Beranda blog Halaman 9

Tudingan Ijazah Palsu Jokowi Kembali Ajukan RJ

0

JAKARTA, MPI Polisi membenarkan tersangka Rismon Hasiholan Sianipar mengajukan permohonan restorative justice terkait kasus dugaan ijazah palsu Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi). Surat permohonan restorative justice itu diajukan pekan lalu.

“Minggu lagu menyampaikan permohonan restorartive justice,” jelas Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Iman Imanuddin, pada Rabu (11/3/2026).

Kombes Pol. Iman menambahkan, hari ini yang berangkutan pun mendatangi Markas Polda Metro Jaya dengan pengacaranya. Kedatangannya guna mempertanyakan kelanjutan restorative justice yang diajukannya.

RHS (Rismon) bersama pengacaranya hari ini mempertanyakan surat yang pernah diajukan,” ujarnya.

Dalam kasus ini, Polda Metro Jaya sendiri membaginya kedalam dua klaster. Klaster pertama terdiri dari lima tersangka, yakni Eggi Sudjana, Kurnia Tri Rohyani, Damai Hari Lubis, Rustam Effendi, dan Muhammad Rizal Fadillah. Sementara klaster kedua terdiri dari Roy Suryo, Rismon Hasiholan Sianipar, serta Tifauziah Tyassuma alias dr Tifa.

[ ATS ]

Rudy Susmanto Ajak Masyarakat Salurkan Zakat Lewat BAZNAS Kabupaten Bogor

0

CIBINONG, MPI Bupati Bogor, Rudy Susmanto mengajak seluruh masyarakat, khususnya umat muslim di Kabupaten Bogor, untuk menunaikan zakat melalui BAZNAS sebagai bentuk kepedulian sosial dan penyucian harta. Demikian disampaikan Rudy usai membayar zakat secara langsung kepada Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Bogor, di Gedung Serbaguna 1,Sekretariat Daerah, pada Kamis (12/3/2026).

Turut serta membayarkan zakat pada Baznas Kabupaten Bogor, Ketua DPRD Kabupaten Bogor, Dandim 0621 Kabupaten Bogor, Ketua Baznas Kabupaten Bogor, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bogor, Kepala Perangkat Daerah (PD), para Camat, Dirut Perumda, Direktur RSUD, dan jajaran instansi vertikal.

Rudy Susmanto menjelaskan, penerimaan zakat tersebut terbuka tidak hanya bagi masyarakat Kabupaten Bogor, tetapi juga bagi masyarakat dari luar daerah yang ingin menyalurkan zakatnya melalui BAZNAS Kabupaten Bogor. Namun secara khusus, Pemerintah Kabupaten Bogor mengajak para penyelenggara pemerintahan, baik Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun non-ASN di lingkungan Pemkab Bogor, untuk menyalurkan zakatnya melalui BAZNAS.

“Kami mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Bogor, khususnya umat Muslim, untuk menunaikan zakat, membersihkan harta serta mensucikan jiwa dengan menyalurkan zakat melalui BAZNAS Kabupaten Bogor,” ujar Rudy.

Ia menyampaikan bahwa zakat merupakan salah satu cara untuk membersihkan harta sekaligus menyucikan jiwa, sekaligus membantu masyarakat yang membutuhkan. Selama ini BAZNAS telah berperan aktif dalam menyalurkan berbagai bantuan kepada masyarakat kurang mampu.

“Masih banyak masyarakat yang membutuhkan bantuan, termasuk saudara-saudara di Palestina. Beberapa waktu lalu, Badan Amil Zakat Nasional bersama Prabowo Subianto selaku Presiden Republik Indonesia telah menyalurkan bantuan untuk masyarakat Palestina,” ujarnya.

Menurut Rudy, momentum Ramadhan menjadi waktu yang tepat untuk meningkatkan solidaritas dan kepedulian terhadap sesama. Ia mengajak bersama-sama membantu, dari Bogor untuk Indonesia, dan dari Indonesia untuk dunia.

Ketua Baznas Kabupaten Bogor, K.H. Lesmana mengungkapkan, zakat merupakan salah satu kewajiban umat Islam yang memiliki banyak hikmah, diantaranya menyucikan jiwa dan harta yang telah dititipkan oleh Allah SWT kepada umat manusia.

