BOGOR, MPI — Prof. Dr. BES melalui Mutiara Hikmah Senin, (24/8/2026), mengajak umat Islam untuk melakukan Tazkia Nafs, yakni menyucikan dan menumbuhkan jiwa, bukan hanya dalam kehidupan pribadi tetapi juga sebagai landasan dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam narasinya, Eggi Sudjana mengawali pembahasan dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam QS. Yusuf ayat 53:
وَمَاۤ اُبَرِّئُ نَفْسِيْ ۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَ مَّارَةٌ بِۢا لسُّوْٓءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْ ۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Dari ayat tersebut, ia menjelaskan bahwa manusia perlu melakukan Tazkia Nafs karena dalam diri setiap manusia terdapat dua potensi, yaitu fujur atau potensi buruk dan taqwa atau potensi baik.
Menurutnya, proses penyucian jiwa menjadi penting agar potensi buruk tidak berkembang menjadi perilaku yang merusak diri sendiri maupun kehidupan sosial.
Kedengkian, Penyakit Jiwa yang Harus Dibersihkan
Salah satu bentuk penyakit jiwa yang disoroti adalah kedengkian, yang digambarkan sebagai sikap senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang atau disebut dengan istilah SMS.
Ia mengaitkannya dengan firman Allah dalam QS. Ali ‘Imran ayat 120:
اِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ ۖ وَاِ نْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَّفْرَحُوْا بِهَا ۗ وَاِ نْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْــئًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِمَا يَعْمَلُوْنَ مُحِيْطٌ
“Jika kamu memperoleh kebaikan, (niscaya) mereka bersedih hati, tetapi jika kamu tertimpa bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, tipu daya mereka tidak akan menyusahkan kamu sedikit pun. Sungguh, Allah Maha Meliputi segala apa yang mereka kerjakan.”
Eggi Sudjana menegaskan bahwa kedengkian merupakan penyakit yang harus dijauhi. Ia kemudian mengaitkannya dengan larangan mencela, merendahkan dan berprasangka buruk sebagaimana dibahas dalam QS. Al-Hujurat ayat 11-12.
Karena itu, menurutnya, diperlukan upaya untuk melakukan Tazkia Nafs dengan menyingkirkan berbagai kekotoran jiwa.
Dari Syirik Menuju Tauhid
Dalam proses tersebut, ia menekankan pentingnya meninggalkan syirik dan menggantinya dengan tauhid.
Berbagai penyakit jiwa seperti sombong, dengki, iri hati dan malas juga harus segera dibersihkan. Demikian pula dengan berbagai bentuk maksiat yang masih dilakukan harus ditinggalkan dan diganti dengan akhlaqul karimah.
Menurutnya, proses tersebut harus disertai dengan kebiasaan mentadaburi Al-Qur’an, sehingga umat memiliki pemahaman yang benar terhadap ajaran agama dan mampu menaati perintah Allah dalam rangka meningkatkan ketakwaan.
Tazkia Nafs dalam Konsep Bernegara
Eggi Sudjana kemudian membawa konsep Tazkia Nafs ke dalam perspektif kehidupan bernegara.
Ia menggunakan kaidah:
“Bagaimana keadaan rakyat, begitu pula keadaan pemimpinnya.”
Dalam narasinya disebutkan istilah “Kama takunu yuwalla ‘alaikum”.
Menurutnya, negara merupakan kumpulan jiwa-jiwa manusia.
“Kalau jiwanya kotor, negaranya kotor. Kalau jiwanya bersih, negaranya berkah,” demikian gagasan yang disampaikan dalam materi tersebut, yang juga dikaitkan dengan QS. Ar-Ra’d ayat 11.
Dari pemahaman QS. Yusuf ayat 53, ia menyebut bahwa nafsu yang selalu mendorong kepada kejahatan dapat muncul dalam berbagai bentuk ketika diterapkan dalam kehidupan bernegara.
Nafsu pejabat, misalnya, dapat berupa korupsi, ketamakan dan kolusi.
Nafsu rakyat dapat muncul dalam bentuk kedengkian, hoaks, tindakan anarkis maupun praktik KKN.
Sementara nafsu partai politik dapat muncul dalam bentuk perebutan kekuasaan dan upaya menjatuhkan lawan.
Karena itu, menurutnya, Tazkia Nafs negara berarti menyucikan sistem dan jiwa para pengelola negara dari dua potensi, yaitu fujur dan taqwa.
“SMS” sebagai Penyakit Negara
Dalam perspektif kehidupan bernegara, penyakit kedengkian juga dapat berkembang secara kolektif.
Ia menyebut beberapa bentuk yang menurutnya dapat terjadi, antara lain oposisi yang dengki terhadap keberhasilan negara, elite yang tidak senang melihat rakyat sejahtera, maupun media yang lebih menonjolkan aib daripada prestasi.
Namun, ia menekankan bahwa solusi yang ditawarkan Al-Qur’an adalah kesabaran dan ketakwaan.
Hal itu merujuk pada bagian QS. Ali ‘Imran ayat 120:
وَاِ نْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْــئًا
“Jika kamu bersabar dan bertakwa, tipu daya mereka tidak akan menyusahkan kamu sedikit pun.”
Empat Rukun Tazkia Nafs dalam Negara
Dalam narasi tersebut, Eggi Sudjana menyampaikan empat langkah utama yang disebut sebagai rukun Tazkia Nafs negara.
Pertama, syirik diganti dengan tauhid.
Dalam aplikasinya terhadap negara, nilai ketauhidan ditempatkan sebagai landasan kehidupan dan hukum. Narasi tersebut merujuk antara lain pada QS. Al-Ma’idah ayat 44.
Kedua, sombong dan dengki diganti dengan tawadhu dan syukur.
