْ وَاَ نْفُسِكُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ ذٰ لِكُمْ خَيْرٌ لَّـكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 41) .

Bahwa dari kejelasan dan tegas nya ayat2 Quran tersebut , ada kalimat di ayat 39 nya ” NISCAYA ALLAAH AKAN MENGHUKUM KAMU dengan AZAB yang PEDIH dan MENGGANTI KAMU dengan KAUM yang LAIN ” Firasat BES , Bila PS dan para Ulama serta Tokoh2 Bangsa itu TIDAK SADAR dan TIDAK BERTOBAT , maka berlakulah ancaman NYA dan Pasti terjadi entah kapan cepat lambat nya , untuk itu masih ada waktu , sudikiranya pak Presiden PS berkenan untuk TAAT pada ALLAAH semata JANGAN IKUTI PENDAPAT KEBANYAKKAN ORANG , KARENA ITU KESESATAN NYATA :

وَاِ نْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى الْاَ رْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِ نْ هُمْ اِلَّا يَخْرُصُوْنَ

“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 116 ) .

Salam Ta’ziem , Taqwa dan Jihad ,
BES = Brother Eggi Sudjana , PEMBINA KORLABI ( Komando Pelaporan Bela Islam ) .

Bupati Bogor Resmikan CCVC dan Oncology Center di RSUD Bakti Pajajaran

0

CIBINONG, MPI RSUD Bakti Pajajaran resmi menghadirkan layanan Cardio Cerebro Vaskular Center (CCVC) dan Oncology Center (OC) yang diresmikan langsung oleh Bupati Bogor, Rudy Susmanto, pada Rabu (4/3/2026).

Dalam sambutannya, Bupati Bogor mengapresiasi peresmian beberapa layanan baru di rumah sakit tersebut, yakni layanan penanganan stroke Inovasi Force Stroke (Code Sti) dengan metode Digital Substraction Angiography (DSA), pembukaan Unit Transfusi Darah Rumah Sakit (UTDRS), pelayanan jantung anak serta pelayanan kemoterapi.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan sertifikat penghargaan Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) kepada Pemerintah Kabupaten Bogor dan pencanangan zona integritas menuju Wilayah Birokrasi Bebas Melayani (WBBM).

Bupati Bogor mengaku haru dan bangga melihat transformasi rumah sakit daerah yang terus mengikuti perkembangan dunia medis. Salah satu yang membanggakan adalah layanan DSA yang dipopulerkan oleh Terawan Agus Putranto. Di Indonesia, baru sekitar enam rumah sakit yang mengoperasikan metode ini, dan Kabupaten Bogor menjadi salah satunya.

“Jika di sejumlah rumah sakit biaya satu kali tindakan dapat mencapai Rp60–70 juta, di RSUD Bakti Pajajaran layanan ini sudah dapat diakses menggunakan BPJS Kesehatan,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Bogor dalam menerapkan Universal Health Coverage (UHC) 100 persen, dengan alokasi hampir satu triliun rupiah per tahun dari APBD untuk menjamin kesehatan masyarakat melalui BPJS Kesehatan.

“Untuk wilayah Bogor Raya, layanan DSA sebelumnya hanya tersedia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto dan Rumah Sakit Pusat Pertamina. Kini, Kabupaten Bogor telah memiliki layanan tersebut. Tujuan kami sederhana, memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi seluruh masyarakat Kabupaten Bogor,” tegasnya.

Selanjutnya, Direktur RSUD Bakti Pajajaran, Yukie Meistisia A Santoso, menjelaskan pihaknya memperkenalkan layanan Inovasi Force Stroke (Code Stroke). Menurutnya, stroke merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan tertinggi di Indonesia sehingga transformasi pelayanan menjadi sebuah keharusan.

“Melalui layanan Code Stroke, kami menargetkan waktu penanganan maksimal 60 menit sejak pasien tiba di IGD hingga mendapatkan tindakan. Dengan dukungan alat DSA, diagnosis pembuluh darah otak dapat dilakukan secara presisi dan tindakan trombektomi maupun intervensi vaskular bisa dilaksanakan dengan cepat dan tepat,” jelasnya.

