Mutiara Hikmah BES: QS Al-Hajj Ayat 2 Mengingatkan Dahsyatnya Kiamat, Huru-Hara Dunia Jangan Disamakan dengan Azab Akhirat

BOGOR, MPI — Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si dalam Mutiara Hikmah Kamis, (27/8/2026), mengajak umat Islam untuk mentadaburi QS. Al-Hajj ayat 2, yang menggambarkan dahsyatnya guncangan Hari Kiamat dan kerasnya azab Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Allah SWT berfirman:

يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّاۤ اَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكٰرٰى وَمَا هُمْ بِسُكٰرٰى وَلٰـكِنَّ عَذَابَ اللّٰهِ شَدِيْدٌ

“(Ingatlah) pada hari ketika kamu melihatnya (guncangan itu), semua perempuan yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya, dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya, dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras.”

(QS. Al-Hajj: 2)

Menurut Prof. Dr. BES, ayat ini menggambarkan Hari Kiamat dengan sangat kuat. Bahkan, gambaran tersebut menunjukkan keadaan yang sulit dibayangkan oleh manusia dalam kehidupan dunia.

“Bahwa azab sangat keras siksa-Nya, itulah sebagaimana gambaran azab Kiamat kelak. Masih ada hal lain seperti gunung-gunung diterbangkan, jungkir balik dan berbagai kedahsyatan lainnya,” demikian pokok refleksi Prof. Dr. BES.

Ia menilai, banyak manusia masih sulit membayangkan bagaimana dahsyatnya Hari Akhir. Karena itu, Al-Qur’an memberikan gambaran tentang keadaan manusia pada saat Kiamat agar manusia takut kepada Allah SWT dan kembali kepada jalan yang benar.

QS Al-Hajj Ayat 2, Gambaran Dahsyatnya Guncangan Kiamat

Prof. Dr. BES menyebut QS. Al-Hajj ayat 2 sebagai ayat yang sangat kuat untuk direnungkan karena menggambarkan kondisi manusia ketika menghadapi kedahsyatan Kiamat.

Dalam tadaburnya, terdapat tiga gambaran utama.

Pertama, ibu menyusui melupakan anaknya.

Allah menggambarkan:

تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّاۤ اَرْضَعَتْ

Gambaran ini menunjukkan seorang ibu yang sedang menyusui anaknya sampai lalai terhadap anak yang disusuinya. Padahal, kasih sayang seorang ibu terhadap anak merupakan salah satu ikatan cinta yang paling kuat di dunia.

Kedahsyatan Kiamat membuat keadaan tersebut menjadi sesuatu yang luar biasa.

Kedua, perempuan hamil mengalami keguguran.

Allah SWT berfirman:

وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا

Artinya, setiap perempuan yang sedang mengandung akan meletakkan atau mengalami keguguran kandungannya akibat dahsyatnya guncangan tersebut.

Ketiga, manusia terlihat seperti mabuk padahal tidak mabuk.

Allah SWT berfirman:

وَتَرَى النَّاسَ سُكٰرٰى وَمَا هُمْ بِسُكٰرٰى

Manusia pada saat itu terlihat seperti orang mabuk. Padahal mereka sebenarnya tidak mabuk. Keadaan tersebut menggambarkan kepanikan, ketakutan dan keguncangan yang luar biasa.

Semua itu disebabkan oleh satu keadaan sebagaimana ditegaskan pada bagian akhir ayat:

Baca juga:  Dugaan Pungli di Jalur Wisata Curug dan Camp Ground Kp Cibakatul, Desa Cibadak, Sukamakmur, Kabupaten Bogor

وَلٰـكِنَّ عَذَابَ اللّٰهِ شَدِيْدٌ

“Tetapi azab Allah itu sangat keras.”

Prof. Dr. BES menegaskan bahwa gambaran tersebut merupakan azab akhirat, bukan sekadar peristiwa biasa yang terjadi dalam kehidupan manusia.

Bagaimana Jika Dikaitkan dengan Huru-Hara dan Demonstrasi?