“Terlebih di bulan suci Ramadhan yang penuh keberkahan ini, umat Islam berlomba-lomba meningkatkan ibadah, termasuk dalam menunaikan zakat, infak, dan sedekah,” ungkapnya.

Lesmana memberikan apresiasi kepada Bupati Bogor atas dukungan dan komitmen yang terus diberikan dalam mendorong peningkatan penghimpunan zakat, infak, dan sedekah melalui berbagai program BAZNAS di Kabupaten Bogor.

Penyerahan zakat oleh kepala daerah, pimpinan instansi, serta berbagai lembaga pada momentum Ramadhan ini menjadi bukti nyata sinergi antara pemerintah daerah dan BAZNAS dalam mendukung Gerakan Cinta Zakat sekaligus menjadi momentum kebangkitan zakat di Kabupaten Bogor.

“Saya mengajak seluruh umat Islam di Kabupaten Bogor untuk menunaikan kewajiban zakat melalui BAZNAS agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat yang membutuhkan,” katanya.

Ia berharap, semoga zakat yang kita tunaikan menjadi cahaya bagi kehidupan kita dan membawa keberkahan bagi bangsa Indonesia

 

Hadirkan Inovasi Digitalisasi Masjid ISalaam DMI Kabupaten Bogor Diusulkan Jadi Pilot Project Nasional

0

JAKARTA, MPI Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Bogor kembali menunjukkan komitmennya dalam penguatan tata kelola masjid berbasis teknologi. Setelah sebelumnya mendapat undangan dari Istana Negara di Jakarta, kali ini DMI Kabupaten Bogor memperoleh kesempatan untuk mempresentasikan program Digitalisasi Masjid ISalaam di kantor Kementerian Bappenas, pada Rabu (11/3/2026).

Rombongan DMI Kabupaten Bogor diterima langsung oleh Menteri Bappenas, Rachmat Pambudy, didampingi Wakil Menteri serta jajaran pejabat terkait. Dalam pertemuan tersebut, DMI Kabupaten Bogor bersama Founder ISalaam dan para pimpinan BJBS memaparkan gagasan digitalisasi masjid yang terintegrasi melalui platform ISalaam.

Ketua DMI Kabupaten Bogor, Irwan Kurniawan mengungkapkan, bahwa ia ingin mengembangkan masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah mahdhah, tetapi juga sebagai pusat ibadah muamalah yang berkaitan dengan penguatan kebudayaan, ekonomi, serta kesejahteraan masyarakat.

“Di dalamnya juga dapat berkembang berbagai kegiatan yang mendukung kehidupan sosial, kesehatan, dan aktivitas masyarakat. Upaya ini didukung oleh sistem atau aplikasi ISalaam, serta kolaborasi dengan DMI Syariah,” tuturnya.

Menurutnya, Program ini bertujuan mewujudkan Satu Data Masjid Indonesia sekaligus memperkuat pengelolaan masjid secara modern dan transparan. Selain itu, diperkenalkan pula program TALI ASIH (Tata Lingkungan Air Bersih) yang berfokus pada penyediaan air bersih, suci, dan sah bagi kebutuhan ibadah di masjid, termasuk pembangunan instalasi dan infrastruktur pendukung untuk berwudhu dan bersuci sesuai prinsip syariah.

Menteri Bappenas menyambut baik inisiatif tersebut dan menyatakan dukungannya terhadap upaya pendataan serta digitalisasi masjid di Indonesia. Dalam kesempatan itu juga disampaikan bahwa Kabupaten Bogor berpeluang dijadikan pilot project nasional dalam implementasi program digitalisasi masjid dan tata lingkungan air bersih di rumah ibadah.

Bahkan ia berharap Inisiatif ini dapat menjadi bagian dari upaya menghadirkan layanan negara yang lebih dekat dengan masyarakat, khususnya dalam mendukung aktivitas ibadah serta meningkatkan kualitas fasilitas masjid di seluruh Indonesia. Program tersebut juga sejalan dengan arah pembangunan nasional serta penguatan ekosistem masjid yang modern, tertib, dan berdaya guna bagi umat.

