Mutiara Hikmah, BES: Kun Fayakun Allah dan Makna Hari Kesaktian Pancasila

MALAYSIA | MATA PENA INDONESIA – BISMILLAH. Mutiara Hikmah Kamis, 1 Oktober 2026.

Dalam Mutiara Hikmah Kamis, 1 Oktober 2026, Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si., atau yang akrab disapa Brother Eggi Sudjana (BES), membahas QS Ya-Sin ayat 82-83 tentang konsep “Kun Fayakun”, kekuasaan Allah atas segala sesuatu, serta kaitannya dengan momentum Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اِنَّمَاۤ اَمْرُهٗۤ اِذَاۤ اَرَادَ شَيْئًـا ۖ اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ

“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ Maka jadilah sesuatu itu.”

(QS Ya-Sin 36:82)

Juncto ayat 83:

فَسُبْحٰنَ الَّذِيْ بِيَدِهٖ مَلَكُوْتُ كُلِّ شَيْءٍ وَّاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

“Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya kamu dikembalikan.”

(QS Ya-Sin 36:83)

Menurut BES, bagian akhir Surah Ya-Sin tersebut, khususnya ayat 83, sangat populer di tengah masyarakat Indonesia dan sering diamalkan, baik secara individu olh umat Islam maupun secara berjamaah di berbagai majelis taklim.

Namun, BES kemudian mengajukan sebuah pertanyaan sederhana:

Bagaimana memahami kata “JADILAH” apabila Allah menghendaki sesuatu?

Menurut BES, logika Al-Qur’an atau wahyu-Nya telah memberikan jawaban melalui ayat 83:

“Yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya kamu dikembalikan.”

Kun Fayakun: Allah Tidak Bergantung pada Kausalitas Makhluk

BES berpikir, dalam memahami kata “Jadilah” apabila Dia menghendaki sesuatu, maka konsep tersebut harus dilihat dari perspektif kekuasaan Allah.

Menurutnya, bagi Allah tidak berlaku hukum kausalitas dalam pengertian sebagaimana manusia mengalaminya. Demikian pula Allah tidak membutuhkan proses atau tahapan seperti yang diperlukan makhluk.

Dengan kata lain, logika untuk memahami eksistensi Allah harus melihat bahwa Allah itu Absolute, Distinct dan Unique.

BES menjelaskan:

Absolute, yaitu mutlak, totalitas dan tidak terbatas.

Distinct, yaitu lain daripada yang lain.

Unique, yaitu tunggal, tidak berbagi dan Esa.

Karena itu, menurut BES, Allah berkuasa atas segala sesuatu, membuat dan menentukan segala peristiwa. Allah memberikan perlindungan, pertolongan, memberikan rezeki, menentukan jodoh, serta menentukan ujung akhir kehidupan atau ajal manusia.

Mengapa Masih Ada Manusia yang Menolak Ajaran Allah?

BES kemudian mengajukan pertanyaan berikutnya.

Jika Allah memiliki kekuasaan mutlak atas segala sesuatu, mengapa masih banyak manusia yang kafir, zalim, fasik, musyrik, munafik, kufur nikmat dan bahkan menentang ajaran-Nya?

Menurut BES, jawaban sederhananya adalah karena manusia tidak memahami dan tidak menerima kebenaran tersebut.

Baca juga:  Mutiara Hikmah BES: Ketika Kebenaran Al-Qur’an Ditinggalkan, Apa Penyebab dan Solusinya?

Dalam narasi BES, orang-orang yang menolak atau menentang ajaran Islam disebut sebagai orang yang “bodoh dan sombong”, dalam pengertian bahwa mereka tidak memahami atau tidak mau menerima kebenaran tauhid.

Namun, BES juga menegaskan bahwa persoalan tersebut dapat menjadi ruang perbedaan argumentasi sebagai bagian dari diskursus keilmuan, khususnya dalam kajian Tauhid Khas.

Hari Kesaktian Pancasila dan Pertanyaan tentang “Kesaktian Allah”

BES kemudian mengaitkan pembahasan tersebut dengan momentum Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober, sehari setelah peringatan G30S/PKI.