Dalam refleksi selanjutnya, Prof. Dr. BES mengajukan pertanyaan mengenai berbagai demonstrasi dan huru-hara yang terjadi di dunia.

Apakah huru-hara yang terjadi akibat berbagai persoalan sosial, politik dan pemerintahan dapat disinonimkan sebagai azab dunia bagi para pejabat, pengusaha yang melakukan korupsi, maupun rezim yang dianggap tidak aspiratif terhadap rakyat?

Menurut Prof. Dr. BES, huru-hara dunia tidak sama dengan azab Kiamat sebagaimana digambarkan dalam QS. Al-Hajj ayat 2.

Ada perbedaan tingkatan yang perlu dipahami.

1. Azab Akhirat

Azab akhirat merupakan pembalasan Allah SWT yang berkaitan dengan kehidupan setelah dunia. Gambaran kedahsyatan Kiamat dalam QS. Al-Hajj ayat 2 termasuk di dalamnya.

Pada Hari Kiamat, manusia menghadapi keadaan yang tidak dapat dibandingkan dengan huru-hara dunia.

2. Azab atau Peringatan di Dunia

Berbagai kejadian seperti gempa bumi, banjir, angin tornado, puting beliung dan bencana lainnya dapat menjadi ujian sekaligus peringatan bagi manusia.

Peristiwa tersebut semestinya mendorong manusia untuk melakukan introspeksi, bertaubat dan kembali tunduk serta taat kepada Allah SWT.

Namun, menurut prinsip kehati-hatian dalam memahami agama, manusia tidak boleh sembarangan memastikan bahwa setiap bencana tertentu adalah azab Allah untuk kelompok tertentu. Hakikat dan hikmah suatu musibah berada dalam pengetahuan Allah.

3. Sunnatullah Sosial

Sementara itu, huru-hara, revolusi, reformasi, krisis dan berbagai gejolak sosial dapat muncul sebagai konsekuensi dari tindakan manusia.

Korupsi, keserakahan, kezaliman, penindasan, ketidakadilan dan hilangnya kepercayaan masyarakat dapat menjadi faktor yang memperburuk kehidupan sosial.

Prof. Dr. BES kemudian mengingatkan firman Allah SWT:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.”

(QS. Ar-Rum: 41)

Ayat tersebut menjadi bahan penting untuk melakukan introspeksi bahwa kerusakan yang terjadi dalam kehidupan juga tidak terlepas dari perbuatan manusia.

Huru-Hara Bukan Kiamat, tetapi Bisa Menjadi Alarm

Prof. Dr. BES menegaskan bahwa huru-hara atau demonstrasi tidak dapat disebut sebagai azab Kiamat.

Perbedaannya dapat dilihat secara nyata. Dalam huru-hara dunia, masih ada manusia yang dapat makan, melaksanakan shalat, berdakwah, bekerja dan menjalani kehidupan.

Bahkan dalam situasi kerusuhan, ada pula orang yang justru melakukan tindakan kriminal seperti mengambil barang milik orang lain.

Baca juga:  Pers Berdiri di Garda Kebenaran, DPC PWRI Kabupaten Sukabumi Periode 2025–2028 Resmi Dikukuhkan

Sedangkan kedahsyatan Kiamat sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an merupakan peristiwa yang jauh berbeda dan bersifat mutlak.

Karena itu, huru-hara dunia tidak tepat disamakan dengan azab Kiamat.

Namun, Prof. Dr. BES mengingatkan bahwa gejolak sosial dapat menjadi peringatan atau “alarm” bagi manusia untuk melakukan evaluasi dan memperbaiki keadaan.

Ketika Kezaliman Merajalela

Dalam refleksinya, Prof. Dr. BES menyoroti kondisi ketika kezaliman merajalela di tengah masyarakat.

Al-Qur’an memberikan peringatan agar manusia tidak membiarkan fitnah atau kerusakan yang dampaknya dapat menimpa masyarakat secara luas.

Allah SWT berfirman:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاۤصَّةً

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu.”

