Mutiara Hikmah: BES Ajak Umat Introspeksi Diri Lewat Doa Sulaiman dan 5 Penyakit Hati

BOGOR | MATA PENA INDONESIA –Prof Dr Eggi Sudjana, SH., M.Si atau dengan panggilan Brother Eggi Sudjana (BES) kembali menyampaikan pesan keagamaan melalui Mutiara Hikmah Senin, 26 Oktober 2026. Kali ini, BES mengangkat QS. An-Naml ayat 19 tentang doa Nabi Sulaiman AS setelah tersenyum dan tertawa mendengar perkataan seekor semut.

Dalam kajian tersebut, BES mengajak umat Islam bercermin terhadap lima sifat yang dinisbatkan kepada Sayidina Ali bin Abi Thalib dan dijelaskan dalam kitab Nasoihul Ibad, yakni ridho dengan kebodohan, terlalu memikirkan dunia, bakhil atau pelit, riya, serta ujub atau merasa lebih hebat daripada orang lain.

BES mengingatkan bahwa menjadi hamba Allah yang saleh bukan sekadar persoalan banyaknya amal, melainkan juga menyangkut keikhlasan, rasa syukur, kerendahan hati, dan rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

QS. An-Naml Ayat 19: Doa Nabi Sulaiman AS

Bismillah, BES menyampaikan Mutiara Hikmah Senin, 26 Oktober 2026, dengan mengutip firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِيْۤ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْۤ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰٮهُ وَاَدْخِلْنِيْ بِرَحْمَتِكَ فِيْ عِبَادِكَ الصّٰلِحِيْنَ

Artinya:

“Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, ‘Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.’”

(QS. An-Naml [27]: 19).

BES menjelaskan bahwa untuk masuk dalam kategori orang saleh, seseorang harus terbebas dari lima sifat:

Ridho dengan kebodohan.

Terlalu memikirkan dunia.

Bakhil, merki, pedit, atau pelit.

Riya, yakni beramal karena manusia dan tidak ikhlas karena Allah.

Ujub, yakni merasa lebih hebat daripada orang lain atau sombong.

Menurut BES, lima sifat tersebut bersumber dari ucapan Sayidina Ali bin Abi Thalib yang dijelaskan dalam kitab Nasoihul Ibad.

“Tentu banyak lagi pendapat lain mengenai kategori orang-orang yang saleh, tapi pertanyaan sederhananya, apakah kita yang beriman dan berusaha takwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala sudah bercermin dengan lima hal yang diucapkan Sayidina Ali tersebut?” demikian pertanyaan reflektif yang disampaikan BES.

Jawaban Sederhana: Doa Sulaiman dan Jalan Menuju Hamba yang Saleh

BES kemudian merangkum pesan QS. An-Naml ayat 19 melalui rangkaian kalimat berikut:

QS. An-Naml 19 – Fatabassama Dhahikan Min Qauliha – Senyum Sulaiman Mendengar Semut – Doa Saleh – Rabbi Auzi’ni An Asykura Ni’matakallati An’amta Alayya Wa Ala Walidayya Wa An A’mala Shalihan Tardhahu Wa Adkhilni Birahmatika Fi Ibadikas Shalihin – Harus Terbebas dari Lima Sifat – Nasoihul Ibad – Sayidina Ali bin Abi Thalib.

BES menyebut Senin, 26 Oktober 2026, sebagai hari yang mengangkat doa seorang raja, bukan doa rakyat biasa.

“Senin hari ini 26 Oktober 2026 – hari Senin hari kelahiran Nabi Muhammad SAW – hari ini BES ajar doa raja – bukan doa rakyat biasa – Doa Sulaiman – Raja yang tersenyum karena semut,” tulis BES.

Kilas Balik Mutiara Hikmah Sepekan

BES juga menghubungkan materi hari ini dengan rangkaian Mutiara Hikmah sebelumnya.

Senin 20: Qarn Ihlak Qarn Akharin.

Selasa: Rum Ghulibat Sayaghlibun Bid’i Sinin.

Rabu: Ata Amrullah Fala Tasta’jiluh Fitnah 100M.

Kamis: Tahu Diri Tahu Batas Ruj’a Wudi’al Kitab.

Jumat: Ya Dawud Khalifah Fahkum Bil Haqqi Wa Ma Khalaqna Batila Hikmah Iblis.

