MATA PENA INDONESIA | BOGOR — BISMILLAH. Mutiara Hikmah Jumat, 23 Oktober 2026, yang disampaikan oleh Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si., atau Brother Eggi Sudjana (BES), mengangkat pembahasan tentang konsep kepemimpinan yang adil, larangan mengikuti hawa nafsu, serta hikmah di balik penciptaan seluruh makhluk Allah Subhanahu Wa Ta’ala, termasuk Iblis.
Dalam Mutiara Hikmah bertema “Allah Angkat Manusia Menjadi Khalifah, Maka Berhukumlah dengan Haq”, BES menguraikan kandungan Surah Sad ayat 26–27 sebagai kelanjutan pembahasan Mutiara Hikmah Kamis, 22 Oktober 2026, mengenai Tahu Diri dan Tahu Batas.
Pembahasan tersebut kemudian dikembangkan dengan pertanyaan reflektif mengenai penciptaan Iblis, perbedaan antara kebenaran dan kebatilan, serta pelajaran yang dapat dipetik manusia dalam menjalankan amanah sebagai khalifah di bumi.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala Berfirman dalam QS Sad Ayat 26
يٰدَاوٗدُ اِنَّا جَعَلْنٰكَ خَلِيْفَةً فِى الْاَ رْضِ فَا حْكُمْ بَيْنَ النَّا سِ بِا لْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوٰى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَضِلُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ لَهُمْ عَذَا بٌ شَدِيْدٌ بِۢمَا نَسُوْا يَوْمَ الْحِسَا بِ
“(Allah berfirman), ‘Wahai Daud! Sesungguhnya engkau Kami jadikan khalifah (penguasa) di bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sungguh, orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari Perhitungan.’”
(QS. Sad 38: Ayat 26).
QS Sad Ayat 27: Tidak Ada Ciptaan Allah yang Sia-Sia
وَمَا خَلَقْنَا السَّمَآءَ وَا لْاَ رْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَا طِلًا ۗ ذٰلِكَ ظَنُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ۚ فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنَ النَّا رِ
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.”
(QS. Sad 38: Ayat 27).
BES menjelaskan bahwa konsep ajaran Islam sangat sempurna. Setelah memahami TAHU DIRI dan TAHU BATAS dalam penjabaran Mutiara Hikmah Kamis, 22 Oktober 2026, kini manusia diajarkan mengenai konsep PENGUASA HARUS BERLAKU ADIL dan MENGERTI SEGALA SESUATU YANG ALLAH CIPTAKAN TIDAK ADA YANG SIA-SIA.
Menurut BES, contoh ekstremnya adalah penciptaan Iblis. Konsekuensi logisnya, manusia mesti memahami dan berterima kasih kepada Allah karena telah menciptakan Iblis.
Sebab, menurut penjelasan BES, karena godaan Iblis, nenek moyang manusia, Nabi Adam dan ibunda manusia, Siti Hawa, keluar dari surga-Nya hingga melahirkan keturunan secara turun-temurun sampai kepada keluarga manusia saat ini.
Jika tidak demikian, manusia tidak mengenal arti kejahatan dan kebaikan, serta tidak mampu memahami konsep adil atau tidak adil karena tidak mengetahui konsep comparative-nya.
BES kemudian menguraikan sisi lain dari Iblis yang dapat dipetik sebagai pelajaran agar manusia memahami mengapa Allah menyatakan bahwa tidak ada ciptaan-Nya yang sia-sia.
Lima hal yang disoroti BES dari Iblis
Iblis beriman kepada ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA dan MENGAKUI ALLAH itu TUHAN-nya.
Iblis dahsyat karena dalam berjuang menggoda manusia, si Iblis PANTANG MENYERAH.
Iblis bersifat ISTIQOMAH dalam pekerjaannya meskipun sadar ujungnya si Iblis menjadi penghuni neraka.
Iblis HANYA TAKUT kepada ALLAH.
Iblis dalam tim kerjanya KOMPAK/SOLID. Di antara para Iblis itu saling membantu dan tolong-menolong dalam menjerumuskan manusia pada kesesatan melalui KEINGINAN manusia itu sendiri dan MEMBISIKKAN FIKIRAN JAHAT kepada manusia yang digodanya.
BES merujuk pada Al-Qur’an Surah Al-Hajj ayat 52 serta Surah Taha ayat 120 dan 121.
BES kemudian mengajukan pertanyaan reflektif:
“Bagaimana kiranya, adakah pendapat lain?”