Menurut BES, ada pertanyaan fundamental yang perlu didiskusikan:

Bagaimana memahami Kesaktian Allah melalui konsep Kun Fayakun dibandingkan dengan kesaktian sebuah ideologi?

BES kemudian menguraikannya dalam beberapa bagian.

1. Apa Makna Kun Fayakun? Allah di Atas Kausalitas

BES kembali mengutip QS Ya-Sin ayat 82:

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Menurut BES, kata “Kun” atau “Jadilah” merupakan perintah penciptaan, bukan proses sebagaimana yang dilakukan manusia.

BES membedakan antara hukum yang berlaku bagi makhluk dan kekuasaan Allah.

Bagi makhluk, menurut BES, berlaku hukum kausalitas. Jika seseorang ingin mendapatkan padi, misalnya, harus menanam, menyiram dan menunggu hingga panen. Jika ingin memenangkan sebuah perjuangan, diperlukan kekuatan, strategi, tahapan dan ikhtiar.

Sedangkan bagi Allah, menurut BES, tidak berlaku kausalitas dan proses sebagaimana berlaku bagi makhluk.

Allah tidak membutuhkan rapat, anggaran, tahapan birokrasi maupun berbagai perangkat yang diperlukan manusia. Allah cukup berkata:

“Kun” – Jadilah.

Maka:

“Fayakun” – Maka jadilah.

Mengapa demikian?

Menurut BES, QS Ya-Sin ayat 83 memberikan jawabannya:

فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ

BES menjelaskan bahwa malakut merupakan kekuasaan Allah atas segala sesuatu.

Semua kekuasaan berada dalam kehendak Allah, bukan pada manusia, partai, kelompok, kekuatan ekonomi maupun kekuatan politik.

BES kemudian kembali pada tiga istilah:

ABSOLUTE: Mutlak, totalitas, tidak terbatas.

DISTINCT: Lain daripada yang lain (Mukhalafatu lil hawadits).

UNIQUE: Esa, tunggal dan tidak ada sekutu bagi-Nya (Laa syarika lahu).

Menurut BES, manusia memiliki keterbatasan, sementara kekuasaan Allah tidak terbatas.

Contoh dalam Refleksi Sejarah

Dalam materi tersebut, BES mengambil contoh dari sejarah bangsa Indonesia.

Menurut BES, ketika PKI merasa memiliki kekuatan yang besar, pada akhirnya kekuatan tersebut tidak bersifat kekal.

Baca juga:  Apresiasi BPI KPNPA RI: Kejati Jabar Tetapkan Wakil Ketua DPRD Indramayu Jadi Tersangka

BES mengaitkannya dengan konsep Kun Fayakun, serta dengan lahirnya TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966.

Dari perspektif yang disampaikan BES, hal tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana kekuasaan manusia pada akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah.

BES juga menegaskan bahwa rezeki, jodoh, ajal, hingga perjuangan KORLABI berada dalam kehendak Allah.

Namun, sebagai hamba, manusia tetap wajib melakukan ikhtiar, karena ikhtiar merupakan bagian dari proses yang Allah ciptakan bagi manusia.

2. Mengapa Banyak Manusia Kafir, Zalim dan Musyrik?

BES kemudian kembali kepada pertanyaan mengenai mengapa masih terdapat manusia yang menolak keberadaan dan kekuasaan Allah.

Dalam penjelasannya, BES mengatakan:

“Bukan karena Allah kurang bukti, tapi karena manusia bodoh dan sombong.”

BES menjelaskan bahwa kebodohan dalam konteks ini berkaitan dengan ketidakmauan untuk mempelajari ayat-ayat Allah, sedangkan kesombongan atau istikbar berkaitan dengan sikap manusia yang merasa mampu berdiri sendiri tanpa tunduk kepada Allah.

BES mengaitkan hal tersebut dengan sejumlah gambaran dalam Al-Qur’an, termasuk kisah Fir’aun yang mengklaim dirinya sebagai Tuhan.

