Mutiara Hikmah BES: Ultah Wajar Dirayakan dengan Gembira, Kematian Syahid Disambut dengan Sukacita, Benarkah?

BANDUNG | MATA PENA INDONESIA – Prof Dr Eggi Sudjana atau dengan panggilan akrabnya Brother Eggi Sudjana (BES), dalam Mutiara Hikmah Selasa, 27 Oktober 2026, mengangkat pembahasan mendalam mengenai makna kelahiran, kematian, dan kebangkitan manusia berdasarkan tadabur Al-Qur’an bil Qur’an, khususnya Surah Maryam ayat 15 dan ayat 33.

Dalam kajian tersebut, BES mengajukan pertanyaan reflektif: ulang tahun atau hari kelahiran yang sering dirayakan dengan kegembiraan oleh banyak orang merupakan hal yang wajar. Namun, mengapa ketika ajal tiba dan kematian memisahkan seseorang dari orang-orang yang dicintainya, banyak orang justru bersedih?

Menurut persepsi BES, kematian yang harus disambut dengan kegembiraan adalah kematian dalam keadaan mati syahid atau husnul khotimah. Benarkah persepsi tersebut keliru?

BES menegaskan bahwa persepsinya tidak keliru, tetapi harus disempurnakan. Sebab, kesadaran beragama berkaitan dengan pelaksanaan ketaatan. Apabila persepsi keliru, kesadaran dapat keliru, pelaksanaan ketaatan pun dapat keliru, sehingga berpotensi membawa manusia kepada kesudahan yang buruk.

Dua Ayat Surah Maryam tentang Kelahiran, Kematian, dan Kebangkitan

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

QS. Maryam ayat 15

وَسَلٰمٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوْتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا

“Dan kesejahteraan bagi dirinya pada hari lahirnya, pada hari wafatnya, dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali.”

(QS. Maryam 19: Ayat 15).

Ayat tersebut kemudian dijunctokan dengan Surah Maryam ayat 33:

وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوْتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”

(QS. Maryam 19: Ayat 33).

Melalui kedua ayat tersebut, BES menyampaikan bahwa terdapat tiga hari penting yang menentukan perjalanan manusia, yaitu hari kelahiran, hari kematian, dan hari kebangkitan. Ketiganya dikaitkan dengan salam kesejahteraan.

BES kemudian menghubungkan pembahasan ini dengan tema Mutiara Hikmah sebelumnya, yakni hari kelahiran Nabi Yahya dan Nabi Isa, serta kelanjutan kajian pada Senin, 26 Oktober 2026.

“Selasa hari ini, 27 Oktober 2026, BES masuk ayat paling indah tentang kelahiran, kematian, kebangkitan, tiga hari paling menentukan manusia, dan Allah beri salam kesejahteraan pada tiga hari itu,” demikian pokok pemikiran yang disampaikan dalam naskah Mutiara Hikmah BES.

QS. Maryam Ayat 15 untuk Nabi Yahya AS

Dalam penjelasannya, BES membedah QS. Maryam ayat 15 yang berbunyi:

وَسَلَامٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا

Wa Salamun Alaihi Yauma Wulida Wa Yauma Yamutu Wa Yauma Yub’atsu Hayya.

“Dan kesejahteraan bagi dirinya, Yahya, pada hari lahirnya, pada hari wafatnya, dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali.”

Menurut BES, ayat ini berbicara tentang Nabi Yahya bin Zakaria. Frasa Wa Salamun Alaihi dimaknai sebagai kesejahteraan bagi dirinya, dengan salam yang disebutkan dalam firman Allah.

BES menghubungkan kelahiran Nabi Yahya dengan kisah Nabi Zakaria yang memperoleh kabar gembira tentang kelahiran anak ketika usianya telah lanjut, sebagaimana dijelaskan dalam Surah Maryam ayat 7–12.