Jawabannya dirumuskan dalam kalimat:
“Q.S. SAD 26–27 — KHALIFAH HARUS ADIL — WA MA KHALAQNAS SAMA’A WAL ARDA BATILA — TIDAK ADA CIPTAAN SIA-SIA — TERMASUK IBLIS — ADA PENDAPAT LAIN?”
Mutiara Hikmah Jumat: Setelah Tahu Diri dan Tahu Batas, Allah Mengangkat Manusia Menjadi Khalifah
BES menjelaskan bahwa Mutiara Hikmah Jumat, 23 Oktober 2026, bertepatan dengan Sayyidul Ayyam, yakni hari Jumat.
Pembahasan tersebut merupakan kelanjutan dari Mutiara Hikmah Kamis sebelumnya.
Kamis kemarin:
Tahu Diri dan Tahu Batas — Inna Ila Rabbikar Ruj’a — Wudi’al Kitab — Mitsqala Dzarrah — Mil’ul Ardi Dzahaban — Fa Aynama Tuwallu.
Jumat hari ini:
Setelah Tahu Diri Tahu Batas, Allah angkat jadi Khalifah — Ya Dawud Inna Ja’alnaka Khalifatan Fil Ardi Fahkum Bainan Nasi Bil Haqqi — maka berhukumlah dengan Haq — jangan ikut Hawa — karena Hawa Yudillaka An Sabilillah — menyesatkan dari jalan Allah — karena Nasu Yaumal Hisab — lupa Hari Perhitungan.
Selanjutnya, ayat 27 menjadi penegasan:
Wa Ma Khalaqnas Sama’a Wal Arda Wa Ma Bainahuma Batila.
Artinya, Allah tidak menciptakan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia.
Dzalika Zhannulladzina Kafaru Fawailul Lilladzina Kafaru Minan Nar.
Artinya, itu merupakan anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir karena akan masuk neraka.
BES menegaskan bahwa kedua ayat tersebut memiliki kesinambungan makna yang sempurna.
Mengapa seorang khalifah harus berlaku adil? Karena seluruh ciptaan tidak batil, tidak sia-sia, memiliki haq di baliknya, dan terdapat Hari Hisab.
Jika ciptaan Allah batil, menurut uraian tersebut, tidak perlu ada keadilan. Namun, karena ciptaan Allah memiliki haq, seorang khalifah wajib Fahkum Bil Haqqi, yakni memutuskan perkara dengan kebenaran.
Jawaban BES yang Ekstrem tentang Iblis: Ada Benarnya, tetapi Perlu Tafsir
Dalam pembahasannya, BES menyampaikan:
“Contoh Ekstrem Diciptakan Iblis, konsekuensi logis kita mesti paham dan terima kasih pada Allah dengan Dia ciptakan Iblis, karena godaan Iblis-lah Adam Hawa keluar Surga hingga lahir keturunan sampai keluarga kita, jika tidak kita tak mengenal arti kejahatan kebaikan tak mampu berbuat Adil atau tidak karena tak tahu konsep comparative-nya.”
Penulis memberikan penjelasan bahwa pandangan tersebut dinilai benar dari sisi hikmah, bukan dari sisi zat Iblis.
Ulama besar Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, dalam kitab Syifa’ul Alil dan Ighatsatul Lahfan, membahas panjang mengenai pertanyaan mengapa Allah menciptakan Iblis.
Jawaban yang diuraikan dalam tulisan ini sejalan dengan pemikiran BES, yakni agar terdapat perbandingan antara haq dan batil serta agar seorang khalifah dapat belajar membedakan keadilan dan hawa nafsu.
Hikmah penciptaan Iblis menurut Ahlus Sunnah
1. Liyabluwa — Untuk ujian
Seorang khalifah diuji apakah mampu Fahkum Bil Haqqi atau justru Ittaba’al Hawa.
Tanpa Iblis, tidak ada ujian hawa nafsu. QS. Sad ayat 26 menyebutkan:
Wa La Tattabi’il Hawa Fayudillaka An Sabilillah.
Artinya, jangan mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan dari jalan Allah.
Dalam penjabaran penulis, hawa nafsu merupakan kendaraan Iblis. Jika tidak ada Iblis, ayat ini tidak memiliki makna yang sama dalam konteks ujian tersebut.
Karena itu, Iblis diciptakan agar Khalifah Daud dan BES diuji: mau mengikuti haq atau hawa?
2. Agar manusia tahu diri dan tahu batas — sebagaimana pembahasan Kamis kemarin
Adam ketika berada di surga belum mengetahui arti kesalahan. Setelah digoda Iblis, sebagaimana dirujuk dalam Surah Taha ayat 120–121, terjadi peristiwa yang digambarkan melalui kalimat:
Fawaswasa Ilaihis Syaitanu… Fa Akala Minha… Fa Badat Lahuma Saw’atuhuma.