Melalui kolaborasi berbagai pihak, DMI Kabupaten Bogor optimistis program digitalisasi masjid dan penyediaan air bersih ini dapat menjadi langkah nyata menuju pengelolaan masjid yang lebih maju, terintegrasi, dan bermanfaat bagi masyarakat luas

 

Temui Anggota LVRI, Rudy Susmanto Sampaikan Terima Kasih atas Jasa Para Pejuang Bangsa

0

CIBINONG, MPI Bupati Bogor, Rudy Susmanto, menghadiri silaturahmi dan buka puasa bersama keluarga besar Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kabupaten Bogor, di Hotel Horison Ultima Sayaga, Cibinong, pada Selasa, (10/3/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Rudy menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang mendalam kepada para anggota LVRI dan warakawuri atas pengabdian serta pengorbanan mereka dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara.

Menurut Rudy, jasa para veteran merupakan bagian penting dari perjalanan sejarah bangsa yang harus terus dihargai oleh seluruh elemen masyarakat, termasuk pemerintah daerah.

“Bangsa ini masih bisa berdiri kokoh sampai hari ini salah satunya karena pengorbanan para pejuang. Banyak pengorbanan yang mungkin tidak diketahui oleh masyarakat luas, tetapi jasa Bapak dan Ibu sekalian sangat besar bagi bangsa dan negara,” ujar Rudy.

Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Bogor memiliki komitmen untuk terus memberikan perhatian kepada para veteran sebagai bentuk penghormatan atas jasa mereka dalam mempertahankan dan menjaga kedaulatan negara.

Rudy juga memohon doa dan restu dari para veteran agar dirinya dapat menjalankan amanah memimpin Kabupaten Bogor dengan baik serta mampu melanjutkan semangat perjuangan para pendahulu melalui pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat.

“Dulu para pejuang berjuang memanggul senjata untuk mempertahankan bangsa. Hari ini tugas kami adalah melanjutkan perjuangan itu dengan bekerja membangun daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.

Ketua LVRI DPC Kabupaten Bogor Brigjen TNI Purn Bambang Herus menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Bupati Bogor, Rudy Susmanto, atas perhatian dan dukungan Pemerintah Kabupaten Bogor kepada keluarga besar veteran.

“Berbagai kegiatan yang dilaksanakan LVRI Kabupaten Bogor dalam beberapa tahun terakhir dapat berjalan dengan baik berkat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Bogor,” tandasnya.

Ia menambahkan, keluarga besar LVRI Kabupaten Bogor akan terus memberikan dukungan kepada pemerintah daerah dalam menjalankan berbagai program pembangunan.

Sebagai bentuk dukungan tersebut, pihaknya selalu mengajak para anggota veteran maupun warakawuri untuk hadir dalam berbagai kegiatan resmi pemerintah daerah, termasuk upacara-upacara yang diselenggarakan di Kabupaten Bogor.

“Kehadiran kami dalam berbagai kegiatan pemerintah merupakan bentuk dukungan dan kebanggaan kami kepada Bapak Bupati serta Pemerintah Kabupaten Bogor,” jelasnya.

Kegiatan silaturahmi dan buka puasa bersama tersebut menjadi momentum untuk mempererat hubungan antara pemerintah daerah dengan keluarga besar LVRI Kabupaten Bogor.

 

Rudy Susmanto Ajak Masyarakat Bogor Shalat Idul Fitri dan Silaturahmi di Stadion Pakansari

0

KAB. BOGOR, MPI Bupati Bogor, Rudy Susmanto, mengajak masyarakat untuk melaksanakan shalat Idul Fitri 1447 Hijriah bersama di Lapangan Utama Stadion Pakansari. Selain menjadi momentum ibadah bersama, kegiatan tersebut juga direncanakan sebagai ajang silaturahmi antara pemerintah daerah dan masyarakat.

Demikian disampaikan Rudy usai melaksanakan tarawih keliling (tarling) di Masjid Al-Futuhiyah, Babakan Madang sentul Kabupaten Bogor, Rabu (11/3). Ia menjelaskan, pelaksanaan shalat Idul Fitri di Lapangan Utama Stadion Pakansari merupakan momentum pertama kalinya dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Bogor.

Ia berharap masyarakat dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri secara bersama-sama.

“Ini momentum pertama kali kita melaksanakan Shalat Idul Fitri di Lapangan Utama Stadion Pakansari. Kami mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Bogor untuk melaksanakan shalat Ied bersama dan merayakan lebaran bersama Pemerintah Kabupaten Bogor,” jelas Rudy Susmanto.

