Mutiara Hikmah, BES: Rasionalitas “Rasa Takut” dalam QS Ali Imran 149-151

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Bismillah, Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si atau dengan panggilan akrab nya Brother Eggi Sudjana (BES) kembali menyampaikan Mutiara Hikmah pada Senin, 21 September 2026. Dalam kajian kali ini, BES membahas QS. Ali ‘Imran ayat 149-151, khususnya tentang perintah Allah kepada orang-orang beriman dan pertanyaan mengenai rasionalitas Allah memasukkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ تُطِيْعُوا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا يَرُدُّوْكُمْ عَلٰۤى اَعْقَابِكُمْ فَتَـنْقَلِبُوْا خٰسِرِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu mentaati orang-orang yang kafir, niscaya mereka akan mengembalikan kamu ke belakang (murtad), maka kamu akan kembali menjadi orang yang rugi.”

QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 149.

Kemudian:

بَلِ اللّٰهُ مَوْلٰٮكُمْ ۚ وَهُوَ خَيْرُ النّٰصِرِيْنَ

“Tetapi hanya Allah-lah pelindungmu, dan Dia penolong yang terbaik.”

QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 150.

Selanjutnya:

سَنُلْقِيْ فِيْ قُلُوْبِ الَّذِيْنَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَاۤ اَشْرَكُوْا بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا ۚ وَمَأْوٰٮهُمُ النَّارُ ۗ وَبِئْسَ مَثْوَى الظّٰلِمِيْنَ

“Akan Kami masukkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, karena mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan keterangan tentang itu. Dan tempat kembali mereka ialah neraka. Dan (itulah) seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang zalim.”

QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 151.

Menurut BES, dari tiga ayat tersebut jelas terdapat perintah Allah, yaitu:

1. Jangan taati orang-orang kafir.

2. Cukuplah Allah Pelindung dan Penolong terbaik.

3. Allah masukkan rasa TAKUT di hati orang-orang kafir itu karena mereka musyrik.

Namun, BES kemudian mengajukan sebuah pertanyaan serius:

Bagaimana rasionalitas memasukkan rasa takut tersebut?

Baca juga:  Eggi Sudjana Buka Suara Terkait Penangkapan Roy Suryo dan Dokter Tifa

QS Ali Imran 149-151 – Rasionalitas “سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ”

Menurut BES, pertanyaan serius tersebut kemudian dijawab melalui apa yang disebutnya sebagai Psikologi Tauhid.

“Allah tidak bilang ‘Kami akan kalahkan mereka dengan pasukan banyak.’ Tapi Allah bilang ‘Kami akan masukkan RASA TAKUT ke dalam hati mereka’,” demikian narasi BES.

Lantas, bagaimana rasionalitasnya?

BES menjelaskan melalui 3 LAPISAN RASIONALITAS – KENAPA ORANG MUSYRIK PASTI TAKUT.

1. LAPISAN AQIDAH – Kekosongan Sandaran

Menurut BES, bagian ini merupakan kunci dari ayat 151.

Perhatikan ujung ayat 151:

“بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا”

“Karena mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan keterangan tentang itu.”

BES kemudian menjelaskan rasionalitasnya.

Orang Tauhid, menurut narasi BES, sandarannya SATU, JELAS, ABSOLUT: Allah Al-Hayyul Qayyum. Dia hidup, tidak mati, tidak tidur dan Maha Kuat.

“Kalau bersandar ke Allah, hati punya jangkar yang tidak goyah,” tulis BES.

Sementara itu, orang musyrik dalam narasi BES memiliki sandaran yang BANYAK, PALSU, RAPUH dan LOYO, seperti berhala, wanita, pria atau manusia musyrik, negara/pemerintah, uang, ideologi, nenek moyang hingga kekuatan militer.

Semua itu disebut BES sebagai:

“maa lam yunazzil bihi sulthana”

yakni tidak ada hujjah atau bukti kekuatannya, tetapi justru membuat manusia tertipu.