Artinya, setan membisikkan godaan kepadanya, kemudian keduanya memakan buah dari pohon tersebut sehingga tampaklah aurat mereka.
Dari peristiwa tersebut, Adam mengetahui bahwa dirinya dapat melakukan kesalahan dan membutuhkan ampunan.
Kemudian Adam bertobat dengan doa:
Rabbana Zhalamna Anfusana.
Tanpa Iblis, menurut penjabaran ini, Adam tidak akan mengucapkan Rabbana Zhalamna dan tidak akan mengenal dirinya melalui pengalaman tersebut.
Penulis menyimpulkan bahwa keluarnya Adam dan Hawa dari surga karena Iblis merupakan skenario Allah agar lahir keturunan yang mengenal tobat, keadilan, dan hisab, bukan agar manusia tetap berada di surga tanpa mengenal perbandingan antara kejahatan dan kebaikan.
3. Wa Ma Khalaqna Batila — Tidak sia-sia
Bahkan Iblis pun tidak batil dalam hikmah penciptaannya, tetapi batil dalam zatnya dan akan masuk Nar, sebagaimana dijelaskan melalui kalimat Dzalika Zhannulladzina Kafaru.
Orang kafir menyangka bahwa ciptaan Allah batil atau sia-sia. Padahal, menurut penjabaran tersebut, Iblis diciptakan dengan haq untuk menunjukkan akibat dari Nasu Yaumal Hisab, yakni melupakan Hari Perhitungan.
QS. Sad ayat 26 menyatakan:
Innal Ladzina Yadilluna An Sabilillah Lahum Adzabun Syadid Bima Nasu Yaumal Hisab.
Artinya, orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat karena mereka melupakan Hari Perhitungan.
Iblis kemudian dijadikan contoh dalam uraian tersebut mengenai Nasu Yaumal Hisab, yaitu melupakan hisab yang berujung pada azab yang berat.
Lima Pelajaran dari Iblis Versi BES: Tafsir dan Pendapat Lain yang Meluruskan
BES menuliskan lima sifat Iblis yang dapat dipetik sebagai pelajaran. Penulis menilai uraian tersebut tajam, tetapi perlu diluruskan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman karena menyangkut persoalan yang sensitif.
1. Iblis beriman kepada Allah dan mengakui Allah sebagai Tuhannya
Pernyataan ini dinilai benar dalam arti Iblis mengakui keberadaan dan kekuasaan Allah, tetapi pengakuan tersebut tidak membuatnya taat kepada Allah.
Iblis dikutuk karena pembangkangannya.
Dalam tulisan ini dikutip:
Qala Rabbi Fa Anzhirni Ila Yaumi Yub’atsun.
Iblis berkata, “Ya Rabbi, tangguhkanlah aku sampai hari mereka dibangkitkan.”
(Sad ayat 79).
Iblis juga berkata:
Qala Fabi’izzatika La Ughwiyannahum Ajma’in.
Artinya, “Demi keagungan-Mu, aku pasti akan menyesatkan mereka semuanya.”
(Sad ayat 82).
Kedua kutipan tersebut digunakan untuk menunjukkan bahwa Iblis mengakui Allah sebagai Rabb dan mengakui keagungan-Nya.
Namun, para ulama menjelaskan bahwa pengakuan Iblis merupakan Iman Ma’rifah saja, yaitu mengetahui bahwa Allah ada, tetapi bukan Iman Tashdiq wa Amal, yakni keimanan yang disertai pembenaran dan amal ketaatan.
Penulis membandingkannya dengan Fir’aun yang mengetahui Allah, tetapi tidak taat kepada-Nya.
Dengan demikian, menurut uraian tersebut, iman seperti ini tidak menyelamatkan. Penulis menghubungkannya dengan kalimat Dzalika Zhannulladzina Kafaru.
Pendapat lain yang disampaikan adalah bahwa manusia jangan meniru iman Iblis yang mengetahui keberadaan Allah, tetapi membangkang. Manusia harus meneladani Nabi Adam AS yang mengetahui kesalahannya, kemudian bertobat dan taat.
2. Iblis dahsyat karena pantang menyerah dalam menggoda manusia
BES menyatakan bahwa Iblis pantang menyerah dalam perjuangannya menggoda manusia. Pernyataan tersebut dinilai benar, tetapi merupakan bentuk istiqamah dalam kebatilan yang harus dibalik menjadi pelajaran untuk memperjuangkan kebenaran.