(QS. Al-Anfal: 25)

Pesan ini menjadi pengingat bahwa persoalan kezaliman bukan hanya persoalan antara pelaku dengan korbannya. Ketika ketidakadilan dibiarkan, dampaknya dapat meluas kepada kehidupan masyarakat.

Amanah yang Dikhianati dan Aspirasi Rakyat yang Tidak Didengar

Prof. Dr. BES juga menyoroti pentingnya amanah dalam kehidupan bernegara.

Korupsi, mengabaikan aspirasi rakyat, ketidakadilan hukum, serta kondisi ketika hukum dianggap tajam ke bawah namun tumpul ke atas, merupakan persoalan serius yang harus menjadi bahan evaluasi.

Dalam perspektif moral dan keagamaan, pejabat adalah pemegang amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Ketika aspirasi rakyat sudah tidak didengar, keresahan masyarakat dapat berkembang menjadi tuntutan perubahan.

Namun, perubahan tetap harus dilakukan dengan cara yang bertanggung jawab dan tidak merusak persatuan maupun ketertiban masyarakat.

Pesan untuk Para Penguasa dan Pejabat

Prof. Dr. BES secara khusus mengingatkan para penguasa dan pejabat agar tidak mengira bahwa Allah SWT lalai terhadap apa yang dilakukan orang-orang zalim.

Allah berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللّٰهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظّٰلِمُوْنَ

“Dan janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lalai terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim.”

(QS. Ibrahim: 42)

Ayat tersebut menjadi peringatan bahwa setiap tindakan manusia memiliki konsekuensi dan pertanggungjawaban.

Karena itu, jika terjadi gejolak sosial, Prof. Dr. BES mengajak para pemimpin untuk menjadikannya sebagai momentum evaluasi.

Dengar aspirasi rakyat, tegakkan keadilan dan basmi korupsi.

Menurut refleksi tersebut, pintu perbaikan masih terbuka selama manusia mau melakukan taubat dan memperbaiki kesalahan.

Pesan untuk Rakyat: Jangan Anarkis

Peringatan tidak hanya ditujukan kepada penguasa. Masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk melakukan perubahan dari dalam dirinya sendiri.

Baca juga:  Ekonomi Nasional Tetap Solid, Pemerintah Dorong Konsumsi Akhir Tahun dan Optimistis Tumbuh di Atas 5 Persen

Prof. Dr. BES mengutip firman Allah SWT:

ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِّعْمَةً اَنْعَمَهَا عَلٰى قَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْ

“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”

(QS. Al-Anfal: 53)

Karena itu, penyampaian aspirasi melalui demonstrasi harus tetap dilakukan secara damai dan bertanggung jawab.

Demo boleh, tetapi jangan anarkis.

Masyarakat juga diingatkan agar tetap menjaga shalat, persatuan, doa dan akhlak dalam menyampaikan aspirasi.

Perubahan tidak hanya menuntut orang lain berubah. Perubahan juga harus dimulai dari diri sendiri.

Momentum Muhasabah Nasional

Pada bagian akhir Mutiara Hikmah, Prof. Dr. BES mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan berbagai persoalan dan gejolak sosial sebagai momentum muhasabah nasional.

Ada beberapa pesan utama yang disampaikan.

Pertama, azab Kiamat dalam QS. Al-Hajj ayat 2 adalah sesuatu yang pasti terjadi. Kedahsyatannya tidak dapat dibayangkan oleh manusia dan menjadi peringatan agar manusia mempersiapkan diri sebelum datang Hari Akhir.

Kedua, huru-hara dunia bukanlah Kiamat. Namun, berbagai gejolak sosial dapat menjadi alarm atau peringatan agar manusia melakukan evaluasi terhadap kehidupan yang dijalankan.

Ketiga, tugas manusia adalah memperbaiki diri. Penguasa harus memperbaiki amanah dan keadilan, sedangkan rakyat juga harus memperbaiki diri, menjaga persatuan dan kembali kepada tuntunan Al-Qur’an.

