SRAGEN, MPI – Kisah pilu datang dari RT 14, Dukuh Kedung Bagong, Desa Cemeng, Kecamatan Sambungmacan, Kabupaten Sragen, pada Rabu, (8/7). Seorang ibu bernama Poniem, yang sehari-hari bekerja sebagai pencari botol plastik bekas, harus berjuang menghadapi penyakit kanker di tengah kondisi ekonomi yang sangat memprihatinkan. Lebih menyedihkan lagi, putrinya yang masih berusia 12 tahun, Cahaya, juga mengidap kanker ganas yang terus membesar di bagian wajahnya.
Di usianya yang tak lagi muda, Poniem harus melawan penyakit kanker yang menyerang mata dan lengannya. Kondisi tersebut membuat aktivitasnya semakin terbatas, namun ia tetap berusaha mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Sementara itu, Cahaya harus menjalani kehidupan yang jauh dari kebahagiaan anak seusianya. Benjolan akibat kanker yang terus membesar di wajahnya membuat bocah tersebut harus menahan rasa sakit setiap hari dan membutuhkan penanganan medis secara intensif.
Keterbatasan ekonomi menjadi hambatan terbesar bagi keluarga ini. Penghasilan dari memulung botol bekas tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi membiayai pengobatan kanker yang memerlukan penanganan dokter spesialis dan perawatan berkelanjutan. Saat ini, Poniem dan Cahaya juga belum memiliki rumah sendiri dan masih menumpang di kediaman salah satu kerabat.
Meski telah memiliki akses layanan kesehatan, biaya pendukung seperti transportasi, kebutuhan selama menjalani pengobatan, hingga biaya hidup selama harus menginap di rumah sakit menjadi beban yang sulit dipenuhi.
Kepala Desa Cemeng, Widayat, mengatakan pemerintah desa bersama masyarakat tidak tinggal diam melihat kondisi warganya. Berbagai upaya telah dilakukan untuk membantu keluarga tersebut, termasuk mengupayakan bantuan sosial, berkoordinasi dengan pemerintah daerah, serta mengajukan bantuan melalui BAZNAS Kabupaten Sragen.
“Kami dari Pemerintah Desa bersama warga sudah berupaya semaksimal mungkin. Kami terus mencarikan berbagai bantuan, baik melalui program pemerintah daerah maupun berkoordinasi dengan BAZNAS Sragen agar Ibu Poniem mendapatkan penanganan yang layak. Namun kemampuan anggaran yang kami miliki tentu sangat terbatas,” ujar Widayat.
Menurutnya, pemerintah desa juga secara rutin menyediakan kendaraan operasional beserta seluruh biaya transportasi agar Poniem dan Cahaya dapat menjalani pemeriksaan rutin ke Rumah Sakit Dr. Moewardi Solo setiap bulan tanpa harus memikirkan ongkos perjalanan.
Perjalanan pengobatan Cahaya sebenarnya sempat mendapat harapan pada tahun 2022 ketika sebuah rumah sakit milik TNI di Surabaya menawarkan operasi gratis. Namun kesempatan tersebut tidak diambil karena tingkat keberhasilan operasi saat itu diperkirakan hanya sekitar 50 persen.
Keputusan tersebut dilatarbelakangi pengalaman pahit yang pernah dialami Poniem. Anak pertamanya meninggal dunia setelah menjalani operasi kanker, sehingga trauma mendalam membuat dirinya belum siap mengambil risiko yang sama terhadap Cahaya.
Hingga kini, Cahaya telah menjalani dua kali tindakan operasi di RS Dr. Moewardi Solo dan masih membutuhkan penanganan lanjutan dari tim dokter spesialis. Karena sifat penyakit yang dideritanya, proses pengobatan memerlukan perawatan berkelanjutan, observasi, hingga kemungkinan tindakan operasi berikutnya.
Selain persoalan kesehatan, kondisi tempat tinggal keluarga ini juga menjadi perhatian. Pemerintah Desa Cemeng telah mengusulkan rumah Poniem masuk dalam program bedah rumah dan berharap dapat direalisasikan pada tahun ini.
“Untuk kondisi rumah Bu Poniem, saat ini sudah kami usulkan masuk program bedah rumah. Kami terus mengawal prosesnya dan berharap dapat segera terealisasi,” tambah Widayat.
Warga sekitar turut menyampaikan harapan agar pemerintah pusat, para dermawan, maupun berbagai pihak dapat memberikan perhatian kepada keluarga tersebut.
Salah seorang warga, Wahyudi, mengaku prihatin melihat perjuangan Poniem dan Cahaya yang tetap bertahan hidup meski harus melawan penyakit serius.
“Kami semua sedih melihat kondisi Bu Poniem dan Cahaya. Di tengah sakit yang mereka rasakan, Bu Poniem masih harus mencari botol bekas demi bertahan hidup. Kami berharap ada bantuan yang lebih besar agar keduanya bisa memperoleh pengobatan terbaik dan sembuh,” ujarnya.
Masyarakat berharap pemerintah melalui Presiden RI Prabowo Subianto dapat memberikan perhatian terhadap kondisi Poniem dan Cahaya, sehingga keduanya memperoleh akses pengobatan yang optimal serta dukungan biaya selama menjalani proses penyembuhan. (Bisyri)
Narasumber: Kepala Desa Cemeng, Widayat, dan warga setempat, Wahyudi.