Dalam uraian BES, Nabi Yahya juga menjadi contoh keberanian menegakkan hukum. Naskah tersebut menyebut bahwa Nabi Yahya wafat sebagai syahid setelah dibunuh Raja Herodes karena keberaniannya menegakkan hukum dan menentang pernikahan yang dilarang.

BES kemudian menyoroti frasa Yauma Wulida, Yauma Yamutu, dan Yauma Yub’atsu Hayya, yakni hari kelahiran, hari wafat, dan hari dibangkitkan hidup kembali.

Ketiganya dipandang sebagai bagian penting dari perjalanan manusia yang dikaitkan dengan kesejahteraan.

QS. Maryam Ayat 33 untuk Nabi Isa AS

Selanjutnya, BES membahas QS. Maryam ayat 33:

وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

Was Salamu Alayya Yauma Wulidtu Wa Yauma Amutu Wa Yauma Ub’atsu Hayya.

“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”

Menurut BES, ayat tersebut berkaitan dengan Nabi Isa bin Maryam. Berbeda dengan ayat 15 yang menyebut Nabi Yahya, ayat 33 menggunakan ungkapan Was Salamu Alayya, yang berarti kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku.

BES menjelaskan bahwa kelahiran Nabi Isa merupakan peristiwa luar biasa karena beliau dilahirkan tanpa ayah. Kisah tersebut dihubungkan dengan Surah Maryam ayat 19–21.

Dalam uraian BES, Nabi Isa menyampaikan perkataan tersebut ketika masih bayi. Pembahasan mengenai wafat dan kebangkitan Nabi Isa kemudian dikaitkan dengan keyakinan Islam mengenai peristiwa akhir zaman.

Perbedaan Halus antara Dua Ayat

BES menjelaskan bahwa terdapat perbedaan ungkapan dalam kedua ayat tersebut.

QS. Maryam ayat 15: Wa Salamun Alaihi, yang berarti kesejahteraan bagi dirinya, berkaitan dengan Nabi Yahya.

Baca juga:  Orang Tua Korban Dugaan Kekerasan Desak Polresta Cirebon dan Polsek Gebang Segera Tuntaskan Perkara

QS. Maryam ayat 33: Was Salamu Alayya, yang berarti kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, berkaitan dengan Nabi Isa.

Dalam analisis kebahasaan yang disampaikan BES, ayat 15 menggunakan ungkapan Salamun dalam bentuk nakirah atau umum, sedangkan ayat 33 menggunakan As-Salamu dengan alif lam atau ma’rifah, yang dipahami sebagai bentuk definitif.

BES memandang perbedaan tersebut sebagai bagian dari kajian tadabur yang perlu diperhatikan untuk memahami konteks kedua ayat.

Keduanya sama-sama menyebut tiga peristiwa penting: Yauma Wulida atau Wulidtu, Yauma Yamutu atau Amutu, serta Yauma Yub’atsu Hayya atau Ub’atsu Hayya.

Dengan demikian, menurut pemikiran BES, kelahiran, kematian, dan kebangkitan tidak seharusnya dipandang hanya dari sisi kesedihan, tetapi juga dari sisi keimanan dan harapan terhadap kesejahteraan yang dijanjikan Allah.

Persepsi BES: Ulang Tahun Wajar Gembira, Kematian Syahid Disambut dengan Gembira

BES kemudian menjawab pertanyaan utama yang menjadi pokok pembahasan Mutiara Hikmah kali ini.

Menurutnya, ulang tahun atau hari kelahiran wajar disambut dengan kegembiraan karena hadirnya seorang anak merupakan nikmat. Namun, ketika kematian terjadi, kesedihan juga menjadi bagian dari fitrah manusia.

BES menegaskan bahwa kematian dalam keadaan syahid atau husnul khotimah memiliki dimensi keimanan yang berbeda. Kegembiraan dalam konteks ini berkaitan dengan keyakinan terhadap karunia Allah dan kehidupan akhirat.