Dalam konteks kekinian, BES mengingatkan agar manusia tidak merasa dirinya memiliki kekuasaan mutlak atas segala sesuatu.

QS Ya-Sin kemudian ditutup dengan kalimat:

وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Dan kepada-Nya kamu dikembalikan.”

Menurut BES, sekeras apa pun manusia menolak kebenaran hari ini, pada akhirnya seluruh manusia akan kembali kepada Allah.

Karena itu, menurut BES, manusia perlu memahami bahwa kekuasaan Allah bersifat mutlak, sedangkan kekuasaan manusia terbatas.

3. Bagaimana Memahami Kesaktian Allah dan Hari Kesaktian Pancasila?

Menurut BES, ini merupakan diskursus tauhid khusus yang penting untuk dibahas pada 1 Oktober.

Kesaktian Allah – QS Ya-Sin 83

BES menjelaskan:

Sumber: Biyadihi Malakutu Kulli Syai’ – di tangan Allah seluruh kekuasaan atas segala sesuatu.

Sifat: Asli, mutlak dan abadi.

Kun Fayakun: Tidak dapat dikalahkan oleh siapa pun.

Bukti: Alam semesta ada, berbagai peristiwa sejarah terjadi, dan manusia masih diberikan kesempatan hidup hingga hari ini.

Kesaktian Pancasila – 1 Oktober

BES memandang Kesaktian Pancasila sebagai kesaktian historis-politis, bukan kesaktian metafisik.

Menurutnya, istilah tersebut merujuk pada perjalanan historis Pancasila yang tetap dipertahankan sebagai dasar negara Indonesia setelah berbagai tantangan politik, termasuk upaya penggantian ideologi yang dikaitkan dengan peristiwa 1965.

BES menegaskan bahwa Pancasila tidak semestinya dipahami sebagai benda atau jimat yang memiliki kekuasaan sendiri.

Ia kemudian mengaitkannya dengan sila pertama:

Baca juga:  Mutiara Hikmah BES: Ketika Hati Manusia Menjadi Lebih Keras dari Batu

“Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Menurut BES, sila pertama dapat dipahami sebagai pengakuan terhadap keberadaan Tuhan Yang Maha Esa.

BES kemudian menyampaikan pandangannya bahwa apabila Pancasila dipahami sebagai alat untuk menjaga kehidupan berbangsa dan melindungi nilai ketuhanan, maka nilai tersebut dapat berjalan seiring dengan prinsip tauhid.

Namun, menurut BES, apabila Pancasila ditempatkan sebagai pengganti atau tandingan terhadap ajaran agama, maka hal tersebut perlu dikritisi dari perspektif tauhid.

Karena itu, BES menyimpulkan:

“Pancasila sakti karena Allah yang buat sakti. Bukan sakti sendiri.”

Menurut BES, Hari Kesaktian Pancasila seharusnya juga menjadi momentum untuk mengingat bahwa yang memiliki kekuasaan mutlak atas segala sesuatu hanyalah Allah sebagaimana ditegaskan dalam QS Ya-Sin ayat 83.

Pancasila, menurut pandangan BES, berada dalam kerangka kehidupan berbangsa dan bernegara, bukan sebagai sesuatu yang berada di atas kekuasaan Allah.

Tugas Kader Umat Islam dan KORLABI Setiap 1 Oktober

Dalam bagian akhir materinya, BES menyampaikan tugas kader umat Islam yang berada dalam CBM, khususnya mereka yang sebelumnya berada dalam Ex TPUA, dan kini menjadi KORLABI (Komando Pelaporan Bela Islam).

Menurut BES, setiap tanggal 1 Oktober terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan.

1. Memperingati Hari Kesaktian Pancasila dengan Mentauhidkan Allah

BES mengajak umat Islam menjelaskan kepada masyarakat bahwa dalam perspektif keimanannya, keselamatan bangsa dari berbagai ancaman bukan semata-mata karena kehebatan manusia, tetapi juga atas kehendak Allah melalui konsep Kun Fayakun.