Iblis berkata:
La Ughwiyannahum Ajma’in.
Artinya, aku akan menyesatkan mereka semuanya.
Pernyataan tersebut menggambarkan tekad Iblis untuk terus menyesatkan manusia.
Pendapat lain yang dikemukakan adalah bahwa seorang khalifah harus lebih pantang menyerah daripada Iblis dalam memperjuangkan haq.
Jika Iblis pantang menyerah dalam kebatilan selama ribuan tahun sejak zaman Adam hingga kiamat, maka Generasi Taqwa Qarn Akharin harus lebih pantang menyerah dalam memperjuangkan haq.
Penulis kemudian menyinggung keyakinan untuk terus berusaha melalui Gerakan HMI MPO yang telah berjalan selama 38 tahun, sebagaimana BES memimpin mulai 1986–1988, kemudian diikuti para kader dan ketua umum PB HMI MPO lainnya hingga 2026.
Pesan yang ditegaskan adalah jangan sampai manusia kalah dalam hal pantang menyerah dibandingkan Iblis.
3. Iblis istiqamah dalam pekerjaannya meskipun mengetahui akan menjadi penghuni neraka
BES menyatakan bahwa Iblis bersifat istiqamah dalam pekerjaannya meskipun sadar bahwa ujungnya menjadi penghuni neraka.
Pernyataan ini dinilai benar dalam menggambarkan konsistensi Iblis, tetapi penulis menegaskan bahwa istiqamah dalam kesesatan merupakan kebodohan.
Dalam uraian tersebut dikutip kalimat:
Inna Abadan Syadid Bima Nasu Yaumal Hisab.
Kalimat ini dikaitkan dengan azab berat karena melupakan Hari Perhitungan, tetapi redaksi Arab dan rujukan ayatnya perlu diperiksa kembali apabila hendak digunakan sebagai kutipan ayat secara langsung.
Iblis mengetahui ancaman azab, tetapi tetap istiqamah dalam kesesatan. Penulis menyebut keadaan tersebut sebagai kebodohan yang istiqamah.
Pendapat lain yang disampaikan adalah jangan meniru istiqamah Iblis. Manusia harus meniru istiqamah malaikat dan Rasulullah yang istiqamah dalam haq meskipun mengetahui bahwa surga merupakan balasannya.
Dengan demikian, istiqamah harus berada di jalan haq, bukan di jalan batil.
4. Iblis hanya takut kepada Allah
Pernyataan ini dinilai benar sebagian, tetapi belum utuh.
Penulis mengutip:
Inni Akhafullaha Rabbil Alamin.
Artinya, “Sungguh, aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.”
Dalam tulisan ini, kutipan tersebut dirujuk kepada Al-Hasyr ayat 16 dan digunakan untuk menggambarkan rasa takut Iblis kepada Allah setelah menjerumuskan manusia.
Namun, penulis menjelaskan bahwa rasa takut Iblis merupakan Khauf tanpa Raja’, yakni takut tanpa harapan, berupa ketakutan yang tidak mendorong pertobatan.
Rasa takut Nabi Adam berbeda. Adam takut, lalu mengakui kesalahannya melalui doa Rabbana Zhalamna dan bertobat.
Sementara itu, Iblis tetap melanjutkan tekadnya melalui kalimat La Ughwiyannahum.
Pendapat lain yang ditekankan adalah manusia harus takut kepada Allah seperti ketakutan Adam yang mendorongnya bertobat, bukan seperti Iblis yang tetap melakukan kemaksiatan.
5. Iblis memiliki tim kerja yang kompak dan solid dalam menyesatkan manusia
BES menyatakan bahwa Iblis memiliki tim kerja yang kompak dan solid. Di antara para Iblis, mereka saling membantu dan menolong dalam menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan melalui keinginan manusia itu sendiri serta membisikkan pikiran jahat kepada manusia yang digodanya.
BES merujuk pada Surah Al-Hajj ayat 52 dan Surah Taha ayat 120–121.
Dalam tulisan tersebut dikutip:
Al-Hajj 52: Fayahki Allahu Ma Yulqis Syaitanu.
Artinya, Allah menghapus apa yang dilemparkan setan.
Kemudian:
Toha 120–121: Fawaswasa Ilaihis Syaitanu.
Artinya, setan membisikkan godaan kepadanya.
Dari uraian tersebut, Iblis digambarkan memiliki sistem wiswas, yaitu bisikan, serta kerja sama yang kompak, solid, dan terorganisasi.