Sabtu: Inna Fatahna Laka Fathan Mubina Sakinah Junud Samawat Wal Ard.

Ahad: Kalimatun Sawa Prinsip Jelas Persepsi Kesadaran Pentaatan Jangan Taqlid Nenek Moyang Tabarra.

BES kemudian menegaskan tema hari ini:

“Senin hari ini 26: FATABASSAMA DHAHIKAN MIN QAULIHA – puncak semua minggu – cara masuk Ibadikas Shalihin.”

Doa Nabi Sulaiman yang Tersenyum karena Semut: Tiga Permintaan untuk Menjadi Saleh

BES kembali mengutip QS. An-Naml ayat 19 sebagai inti pembahasan.

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

Artinya:

“Maka dia Sulaiman tersenyum lalu tertawa karena mendengar perkataan semut itu. Dan dia berdoa, ‘Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.’”

Bayangkan: Sulaiman memiliki kerajaan yang tidak ada tandingannya. Angin tunduk, jin tunduk, manusia tunduk, tentara langit dan bumi tunduk. Hal ini mengingatkan pada Al-Fath ayat 4 yang dibahas pada Sabtu sebelumnya: Wa Lillahi Junudus Samawati Wal Ard.

Baca juga:  Ikhtiar Hukum dan Langkah Eggi Sudjana Bertemu Jokowi

Sulaiman memiliki semua Junud, tetapi dia justru Fatabassama Dhahikan Min Qauliha – tersenyum dan tertawa karena perkataan seekor semut kecil.

Semut itu berkata:

Ya Ayyuhan Namlu Udkhulu Masakinakum La Yahthimannakum Sulaimanu Wa Junuduhu Wa Hum La Yasy’urun.

Artinya, “Wahai semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.”

Sulaiman mendengar semut yang khawatir terinjak. Sulaiman tidak marah dan tidak sombong. Dia justru tersenyum, tertawa, lalu langsung berdoa dengan tiga lapisan permohonan untuk masuk ke dalam golongan Ibadikas Shalihin.

1. Rabbi Auzi’ni An Asykura Ni’matakallati An’amta Alayya Wa Ala Walidayya

Artinya, “Anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku.”

Syukur bukan hanya ucapan lisan. Auzi’ni dimaknai dalam uraian BES sebagai ilhamkan, tahan, jaga, dan kumpulkan agar seseorang selalu bersyukur.

Sulaiman adalah raja yang memiliki nikmat sangat banyak, tetapi tetap meminta agar dirinya diberi ilham untuk bersyukur. Sebab, banyak raja yang lupa bersyukur, sebagaimana gambaran Generasi Emas Zhahiran Minal Hayatid Dunya Ghafilun Anil Akhirah yang dibahas pada Selasa sebelumnya.

BES juga menyoroti kalimat Wa Ala Walidayya, yakni kepada kedua orang tuaku. Sulaiman mengingat Nabi Daud, ayahnya, sebagaimana pembahasan Jumat sebelumnya: Ya Dawud Khalifatan Fil Ardi Fahkum Bil Haqqi. Nabi Daud adalah khalifah yang adil, dan Sulaiman bersyukur atas nikmat Allah, termasuk melalui ayahnya.

2. Wa An A’mala Shalihan Tardhahu

Artinya, “Agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai.”

BES menekankan bahwa permohonan tersebut bukan sekadar agar dapat melakukan amal saleh, tetapi Shalihan Tardhahu, yaitu kebajikan yang diridai Allah.

Menurut uraian BES, ada amal yang terlihat baik, tetapi tidak diridai karena tercampur riya, ujub, dan sifat bakhil. Hal ini berkaitan dengan lima sifat yang dibahas melalui ucapan Sayidina Ali.

3. Wa Adkhilni Birahmatika Fi Ibadikas Shalihin

Artinya, “Masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.”

Inilah puncaknya, menurut BES: Bi Rahmatika, yakni dengan rahmat-Mu, bukan semata-mata dengan amal-Mu.

Sulaiman adalah raja yang memiliki kekuasaan besar, tetapi tetap memohon agar dimasukkan ke dalam golongan orang saleh melalui rahmat Allah. Dalam penjelasan BES, hal itu menunjukkan kesadaran bahwa amal saja tidak boleh membuat seseorang merasa pasti menjadi saleh tanpa mengharapkan rahmat Allah.