2. Tidak Menjadikan Pancasila sebagai Tandingan Al-Qur’an

BES menegaskan agar Pancasila tidak ditempatkan sebagai tandingan Al-Qur’an.

Menurutnya, Pancasila merupakan kontrak sosial atau kesepakatan kehidupan berbangsa untuk melindungi kehidupan bersama dan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, bukan untuk menggantikan hukum Allah.

3. Ikhtiar, Tawakal dan Perjuangan

BES juga menyampaikan keyakinannya mengenai perjuangan Bela Islam dan gagasan kembali kepada UUD 1945 Asli yang dijiwai Semangat Piagam Jakarta.

Menurut BES, hal tersebut merupakan bagian dari perjuangan yang dilakukan KORLABI.

Ia mengingatkan agar umat tidak berlebihan dalam ketakutan terhadap kekuatan manusia, karena tugas manusia adalah melakukan ikhtiar dan bertawakal, sedangkan hasil akhirnya berada di tangan Allah.

BES kemudian menutup pembahasannya dengan kalimat:

“Manusia butuh proses, Allah cukup Kun. Manusia butuh bala tentara, Allah cukup berkata Jadilah.”

Wallahu A’lam.

Salam Jihad dan Sabar,

Brother Eggi Sudjana (BES)

Latest

Mutiara Hikmah, BES: Siapa Bala Tentaramu Selain Allah? Pesan QS Al-Mulk 67:20 di Tengah Memori G30S 1965

MALAYSIA | MATA PENA INDONESIA – Memperingati 30 September...

BAPPENDA Kabupaten Bogor Raih Nilai IKM 86,24% dengan Predikat Sangat Baik

CIBINONG |  MATA PENA INDONESIA – Penyelenggaraan pelayanan publik...

Mutiara Hikmah, BES: QS Al-An’am 6:65 dan Bahaya Diadu Domba Antar-Golongan

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. Eggi...

Eggi Sudjana di Tengah Aksi Petisi 26: Bersihkan Bogor dari Korupsi, Narkoba dan Judi

CIBINONG, MATAPENAINDONESIA.CO.ID – Tokoh nasional dan aktivis senior, Prof....

Newsletter

Don't miss

Mutiara Hikmah, BES: Siapa Bala Tentaramu Selain Allah? Pesan QS Al-Mulk 67:20 di Tengah Memori G30S 1965

MALAYSIA | MATA PENA INDONESIA – Memperingati 30 September...

BAPPENDA Kabupaten Bogor Raih Nilai IKM 86,24% dengan Predikat Sangat Baik

CIBINONG |  MATA PENA INDONESIA – Penyelenggaraan pelayanan publik...

Mutiara Hikmah, BES: QS Al-An’am 6:65 dan Bahaya Diadu Domba Antar-Golongan

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. Eggi...

Eggi Sudjana di Tengah Aksi Petisi 26: Bersihkan Bogor dari Korupsi, Narkoba dan Judi

CIBINONG, MATAPENAINDONESIA.CO.ID – Tokoh nasional dan aktivis senior, Prof....

Mutiara Hikmah, BES: QS An-Nur 24:26 dan Misteri Jodoh Fir’aun, Asiyah serta Nabi Luth

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. Eggi...

Mutiara Hikmah, BES: Siapa Bala Tentaramu Selain Allah? Pesan QS Al-Mulk 67:20 di Tengah Memori G30S 1965

MALAYSIA | MATA PENA INDONESIA – Memperingati 30 September 2026, Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si., atau yang akrab disapa Brother Eggi Sudjana (BES),...

BAPPENDA Kabupaten Bogor Raih Nilai IKM 86,24% dengan Predikat Sangat Baik

CIBINONG |  MATA PENA INDONESIA – Penyelenggaraan pelayanan publik merupakan salah satu bentuk tanggung jawab pemerintah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Hal tersebut sejalan dengan amanat...

Mutiara Hikmah, BES: QS Al-An’am 6:65 dan Bahaya Diadu Domba Antar-Golongan

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si., atau yang akrab disapa Brother Eggi Sudjana (BES), dalam Mutiara Hikmah Selasa,...