Usai pelaksanaan Shalat Idul Fitri, akan digelar kegiatan open house di lokasi yang sama. Kegiatan tersebut terbuka bagi seluruh masyarakat yang ingin bersilaturahmi dan merayakan suasana Lebaran bersama pemerintah daerah.

“Selain shalat Idul Fitri, kita juga akan melaksanakan open house di Stadion Pakansari. Ini adalah lebarannya warga Kabupaten Bogor,” tambahnya.

Rudy Susmanto menjelaskan, dari sisi kesiapan infrastruktur, Stadion Pakansari dinilai aman dan siap digunakan. Meski sebelumnya sempat terdampak angin puting beliung di beberapa titik, pemerintah daerah telah melakukan perapihan dan penataan area stadion.

“Pelaksanaan shalat Idul Fitri akan dilakukan di area terbuka, yakni di lapangan utama yang biasa digunakan untuk pertandingan sepak bola,” tandas Rudy.

Menurutnya, momentum tersebut juga menjadi kesempatan bagi masyarakat Kabupaten Bogor untuk merasakan suasana beribadah bersama di stadion yang selama ini dikenal sebagai fasilitas olahraga terbesar di daerah tersebut.

“Berdasarkan perhitungan sementara, Lapangan Utama Stadion Pakansari diperkirakan dapat menampung minimal sekitar 5.000 jamaah. Bahkan jika jumlah jamaah melebihi angka tersebut, area stadion dinilai masih memungkinkan untuk menampung lebih banyak masyarakat yang ingin melaksanakan shalat Idul Fitri bersama,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Bogor berharap dapat mempererat silaturahmi antara pemerintah dan masyarakat sekaligus menjadikan Hari Raya Idul Fitri sebagai momentum kebersamaan seluruh warga Kabupaten Bogor

Bupati Bogor Gunakan Survei Warga untuk Rencana Pembangunan

0

CIBINONG, MPI Bupati Bogor Rudy Susmanto bersama jajaran perangkat daerah melaksanakan ekspose hasil survei evaluasi publik satu tahun pemerintahan Kabupaten Bogor yang diselenggarakan di Aula Soekarno Hatta, Pada Selasa, (10/3/2026).

Bupati Bogor menegaskan bahwa pemaparan hasil survei bukan semata untuk melihat tingkat kepuasan masyarakat terhadap Bupati Bogor dan Wakil Bupati Bogor, melainkan sebagai bahan evaluasi dan dasar perumusan kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran.

Bupati Bogor menjelaskan, hasil survei diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif mengenai kondisi masyarakat di 40 kecamatan, 416 desa, dan 19 kelurahan di Kabupaten Bogor, mulai dari aspek kesehatan, angka kemiskinan, wilayah rawan bencana, hingga potensi budaya dan pariwisata.

“Survei ini bukan sekadar menilai Bupati Bogor dan Wakil Bupati. Kami ingin menjadikannya sebagai dasar dalam menyusun program dan postur APBD yang benar-benar berangkat dari kebutuhan masyarakat Kabupaten Bogor,” ujar Rudy Susmanto.

Ia juga meminta setiap perangkat daerah untuk menindaklanjuti hasil survei tersebut melalui kajian yang lebih spesifik sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing. Dengan demikian, setiap program yang dirancang pemerintah dapat tepat sasaran dan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Menurutnya, intervensi program pembangunan harus dilakukan berdasarkan data dan kajian yang komprehensif. Misalnya dalam upaya pengentasan kemiskinan, pemerintah daerah perlu mengetahui secara detail titik-titik wilayah dengan tingkat kemiskinan paling tinggi agar program yang disusun dapat benar-benar menyentuh masyarakat yang membutuhkan.

“Kalau ingin mengentaskan kemiskinan, kita harus tahu secara detail di mana titik paling rentan, berapa jumlahnya, dan seperti apa bentuk intervensi program yang tepat. Program yang dijalankan tidak boleh hanya bersifat administratif, tetapi harus memberikan solusi nyata,” jelasnya.

