Mutiara Hikmah BES: Kekuasaan dan Kekayaan Adalah Ujian, Rasulullah SAW Jadi Teladan Utama

BOGOR, MPI — Kekuasaan dan kekayaan merupakan dua hal yang kerap menjadi ukuran keberhasilan manusia di dunia. Namun, dalam perspektif Islam, keduanya bukan sekadar kenikmatan, melainkan amanah sekaligus ujian yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Hal tersebut menjadi pokok renungan Mutiara Hikmah Jumat, (21/8/2026), yang disampaikan Prof. Dr. Eggi Sudjana melalui tadabbur QS. Ali ‘Imran ayat 26–27.

Allah SWT berfirman:

قُلِ اللّٰهُمَّ مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَآءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَآءُ ۖ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَآءُ ۗ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۗ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai Tuhan Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.'”

QS. Ali ‘Imran: 26

Ayat berikutnya menegaskan bahwa Allah juga mengatur pergantian siang dan malam, kehidupan dan kematian, serta memberikan rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Dan Engkau memberikan rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa perhitungan.”

QS. Ali ‘Imran: 27

Menurut Eggi, kedua ayat tersebut penting untuk direnungkan secara mendalam karena menunjukkan bahwa kekuasaan (mulk) dan kekayaan atau rezeki (mal) pada hakikatnya berada dalam kekuasaan Allah SWT.

Kekuasaan Bukan Milik Mutlak Manusia

Dalam perspektif tersebut, jabatan dan kekuasaan tidak semestinya dipandang sebagai kepemilikan pribadi. Kekuasaan merupakan amanah yang sewaktu-waktu dapat diberikan, dipertahankan ataupun dicabut oleh Allah SWT.

Baca juga:  Cegah Peredaran Narkoba Saat Malam Pergantian Tahun, Polri Pantau Tempat Hiburan Malam

Karena itu, seorang pemimpin seharusnya tidak menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk memperkaya diri, menekan masyarakat, melakukan penyalahgunaan wewenang ataupun melanggengkan kepentingan kelompok tertentu.

Eggi menyoroti fenomena ketika kekuasaan politik dan kekuatan ekonomi dapat saling berkelindan. Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius apabila hubungan antara penguasa dan pemilik modal justru berujung pada ketidakadilan, korupsi, penindasan atau kesenjangan sosial.

Namun demikian, pemahaman tersebut juga perlu ditempatkan secara proporsional. Tidak setiap orang yang memiliki kekuasaan dan kekayaan otomatis menjadi zalim. Al-Qur’an justru memberikan berbagai contoh manusia yang mendapatkan kekuasaan atau kekayaan dan menggunakannya untuk menjalankan amanah.

Kekuasaan dan Kekayaan Adalah Ujian

Dalam kajian tersebut, kekuasaan dan kekayaan dapat dilihat sebagai ujian. Pertanyaannya bukan semata-mata apakah seseorang memiliki jabatan atau harta, tetapi untuk apa kekuasaan dan harta tersebut digunakan.

Al-Qur’an memberikan gambaran tentang berbagai karakter manusia yang memiliki kekuasaan dan kekayaan. Ada yang menjadikannya sarana kesombongan dan kezaliman, tetapi ada pula yang menggunakannya untuk kemaslahatan.

Di sinilah pentingnya membedakan antara memiliki kekuasaan dan menyalahgunakan kekuasaan.

Seorang pemimpin dapat memiliki kekuasaan sekaligus kekayaan, tetapi ukuran keberhasilannya bukan banyaknya harta atau besarnya pengaruh. Ukurannya adalah keadilan, amanah, tanggung jawab dan keberpihakan kepada kemaslahatan masyarakat.

Rasulullah SAW Menjadi Teladan Utama

Dalam pembahasan mengenai model kepemimpinan, Eggi kemudian menekankan bahwa standar keteladanan tertinggi bagi umat Islam bukan hanya tokoh-tokoh sejarah lainnya, melainkan Rasulullah Muhammad SAW.

Baca juga:  Marak Pengolahan Emas Ilegal di Kampung Parigi Cisarua, Bogor: Beroperasi 24 Jam, Buang Limbah Berbahaya ke Sungai

Allah SWT berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”

QS. Al-Ahzab: 21

Ayat tersebut menjadi landasan bahwa Rasulullah SAW merupakan uswatun hasanah, termasuk dalam persoalan kehidupan sosial, kepemimpinan, ekonomi, kemasyarakatan dan akhlak.

Selain itu, Allah SWT berfirman:

وَمَآ اٰتٰٮكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ ۖ وَمَا نَهٰٮكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.”

QS. Al-Hasyr: 7

Karena itu, menurut Eggi, ketika membicarakan bagaimana kekuasaan dan kekayaan seharusnya dikelola, umat Islam perlu kembali melihat keteladanan Rasulullah SAW.

Berkuasa untuk Melayani, Bukan Menguasai

Kepemimpinan Rasulullah SAW di Madinah menunjukkan bahwa kekuasaan tidak semestinya menjadi sarana untuk meninggikan diri.

Kepemimpinan harus menghadirkan keadilan, perlindungan terhadap masyarakat, amanah, musyawarah serta keberpihakan kepada kepentingan umat.

Begitu pula dengan harta. Islam tidak melarang seseorang menjadi kaya. Yang menjadi persoalan adalah ketika kekayaan membuat manusia lupa bahwa seluruh rezeki pada akhirnya merupakan karunia Allah SWT.

