JAKARTA | MATA PENA INDONESIA – Brother Eggi Sudjana (BES) dalam Mutiara Hikmah Selasa, 22 September 2026, mengangkat tema “QS. Ali Imran 142 & 146 – Rahasia Sabar dan Jihad”.
BES mengawali pesan hikmahnya dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَـنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ جَاهَدُوْا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصّٰبِرِيْنَ
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 142)
Kemudian BES menjunctokan dengan QS. Ali ‘Imran ayat 146:
وَكَاَ يِّنْ مِّنْ نَّبِيٍّ قٰتَلَ مَعَهٗ رِبِّيُّوْنَ كَثِيْرٌ ۚ فَمَا وَهَنُوْا لِمَاۤ اَصَابَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَمَا ضَعُفُوْا وَمَا اسْتَكَانُوْا ۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الصّٰبِرِيْنَ
“Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 146)
Dari kedua ayat tersebut, BES mengajukan pertanyaan: Bagaimana memahami hubungan SABAR dan JIHAD?
Bukankah ini dua kata yang kontradiktif, yang satu kesan kelembutan [Sabar] dan satu lagi kesan kekerasan [Jihad]?
Di sisi lain, bagaimana ada orang yang sabar tapi tak berjihad dan ada pula yang berjihad tapi tak sabar?
Meraih sampai ke Surga apakah harus tempuh keduanya?
BES kemudian memberikan “Jawaban Seriusnya” melalui tema:
QS. ALI IMRAN 142 & 146 – RAHASIA SABAR + JIHAD
“Ini pertanyaan inti, dari orang-orang banyak yang gagal paham di sini.”
Menurut BES, sabar dikira diam, sedangkan jihad dikira ngamuk. Padahal keduanya satu paket masuk Surga.
1. DULU LURUSKAN DEFINISI – BUKAN KONTRADIKSI
BES menjelaskan bahwa pemahaman terhadap sabar dan jihad perlu diluruskan.
SABAR (صبر) bukan lemah lembut. Arti aslinya, menurut penjelasan BES, adalah:
MENAHAN, MENGUNCI, MENGIKAT.
BES memberikan analogi:
Sabar itu seperti kuda perang yang diikat patoknya agar tidak lari saat mendengar dentuman meriam. Dia menahan diri di atas kebenaran.
BES juga menyampaikan bahwa Ibn Qayyim membagi sabar menjadi tiga, yaitu:
Sabar di atas taat.
Sabar dari maksiat.
Sabar atas musibah.
Sementara JIHAD (جهد), menurut BES, bukan kekerasan. Arti yang dijelaskannya adalah:
MENGERAHKAN SELURUH KESUNGGUHAN, TENAGA SAMPAI TITIK PENGHABISAN.
Dengan demikian:
Jihad itu aktivitas. Sabar itu pengikatnya.
Analogi Komando
BES kemudian memberikan analogi komando:
Jihad = Gas mobil tempur maju ke depan.
Sabar = Rem dan setir yang menjaga agar tidak terguling, tidak salah arah, tidak berhenti di tengah jalan.
Mobil tanpa gas tidak maju.
Namun mobil tanpa rem dan setir juga bisa celaka.
Karena itu, menurut BES, Allah dalam QS. Ali ‘Imran ayat 142 sengaja menggandengkan:
“…الذين جاهدوا منكم ويعلم الصابرين”
Yakni harus ada JIHAD dan harus ada SABAR.
Tidak bisa satu saja.
2. DUA PENYAKIT YANG ALLAH SINDIR DI AYAT 146
BES kemudian menjelaskan QS. Ali ‘Imran ayat 146, terutama bagian:
فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا
Menurut BES, terdapat tiga penyakit yang tidak boleh ada pada pejuang.
WAḤANU (وَهَنُوا)
Wahanu dijelaskan sebagai lemah hati di dalam.
BES mengaitkannya dengan penyakit orang yang BERJIHAD TAPI TAK SABAR.
Semangat awalnya meledak-ledak. Namun begitu terkena masalah, hatinya ciut, mengeluh dan putus asa.
