BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si, atau dengan panggilan akrabnya Brother Eggi Sudjana (BES) kembali menyampaikan Mutiara Hikmah pada Jumat, 11 September 2026 atau 17 Rabiul Awal 1448 H. Kali ini, BES mengangkat tema “Ketika Kebenaran Ditinggalkan” dengan mengambil dasar utama dari Al-Qur’an Surah Ar-Ra’d ayat 1.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
الٓـمّٓرٰ ۗ تِلْكَ اٰيٰتُ الْكِتٰبِ ۗ وَالَّذِيْۤ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ الْحَـقُّ وَلٰـكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُوْنَ
“Alif Lam Mim Ra. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al-Qur’an). Dan (Kitab) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu itu adalah benar; tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya).”
QS. Ar-Ra’d: 1
BES menegaskan bahwa ayat tersebut menunjukkan kebenaran Al-Qur’an yang berasal dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan diwahyukan kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Menurutnya, persoalan serius yang perlu dijawab adalah mengapa kebenaran Al-Qur’an masih banyak yang tidak diimani dan tidak dijadikan pedoman dalam kehidupan.
“Bahwasanya kebenaran Al-Qur’an itu ABSOLUTE karena berasal dari ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA yang diwahyukan ke Rasulullah Muhammad SAW, tetapi faktanya banyak yang tidak mengimaninya,” ujar BES dalam materi Mutiara Hikmahnya.
BES kemudian mengajukan pertanyaan, apa penyebab dasar manusia tidak beriman dan bagaimana solusi sistemiknya?
Empat Penyebab Manusia Tidak Beriman
Dalam analisisnya, BES menyebut terdapat empat persoalan yang menjadi penyebab manusia menjauh dari kebenaran Al-Qur’an.
Pertama, Hati yang Sakit dan Takabur
BES mengutip firman Allah SWT:
سَاَصْرِفُ عَنْ اٰيٰتِيَ الَّذِيْنَ يَتَكَبَّرُوْنَ
“Akan Aku palingkan dari ayat-ayat-Ku orang-orang yang menyombongkan diri.”
QS. Al-A’raf: 146
Menurut BES, manusia yang merasa pintar, modern, atau lebih mengetahui dapat menganggap Al-Qur’an sebagai sesuatu yang kuno sehingga tidak menjadikannya sebagai pedoman kehidupan.
Kedua, Mengikuti Hawa Nafsu dan Dunia
BES juga mengutip QS. An-Najm ayat 23:
اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْاَنْفُسُ
“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsunya.”
Menurut BES, kepentingan duniawi dapat membuat manusia menolak aturan yang dianggap bertentangan dengan kepentingannya, termasuk persoalan riba, perjudian, kemaksiatan maupun praktik ekonomi yang dinilai tidak sesuai dengan syariat.
Ketiga, Doktrin dan Propaganda Batil
BES kemudian mengutip QS. Al-An’am ayat 112:
وَكَذٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيٰطِيْنَ الْاِنْسِ وَالْجِنِّ
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi setiap nabi musuh, yaitu setan-setan dari golongan manusia dan jin.”
Menurut BES, umat juga menghadapi berbagai informasi dan framing yang dapat membentuk pandangan negatif terhadap Islam.
Ia menilai kondisi tersebut membuat umat perlu memperkuat pemahaman terhadap Al-Qur’an dan tidak mudah terpengaruh oleh propaganda maupun informasi yang tidak benar.
Keempat, Sistem yang Menjauhkan Umat dari Al-Qur’an
Persoalan keempat yang menjadi sorotan BES adalah sistem kehidupan yang menurutnya semakin menjauhkan umat dari Al-Qur’an.
BES mengutip QS. Al-Furqan ayat 30:
وَقَالَ الرَّسُوْلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوْا هٰذَا الْقُرْاٰنَ مَهْجُوْرًا
“Dan Rasul berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.’”
Menurut BES, ketika hukum, ekonomi dan pendidikan tidak menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai pedoman, umat akan semakin jauh dari Al-Qur’an.
“Kesimpulannya, tidak beriman bukan karena Al-Qur’annya salah, tetapi karena ada halangan dari dalam diri dan halangan dari sistem,” demikian analisis BES.
BES Soroti “Ignore Politik”, Kemiskinan dan Ketakutan Rakyat
Dalam Mutiara Hikmah tersebut, BES juga menyoroti apa yang disebutnya sebagai “IGNORE POLITIK”.
Menurut BES, ketika rakyat tidak peduli terhadap persoalan politik, hukum dan kebijakan yang menentukan kehidupan masyarakat, maka keberanian untuk menyampaikan kebenaran dapat semakin melemah.
Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan istilah JUBEDIL, yakni Jujur, Benar dan Adil.
Menurut BES, nilai JUBEDIL tidak akan berkembang apabila masyarakat takut menyampaikan kebenaran.
BES juga menghubungkan persoalan tersebut dengan kemiskinan dan ketergantungan masyarakat terhadap pinjaman online.
Dalam narasinya, BES menyebut angka sekitar 194 juta rakyat Indonesia dalam kondisi miskin serta menyinggung Kabupaten Bogor terkait persoalan pinjaman online.
Pernyataan tersebut merupakan analisis dan pandangan BES dalam materi Mutiara Hikmah, sehingga data mengenai jumlah kemiskinan dan posisi pinjaman online perlu dikonfirmasi kembali berdasarkan sumber statistik atau data resmi apabila digunakan sebagai data faktual.
BES kemudian mengutip firman Allah SWT:
يَمْحَقُ اللّٰهُ الرِّبٰوا وَيُرْبِي الصَّدَقٰتِ
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.”