Lebih lanjut, Bupati Bogor menekankan pentingnya keselarasan antara perencanaan pembangunan dengan kebutuhan riil masyarakat di setiap wilayah. Ia mencontohkan, pembangunan infrastruktur harus menyesuaikan kebutuhan masyarakat setempat, apakah membutuhkan perbaikan jalan, pembangunan jembatan, atau penyediaan saluran air.

Ia juga menilai bahwa capaian tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintah daerah merupakan hasil kerja bersama seluruh perangkat daerah, bukan semata-mata peran kepala daerah.

“Tingkat kepuasan masyarakat bukan hanya karena Bupati Bogor dan Wakil Bupati, tetapi merupakan hasil dari kinerja seluruh perangkat daerah di Kabupaten Bogor. Keberhasilan pemerintah adalah hasil dari sinergi dan kolaborasi yang kuat,” tegasnya.

Ia berharap hasil survei ini dapat menjadi pijakan untuk memperkuat perencanaan pembangunan pada tahun 2026, termasuk dalam penyusunan perubahan APBD agar program-program yang dijalankan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

Ia menambahkan, satu tahun masa pemerintahan yang telah dilalui merupakan tahap awal untuk terus melakukan penyempurnaan program pembangunan di tahun-tahun berikutnya melalui kolaborasi seluruh perangkat daerah.

“Ke depan kita ingin terus menyempurnakan berbagai program pembangunan. Saya dan Wakil Bupati tentu tidak bisa berjalan sendiri, keberhasilan Pemerintah Kabupaten Bogor adalah hasil kerja bersama seluruh perangkat daerah,” pungkasnya.

[ ATS ]

Anatomi Perpecahan Aktivis: Antara Strategi Jihad dan Jebakan Narasi

0

Oleh: M. Idris Hardy, S.E.

BOGOR, MPI – Perdebatan mengenai peran dan langkah strategis para aktivis sering kali berujung pada polemik yang menguras energi. Fokus utamanya sederhana: sebuah pesan moral yang ditujukan kepada figur berpengaruh agar membuka hati dengan kejujuran. Namun, dinamika di lapangan menunjukkan bahwa perjuangan ini tidak pernah linier, melainkan penuh dengan intrik, manuver, dan risiko perpecahan.

Fenomena kunjungan tokoh aktivis senior seperti Eggi Sudjana (BES) ke Solo untuk menemui mantan presiden ke-7, Joko Widodo, memicu obrolan hangat sekaligus panas di berbagai lapisan masyarakat—mulai dari elit politik hingga rakyat jelata di kedai kopi. Bagi sebagian pihak, langkah ini dianggap sebagai pemicu keretakan kubu yang semula solid, terutama ketika narasi mengenai Restorative Justice untuk BES dan Damai Hari Lubis (DHL) mulai bergulir.

Namun, jika ditinjau secara mendalam, manuver semacam ini seharusnya dipandang sebagai bagian dari strategi perjuangan. Jihad, dalam konteks pergerakan, sering kali merupakan adu strategi. Ibarat pepatah, jika ingin melihat ikan di dalam kolam, tenangkan dahulu airnya. Langkah yang tampak bertolak belakang dengan idealisme moral sering kali merupakan metode spesifik untuk mencapai fokus tertentu yang tidak bisa dipahami oleh mereka yang hanya melihat dari permukaan.

Tokoh seperti Eggi Sudjana, yang telah digembleng sejak era 1980-an dalam perlawanan terhadap kebijakan Orde Baru, memiliki rekam jejak manuver yang sarat pengalaman. Gerakannya sering kali mewakili aspirasi komunitas bawah tanah yang terbiasa memadukan idealisme dengan realitas pahit. Ketidakmampuan sebagian aktivis untuk bersikap dewasa dalam memahami konteks strategi bersama membuat mereka mudah terprovokasi untuk saling membuka “rahasia” yang sebenarnya tidak perlu menjadi konsumsi publik.

Sering kali muncul tuntutan bahwa seorang penyampai pesan moral atau pendakwah harus memiliki moralitas yang sempurna sebelum mengajak orang lain. Namun, secara praktis, terdapat tiga tingkatan dalam penyampaian kebenaran, yakni:

1. Minimal (Menggugurkan Kewajiban): Seseorang tetap berkewajiban menyampaikan kebaikan meski dirinya belum sempurna. Prinsipnya adalah “Dengarlah apa yang disampaikan, jangan melihat siapa yang menyampaikan.”