Dalam naskahnya, BES menuliskan:

“PERSEPSI BES: ULTAH = ULANG TAHUN WAJAR GEMBIRA – TAPI KEMATIAN BANYAK ORANG SEDIH – PADAHAL KEMATIAN HARUS DISAMBUT GEMBIRA KALAU MATI SYAHID HUSNUL KHOTIMAH – KELIRUKAH? JAWABAN: TIDAK KELIRU – 100% BENAR – TAPI HARUS DISEMPURNAKAN – KARENA SEDIH KEMATIAN ITU FITRAH – GEMBIRA SYAHID ITU IMAN – DUA-DUANYA BOLEH – ASAL KESADARAN BENAR.”

BES kemudian membedah persoalan tersebut melalui tujuh lapisan pembahasan.

1. Ulang Tahun Wajar Disambut Gembira

BES menyatakan bahwa kegembiraan pada hari kelahiran merupakan hal yang wajar karena Allah menyebut kesejahteraan pada hari kelahiran Nabi Yahya melalui frasa Wa Salamun Alaihi Yauma Wulida.

Menurutnya, hari kelahiran dapat dipandang sebagai hari nikmat dan kesejahteraan. Kegembiraan atas kelahiran seorang anak merupakan fitrah, bukan sesuatu yang dengan sendirinya harus dianggap keliru.

BES menghubungkan hal tersebut dengan kebiasaan Nabi Muhammad SAW berpuasa pada hari Senin.

Ketika ditanya mengenai alasan beliau berpuasa pada hari Senin, Nabi Muhammad SAW menjawab:

Dzaaka Yaumu Wulidtu Fiihi.

“Itu hari aku dilahirkan.”

(HR. Muslim).

Menurut BES, hadis tersebut menunjukkan bahwa hari kelahiran dapat disyukuri melalui ibadah. Kegembiraan atas hari kelahiran, menurut penjelasannya, sebaiknya diwujudkan melalui rasa syukur, puasa, dan sedekah.

BES menegaskan bahwa persoalannya bukan semata-mata kegembiraan atas ulang tahun, melainkan cara merayakannya. Ia mengingatkan agar perayaan tidak diisi dengan kemaksiatan, perilaku yang melanggar syariat, atau kegiatan yang membuat seseorang melupakan rasa syukur kepada Allah.

Dalam konteks ini, BES menghubungkan rasa syukur dengan doa Nabi Sulaiman, Rabbi Auzi’ni An Asykura, yang menjadi pembahasan Mutiara Hikmah pada Senin sebelumnya.

2. Kesedihan atas Kematian Juga Wajar karena Fitrah Manusia

BES menegaskan bahwa kesedihan ketika seseorang meninggal dunia bukan berarti seseorang kehilangan iman. Kesedihan merupakan fitrah manusia ketika berpisah dengan orang yang dicintainya.

Sebagai contoh, BES mengutip sikap Nabi Muhammad SAW ketika putranya, Ibrahim, wafat.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

Innal Aina Tadm’u Wal Qalba Yahzanu Wa La Naqulu Illa Ma Yardha Rabbuna Wa Inna Bi Firaqika Ya Ibrahim Lamahzunun.

“Sesungguhnya mata menangis dan hati sedih, dan kami tidak mengucapkan kecuali yang diridai Tuhan kami. Dan sesungguhnya dengan perpisahanmu, wahai Ibrahim, kami benar-benar sedih.”

(HR. Bukhari dan Muslim).

Menurut BES, hadis tersebut menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW pun bersedih ketika putranya meninggal dunia. Mata menangis dan hati merasa sedih, tetapi kesedihan tersebut tidak membuat beliau mengucapkan sesuatu yang tidak diridai Allah.

BES juga menghubungkan pembahasan ini dengan kisah Nabi Ya’qub AS ketika kehilangan Nabi Yusuf AS.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَالَ اِنَّمَاۤ اَشْكُوْا بَثِّيْ وَحُزْنِيْۤ اِلَى اللّٰهِ وَاَعْلَمُ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

“Dia (Ya’qub) menjawab, ‘Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.’”