QS. Al-Baqarah: 276
Menurut BES, persoalan kemiskinan yang terjadi di masyarakat tidak cukup dipandang sebagai persoalan nasib individu, tetapi juga harus dilihat dari sistem ekonomi yang berjalan.
Ia menyoroti riba, oligarki dan korupsi sebagai bagian dari persoalan yang menurutnya perlu mendapatkan perhatian serius.
Tiga Tahap Solusi Sistemik
BES menegaskan bahwa apabila persoalan umat bersifat sistemik, maka solusinya juga harus dilakukan secara sistemik.
Ia menawarkan tiga tahapan, yakni Tasfiyah, Tarbiyah dan Tasyri’.
1. Tasfiyah – Penyucian Aqidah
Tahap pertama adalah Tasfiyah, yakni membersihkan dan meluruskan aqidah umat serta melawan berbagai syubhat.
BES mengutip:
فَاعْلَمْ اَنَّهٗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ
“Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.”
QS. Muhammad: 19
Menurut BES, umat perlu menggencarkan kajian Al-Qur’an, termasuk membedah ayat-ayat yang berkaitan dengan persoalan politik, ekonomi dan kehidupan masyarakat.
2. Tarbiyah – Pembinaan Kader Umat
Tahap kedua adalah Tarbiyah, yakni pembinaan kader umat.
BES menawarkan konsep CBM, yaitu Cerdas, Berani dan Militan.
Ia mengutip firman Allah SWT:
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf.”
QS. Ali ‘Imran: 110
Menurut BES, umat harus dibina agar cerdas dalam memahami agama, berani melakukan amar ma’ruf dan memiliki militansi dalam dakwah.
Di bidang ekonomi, BES juga mendorong pembangunan ekonomi umat yang tidak bergantung pada riba, termasuk melalui koperasi dan Baitul Maal.
3. Tasyri’ – Perjuangan Hukum yang Adil
Tahap ketiga adalah Tasyri’, yakni perjuangan untuk menghadirkan hukum yang menurut BES berlandaskan nilai-nilai keadilan.
BES mengutip QS. Al-Ma’idah ayat 45:
وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰٓئِكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang zalim.”
Dalam konteks tersebut, BES kembali menekankan pentingnya JUBEDIL: Jujur, Benar dan Adil, termasuk dalam penegakan hukum dan pemberantasan korupsi.
Tiga Pilar Solusi untuk Indonesia
BES juga menawarkan tiga pilar solusi yang menurutnya perlu menjadi perhatian.
Pertama, Pilar Ekonomi.
Mendorong sistem ekonomi yang lebih berkeadilan, memperkuat ekonomi umat, mengurangi ketergantungan terhadap riba dan pinjaman online, serta mengembangkan ekonomi berbasis kebersamaan.
Kedua, Pilar Hukum.
Mendorong penegakan hukum yang adil, tidak pandang bulu, serta memberantas korupsi.
Ketiga, Pilar Pendidikan.
Membangun pendidikan yang melahirkan generasi berilmu, berakhlak, berani menyampaikan kebenaran dan memiliki kepedulian terhadap kehidupan umat.
“Allah Tidak Mengubah Nasib Suatu Kaum”
BES kemudian mengingatkan umat dengan firman Allah SWT:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
QS. Ar-Ra’d: 11
Menurut BES, perubahan harus dimulai dari diri sendiri, kemudian dilanjutkan dengan pembinaan umat dan perubahan dalam kehidupan bermasyarakat.
Karena itu, ia mengajak umat agar tidak hanya mengeluhkan kondisi yang terjadi, tetapi melakukan upaya nyata berdasarkan nilai keimanan, kejujuran dan keadilan.
Jangan Menjadi “Aksarun Nas”
Pada bagian akhir Mutiara Hikmah, BES kembali mengingatkan pesan QS. Ar-Ra’d ayat 1 bahwa Al-Qur’an adalah kebenaran, meskipun kebanyakan manusia tidak beriman kepadanya.
Ia kemudian mengutip:
قَلِيْلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ
“Sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”
QS. Saba’: 13
BES mengajak umat untuk menjadi bagian dari orang-orang yang beriman, bersyukur dan berjuang menegakkan nilai kebenaran.
Menurutnya, umat tidak boleh hanya menjadi penonton terhadap berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.
Ajakan untuk Para Dai dan Khatib
Selain menjadi materi Mutiara Hikmah, BES juga menyampaikan materi tersebut sebagai bahan yang dapat digunakan oleh para dai dan khatib untuk khutbah Jumat.
Tema yang ditawarkan adalah:
“KETIKA KEBENARAN DITINGGALKAN”
BES menyusun materi khutbah sekitar 15 menit, dengan pembagian 12 menit untuk khutbah pertama dan 3 menit untuk khutbah kedua.
Dalam materi tersebut, BES mengajak jamaah untuk memahami kembali kebenaran Al-Qur’an, mengenali persoalan umat serta memikirkan solusi melalui tiga tahapan, yaitu Tasfiyah, Tarbiyah dan Tasyri’.
Di bagian penutup, BES memanjatkan doa:
رَبَّنَاۤ اَخْرِجْنَا مِنْ هٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ اَهْلُهَا
“Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri yang penduduknya zalim.”
QS. An-Nisa: 75
BES juga mengajak umat Islam untuk bersama-sama memperkuat majelis Mutiara Hikmah sebagai bagian dari upaya memperdalam pemahaman terhadap Al-Qur’an.
“Insya Allah upaya kita bersama, Allah jadikan ini sebab hidayah untuk negeri Indonesia yang kita cintai,” pesan BES.
Salam Jihad, Brother Eggi Sudjana (BES)