BES menghubungkan pesan ini dengan pembahasan Jumat sebelumnya: Ya Dawud Khalifah Fahkum Bil Haqqi. Daud, ayah Sulaiman, adalah khalifah yang adil. Sulaiman, anaknya, justru memohon agar dimasukkan ke dalam golongan Ibadikas Shalihin.

Artinya, menjadi khalifah saja belum cukup. Seseorang juga harus berusaha menjadi saleh dan melepaskan diri dari lima sifat yang menghalangi.

Lima Sifat yang Harus Dihindari untuk Masuk Kategori Saleh

BES kembali mengangkat lima sifat yang disebut bersumber dari ucapan Sayidina Ali bin Abi Thalib dalam kitab Nasoihul Ibad. Lima sifat tersebut menjadi bahan introspeksi untuk menjawab pertanyaan: apakah kita sudah bercermin dengan jujur?

Sifat Pertama: Ridho dengan Kebodohan – Ridho Bil Jahl

Ridho dengan kebodohan berarti merasa cukup dengan ketidaktahuan, tidak mau belajar, serta tidak mau memahami prinsip tahu diri dan tahu batas.

BES menghubungkannya dengan QS. Al-Baqarah ayat 170 yang dibahas pada Ahad sebelumnya:

Awa Lau Kana Aba’uhum La Ya’qiluna Syai’a Wa La Yahtadun.

Artinya, sekalipun nenek moyang mereka tidak mengetahui sesuatu dan tidak mendapat petunjuk, mereka tetap mengikutinya. Dalam uraian BES, sikap tersebut menjadi gambaran Ridho Bil Jahl.

Cermin untuk kita: Apakah kita ridho dengan kebodohan?

Generasi Emas yang Ghafilun Anil Akhirah pada Selasa sebelumnya, yakni lalai terhadap akhirat dan hanya mengetahui sisi lahir kehidupan dunia.

Buzzer fitnah 100M yang menyebarkan informasi tanpa fakta, data, dan saksi, serta tidak mau melakukan tabayun.

Kita yang tidak mau membaca Mutiara Hikmah Senin sampai Ahad dan hanya menggulir layar tanpa mengambil pelajaran.

BES menggambarkan Sulaiman sebagai sosok yang tidak ridho dengan kebodohan. Dia mau mendengar perkataan semut kecil, tersenyum, dan mengambil pelajaran, meskipun dirinya seorang raja yang sangat berkuasa.

Untuk masuk kategori saleh, menurut BES, seseorang harus bebas dari Ridho Bil Jahl. Dia harus memohon An Asykura, yakni ilham untuk bersyukur dengan ilmu dan pengetahuan.

Sifat Kedua: Terlalu Memikirkan Dunia – Hubbud Dunya dan Thulul Amal

Terlalu memikirkan dunia digambarkan melalui QS. Ar-Rum ayat 7:

Zhahiran Minal Hayatid Dunya Ghafilun Anil Akhirah.

Artinya, hanya memperhatikan sisi lahir kehidupan dunia dan lalai terhadap akhirat.

Baca juga:  Pembentukan Provinsi Kepulauan Nias Semakin Progres, Juli E. Restu War: Momentum Positif Harus Dijaga

Cermin untuk kita:

Generasi Emas 2045 yang hanya memikirkan hilirisasi, IKN, dan PDB tanpa mengingat Hisab Yaumal Hisab sebagaimana pembahasan Sad ayat 26 pada Jumat sebelumnya.

Pemfitnah 100M yang berpikir bahwa uang 100M bisa membeli kebenaran.

Kita yang ketika salat masih memikirkan proyek, jabatan, Gibran, Jokowi, pemakzulan, dan pengadilan, tetapi melupakan Wudi’al Kitab pada Kamis sebelumnya: La Yughadiru Shaghiratan Wa La Kabiratan Illa Ahsaha.

Sulaiman memiliki dunia yang sangat besar dan kerajaan yang tidak tertandingi. Namun, menurut BES, dia tidak menjadikan kekayaan sebagai tujuan utama. Buktinya, dia justru berdoa:

Wa Adkhilni Birahmatika Fi Ibadikas Shalihin.

Dia memohon agar dimasukkan ke dalam golongan orang saleh, bukan sekadar ke dalam golongan raja yang kaya.

Pesan BES: Dunia letakkan di tangan, bukan di hati, biar tidak sakit hati bila hilang dan lain-lain.