BES memberikan perumpamaan:

“Logika akal: Jika kau sandarkan hidupmu ke 10 tali yang semuanya lapuk, kau akan selalu cemas talinya putus. Jika kau sandarkan ke 1 tiang baja yang kokoh, kau tenang.”

Menurut BES, ketakutan tersebut merupakan SUNNATULLAH psikologis.

“Hati yang tidak bertauhid otomatis kosong dan rapuh,” tulis BES.

2. LAPISAN PSIKOLOGI – Kontradiksi Internal

Baca juga:  Lapor Pak Bupati: Pedagang Tramadol di Cibinong Diduga Kebal Hukum: Berkedok Kelontong, Ada Main dengan Oknum?

Lapisan kedua adalah psikologi.

Menurut BES, orang beriman memandang mati syahid sebagai menang dan hidup mulia juga sebagai menang. Karena itu, tidak ada yang ditakuti.

BES mengutip QS. At-Taubah ayat 52:

“قُلْ هَلْ تَرَبَّصُونَ بِنَا إِلَّا إِحْدَى الْحُسْنَيَيْنِ”

Sementara orang kafir atau musyrik, menurut narasi BES:

Mati = habis, gelap, tidak ada harapan.

Hidup = takut kehilangan dunia yang dia cintai.

BES kemudian mengaitkannya dengan medan perang Uhud sebagai konteks ayat 149-151.

Menurut narasi tersebut, kaum musyrikin Quraisy secara logistik menang di akhir pertempuran, tetapi mereka lari ketakutan dan tidak jadi masuk Madinah.

Kenapa?

“Karena hati mereka tidak punya Why yang lebih besar dari cinta dunia daripada cinta Akhirat,” tulis BES.

BES juga mengaitkan hal tersebut dengan Viktor Frankl, seorang psikiater, yang menurut narasi BES menjelaskan bahwa manusia yang memiliki makna transenden lebih tahan dibanding manusia materialistis.

3. LAPISAN SOSIOLOGI & SEJARAH – Fakta Lapangan

Menurut BES, Allah memasukkan rasa takut bukan dengan sihir, tetapi dengan mekanisme rasional yang Allah ciptakan.

Pertama, disebutkan bahwa tidak ada persatuan hakiki.

BES mengutip:

“تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى”

“Kau kira mereka bersatu, padahal hati mereka berpecah-belah.”

QS. Al-Hasyr 59:14.

BES menyebut, koalisi berbasis kepentingan dunia pasti retak saat mendapat tekanan.

Kedua, cinta dunia berlebihan.

BES mengutip sabda Rasulullah tentang Wahn:

“Hubbud dunya wa karahiyatul maut”

yang dalam narasi tersebut disebut sebagai penyakit cinta dunia dan takut mati.

“Ini yang membuat takut,” tulis BES.

Ketiga, hati nurani tahu kebenaran.

BES menyampaikan bahwa jauh di lubuk hati, mereka mengetahui bahwa berhala tidak bisa menolong. Namun, kontradiksi tersebut dapat melahirkan rasa takut yang disebutnya tidak rasional.

Baca juga:  Bupati Bogor Cup 2026 Seri II Angkat Potensi Wisata Bogor Barat hingga ke Jepang

BES kemudian memberikan contoh Firaun yang disebut mengetahui Musa benar, tetapi tetap mempertahankan sikapnya karena gengsi.

Jawaban Singkat untuk Dakwah

Dalam bagian ini, BES memberikan jawaban singkat atas pertanyaan bagaimana Allah memasukkan rasa takut.

“Bagaimana Allah masukkan rasa takut? Dengan mencabut sandaran hati mereka.”

Menurut BES, cukup Allah membiarkan mereka dengan kemusyrikan mereka, sehingga hati mereka takut sendiri.

“Tidak perlu Allah kirim tentara tambahan.”

Sementara orang beriman, menurut BES, Allah memberikan sandaran:

“بَلِ اللَّهُ مَوْلَاكُمْ وَهُوَ خَيْرُ النَّاصِرِينَ”

“Cukuplah Allah Pelindungmu.”