2. Maksimal (Dimensi Spiritual): Bergerak semata-mata mengharap rida Allah SWT, mencakup aspek kognitif, ritualistik, hingga praksis.

3. Ideal (Tanggung Jawab): Keselarasan penuh antara ucapan dan tindakan sebagai bentuk tanggung jawab kepada Sang Pencipta.

Seorang aktivis yang kerap menukil ayat suci dalam tuntutan keadilannya tidak harus divonis secara hitam-putih. Kita semua dianggap baik hanya karena Tuhan masih menutupi aib kita. Menilai seorang tokoh pergerakan secara terburu-buru hanya akan memperlemah barisan perjuangan itu sendiri.

Perpecahan antar saudara dalam satu kubu bukanlah hal baru. Sejarah mencatat Perang Jamal dan Perang Shiffin di era Khalifah Ali bin Abi Thalib sebagai bukti bahwa perbedaan pendapat mengenai kepemimpinan dan politik kekuasaan dapat memicu benturan fisik di antara mereka yang semula seiring sejalan.

Ironisnya, saat para aktivis sibuk berselisih secara terbuka, kelompok asing dan antek-anteknya justru bekerja dengan sangat rapi dan tertutup untuk menguasai Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia. Mereka mampu menutupi friksi internal dengan persekutuan yang solid, sehingga rakyat tidak memiliki celah untuk memecah konsentrasi mereka. Akibatnya, kekayaan alam kita lebih banyak dinikmati oleh korporasi asing melalui tangan-tangan anak bangsa yang memegang kekuasaan.

Pertanyaan besarnya adalah: mengapa para aktivis tidak belajar dari musuh-musuh bangsa yang mampu bergerak secara sunyi (silent) dan tidak mudah terpecah? Apa yang sebenarnya diburu sehingga ego pribadi sering kali mengalahkan kepentingan kolektif?

Sebuah kutipan masyhur mengingatkan kita: “Al-haqqu bilaa nidzom, yaghlibuhul baathilu binidzomin” – kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir. Tanpa kedewasaan, strategi yang matang, dan solidaritas yang kuat, perjuangan moral hanya akan menjadi panggung sandiwara yang melelahkan bagi rakyat yang menaruh harapan.

Penulis : Sekjen, Aliansi Damai Anti Penistaan Islam (ADA API)

Presiden Prabowo Gabung BoP, Ahistoris pada Dasa Sila Bandung – KAA 1955?

0

Oleh: Prof. Eggi Sudjana

Matapenaindonesia.co.id ALLAAH Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَآئِلَ لِتَعَا رَفُوْا ۗ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَ تْقٰٮكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 13).

Dalam sejarah hubungan internasional, sedikit peristiwa yang memiliki pengaruh moral dan politik sebesar Konferensi Asia Afrika 1955. Konferensi yang berlangsung pada 18–24 April 1955 di Bandung, Indonesia, merupakan pernyataan politik global dari bangsa-bangsa Asia dan Afrika yang baru merdeka. Mereka menyatakan dengan tegas bahwa dunia tidak boleh lagi didominasi oleh kekuatan besar yang menentukan nasib negara lain. Bahwa tampak jelas Konferensi Asia Afrika tahun 1955 tersebut merupakan implementasi dari Surah ke 49 ayat 13 yang diungkap di muka.

Konferensi ini diprakarsai oleh Presiden Indonesia Ir. Soekarno, yang saat itu mengajak negara-negara Asia dan Afrika untuk bersatu melawan kolonialisme serta membangun tatanan dunia yang lebih adil.

Seruan Soekarno dalam pidato pembukaan konferensi itu menegaskan bahwa dunia baru harus lahir dari solidaritas bangsa-bangsa yang pernah mengalami penjajahan.

Lebih dari tujuh puluh tahun kemudian, dunia kembali menyaksikan munculnya berbagai forum internasional baru yang mengklaim bertujuan menjaga stabilitas global. Salah satu yang menjadi sorotan saat ini adalah Board of Peace (BoP), sebuah forum yang dipromosikan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan tujuan yang disebut-sebut untuk menjaga keamanan dan perdamaian internasional.

