MUTIARA HIKMAH – AHAD, 3 MEI 2026
Matapenaindonesia – Allaah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ يَشْتَرُوْنَ بِعَهْدِ اللّٰهِ وَاَ يْمَا نِهِمْ ثَمَنًا قَلِيْلًا اُولٰٓئِكَ لَا خَلَا قَ لَهُمْ فِى الْاٰ خِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللّٰهُ وَلَا يَنْظُرُ اِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَلَا يُزَكِّيْهِمْ ۖ وَلَهُمْ عَذَا بٌ اَ لِيْمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang memperjualbelikan janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga murah, mereka itu tidak memperoleh bagian di akhirat, Allah tidak akan menyapa mereka, tidak akan memperhatikan mereka pada hari Kiamat, dan tidak akan menyucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 77)
Bahwa kata “Yanzuru” (yang dilihat) dalam ayat tersebut ialah HATI NURANI dalam wujud amalan sholeh kita, bukanlah fisik dan penampilan semu yang pastinya banyak mengandung kemunafikan.
Oleh karena itu, yang perlu dicermati dan dijaga adalah IMAN dan NIAT ketika melakukan amalan sholeh tersebut. Jika bukan karena Allah atau tidak dengan dasar iman kepada-Nya, maka amalan itu tidak akan diterima. Setelah iman, maka yang dilihat dan disapa oleh-Nya adalah NIAT BAIK yang IKHLAS / MUKHLISIN; orang-orang yang benar-benar ikhlas perbuatannya semata karena Allah.
Dalam sebuah kisah, Umar ibn Khatab radhiyallahu ‘anhu menangis melihat orang-orang yang berbuat baik dalam pandangan dunia ini, namun sesungguhnya tidak didasari oleh iman dan niat yang ikhlas. Maka amalan sholeh mereka TERTOLAK karena tidak dilihat dan disapa oleh-Nya.
Ciri-cirinya, orang-orang tersebut masuk kategori Munafik:
اِتَّخَذُوْۤا اَيْمَا نَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ اِنَّهُمْ سَآءَ مَا كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ
“Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Sungguh, betapa buruknya apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. Al-Munafiqun 63: Ayat 2)
Juga banyak orang yang terkecoh dengan penampilan yang menarik dan performance yang meyakinkan seolah-olah mereka adalah orang-orang yang beriman:
وَاِ ذَا رَاَ يْتَهُمْ تُعْجِبُكَ اَجْسَا مُهُمْ ۗ وَاِ نْ يَّقُوْلُوْا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ ۗ كَاَ نَّهُمْ خُشُبٌ مُّسَنَّدَةٌ ۗ يَحْسَبُوْنَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ ۗ هُمُ الْعَدُوُّ فَا حْذَرْهُمْ ۗ قَا تَلَهُمُ اللّٰهُ ۖ اَنّٰى يُـؤْفَكُوْنَ
“Dan apabila engkau melihat mereka, tubuh mereka mengagumkanmu. Dan jika mereka berkata, engkau mendengarkan tutur katanya. Mereka seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa setiap teriakan ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari kebenaran)?”
(QS. Al-Munafiqun 63: Ayat 4)
Bahwa untuk memahami secara konkret contoh orang yang iman dan niatnya ikhlas karena Allah, adalah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Itulah contoh legendaris yang historisnya jelas:
وَمَنْ اَحْسَنُ دِيْنًا مِّمَّنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَّا تَّبَعَ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗ وَا تَّخَذَ اللّٰهُ اِبْرٰهِيْمَ خَلِيْلًا
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kesayangan-(Nya).”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 125)
Jadi, model beragama yang iman dan niatnya ikhlas hanya karena Allah itulah yang Yuzharu / dilihat / disapa oleh-Nya.
Bentar lagi, akhir bulan Mei ini ada Iedul Adha. Contohnya:
– Nabi Ibrahim sanggup MENYEMBELIH SIFAT BINATANG yang ada dalam dirinya seperti egoisme, serakah, dll.
– Sedangkan Nabi Ismail sanggup MENYEMBELIH apa yang paling dicintainya yaitu nyawanya untuk dikorbankan di jalan Allah.
Salam Jihad – Brother Eggi Sudjana (BES)