Pejabat diharapkan menjadi pelayan rakyat, bukan menjadikan jabatan sebagai sarana untuk dilayani. Sikap saling menjatuhkan juga harus ditinggalkan.
Ketiga, maksiat diganti dengan akhlaqul karimah.
Dalam kehidupan bernegara, hal tersebut diwujudkan melalui upaya memberantas berbagai bentuk kejahatan dan kemaksiatan serta menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.
Keempat, malas dan tidak melakukan tadabbur diganti dengan ilmu dan kerja.
Kebijakan negara, menurut narasi tersebut, harus dibangun berdasarkan ilmu, kajian, riset dan evaluasi sehingga tidak semata-mata mengikuti hawa nafsu.
Buah Tazkia Nafs: Keberkahan bagi Negeri
Konsep tersebut kemudian dikaitkan dengan QS. Al-A’raf ayat 96:
وَلَوْ اَ نَّ اَهْلَ الْقُرٰۤى اٰمَنُوْا وَا تَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَا لْاَرْضِ
“Andai penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami bukakan berkah dari langit dan bumi.”
Menurut Eggi Sudjana, ayat tersebut memberikan gambaran bahwa keimanan dan ketakwaan masyarakat dapat menjadi bagian dari fondasi kehidupan negeri yang penuh keberkahan.
Dalam narasinya, Tazkia Nafs kolektif digambarkan dapat mendorong terciptanya ekonomi yang stabil, hukum yang adil dan kehidupan rakyat yang lebih baik.
Karena itu, Tazkia Nafs dalam kehidupan bernegara disebut sebagai nation building berbasis iman.
Pemimpin, Rakyat dan Sistem Harus Bersih
Dalam konsep tersebut, terdapat tiga unsur utama yang harus menjalankan Tazkia Nafs.
Pemimpin wajib membersihkan diri dari kesyirikan dalam jabatan, kesombongan kekuasaan dan kedengkian terhadap lawan.
Rakyat juga wajib membersihkan diri dari kedengkian, “SMS”, hoaks dan sikap apatis.
Sedangkan sistem negara harus dibangun di atas nilai tauhid, keadilan dan akhlaqul karimah.
Eggi Sudjana juga mengingatkan tentang bahaya ketika nafsu ammarah bissu’ masih menguasai kehidupan, baik di lingkungan kekuasaan maupun di tengah masyarakat.
Dalam narasi tersebut, kondisi itu dikaitkan dengan peringatan mengenai istidraj hingga azab. Sebaliknya, jika masyarakat mengedepankan kesabaran, ketakwaan dan Tazkia Nafs, maka ia mengingatkan bahwa Allah memberikan jaminan sebagaimana pesan dalam QS. Ali ‘Imran ayat 120, bahwa tipu daya tidak akan memudaratkan orang-orang yang bersabar dan bertakwa.
Tujuh Langkah Tazkia Nafs Berdasarkan Al-Qur’an
Lebih lanjut, Eggi Sudjana merumuskan tujuh langkah Tazkia Nafs yang dapat diterapkan dalam kehidupan.
1. Tauhid
Mengganti syirik dengan tauhid. Dalam aplikasi bernegara, nilai Qur’an dan Sunnah dijadikan landasan moral dan spiritual kehidupan, bukan hukum kepentingan maupun hukum rimba.
2. Melawan Dengki “SMS”
Kedengkian diganti dengan syukur dan sabar. Prinsip ini dikaitkan dengan QS. Ali ‘Imran ayat 120 agar elite maupun masyarakat tidak menjadikan keberhasilan orang lain sebagai alasan untuk iri dan dengki.
3. Menghancurkan Kesombongan
Kesombongan diganti dengan tawadhu. Pejabat diharapkan menjadi pelayan rakyat, tidak korup dan tidak mempertontonkan kemewahan secara berlebihan.
4. Memberantas Maksiat
Maksiat diganti dengan amar ma’ruf. Dalam kehidupan negara, hal tersebut dikaitkan dengan penegakan hukum yang adil dan pemberantasan berbagai bentuk kejahatan.
5. Melawan Kemalasan
Kemalasan diganti dengan ilmu dan kerja. Negara membutuhkan sumber daya manusia yang unggul, produktif dan memiliki etos kerja.
6. Tadabbur Al-Qur’an
Hawa nafsu diganti dengan petunjuk wahyu. Setiap kebijakan diharapkan tidak hanya mempertimbangkan kepentingan material, tetapi juga nilai-nilai moral dan keagamaan.
7. Akhlaqul Karimah
Akhlak buruk diganti dengan akhlak Nabi, yaitu jujur, amanah, adil dan fathonah. Narasi tersebut mengaitkannya dengan QS. Al-Ahzab ayat 21.
Menurut Eggi Sudjana, apabila tujuh langkah tersebut dapat diterapkan secara konsisten, maka akan lahir masyarakat dan negara yang beriman serta bertakwa.
“Negara Kuat Bukan Hanya karena SDA”
Pada bagian akhir Mutiara Hikmah, Eggi Sudjana menegaskan bahwa kekuatan negara tidak semata-mata ditentukan oleh sumber daya alam.
“Negara kuat bukan karena SDA. Tapi karena Tazkia Nafs pemimpin dan rakyatnya, beriman dan bertaqwa kepada Allah,” demikian pesan yang disampaikan.
Ia mengajak seluruh masyarakat yang mengaku beriman dan bertakwa kepada Allah untuk bersama-sama mewujudkan visi dan misi Indonesia Bertaqwa.
Pesan tersebut ditutup dengan doa:
“Allahumma aslih wulata umurina, wa aslih ra’iyatana.”
“Ya Allah perbaiki pemimpin kami, dan perbaiki rakyat kami.”
Salam Jihad, Brother Eggi Sudjana ( BES )