Pendapat lain yang disampaikan penulis adalah bahwa pelajaran terbesar bagi seorang khalifah saat ini ialah jika tim batil kompak dan solid, sebagaimana ditulis BES, maka tim haq harus lebih kompak dan solid lagi.
Penulis menguraikan tiga hal berikut:
Iblis kompak menggoda melalui hawa nafsu dan keinginan manusia itu sendiri, sebagaimana dikaitkan dengan Sad ayat 26: Wa La Tattabi’il Hawa.
Buzzer fitnah 100 M kemarin disebut kompak menyebarkan informasi tanpa FAKTA, DATA, dan SAKSI. Penilaian ini merupakan pernyataan penulis.
Maka, tim KORLABI, PPMI, dan HMI MPO Generasi Taqwa Qarn Akharin harus lebih kompak, solid, dan saling menolong dalam haq, bukan dalam hawa nafsu.
Kesimpulan Pendapat Lain: Melengkapi BES untuk Menjawab Pertanyaan Akhir
BES mengajukan pertanyaan, “Apakah ada pendapat lain?”
Penulis menjawab bahwa ada pendapat lain yang melengkapi pembahasan tersebut.
1. Pendapat Ibnu Qayyim
Allah menciptakan Iblis bukan untuk membuat manusia berterima kasih kepada Iblis, melainkan agar manusia tetap berterima kasih kepada Allah yang menciptakan Iblis dengan hikmah.
Tujuannya agar manusia mengenal haq dan batil, adil dan hawa nafsu, serta hisab dan Nasu Yaumal Hisab.
Manusia tidak berterima kasih kepada Iblis. Manusia berterima kasih kepada Allah Yang Maha Adil karena menciptakan ujian.
2. Hikmah comparative
Tanpa gelap, manusia tidak mengenal terang. Tanpa Iblis, menurut penjabaran ini, manusia tidak mengetahui arti Fahkum Bil Haqqi.
Tanpa adanya fitnah menerima uang 100 M, dikatakan pengkhianat, pecundang, dan tuyul kepada BES kemarin, penulis menyatakan bahwa manusia tidak mengetahui arti FAKTA-FAKTA, DATA-DATA, tabayun, dan empat saksi.
Tanpa Gibran, Jokowi versus Generasi Taqwa, penulis menyatakan bahwa manusia tidak mengetahui arti khalifah yang adil.
Semua itu dikaitkan dengan kalimat:
Wa Ma Khalaqna Batila.
Artinya, Allah tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia.
Namun, penulis menegaskan agar manusia tidak berperilaku seperti Iblis yang dilaknat Allah, laknattullah.
3. Jangan meniru Iblis, tetapi tirulah Adam
Iblis melakukan kesalahan, bersikap sombong, tidak bertobat, dan melupakan Hari Perhitungan atau Nasu Yaumal Hisab.
Sebaliknya, Adam melakukan kesalahan, mengetahui dirinya, bertobat, dan kembali kepada Allah atau Ruj’a, sebagaimana dikaitkan dengan Al-Alaq ayat 8 dalam pembahasan sebelumnya.
Penulis menyatakan bahwa Allah mengampuni Adam.
Inilah perbedaan antara seorang khalifah yang menjalankan Fahkum Bil Haqqi dan orang yang Ittaba’al Hawa Fayudillaka, yakni mengikuti hawa nafsu yang menyesatkan.
Penegasan Akhir: Konsep Islam Sempurna, Khalifah Harus Berhukum dengan Haq
BES menegaskan bahwa konsep Islam sangat sempurna sebagaimana dituliskan dalam rangkaian Mutiara Hikmah Kamis dan Jumat.
Kamis:
Tahu Diri Tahu Batas — Inna Ila Rabbikar Ruj’a — Wudi’al Kitab.
Jumat:
Tahu Diri Tahu Batas itu modal jadi Khalifah — Ya Dawud Inna Ja’alnaka Khalifah — maka Fahkum Bil Haqqi — jangan ikut Hawa — karena semua ciptaan tidak Batil — ada Hisab — bahkan Iblis diciptakan dengan hikmah agar Khalifah belajar comparative Adil versus Hawa/Nafsu — tetapi jangan ikuti Iblis — ikutilah Nabi Adam AS yang tobat dan selalu ibadah pada ALLAH SUBHANAHUWATA’ALA.
Pembahasan ini mengajak manusia untuk memahami amanah sebagai khalifah, menjunjung keadilan, tidak mengikuti hawa nafsu, serta menyadari bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan pada Hari Perhitungan.
Wallahu A’lam.
Salam Jihad dan Sabar.
Brother Eggi Sudjan. (BES)