Untuk menjadi orang saleh, seseorang harus berusaha melepaskan diri dari Hubbud Dunya dan memohon Wa An A’mala Shalihan Tardhahu, yaitu amal yang diridai Allah, bukan sekadar amal yang diridai dunia.

Sifat Ketiga: Bakhil, Merki, Pedit, atau Pelit – Bukhl

BES menjelaskan bahwa bakhil merupakan kebalikan dari sikap yang tercermin dalam doa Sulaiman, Auzi’ni An Asykura. Syukur, dalam uraian tersebut, juga berkaitan dengan kesediaan untuk berbagi.

Cermin untuk kita:

Generasi Emas yang bakhil ilmu, tidak mau membagikan kebenaran, tetapi hanya membagikan hoaks dan fitnah 100M.

Ahli Kitab dalam pembahasan Ahad sebelumnya, Waddat Thaifatun Min Ahlil Kitab Lau Yudillunakum, yang dalam uraian BES menggambarkan keinginan menyesatkan dan tidak membagikan petunjuk. Hal itu disebut sebagai bakhil terhadap hidayah.

Kita yang memiliki rezeki, tetapi pelit dan tidak mau membantu TPUA, KORLABI, PPMI, HMI MPO sejak 1986 hingga sekarang, serta tidak mau membantu perjuangan Palestina.

BES menggambarkan Sulaiman sebagai sosok yang tidak bakhil. Dia mendengar semut yang meminta agar tidak terinjak, tersenyum, dan menjaga agar bala tentaranya tidak menginjak semut. Sikap tersebut menjadi gambaran kasih sayang dan rahmat, bahkan kepada makhluk kecil.

Untuk menjadi saleh, seseorang harus berusaha bebas dari sifat bakhil dan memohon Birahmatika, yakni rahmat Allah. Dalam uraian BES, rahmat berkaitan dengan kasih sayang dan kesediaan untuk berbagi.

Sifat Keempat: Riya – Beramal karena Manusia dan Tidak Ikhlas karena Allah

Riya berlawanan dengan Wa An A’mala Shalihan Tardhahu, yakni beramal dengan mengharapkan keridaan Allah, bukan semata-mata keridaan manusia.

Cermin untuk kita:

Generasi Emas yang membangun IKN bukan karena mengharapkan keridaan Allah, tetapi hanya karena ingin dilihat manusia.

Buzzer fitnah 100M yang menyebarkan informasi bukan karena Allah, melainkan karena dibayar manusia.

Kita yang salat tahajud lalu memperbarui status, bersedekah sambil berfoto-foto, atau membaca Mutiara Hikmah hanya karena ingin dipuji BES.

BES menggambarkan Sulaiman sebagai sosok yang tidak menjadikan pujian manusia sebagai tujuan. Dalam doanya, Sulaiman memohon:

Wa An A’mala Shalihan Tardhahu.

Artinya, agar dapat mengerjakan kebajikan yang Allah ridai, bukan semata-mata yang diridai manusia.

Padahal, Sulaiman adalah seorang raja yang bisa saja memamerkan kerajaannya. Namun, dia justru memohon agar amalnya diridai Allah.

Untuk masuk kategori saleh, seseorang harus berusaha bebas dari riya dan mengutamakan Tardhahu, yaitu apa yang Allah ridai, bukan sekadar apa yang dilihat manusia.

Sifat Kelima: Ujub – Merasa Lebih Hebat daripada Orang Lain atau Sombong

BES menjelaskan bahwa ujub berlawanan dengan sikap Sulaiman dalam kalimat Fatabassama Dhahikan Min Qauliha, yakni tersenyum dan tertawa karena mendengar perkataan semut.

Sulaiman adalah raja yang sangat berkuasa, tetapi tetap mau mendengar semut kecil, yang dalam uraian BES juga menjadi perumpamaan bagi orang-orang kecil. Sikap itu digambarkan sebagai kebalikan dari ujub.

BES menghubungkan ujub dengan pembahasan tentang Iblis pada Jumat sebelumnya. Iblis disebut beriman, tetapi menjadi sombong melalui ucapan:

Ana Khairun Minhu.

Artinya, “Saya lebih baik daripada Adam.”

Menurut uraian BES, sikap merasa lebih baik tersebut merupakan ujub dan kesombongan yang membuat seseorang melupakan Yaumal Hisab dan berhadapan dengan akibat perbuatannya.