(QS. Yusuf 12: Ayat 86).

BES menekankan bahwa Nabi Ya’qub mengadukan kesusahan dan kesedihannya hanya kepada Allah. Menurutnya, hal itu memperlihatkan bahwa kesedihan dapat berjalan beriringan dengan keimanan dan keyakinan kepada Allah.

Baca juga:  Prof Eggi Sudjana: Kemuliaan Bukan pada Rupa, Harta, atau Jabatan, Melainkan Ketakwaan

Adapun yang dipersoalkan BES adalah kesedihan yang diwujudkan melalui ratapan berlebihan, meraung-raung, merobek pakaian, menampar pipi, atau sikap yang menunjukkan ketidakridhaan terhadap takdir Allah.

Dengan demikian, BES membedakan kesedihan yang merupakan fitrah manusia dengan ratapan yang bertentangan dengan tuntunan agama.

3. Kematian Syahid atau Husnul Khotimah Dipandang sebagai Karunia Allah

BES menempatkan kematian dalam keadaan syahid atau husnul khotimah sebagai inti pembahasannya.

Ia menghubungkan pemikiran tersebut dengan firman Allah dalam QS. Ali ‘Imran ayat 169–170:

Wa La Tahsabannal Ladzina Qutilu Fi Sabilillahi Amwatan Bal Ahya’un Inda Rabbihim Yurzaqun Farihina Bima Aatahumullahu Min Fadhlihi.

Maknanya, orang-orang yang terbunuh di jalan Allah tidak boleh dianggap mati. Mereka hidup di sisi Tuhan mereka dan mendapat rezeki, serta bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepada mereka.

Menurut BES, kata Farihina menunjukkan kegembiraan atas karunia Allah. Ayat tersebut menjadi dasar refleksi mengenai kemuliaan orang-orang yang gugur di jalan Allah.

BES juga mengutip hadis mengenai keutamaan orang yang mati syahid, termasuk keterangan tentang rasa sakit saat kematian dan ampunan atas dosa ketika darah pertama kali mengalir.

Selain itu, ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW:

Man Ahabba Liqa’Allah Ahabballahu Liqa’ahu Wa Man Kariha Liqa’Allah Karihalahu Liqa’ahu.

“Siapa yang cinta bertemu Allah, Allah cinta bertemu dengannya. Siapa yang benci bertemu Allah, Allah benci bertemu dengannya.”

(HR. Bukhari dan Muslim).

BES menghubungkan hadis tersebut dengan keyakinan bahwa seorang mukmin yang memperoleh husnul khotimah memiliki harapan untuk bertemu Allah dalam keadaan yang diridai-Nya.

Karena itu, menurut BES, kegembiraan dalam konteks kematian syahid atau husnul khotimah merupakan kegembiraan iman atas karunia Allah. Namun, pembahasan tersebut tidak berarti meniadakan kesedihan keluarga yang ditinggalkan.

BES mencontohkan Nabi Yahya yang dalam uraian kajiannya disebut wafat sebagai syahid. Ia menyoroti ungkapan Wa Salamun Alaihi Yauma Yamutu sebagai gambaran kesejahteraan pada hari wafatnya.

4. Mengapa Banyak Orang Bersedih ketika Kematian Terjadi?

BES mengajukan pertanyaan mengapa banyak orang bersedih ketika kematian terjadi, padahal dalam pandangannya terdapat harapan kebangkitan dan kehidupan akhirat.

Ia menguraikan tiga hal yang menurutnya perlu menjadi bahan introspeksi.

Pertama, persepsi yang menganggap kematian sebagai akhir segalanya.

BES mengingatkan bahwa QS. Maryam ayat 15 dan 33 tidak hanya menyebut hari kelahiran dan kematian, tetapi juga Yauma Yub’atsu Hayya, yaitu hari manusia dibangkitkan hidup kembali.