Ia menambahkan, kehadiran layanan ini menjadi yang pertama di Bogor Raya dan diperkuat oleh dr. Haris, Spesialis Neurologi Konsultan Vaskular Intervensi, sebagai motor penggerak layanan.

“Ini kita lakukan untuk membangun sistem layanan yang cepat, terintegrasi, dan berorientasi pada keselamatan pasien. Kami ingin memastikan masyarakat Kabupaten Bogor mendapatkan pelayanan setara dengan rumah sakit besar di Jakarta tanpa harus meninggalkan daerahnya,” tambahnya.

RSUD Bakti Pajajaran juga mendapat amanat dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sebagai rumah sakit pengampu pendidikan hospital-based neurologi, sehingga pendidikan spesialis neurologi kini dapat dilaksanakan di Kabupaten Bogor.

Selain penanganan stroke, fasilitas DSA dimanfaatkan untuk intervensi jantung anak dan dewasa, termasuk penyakit jantung bawaan dan jantung koroner. RSUD juga tengah mengawal lima pasien jantung bawaan dari Yayasan Jantung Indonesia Cabang Kabupaten Bogor, dua di antaranya telah menjalani tindakan di RS Jantung Harapan Kita.

Pada kesempatan yang sama, RSUD meresmikan UTDRS dan siap bersinergi dengan PMI Kabupaten Bogor. Ke depan akan dikembangkan layanan aferesis untuk kebutuhan hematologi-onkologi seperti talasemia dan hemofilia.

RSUD Bakti Pajajaran juga bertransformasi menuju Oncology Center dengan pengembangan layanan kemoterapi, imunoterapi, serta riset berbasis pelayanan termasuk pengembangan stem cell. Rumah sakit ini telah berhasil membangun Zona In

[ ATS ]

Prabowo’s Appropriate Attitude Amidst Global War: Between Missiles and the Kaffah Principle

0

Matapenaindonesia.co.id – In the rapidly moving dynamics of global politics, Indonesia is now in a difficult position. On the one hand, the Prabowo Subianto administration is seeking to expand its international diplomatic network through involvement in the Board of Peace (BoP) forum. On the other hand, the geopolitical situation is heating up, especially after the escalation of the conflict in the Middle East which has caused major shocks to the stability of the region and the world.

The Board of Peace (BoP) is an international initiative initiated by United States President Donald Trump. Formally, the BoP is promoted as a forum for peace and conflict stabilization, particularly in responding to the war in Gaza and global security dynamics. Several countries, including Indonesia, were reportedly involved in the forum.
However, because its leadership is so centered on the United States, some observers view the BoP as not being a neutral multilateral institution like the UN, but rather as an instrument of Washington’s strategic diplomacy.

The issue became much more sensitive when a military attack on Iran killed its supreme leader, Ali Khamenei and reportedly died in an airstrike that hit the leadership complex in Tehran. The incident was not only a national tragedy for Iran, but it has become a geopolitical turning point that has triggered a wave of strong reactions from various countries.

Iran declared a period of national mourning and vowed to respond to the attack. This situation has given rise to solidarity from a number of major countries that have had strategic relations with Tehran.

Russian President Vladimir Putin strongly condemned the action. Chinese President Xi Jinping called for stability and dialogue, but within the context of broader geopolitical relations, Beijing’s position often differs from Washington’s military policy. Meanwhile, North Korean leader Kim Jong Un also maintains strategic ties with the bloc’s rivals to the United States, especially Iran.

This condition creates a global map of two-pole powers, namely the Western bloc led by the United States and its allies, and the bloc filled with Russia, China, and North Korea, and countries critical of Western dominance. If escalation continues, the risk of regional conflict escalating into a broader confrontation is not impossible.

Between this escalation, the military dimension is a factor that cannot be ignored. Iran has been known to significantly strengthen its missile and combat drone capabilities over the past decade.
One system that has been widely discussed by military analysts is the Fattah hypersonic missile, which is claimed to be able to maneuver at very high speeds making it difficult for air defense systems to conventional intercept. In addition, Iran also possesses medium-range ballistic missiles such as the Khorramshahr and various long-range combat drones that have been used in various regional operations. This capacity makes Iran more than defensive with real deterrence capabilities.