Karena itu, kekayaan idealnya digunakan untuk kebaikan, membantu sesama, membangun kemaslahatan dan menjalankan tanggung jawab sosial.

Dari Model Fir’aun Menuju Keteladanan Rasulullah SAW

Dalam kajian tersebut, perbandingan model kepemimpinan digambarkan melalui dua kutub.

Model Fir’aun menggambarkan kekuasaan yang melahirkan kesombongan, penindasan dan kezaliman. Kekuasaan tidak lagi dipandang sebagai amanah, tetapi sebagai alat untuk mempertahankan dominasi.

Baca juga:  Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis Desak Menkeu Purbaya Selesaikan Sengketa Lahan dan Dugaan Maladministrasi di Bea Cukai

Sementara model Rasulullah SAW menempatkan kekuasaan sebagai amanah dan pelayanan kepada manusia dalam bingkai tauhid, keadilan dan akhlak.

Dengan demikian, persoalan utama bukan terletak pada seseorang memiliki kekuasaan atau kekayaan, tetapi pada nilai, tujuan dan cara seseorang menggunakan keduanya.

Kekuasaan yang tidak disertai moral dan ketakwaan berpotensi melahirkan kesewenang-wenangan. Sebaliknya, kekuasaan yang dijalankan dengan amanah dapat menjadi sarana menghadirkan kemaslahatan.

Pesan untuk Para Pemegang Kekuasaan

Melalui tadabbur QS. Ali ‘Imran ayat 26–27, Eggi mengajak masyarakat maupun para pemegang amanah publik untuk tidak silau terhadap jabatan dan harta.

Jabatan akan berakhir. Kekayaan juga akan ditinggalkan. Yang akan tetap menjadi pertanggungjawaban adalah amal dan bagaimana amanah tersebut dijalankan.

Karena itu, siapa pun yang mendapatkan kekuasaan seharusnya menyadari bahwa kekuasaan tersebut dapat dicabut kapan saja oleh Allah SWT.

Demikian pula mereka yang mendapatkan kelapangan rezeki hendaknya menyadari bahwa harta bukan semata-mata milik pribadi, melainkan terdapat tanggung jawab sosial di dalamnya.

Pada akhirnya, QS. Ali ‘Imran 26–27 mengajarkan bahwa Allah adalah Pemilik kekuasaan dan pemberi rezeki, sedangkan manusia hanyalah penerima amanah.

Maka, ketika kekuasaan dan kekayaan berada di tangan manusia, pertanyaan terpenting bukan “seberapa besar yang dimiliki?”, melainkan “untuk apa kekuasaan dan kekayaan itu digunakan?”

Jawabannya dapat ditemukan dalam keteladanan Rasulullah SAW sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Ahzab ayat 21: menjadikan beliau sebagai uswatun hasanah.

Kekuasaan adalah amanah. Kekayaan adalah ujian. Rasulullah SAW adalah teladan.

Salam Jihad, Brother Eggi Sudjana (BES)

Latest

Karhutla Kembali Kepung Kalimantan, Muhibullah Desak Penegakan Hukum Diperkuat

BOGOR, MPI — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda...

Mutiara Hikmah BES: OST JUBEDIL dan Logika Qur’ani tentang Sabar, Sholat, Amal Saleh dan Tauhid

BOGOR, MPI — Prof. Dr. H. Eggi Sudjana, SH., M.Si....

Kepsek SDN Karadenan Berharap Disdik Segera Bantu Sarana Sekolah yang Raib

CIBINONG, MPI – Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) Karadenan,...

Newsletter

Don't miss

Karhutla Kembali Kepung Kalimantan, Muhibullah Desak Penegakan Hukum Diperkuat

BOGOR, MPI — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda...

Mutiara Hikmah BES: OST JUBEDIL dan Logika Qur’ani tentang Sabar, Sholat, Amal Saleh dan Tauhid

BOGOR, MPI — Prof. Dr. H. Eggi Sudjana, SH., M.Si....

Kepsek SDN Karadenan Berharap Disdik Segera Bantu Sarana Sekolah yang Raib

CIBINONG, MPI – Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) Karadenan,...

Praperadilan Roy Suryo Disorot, BES-DHL Dorong Kepastian Hukum Lewat Amicus Curiae

JAKARTA, MPI — Aliansi Anak Bangsa menyampaikan Amicus Curiae (Sahabat Pengadilan)...

Karhutla Kembali Kepung Kalimantan, Muhibullah Desak Penegakan Hukum Diperkuat

BOGOR, MPI — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda sejumlah wilayah di Pulau Kalimantan. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran serius karena kabut asap berdampak terhadap...

Mutiara Hikmah BES: OST JUBEDIL dan Logika Qur’ani tentang Sabar, Sholat, Amal Saleh dan Tauhid

BOGOR, MPI — Prof. Dr. H. Eggi Sudjana, SH., M.Si. kembali menyampaikan Mutiara Hikmah pada Kamis, 20 Agustus 2026. Dalam kajiannya, ia mengajak umat Islam...

Panitia Saresehan Inohong Jawa Barat Ke-2 Resmi Dibentuk, “Ngariung Bareng, Nata Jawa Barat, Nya’ah ka Lembur”

DEPOK, MPI – Panitia Saresehan Inohong Jawa Barat Ke-2 resmi dibentuk pada Selasa, (18/8/2026), di Depok, Jawa Barat. Pembentukan panitia ini menjadi langkah awal untuk...