DHA’UFU (ضَعُفُوا)
Dha’ufu dijelaskan sebagai lemah fisik atau amal.
Ini disebut sebagai penyakit orang yang SABAR TAPI TAK BERJIHAD.
Katanya sabar, padahal pasif, menggunakan alasan takdir dan tidak mau berusaha.
ISTAKANU (اسْتَكَانُوا)
Istakanu adalah menyerah, tunduk kepada musuh dan mencari muka.
Menurut BES, kondisi ini merupakan gabungan dari keduanya.
Maka QS. Ali ‘Imran ayat 146 menggambarkan Ribbiyun (ربيون) sebagai pasukan Rabbani.
Ketika mendapatkan bencana di jalan Allah:
Hati tidak Wahan.
Fisik tidak Dha’uf.
Tidak Istakanah atau menyerah.
Itulah SABAR yang sesungguhnya di dalam JIHAD.
3. HARUSKAH KEDUANYA UNTUK KE SURGA?
BES kemudian menjawab pertanyaan terakhir:
Meraih sampai ke Surga apakah harus menempuh keduanya?
Jawabannya menurut BES:
YA. WAJIB.
BES menyoroti kata “وَلَمَّا” (wa lamma) dalam QS. Ali ‘Imran ayat 142 yang berarti:
“PADAHAL BELUM.”
Allah bertanya secara retoris:
“Apakah kamu mengira akan masuk Surga, padahal BELUM NYATA siapa yang berjihad dan siapa yang sabar?”
Bagi BES, tiket Surga baru dicetak setelah dua stempel ini ada.
Yakni:
JIHAD + SABAR.
Simulasi di Lapangan CBM
BES kemudian memberikan simulasi di lapangan CBM.
Ada orang Sabar tapi tak Berjihad
Rajin dzikir di masjid, tidak pernah marah, tetapi ketika melihat kedzaliman diam dan melihat kemungkaran kemudian pura-pura sabar.
Menurut BES:
Ini Sabar palsu. Namanya pasif. Allah tidak cinta.
Ada orang Berjihad tapi tak Sabar
Berani demo, berani teriak, tetapi tidak tahan proses, ingin instan.
Begitu tidak menang langsung mencela pemimpin, mencela takdir, gampang emosi dan gampang pecah.
Menurut BES:
Ini Jihad tanpa kendali. Allah tidak cinta.
Yang Allah Cinta
BES kemudian merujuk pada ujung QS. Ali ‘Imran ayat 146:
وَاللّٰهُ يُحِبُّ الصّٰبِرِيْنَ
“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.”
Menurut BES, yang Allah cintai adalah orang yang berjihad mengerahkan semua kemampuan di jalan Allah dan dia sabar menahan tiga hal.
Pertama, menahan diri tetap taat meski lelah.
Kedua, menahan diri dari maksiat meski ada kesempatan.
Ketiga, menahan diri atas musibah meski sakit.
Kesimpulan Mutiara Hikmah
Di bagian akhir pesannya, BES merumuskan:
Sabar tanpa Jihad = LUMPUH
Jihad tanpa Sabar = NGAMUK / BRUTAL
Sabar + Jihad = RIBBIYUN – Pasukan Allah yang dicintai dan dijanjikan Surga
Karena itu, menurut BES, Komandan Bes, CBM harus keduanya.
Jihad dalam dakwah, kerja, disiplin.
Sabar dalam proses, tahan cacian, tahan lelah, tidak menyerah.
Itulah DIN WA DAULAH yang hidup.
BES kemudian memberikan rumusan bagi briefing para kader umat Islam yang tergabung dalam CBM:
RUMUS SURGA = JIHAD + SABAR
Sabar = REM-nya
Menahan, mengikat, mengunci.
Jihad = GAS-nya
Mengerahkan seluruh tenaga.
Di penghujung Mutiara Hikmah, BES menyampaikan:
“Siap tempur: Jihad tanpa ngamuk, Sabar tanpa lumpuh”.
Salam jihad dan Sabar, Brother Eggi Sudjana (BES)