Menurutnya, kematian bukan akhir perjalanan manusia karena terdapat kehidupan setelah kematian. Keyakinan terhadap kebangkitan diharapkan menumbuhkan harapan, tanpa menghilangkan fitrah kesedihan ketika berpisah dengan orang yang dicintai.

Kedua, kesadaran mengenai syahid, husnul khotimah, dan su’ul khotimah.

BES menghubungkan pembahasan ini dengan prinsip Kalimah Sawa, yakni ajakan untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya.

Ia mengutip prinsip:

Alla Na’budu Illallah Wa La Nusyrika Bihi Syai’a Wa La Yattakhidza Ba’dhuna Arbaban Min Dunillah.

Menurut BES, seseorang perlu melakukan introspeksi terhadap orientasi hidupnya, termasuk ketika harta atau kepentingan duniawi ditempatkan seolah-olah sebagai tujuan tertinggi.

BES juga menghubungkan hal tersebut dengan QS. Al-Baqarah ayat 166–167, yang dalam rangkaian kajiannya dibahas pada Mutiara Hikmah Ahad sebelumnya.

Ia menekankan pentingnya memperbaiki kesadaran dan ketaatan agar kehidupan dijalani dengan berpegang pada prinsip tauhid.

Ketiga, pelaksanaan ketaatan dalam kehidupan sehari-hari.

BES mengingatkan kembali doa Nabi Sulaiman:

Rabbi Auzi’ni An Asykura Wa An A’mala Shalihan Tardhahu Wa Adkhilni Birahmatika Fi Ibadikas Shalihin.

Doa tersebut, menurut BES, menjadi pengingat agar manusia senantiasa bersyukur, mengerjakan amal saleh yang diridai Allah, dan memohon agar dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang saleh.

BES mengaitkannya dengan lima sifat yang menjadi bahan introspeksi dalam kajian sebelumnya, yaitu Ridho, Jahl, Hubbud Dunya, Bakhil, Riya, dan Ujub, sebagaimana disebutkan dalam naskahnya.

Melalui pembahasan tersebut, BES menegaskan pentingnya memperbaiki persepsi, kesadaran, dan pelaksanaan ketaatan agar kehidupan beragama tidak berhenti pada pemahaman, tetapi diwujudkan dalam perbuatan.

5. Jawaban Lengkap: Persepsi BES Tidak Keliru, tetapi Harus Disempurnakan

Dalam bagian ini, BES kembali menegaskan bahwa persepsinya mengenai ulang tahun dan kematian tidak keliru, tetapi perlu dilengkapi dengan pemahaman tentang dua rasa yang dapat hadir bersamaan, yaitu kegembiraan dan kesedihan.

Menurut BES, terdapat tiga hal yang perlu dibedakan.

Pertama, kegembiraan atas hari kelahiran harus disertai rasa syukur.

Kegembiraan atas kelahiran seseorang merupakan bentuk penghargaan terhadap nikmat kehidupan. BES mengingatkan agar rasa syukur diwujudkan melalui ibadah, sedekah, dan amal saleh.

Baca juga:  Perlawanan Terhadap Orde Baru Hingga Perjuangan Politik Prabowo : Kekuasaan, Kepemimpinan, Amanah Serta Cara Berfikir OST dan Berjiwa Intelektual JUBEDIL

Kedua, kesedihan atas kematian boleh hadir sebagai fitrah manusia.

BES kembali mengutip keteladanan Nabi Muhammad SAW yang menangis dan bersedih ketika putranya wafat. Kesedihan tersebut tidak bertentangan dengan keimanan selama seseorang tetap menjaga ucapan dan sikapnya sesuai tuntunan agama.

Ketiga, kegembiraan atas kematian syahid atau husnul khotimah berkaitan dengan keyakinan terhadap karunia Allah.

BES menghubungkannya dengan QS. Ali ‘Imran ayat 169–170, khususnya kata Farihina, yang menggambarkan kegembiraan atas karunia Allah.