Dengan demikian, Mutiara Hikmah Prof. Dr. BES kali ini mengajak masyarakat agar tidak terburu-buru memberikan label keagamaan terhadap suatu peristiwa, tetapi menjadikannya sebagai bahan muhasabah, taubat dan perbaikan bersama.

Kembali kepada Al-Qur’an

Prof. Dr. BES juga mengingatkan kaidah bahwa Allah SWT tidak menghukum suatu kaum sebelum datang kepada mereka peringatan.

Dalam konteks kehidupan manusia, Al-Qur’an, nasihat ulama, suara hati dan seruan kebaikan harus menjadi bahan untuk melakukan koreksi diri.

Karena itu, ketika kehidupan bangsa menghadapi berbagai persoalan, jalan yang ditempuh bukan memperbesar kebencian dan kerusakan, melainkan memperkuat keadilan, memperbaiki amanah, memberantas korupsi, mendengar aspirasi rakyat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Pesan akhirnya adalah menjadikan kondisi yang terjadi sebagai momentum untuk kembali kepada Al-Qur’an sebelum datang pertanggungjawaban yang lebih besar di akhirat.

Mutiara Hikmah Prof. Dr. BES kemudian ditutup dengan doa:

“Allahumma la taj’alna minal qoomidh dzhalimin.”

“Ya Allah, jangan jadikan kami termasuk kaum yang zalim.”

Salam Jihad,  Brother Eggi Sudjana (BES)

Latest

Pangdam I/BB Pimpin Sidang Pantukhir, 678 Caba PK Ikuti Seleksi Pusat TNI AD

MEDAN, MPI — Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen TNI Hendy Antariksa...

Mutiara Hikmah BES: Pilihan Anak Bangsa, Penjara Lebih Baik daripada Memenuhi Ajakan Mereka

BOGOR, MPI — Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si...

Mutiara Hikmah BES: Lebih Baik Kehilangan Jabatan dan Harta daripada Mengorbankan Iman

BOGOR, MPI — Ada kalanya mempertahankan prinsip membutuhkan keberanian untuk...

Newsletter

Don't miss

Pangdam I/BB Pimpin Sidang Pantukhir, 678 Caba PK Ikuti Seleksi Pusat TNI AD

MEDAN, MPI — Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen TNI Hendy Antariksa...

Mutiara Hikmah BES: Pilihan Anak Bangsa, Penjara Lebih Baik daripada Memenuhi Ajakan Mereka

BOGOR, MPI — Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si...

Mutiara Hikmah BES: Lebih Baik Kehilangan Jabatan dan Harta daripada Mengorbankan Iman

BOGOR, MPI — Ada kalanya mempertahankan prinsip membutuhkan keberanian untuk...

Mutiara Hikmah BES: Tazkia Nafs Kunci Membangun Indonesia Bertaqwa

BOGOR, MPI — Prof. Dr. BES melalui Mutiara Hikmah...

Manifesto Peradaban: Prof. Eggi Sudjana Bedah QS. An-Nur Ayat 55, Iman dan Amal Shalih sebagai Jalan Menuju Istikhlafah

BOGOR, MPI — Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si (BES) dalam kajian Mutiara Hikmah Rabu, (26/8/2026), mengangkat tema “Manifesto Peradaban” dengan menjadikan QS. An-Nur...

Pangdam I/BB Pimpin Sidang Pantukhir, 678 Caba PK Ikuti Seleksi Pusat TNI AD

MEDAN, MPI — Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen TNI Hendy Antariksa memimpin Sidang Pantukhir Pusat Calon Bintara (Caba) Prajurit Karier (PK) TNI AD Gelombang III Tahun...

Mutiara Hikmah BES: Pilihan Anak Bangsa, Penjara Lebih Baik daripada Memenuhi Ajakan Mereka

BOGOR, MPI — Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si dalam Mutiara Hikmah Selasa, (25/8/2026), mengangkat keteguhan Nabi Yusuf AS dalam mempertahankan iman dan kehormatan...