BOGOR, MPI — Brother Eggi Sudjana (BES) kembali menyampaikan renungan dalam rubrik Mutiara Hikmah Ahad, (30/8/2026). Kali ini, BES mengangkat firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam QS. As-Sajdah ayat 5 tentang bagaimana Allah mengatur segala urusan serta perbedaan ukuran waktu menurut perhitungan manusia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يُدَبِّرُ الْاَمْرَ مِنَ السَّمَآءِ اِلَى الْاَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهٗۤ اَلْفَ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّوْنَ
“Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.”
(QS. As-Sajdah: 5)
Menurut BES, ayat tersebut menjadi pengingat bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam memahami ketetapan dan pengaturan Allah. Karena itu, manusia tidak semestinya mengukur kehendak dan pertolongan Allah hanya berdasarkan ukuran waktu yang dimiliki manusia.
Waktu Milik Allah
BES menegaskan bahwa QS. As-Sajdah ayat 5 mengajarkan manusia untuk memahami bahwa Allah adalah Zat Yang Maha Mengatur seluruh urusan.
يُدَبِّرُ الْاَمْرَ مِنَ السَّمَآءِ اِلَى الْاَرْضِ
“Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi.”
Dari ayat tersebut, BES mengajak umat untuk menyadari bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan dalam pengetahuan dan ketetapan Allah.
Memahami Perbedaan Ukuran Waktu
BES kemudian mengajukan pertanyaan, bagaimana memahami keterangan satu hari yang kadarnya seribu tahun menurut perhitungan manusia?
Menurutnya, hal tersebut tidak tepat dipahami semata-mata sebagai rumus matematika, melainkan sebagai gambaran tentang perbedaan ukuran waktu dan keterbatasan manusia dalam memahami hakikat ketetapan Allah.
BES juga mengingatkan ayat lain dalam Al-Qur’an, yakni QS. Al-Ma’arij ayat 4:
تَعْرُجُ الْمَلٰٓئِكَةُ وَالرُّوْحُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهٗ خَمْسِيْنَ اَلْفَ سَنَةٍ
“Malaikat dan Ruh naik kepada-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.”
Menurut BES, ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa ukuran waktu dalam wahyu tidak dapat begitu saja disamakan dengan pengalaman manusia sehari-hari. Hakikat Allah tidak menyerupai makhluk dan Allah tidak terikat oleh keterbatasan manusia.
Karena itu, perbandingan seperti satu hari dengan seribu tahun harus dipahami secara hati-hati dan tidak dimaksudkan untuk menyamakan atau menyerupakan Allah dengan makhluk.
Pelajaran Sabar dalam Perjuangan
BES kemudian menghubungkan pembahasan tersebut dengan kehidupan dan perjuangan manusia.
Menurutnya, manusia sering menginginkan hasil secara instan. Ketika perjuangan berlangsung bertahun-tahun tetapi hasil belum terlihat, manusia mudah merasa lelah dan menganggap perjuangannya gagal.
Padahal, menurut BES, manusia tidak mengetahui seluruh skenario yang sedang Allah atur.
Ia memberikan gambaran bahwa waktu manusia pendek, sedangkan rencana Allah jauh melampaui kemampuan manusia untuk melihat keseluruhannya.
BES juga mengingatkan kisah para nabi yang menghadapi perjalanan panjang sebelum memperoleh pertolongan Allah. Nabi Nuh AS berdakwah dalam waktu yang sangat panjang. Nabi Yusuf AS juga mengalami ujian berat sebelum akhirnya memperoleh kedudukan.
Pesannya, manusia diminta untuk tetap sabar dan tidak tergesa-gesa dalam menilai ketetapan Allah.
Semua Doa, Air Mata dan Pengorbanan Tidak Hilang
BES menekankan bahwa orang yang berdoa, berdzikir dan berjuang di jalan kebaikan tidak perlu merasa bahwa segala pengorbanannya sia-sia.
Ia mengaitkannya dengan firman Allah:
ثُمَّ يَعْرُجُ اِلَيْهِ
“Kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya.”
Menurut BES, doa, dzikir, air mata, kesabaran dan pengorbanan manusia berada dalam pengetahuan Allah. Karena itu, manusia tidak boleh berhenti hanya karena hasil yang diharapkan belum terlihat.
Tiga Pesan Praktis
BES menyampaikan tiga pelajaran praktis dari QS. As-Sajdah ayat 5.
Pertama, tenang.
Manusia harus percaya bahwa segala urusan berada dalam pengaturan Allah. Doa dan ikhtiar tidak hilang begitu saja.