Cermin paling tajam untuk menjawab pertanyaan BES: apakah kita sudah bercermin dengan lima hal yang diucapkan Sayidina Ali?

Apakah kita merasa lebih hebat daripada orang lain atau sombong?

Generasi Emas yang ujub karena merasa lebih hebat dengan kenaikan PDB, padahal Ghafilun Anil Akhirah.

Buzzer 100M yang merasa lebih hebat karena dapat menyebarkan fitnah tanpa bukti, padahal La Ya’qiluna Syai’a.

Ahli Kitab dalam pembahasan Ahad sebelumnya yang merasa lebih hebat karena menganggap diri sebagai keturunan Ibrahim, padahal Ibrahim adalah Hanifan Muslima, bukan Yahudi atau Nasrani, sebagaimana QS. Ali ‘Imran ayat 67.

Baca juga:  Prof Eggi Sudjana: Islam Adalah Agama yang Benar di Sisi Allah

Kita yang membaca Mutiara Hikmah Senin sampai Ahad, tetapi merasa lebih hebat daripada mereka yang tidak membacanya. Padahal, Sulaiman yang lebih hebat daripada manusia lainnya tetap tersenyum saat mendengar semut.

Sulaiman digambarkan memiliki Junud Samawat Wal Ard, yakni tentara langit dan bumi, sebagaimana pembahasan Al-Fath ayat 4 pada Sabtu sebelumnya. Namun, dia tetap Fatabassama Dhahikan, tersenyum dan tertawa, serta bersikap tawadhu dengan mendengarkan semut.

Untuk menjadi saleh, seseorang harus berusaha bebas dari ujub dan memohon:

Wa Adkhilni Birahmatika Fi Ibadikas Shalihin.

Artinya, masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh. Bukan karena kehebatanku, melainkan karena rahmat-Mu. Bukan semata-mata karena amalku, melainkan karena rahmat Allah.

Dalam uraian BES, Sulaiman menyadari bahwa bukan kehebatannya yang menjadi alasan untuk merasa pasti masuk ke dalam golongan orang saleh, melainkan rahmat Allah yang selalu harus dimohonkan.

Jawaban Cermin: Apakah Kita Sudah Bercermin dengan Lima Sifat Sayidina Ali?

BES kemudian mengajukan kembali pertanyaan mendasar:

Apakah kita yang beriman dan berusaha takwa sudah bercermin dengan lima hal yang diucapkan Sayidina Ali?

Jawaban yang disampaikan BES adalah:

“Belum – kalau jujur – masih ada lima itu – mari cermin hari ini Senin – hari kelahiran Nabi Muhammad SAW – dengan tiga doa Sulaiman.”

Cermin 1 – Ridho dengan Kebodohan

Apakah kita masih Ridho Bil Jahl, masih mengikuti nenek moyang tanpa berpikir sebagaimana La Ya’qiluna pada Ahad sebelumnya, tidak mau membaca Mutiara Hikmah Senin sampai Ahad, tidak mau mengetahui fakta, data, dan saksi terkait fitnah 100M, serta masih lalai?

Jika ya, menurut BES, kita belum saleh dan harus memohon Auzi’ni An Asykura, yakni meminta ilham untuk bersyukur dengan ilmu.

Cermin 2 – Terlalu Memikirkan Dunia

Apakah kita masih Zhahiran Minal Hayatid Dunya pada Selasa sebelumnya, terus memikirkan dunia, melupakan Ruj’a pada Kamis, Hisab pada Jumat, Sakinah pada Sabtu, dan Kalimah Sawa pada Ahad?

Jika ya, kita harus memohon Wa An A’mala Shalihan Tardhahu, yakni agar dapat melakukan amal yang diridai Allah, bukan semata-mata mengejar dunia.

Cermin 3 – Bakhil

Apakah kita masih bakhil, tidak mau berbagi ilmu, rezeki, dan kasih sayang sebagaimana Sulaiman menjaga semut? Apakah kita masih bakhil terhadap hidayah sebagaimana pembahasan Waddat Thaifatun Lau Yudillunakum pada Ahad sebelumnya?

Jika ya, kita harus memohon Birahmatika, sebab rahmat berkaitan dengan kasih sayang dan kesediaan berbagi.