Karena itu, BES menilai kesedihan dan kegembiraan dapat hadir bersamaan. Seseorang dapat bersedih karena berpisah dengan orang yang dicintai, tetapi juga memiliki harapan dan keyakinan terhadap rahmat Allah bagi orang yang meninggal dalam keadaan yang diridai-Nya.

Sebagai contoh, BES mengangkat keluarga orang yang gugur sebagai syahid. Keluarga dapat merasakan kesedihan karena kehilangan, tetapi pada saat yang sama tetap berpegang pada keyakinan terhadap karunia Allah.

BES juga memberikan contoh mujahid Palestina yang wafat dalam perjuangan. Dalam pandangannya, keluarga yang ditinggalkan dapat bersedih secara manusiawi sekaligus memelihara harapan iman terhadap karunia Allah.

6. Hubungan Ayat 15 dan 33 dengan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW

BES kemudian menghubungkan pembahasan Selasa, 27 Oktober 2026, dengan Mutiara Hikmah pada Senin, 26 Oktober 2026.

Pada Senin sebelumnya, kajian mengangkat tema Fatabassama Dhahikan Min Qauliha, yakni kisah Nabi Sulaiman yang tersenyum karena perkataan seekor semut.

Sementara itu, kajian Selasa menyoroti ungkapan:

Wa Salamun Alaihi Yauma Wulida Wa Yauma Yamutu Wa Yauma Yub’atsu Hayya.

Serta:

Was Salamu Alayya Yauma Wulidtu Wa Yauma Amutu Wa Yauma Ub’atsu Hayya.

BES menghubungkan kedua ayat tersebut dengan pembahasan kelahiran Nabi Yahya dan Nabi Isa, kemudian mengaitkannya dengan Nabi Muhammad SAW yang diketahui lahir pada hari Senin.

Dalam refleksinya, BES menyebut Nabi Yahya, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan yang mengingatkan manusia tentang kelahiran, kematian, dan kehidupan setelah kebangkitan.

BES juga menyampaikan bahwa Nabi Muhammad SAW lahir pada hari Senin dan wafat pada hari Senin. Ia mengaitkan hal itu dengan perbedaan respons manusia terhadap kelahiran dan kematian: kelahiran sering dirayakan, sedangkan kematian kerap mendatangkan kesedihan.

Menurut BES, kedua peristiwa tersebut harus ditempatkan dalam kesadaran yang utuh tentang nikmat kehidupan, fitrah manusia, serta keyakinan terhadap kehidupan akhirat.

7. Kesimpulan: Tiga Kesadaran yang Harus Dibangun

BES merangkum pembahasannya dalam tiga unsur, yaitu persepsi, kesadaran, dan ketaatan.

Persepsi: Ulang tahun wajar disambut dengan kegembiraan karena hari kelahiran merupakan nikmat. Hal tersebut dikaitkan dengan Wa Salamun Alaihi Yauma Wulida dan doa Auzi’ni An Asykura, yakni permohonan agar senantiasa diberi kemampuan untuk bersyukur.

Kesadaran: Kesedihan ketika seseorang meninggal dunia merupakan bagian dari fitrah manusia, sebagaimana ditunjukkan oleh hadis tentang Nabi Muhammad SAW yang menangis ketika putranya wafat. Namun, kematian dalam keadaan syahid atau husnul khotimah juga dapat dipandang dengan kegembiraan iman atas karunia Allah. Semua itu perlu disertai keyakinan terhadap Yauma Yub’atsu Hayya, hari ketika manusia dibangkitkan hidup kembali.

Ketaatan: Agar kehidupan berakhir dalam keadaan yang baik, BES mengingatkan pentingnya mengamalkan doa Nabi Sulaiman, yaitu Rabbi Auzi’ni An Asykura, Wa An A’mala Shalihan Tardhahu, dan Wa Adkhilni Birahmatika Fi Ibadikas Shalihin.

BES juga mengingatkan pentingnya menjauhi sifat-sifat buruk yang menjadi bahan introspeksi dalam kajian sebelumnya, agar manusia senantiasa memperbaiki diri dan memohon husnul khotimah kepada Allah.