Russia itself has hypersonic missile systems such as the Avangard and Kinzhal, as well as the S-400 and S-500 air defense systems, which are said to be among the most advanced in the world. China is developing the DF-17 hypersonic missile and an anti-ship system designed to threaten enemy aircraft carriers. North Korea is introducing intercontinental missiles such as the Hwasong-18, which is claimed to be able to reach far areas with solid fuel technology that will add great destruction in battle.

The existence of these weapons systems has changed global strategic calculations. Modern warfare no longer relies solely on the number of troops or tanks, but rather on long-range precision capabilities, , hypersonic speed, artificial intelligence, and multi-layered defense systems. It is in this context that concerns arise that the conflict between Iran and its allies with the United States and Israel will escalate, then escalation could involve the most advanced military technology ever developed by humans.

The impact on the world would be profound. Global energy routes like the Strait of Hormuz could be disrupted, oil prices could spike dramatically, and global financial markets could experience severe pressure. International supply chains, already fragile due to previous crises, could be shaken again. Developing countries, including Indonesia, will feel the impact through inflation, , rising food prices, and exchange rate pressures.

Beyond the economic impacts, there are political and security risks. Global polarization will force many countries to take a stance, narrowing the space for neutral diplomacy. If the conflict escalates into open warfare between major blocs, cyber threats, infrastructure sabotage, and information warfare could spill over into Southeast Asia.

Because the effects are very dangerous, caution is needed for Indonesia, President Prabowo.

Since its independence, Indonesia has adhered to an independent or Free and active foreign policy. “Free” means not tied to any power bloc, “Active” means continuing to play a role in creating world peace.
This principle is a strategic foundation that has protected Indonesia from various global shocks for decades, this was formulated at the Asia-Africa conference in Bandung in 1955.

Involvement in BoP can certainly be interpreted as part of this active role. However, when the leader of the BoP (Donald Trump) openly engaged in a real military dynamic supporting Israeli aggression that caused controversy, then the global perception of the BoP forum also changed.

The death of the Iranian leader is the right moment for Indonesia to evaluate our position in the BoP. On my own initiative as a child of the nation, I am in my capacity as the Advisory Board of KORLABI (Islamic Defense Reporting Command) chaired by Damai Hari Lubis and together with the Militant Mothers from ASPIRASI and the Indonesia-Iran friendship community, yesterday afternoon, Monday 2/3/2026, they had a social gathering, and received by the Deputy Iranian Ambassador to Indonesia in Jakarta. On that occasion, we expressed our condolences on the passing of the Iranian leader and provide a view that Iran should not be prejudiced against our leaders who are currently still involved in the BoP under Trump’s leadership.

The escalation of the conflict has triggered the involvement of allied countries of both blocs (the US and Iran). Indonesia must ensure that its participation is not interpreted as siding with the military actions of a particular country, especially amidst strong sentiment among the Indonesian people which has consistently supported international peace and justice for Palestine and Israel.

Prudence does not mean passivity. On the contrary, prudence is a form of strategic intelligence and tactical precision. Indonesia can act as a bridge for dialogue, not as part of the axis of conflict. The Islamic world views Indonesia as the world’s largest democratic Muslim nation. The West sees Indonesia as a strategic partner in Southeast Asia, and Global South countries view Indonesia as an independent voice.

If a major war between these power blocs really occurs, the world will enter a long phase of uncertainty, a new arms race, global economic pressures, to the potential for a widespread and devastating humanitarian crisis.

Indonesia must strengthen its economic resilience, multilateral diplomacy, and domestic stability to avoid being swept away by the currents of global polarization.

Conditions like this require relevant spiritual reflection. In surah Al Baqarah verse 207 Allah says:

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْرِى نَفْسَهُ ٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ رَءُوفٌۢ بِٱلْعِبَادِ ٢٠٧

And there are those who would dedicate their lives to Allah’s pleasure. And Allah is Ever Gracious to ˹His˺ servants.