Namun, forum ini menimbulkan pertanyaan serius di berbagai negara, termasuk di Indonesia, apakah ini benar-benar sejalan dengan semangat Bandung (Dasa Sila) atau justru bertentangan dengan prinsip-prinsip yang lahir dari Konferensi Asia Afrika 1955?

Konferensi Asia Afrika lahir dalam konteks dunia yang sedang berada dalam ketegangan Perang Dingin, yaitu persaingan kekuatan global antara blok Barat dan blok Timur (AS dan USSR/Sovyet, kini Rusia).

Banyak negara Asia dan Afrika yang baru merdeka saat itu tidak ingin terseret dalam pertarungan dua kekuatan besar tersebut. Karena itu muncul gagasan untuk membangun solidaritas antarnegara berkembang.

Selain Soekarno, sejumlah tokoh dunia ikut berperan dalam konferensi tersebut, di antaranya Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, Perdana Menteri Burma atau Myanmar U Nu, Perdana Menteri Pakistan Mohammad Ali Bogra, dan Perdana Menteri Ceylon atau Sri Lanka John Kotelawala.

Konferensi ini dihadiri oleh 29 negara Asia dan Afrika, termasuk Indonesia, India, China, Mesir, Iran, Irak, Jepang, Arab Saudi, Turki, Thailand, Filipina, Sudan, Ethiopia, dan berbagai negara lainnya. Tokoh penting lainnya adalah Perdana Menteri Tiongkok Zhou Enlai serta Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser, yang kemudian menjadi tokoh penting dalam solidaritas negara-negara berkembang saat itu.

Salah satu hasil paling penting dari konferensi tersebut adalah lahirnya Dasasila Bandung, yaitu sepuluh prinsip hubungan internasional yang menekankan perdamaian dan penghormatan terhadap kedaulatan negara. Prinsip-prinsip tersebut antara lain:

– Menghormati hak asasi manusia dan tujuan Piagam PBB.

– Menghormati kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara.

– Mengakui persamaan semua bangsa dan ras.

– Tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain.

– Menghormati hak setiap negara untuk mempertahankan diri.

– Tidak menggunakan perjanjian pertahanan untuk kepentingan negara besar.

– Menolak agresi atau serangan militer.

– Menyelesaikan konflik melalui cara damai.

– Mengembangkan kerja sama internasional.

– Menghormati hukum internasional.

Prinsip-prinsip ini kemudian menjadi inspirasi lahirnya Gerakan Non-Blok pada tahun 1961, yaitu gerakan negara-negara yang tidak ingin berpihak pada kekuatan besar dunia.

Konferensi Bandung memberikan dampak besar dalam sejarah dunia. Setelah pertemuan tersebut, banyak negara di Afrika memperoleh kemerdekaan dari kekuasaan kolonial Eropa. Selain itu, konferensi ini juga memperkuat solidaritas negara-negara berkembang yang sering disebut sebagai Global South (kelompok negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin).

Bandung juga memperkuat prinsip politik luar negeri bebas aktif Indonesia, yaitu kebijakan untuk tidak memihak pada kekuatan besar mana pun, tetapi tetap aktif berkontribusi dalam menciptakan perdamaian dunia.

Board of Peace (BoP) dalam Geopolitik Modern

Dalam perkembangan geopolitik global saat ini, berbagai forum internasional bermunculan untuk merespons konflik dunia. Salah satunya adalah Board of Peace (BoP), yang disebut sebagai forum kerja sama keamanan global.

Forum ini dipromosikan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dengan tujuan yang diklaim untuk menangani konflik global, termasuk ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto ikut bergabung dan terlibat dalam forum tersebut. Langkah ini kemudian memicu diskusi dan kritik dari berbagai kalangan. Setelah terjadi perbedaan pandangan dalam negeri atas langkah Presiden gabung dalam BoP, Prabowo mengundang dialog para mantan presiden, wakil, ulama, dan mantan menteri luar negeri ke Istana Merdeka, Jakarta. Bukti adanya komunikasi yang belum sepenuhnya tuntas. Pertanyaannya, dari mana datangnya masukan kepada Presiden bergabung ke BoP?

Untuk menilai apakah BoP sejalan dengan semangat Bandung, penting melihat rekam jejak kebijakan luar negeri yang dijalankan oleh Presiden Donald Trump.