Kedua, sabar.
Manusia tidak boleh mengukur ketetapan Allah hanya dengan jam dan kalender manusia. Sesuatu yang menurut manusia sangat lama belum tentu demikian dalam keseluruhan rencana Allah.
Ketiga, yakin.
Allah memegang kendali atas seluruh urusan. Tugas manusia adalah meluruskan niat, memperkuat doa dan memaksimalkan ikhtiar, sedangkan hasil akhirnya diserahkan kepada Allah.
Ilustrasi Perbandingan Waktu
Dalam narasinya, BES juga menyampaikan sebuah grafik perbandingan waktu sebagai pendekatan matematis untuk membantu manusia mendekatkan pemahaman terhadap QS. As-Sajdah ayat 5.
Dengan asumsi ilustratif bahwa 1.000 tahun manusia dibandingkan dengan satu hari, maka gambaran sederhananya adalah:
Ukuran waktu manusia
Pendekatan ilustratif :
1 hari > sekitar 2,4 menit
1 bulan > sekitar 1,2 jam
1 tahun > sekitar 8,76 jam
10 tahun > sekitar 3,6 hari
100 tahun > sekitar 36,5 hari
1.000 tahun > sekitar 1 hari
BES memberikan catatan bahwa perbandingan tersebut hanyalah pendekatan matematis untuk mendekatkan pemahaman manusia dan bukan penjelasan tentang hakikat waktu Allah.
Allah tidak dapat diserupakan dengan makhluk.
Jangan Tergesa-gesa Menilai Perjuangan
BES mengingatkan agar manusia tidak buru-buru menyimpulkan bahwa perjuangan selama bertahun-tahun adalah kegagalan.
Menurutnya, manusia hanya melihat sebagian kecil dari perjalanan, sementara Allah mengetahui keseluruhan keadaan.
Karena itu, ketika pertolongan belum datang, pertanyaan yang lebih tepat bukan hanya “Kapan Allah menolong?”, tetapi juga “Apa yang sudah kita siapkan ketika pertolongan Allah itu datang?”
Ia mencontohkan kisah Nabi Musa AS ketika menghadapi laut. Dalam kondisi yang secara manusia tampak buntu, Allah memberikan jalan dengan membelah laut.
Demikian pula Nabi Ibrahim AS yang tetap memegang tauhid ketika menghadapi ujian berat.
Pelajaran yang hendak disampaikan adalah bahwa pertolongan Allah dapat datang pada saat yang tidak mampu diprediksi manusia.
Allah Sedang Mengatur Segala Urusan
BES kembali menekankan kata يُدَبِّرُ (yudabbiru) dalam QS. As-Sajdah ayat 5 yang berarti mengatur atau menata urusan.
Menurut BES, pesan yang harus dipegang adalah bahwa Allah mengatur seluruh urusan.
Manusia tidak mengetahui kapan sebuah doa akan dikabulkan. Bisa hari ini, besok, lusa atau pada waktu yang tidak pernah diperkirakan.
Yang terpenting, kata BES, adalah dzikir tetap berjalan, doa terus dipanjatkan, ikhtiar tidak berhenti dan hati tetap tenang.
Kesimpulan :
BES mengajak umat menjadikan QS. As-Sajdah ayat 5 sebagai pengingat agar tidak mudah berputus asa ketika menghadapi perjuangan yang panjang.
Allah tidak lambat. Manusia yang memiliki keterbatasan dalam memahami waktu dan ketetapan-Nya.
Allah tidak lupa. Manusia yang harus terus mengingat Allah melalui dzikir dan doa.
Dan apa yang sedang terjadi hari ini belum tentu merupakan akhir dari seluruh perjalanan.
Karena itu, pesan yang disampaikan BES adalah:
“Jangan bilang lama. Bilang Allah sedang mempersiapkan yang terbaik.”
Sebagai penutup, BES mengingatkan doa:
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
Hasbunallah wa ni’mal wakil.
“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami.”
BES menegaskan kembali satu kalimat yang menjadi inti renungan:
يُدَبِّرُ الْاَمْرَ
“Allah yang mengatur segala urusan.”
Tugas manusia adalah dzikir berjalan, doa terus dipanjatkan, ikhtiar tetap dilakukan dan hati diserahkan kepada Allah.
“Mana tahu kapan Allah kabulkan doa-doa kita bagi yang beriman kepada-Nya. Mungkin hari ini, besok atau lusa. Tidak ada yang bisa memprediksikan.”
Salam Jihad, Brother Eggi Sudjana ( BES )