This verse is often understood as a description of total sacrifice for a purpose greater than personal interests.In the context of Prabowo’s leadership, this sacrifice could mean a willingness to accept criticism, abuse, and even public misunderstanding, for the sake of maintaining peace and the wider interests of the people.

Unpopular diplomatic moves sometimes demand such moral courage.

Then in surah Al Baqarah verse 208 :

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةًۭ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَـٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّۭ مُّبِينٌۭ ٢٠٨

O believers! Enter into Islam wholeheartedly and do not follow Satan’s footsteps. Surely he is your sworn enemy.

The concept of kaffah is not only in personal worship, but also a system of values, justice, and commitment to complete peace. If Indonesian diplomacy is directed at maintaining global stability and protecting the interests of international Muslims from the destruction of a major war, then a comprehensive, integrated and based on moral values approach is necessary.

In an increasingly divided world filled with highly destructive military technology, leadership that seeks to stand in the middle to prevent widespread conflict is sometimes difficult to understand immediately.
But history shows that maintaining balance is much more difficult than choosing one side in the euphoria of conflict.

At this time, a firm stance is needed based on the constitution and national interests, rejecting aggression, encouraging peaceful resolution, maintaining the sovereignty of foreign policy, and adhering to spiritual values that promote universal peace, That is the challenge and opportunity for Indonesia today to protect the world from division, while remaining steadfast in the principles of Non-Alignment and integrity as a nation.
However, if peaceful means or methods have been taken in such a way, but the US and Israel and their allies are “stubborn”, then ALLAH commands HIS Prophet, MUHAMMAD SAW to have no more doubts about choosing the path of war, see the Qur’an At Tahrim verse 9 :

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ جَـٰهِدِ ٱلْكُفَّارَ وَٱلْمُنَـٰفِقِينَ وَٱغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَىٰهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ ٱلْمَصِيرُ ٩

O Prophet! Struggle against the disbelievers and the hypocrites, and be firm with them. Hell will be their home. What an evil destination!

For the Indonesian Government, in this case President Prabowo Subianto, if you are unable to FIGHT the US – ISRAEL then it is enough to take a STRONG stance against these infidels and hypocrites. Including get out from BoP

Bogor, Tuesday, March 3, 2020, 10:47 AM

Bukber PB FORMULA Satukan Ulama dan Aktivis, Siap Cetak Sejuta Ustadz Entrepreneur

0

BOGOR, MPI PB FORMULA (Forum Ulama dan Aktivis Islam) sukses menggelar Buka Puasa Bersama, pada Minggu (1/3/2026) dengan suasana khidmat dan penuh antusias. Acara ini dihadiri jajaran pengurus dari berbagai wilayah, mulai dari PW Jakarta, Jawa Barat, Banten hingga PC Jabodetabek, Bogor, Tangerang Selatan, Depok, dan PP Denjalu.

Ketua Umum PB FORMULA, Tuan Guru Drs. Dedi Hermanto, menjelaskan bahwa organisasi ini hadir untuk mensinergikan ulama dan aktivis dengan visi “Santri yang Intelektual, Intelektual yang Santri.”

Foto: Jajaran Pengurus serta anggota PB Formula Saat Foto bersama. Minggu (1)3). Dok. MPI

Ia menambahkan, “Salah satu agenda strategis FORMULA adalah program Mencetak Sejuta Ustadz Entrepreneur. Dengan ini, kami ingin membangun kemandirian umat melalui integrasi nilai-nilai Islam dalam berbagai aspek kehidupan.” Jelasny

Sebagai organisasi kemasyarakatan yang profesional, jujur, dan tangguh, FORMULA menerapkan tata kelola modern dan akuntabel. Keanggotaan telah berbasis IT digital dengan kartu kepesertaan elektronik untuk pencatatan data yang faktual dan terintegrasi. Selain itu, FORMULA juga aktif berdakwah melalui media sosial, beradaptasi dengan perkembangan zaman, dan menjangkau generasi digital.

Bukber ini menjadi momentum penguatan konsolidasi organisasi sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah dalam membangun peradaban umat yang mandiri dan berdaya saing.

 

[ Syam ]