Dalam berbagai kebijakan geopolitiknya, Trump dikenal memiliki hubungan politik yang sangat dekat dengan pemerintahan Israel yang dipimpin oleh Benjamin Netanyahu. Dukungan tersebut sering menjadi sorotan dunia, terutama dalam konteks konflik Palestina yang hingga kini belum menemukan penyelesaian yang adil.

Selain itu, kebijakan luar negeri Amerika Serikat juga sering diwarnai oleh ketegangan dengan negara-negara Timur Tengah, termasuk Iran. Ketegangan ini kerap menimbulkan kekhawatiran bahwa kebijakan keamanan global yang dipromosikan Washington lebih dipengaruhi oleh kepentingan geopolitik daripada prinsip netralitas perdamaian.

Trump juga dikenal menjalankan kebijakan perdagangan yang keras melalui penerapan tarif tinggi terhadap berbagai negara. Kebijakan ini memicu apa yang sering disebut sebagai perang tarif dagang (trade tariff war), persaingan ekonomi global melalui kenaikan pajak impor yang dapat menekan ekonomi negara lain.

Bagi banyak negara berkembang, praktik semacam ini merupakan bentuk dominasi ekonomi global, yang dalam perspektif sejarah memiliki kemiripan dengan pola tekanan ekonomi pada masa kolonial.

Mengapa Langkah Bergabung ke BoP Dinilai Ahistoris

Dalam perspektif sejarah diplomasi Indonesia, langkah bergabung dalam forum seperti BoP oleh Presiden Prabowo Subianto oleh sebagian kalangan dinilai berpotensi ahistoris, yaitu tidak sejalan dengan warisan diplomasi yang lahir dari Konferensi Asia Afrika 1955.

Penilaian tersebut muncul karena beberapa prinsip utama Dasasila Bandung justru menolak dominasi kekuatan besar dalam hubungan internasional, penggunaan aliansi keamanan untuk kepentingan negara adidaya, agresi militer terhadap negara lain, dan tekanan politik maupun ekonomi terhadap negara yang lebih lemah.

Rekam jejak kebijakan geopolitik yang dikaitkan dengan kepemimpinan Donald Trump bertentangan dengan prinsip-prinsip Dasar Sila Bandung.

Karena itu, penulis dan berbagai pengamat menilai bahwa jika Indonesia tetap berada dalam orbit forum yang dipimpin kekuatan besar dengan rekam jejak geopolitik yang buruk, maka langkah tersebut dapat dipandang sebagai penyimpangan dari semangat Bandung.

Sejarah diplomasi Indonesia menunjukkan bahwa negara ini pernah memainkan peran penting sebagai pelopor solidaritas negara berkembang. Warisan Soekarno melalui Konferensi Asia Afrika (KAA) menjadikan Indonesia dihormati sebagai salah satu penggerak perdamaian dunia yang independen.

Karena itu muncul pandangan bahwa Indonesia seharusnya kembali menegaskan posisi tersebut dengan tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas aktif, yaitu aktif memperjuangkan perdamaian dunia tetapi tidak berada dalam orbit kekuatan besar manapun.

Dalam perspektif ini, mohon dengan hormat agar mempertimbangkan kembali keterlibatan dalam forum BoP. Pemimpin forum BoP tersebut terbukti tidak sejalan dengan semangat Dasasila Bandung, maka keluar dari pengaruh politik kekuatan besar di bawah kekuasaan Trump adalah langkah yang lebih konsisten dengan sejarah diplomasi Indonesia (Dasa Sila Bandung / KAA 55).

Penutup

Bandung 1955 adalah sejarah penting dunia dan simbol keberanian bangsa-bangsa yang pernah dijajah untuk berdiri sejajar di panggung dunia.

Warisan tersebut mengajarkan bahwa perdamaian tidak boleh dibangun melalui dominasi militer maupun tekanan ekonomi, tetapi melalui keadilan, kedaulatan, dan solidaritas antarbangsa.

Karena itu, ketika Indonesia menghadapi pilihan geopolitik di era modern, pertanyaan yang patut direnungkan adalah, apakah langkah-langkah diplomasi hari ini masih setia pada semangat Bandung, atau justru menjauh dari warisan yang dahulu diperjuangkan oleh para pendiri bangsa Asia dan Afrika.

Bogor, Selasa, 10 Maret 2026, 08:54 Wib.