Ia kembali menghubungkan pembahasan tersebut dengan QS. Al-Baqarah ayat 166–167 dan tema Tabarra Terputus Asbab, yang telah dibahas dalam Mutiara Hikmah sebelumnya.

Penegasan Akhir Brother Eggi Sudjana

BES menegaskan bahwa pembahasannya bukan dimaksudkan untuk membenarkan diri sendiri, melainkan menyampaikan persepsi dan jawaban berdasarkan kajian yang dilakukannya.

Dalam penutup naskahnya, BES menyatakan:

“Bahwa tidak bermaksud membenarkan diri sendiri tetapi inilah persepsi jawaban BES: Tidak keliru – ultah wajar gembira – kematian syahid husnul khotimah harus disambut gembira – karena Wa Salamun Alaihi Yauma Yamutu – kesejahteraan pada hari wafat – Farihina – tapi sedih fitrah juga boleh – asal tidak ada ratapan yang melanggar Syariat Islam – dan keduanya ada Yauma Yub’atsu Hayya – akan bangkit hidup kembali – bertemu lagi di Akhirat kelak, insyaaAllah.”

BES menutup kajian dengan ungkapan:

Wallahu A’lam.

Salam Jihad dan Sabar –  Cerdas, Berani, Militan (CBM)

Brother Eggi Sudjana. (BES

Latest

Mutiara Hikmah: BES Ajak Umat Introspeksi Diri Lewat Doa Sulaiman dan 5 Penyakit Hati

BOGOR | MATA PENA INDONESIA –Prof Dr Eggi Sudjana,...

Kader PSI Bogor Raya Membludak di Rakorda, Jokowi dan Kaesang Disambut Antusias di Sentul

MATA PENA INDONESIA | BOGOR — Kader Partai Solidaritas...

Mutiara Hikmah BES: Jangan Taklid Buta! Eggi Sudjana Ungkap 7 Penyebab Manusia Sesat tetapi Tidak Menyadarinya

MATA PENA INDONESIA | BOGOR — BISMILLAH. Brother Eggi Sudjana...

Newsletter

Don't miss

Mutiara Hikmah: BES Ajak Umat Introspeksi Diri Lewat Doa Sulaiman dan 5 Penyakit Hati

BOGOR | MATA PENA INDONESIA –Prof Dr Eggi Sudjana,...

Kader PSI Bogor Raya Membludak di Rakorda, Jokowi dan Kaesang Disambut Antusias di Sentul

MATA PENA INDONESIA | BOGOR — Kader Partai Solidaritas...

Mutiara Hikmah BES: Jangan Taklid Buta! Eggi Sudjana Ungkap 7 Penyebab Manusia Sesat tetapi Tidak Menyadarinya

MATA PENA INDONESIA | BOGOR — BISMILLAH. Brother Eggi Sudjana...

BPI KPNPA RI Bakal Laporkan Penyidik Polda Sumbar ke Propam, Dugaan Korupsi Tanah Adat 765 Hektare Disorot

JAKARTA | MATA PENA INDONESIA – Badan Peneliti Independen Kekayaan Penyelenggara Negara dan Pengawas Anggaran Republik Indonesia (BPI KPNPA RI) menegaskan bahwa laporan yang...

Mutiara Hikmah: BES Ajak Umat Introspeksi Diri Lewat Doa Sulaiman dan 5 Penyakit Hati

BOGOR | MATA PENA INDONESIA –Prof Dr Eggi Sudjana, SH., M.Si atau dengan panggilan Brother Eggi Sudjana (BES) kembali menyampaikan pesan keagamaan melalui Mutiara...

Kader PSI Bogor Raya Membludak di Rakorda, Jokowi dan Kaesang Disambut Antusias di Sentul

MATA PENA INDONESIA | BOGOR — Kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Bogor Raya memadati kegiatan Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) PSI yang digelar di Sentul...