Dari sini BES kembali mengajukan pertanyaan:

“Kalau Allah sudah jadi Maula (Pelindung), untuk apa taat kepada orang kafir (Ayat 149)?”

Dan:

“Kalau Allah sudah masukkan takut ke hati musuh (Ayat 151), untuk apa kita yang takut?”

Rangkuman Tiga Ayat

BES kemudian merangkum tiga ayat tersebut sebagai sebuah rangkaian logika:

149: Jangan taati kafir — Larangan.

150: Taati Allah saja, Dia sebaik-baik penolong — Solusi.

151: Jangan khawatir, musuhmu sebenarnya lebih takut darimu — Jaminan kemenangan psikologis.

Menurut BES, rangkaian tersebut juga berkaitan dengan keberanian 313 pasukan dalam Perang Badar menghadapi sekitar 1.000 pasukan.

“Ini yang membuat 313 pasukan Badar berani melawan 1000. Bukan karena jumlah, tapi karena satu pihak hatinya dipenuhi Allah, satu pihak hatinya dikosongkan oleh Allah,” tulis BES.

BES menutup Mutiara Hikmah tersebut dengan pesan:

“Wallahu A’lam, Ini pelajaran Tauhid yang mahal bagi Orang-Orang yang Tahu Diri dan Tahu Batas.”

Salam Jihad, Brother Eggi Sudjana (BES)

Latest

Universitas Graha Ganesha Resmi Berdiri, YPGG Lantik Rektor dan Jajaran Pejabat Struktural

TANGERANG | MATA PENA INDONESIA – Yayasan Pendidikan Graha...

Mutiara Hikmah, BES: Memahami Makna Taqiyyah dalam QS Ali ‘Imran Ayat 28

BOGOR | MATA PENA INDONESIA — BISMILLAH, Prof. Dr. Eggi...

Mutiara Hikmah, BES: Tidak Ada Jalan Tengah, Islam Kaffah Harus Tegas dan Benar

BOGOR | MATA PENA INDONESIA — Bismillah. Prof. Dr....

Newsletter

Don't miss

Universitas Graha Ganesha Resmi Berdiri, YPGG Lantik Rektor dan Jajaran Pejabat Struktural

TANGERANG | MATA PENA INDONESIA – Yayasan Pendidikan Graha...

Mutiara Hikmah, BES: Memahami Makna Taqiyyah dalam QS Ali ‘Imran Ayat 28

BOGOR | MATA PENA INDONESIA — BISMILLAH, Prof. Dr. Eggi...

Mutiara Hikmah, BES: Tidak Ada Jalan Tengah, Islam Kaffah Harus Tegas dan Benar

BOGOR | MATA PENA INDONESIA — Bismillah. Prof. Dr....

Mutiara Hikmah, BES: QS. An-Nisa 150-152 dan Pentingnya Memahami Iman kepada Para Rasul

Oleh : Prof Dr H Eggi Sudjana, SH., M.Si BOGOR...

Universitas Graha Ganesha Resmi Berdiri, YPGG Lantik Rektor dan Jajaran Pejabat Struktural

TANGERANG | MATA PENA INDONESIA – Yayasan Pendidikan Graha Ganesha (YPGG) resmi melantik Dr. M. Arief Noor, M.Pd., M.M. sebagai Rektor Universitas Graha Ganesha...

Mutiara Hikmah, BES: Memahami Makna Taqiyyah dalam QS Ali ‘Imran Ayat 28

BOGOR | MATA PENA INDONESIA — BISMILLAH, Prof. Dr. Eggi Sujana, SH., M.Si atau dengan panggilan akrabnya Broteher Eggi Sudjana (BES) kembali menyampaikan Mutiara Hikmah...

Mutiara Hikmah, BES: Tidak Ada Jalan Tengah, Islam Kaffah Harus Tegas dan Benar

BOGOR | MATA PENA INDONESIA — Bismillah. Prof. Dr. H, Eggi Sudjana, SH., M.Si atau dengan panggilan Akrabnya Brother Eggi Sudjana (BES) dalam Mutiara...