Cermin 4 – Riya

Apakah kita masih beramal karena manusia, ingin dipuji manusia, dan tidak mengutamakan Tardhahu, yakni keridaan Allah, sebagaimana gambaran Generasi Emas yang membangun karena ingin dilihat manusia?

Jika ya, kita harus kembali mengingat Tardhahu, yaitu mengerjakan kebajikan yang diridai Allah.

Cermin 5 – Ujub dan Sombong

Apakah kita masih merasa lebih hebat daripada orang lain, seperti Iblis dengan ucapan Ana Khairun Minhu pada Jumat sebelumnya, seperti Ahli Kitab yang merasa dekat dengan Ibrahim karena nasab pada Ahad sebelumnya, atau seperti Generasi Emas yang merasa hebat karena PDB?

Jika ya, kita harus belajar dari Fatabassama Dhahikan Min Qauliha: tersenyum dengan tawadhu saat mendengar semut kecil.

Kita juga harus memohon Wa Adkhilni Birahmatika, agar dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba Allah yang saleh dengan rahmat-Nya, bukan karena merasa hebat.

Doa Sulaiman pada Senin, 26 Oktober 2026

BES mengajak umat Islam, bertepatan dengan Senin yang disebutnya sebagai hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, untuk berdoa seperti Nabi Sulaiman AS.

Rabbi Auzi’ni An Asykura Ni’matakallati An’amta Alayya Wa Ala Walidayya Wa An A’mala Shalihan Tardhahu Wa Adkhilni Birahmatika Fi Ibadikas Shalihin.

Artinya:

“Ya Tuhanku, ilhamkan aku untuk tetap bersyukur atas nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, agar aku beramal saleh yang Engkau ridai dan masukkan aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.”

BES menegaskan bahwa seseorang harus berusaha membebaskan diri dari lima sifat yang dibahas melalui ucapan Sayidina Ali, yaitu Ridho Jahl, Hubbud Dunya, Bakhil, Riya, dan Ujub.

Dengan demikian, seseorang dapat terus berusaha menuju golongan Ibadikas Shalihin, bukan dengan membanggakan amalnya, melainkan dengan mengharapkan rahmat Allah, sebagaimana Sulaiman, raja yang sangat berkuasa, tetap memohon rahmat-Nya.

“Tentu banyak lagi pendapat lain mengenai kategori orang saleh – seperti BES tulis – tapi lima ini dari Nasoihul Ibad Sayidina Ali adalah kaca paling jujur untuk bercermin – Senin, 26 Oktober 2026 – hari ini.”

Wallahu A’lam.

Salam Jihad dan Sabar.

Brother Eggi Sudjana (BES)

Latest

Newsletter

Don't miss

Kader PSI Bogor Raya Membludak di Rakorda, Jokowi dan Kaesang Disambut Antusias di Sentul

MATA PENA INDONESIA | BOGOR — Kader Partai Solidaritas...

Mutiara Hikmah BES: Jangan Taklid Buta! Eggi Sudjana Ungkap 7 Penyebab Manusia Sesat tetapi Tidak Menyadarinya

MATA PENA INDONESIA | BOGOR — BISMILLAH. Brother Eggi Sudjana...

Kapolres Bogor Berganti, AKBP Arfan Zulkan Sipayung Disambut Tradisi Pedang Pora

MATA PENA INDONESIA | CIBINONG — Polres Bogor menggelar upacara...

Kader PSI Bogor Raya Membludak di Rakorda, Jokowi dan Kaesang Disambut Antusias di Sentul

MATA PENA INDONESIA | BOGOR — Kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Bogor Raya memadati kegiatan Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) PSI yang digelar di Sentul...

Mutiara Hikmah BES: Jangan Taklid Buta! Eggi Sudjana Ungkap 7 Penyebab Manusia Sesat tetapi Tidak Menyadarinya

MATA PENA INDONESIA | BOGOR — BISMILLAH. Brother Eggi Sudjana (BES) kembali menyampaikan pesan keagamaan melalui Mutiara Hikmah edisi Ahad, 25 Oktober 2026. Kali ini,...

Mutiara Hikmah BES: “Sakinah Dulu, Baru Kemenangan!” Prof. Eggi Sudjana Ungkap Logika Qur’an di Balik Fathan Mubina

MATA PENA INDONESIA | BOGOR — Prof, Eggi Sudjana, SH., M.Si atau yg sering di panggil Brother Eggi Sudjana (BES), dalam Mutiara Hikmah Sabtu,...