Mutiara Hikmah BES: 40 Tahun Menjaga Istiqamah, Eggi Sudjana Bongkar 7 Variabel Konsistensi Perjuangan Islam dari QS Al-Fath 27–29

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. H. Eggi Sudjana, SH., M.Si. atau Brother Eggi Sudjana (BES), dalam Mutiara Hikmah Selasa, 3 November 2026, mengangkat pembahasan mendalam mengenai makna kemenangan, istiqamah, dan konsistensi dalam perjuangan menegakkan ajaran Islam. Berangkat dari QS Al-Fath ayat 27–29, Eggi Sudjana menguraikan tujuh variabel yang menurutnya dapat menjadi ukuran otentik konsistensi seseorang dalam perjuangan Islam.

Pembahasan tersebut tidak hanya berangkat dari penafsiran ayat Al-Qur’an, tetapi juga dikaitkan dengan perjalanan pribadi BES sejak mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) 1 HMI di Cibadak, Sukabumi, pada 1979, hingga mengikuti Latihan Mujahid Dakwah (LMD) di Masjid Salman ITB pada awal 1980-an bersama tokoh dakwah legendaris, Bang Imaduddin Abdulrahim atau yang akrab dipanggil Bang Imad.

Dalam refleksinya, BES mengungkapkan bahwa tiga ayat terakhir Surah Al-Fath tersebut diwajibkan untuk dihafalkan selama mengikuti Training LMD. Hingga Selasa, 3 November 2026, hafalan dan pesan dari ayat-ayat tersebut masih melekat dalam perjalanan keimanan dan perjuangannya.

Menurut BES, pengalaman hampir setengah abad tersebut menjadi bahan refleksi untuk menjawab pertanyaan penting: apa ibrah yang dapat diambil dari perjalanan panjang perjuangan, dan bagaimana mengukur variabel konsistensi dalam menegakkan ajaran Islam?

Tiga Ayat Pamungkas Surah Al-Fath: Janji Kemenangan Allah

BES mengawali Mutiara Hikmah dengan mengutip firman Allah SWT dalam QS Al-Fath ayat 27, 28, dan 29.

QS Al-Fath 48:27

لَـقَدْ صَدَقَ اللّٰهُ رَسُوْلَهُ الرُّءْيَا بِالْحَقِّ لَـتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ اِنْ شَآءَ اللّٰهُ اٰمِنِيْنَ مُحَلِّقِيْنَ رُءُوْسَكُمْ وَمُقَصِّرِيْنَ لَا تَخَافُوْنَ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوْا فَجَعَلَ مِنْ دُوْنِ ذٰلِكَ فَتْحًا قَرِيْبًا

“Sungguh, Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya bahwa kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, jika Allah menghendaki dalam keadaan aman, dengan menggunduli rambut kepala dan memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, dan selain itu Dia telah memberikan kemenangan yang dekat.”

(QS. Al-Fath 48: Ayat 27).

QS Al-Fath 48:28

هُوَ الَّذِيْۤ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖ وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.”

(QS. Al-Fath 48: Ayat 28).

QS Al-Fath 48:29

مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗۤ اَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ تَرٰٮهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَّبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانًا سِيْمَاهُمْ فِيْ وُجُوْهِهِمْ مِّنْ اَثَرِ السُّجُوْدِ ذٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَّوْرٰٮةِ وَمَثَلُهُمْ فِى الْاِنْجِيْلِ كَزَرْعٍ اَخْرَجَ شَطْئَهٗ فَاٰزَرَهٗ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوٰى عَلٰى سُوْقِهٖ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيْظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنْهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا

“Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka, ampunan dan pahala yang besar.”

(QS. Al-Fath 48: Ayat 29).

Refleksi 40 Tahun: Dari LDK HMI Cibadak hingga LMD Masjid Salman ITB

Dalam penjelasannya, BES menyampaikan bahwa sepengetahuannya, Surah Al-Fath ayat 27 hingga 29 turun atau diwahyukan kepada Rasulullah SAW sekitar satu tahun sebelum peristiwa yang dijanjikan benar-benar terjadi.

Pengetahuan tersebut, menurut BES, diperoleh pada awal 1980-an ketika mengikuti kegiatan LMD (Latihan Mujahid Dakwah) di Masjid Salman ITB. Kegiatan tersebut menghadirkan tokoh legendaris Bang Imaduddin atau Bang Imad.

Sebelumnya, pada 1979, BES mengikuti LDK 1 HMI di Cibadak, Sukabumi, yang diselenggarakan Korkom HMI Jayabaya.

Kini, setelah lebih dari 40 tahun, BES merefleksikan perjalanan persepsi, kesadaran, dan ketaatannya kepada Allah SWT serta mengikuti Rasul-Nya, Muhammad SAW.

Menurutnya, Alhamdulillah, manisnya iman, Islam, dan ihsan terasa tetap terjaga. Ketika mengikuti Training LMD, Bang Imad memberikan arahan bahwa tiga ayat tersebut wajib dihafalkan selama pelatihan. Hafalan itu, menurut BES, masih terjaga hingga Selasa, November 2026.

BES kemudian mengaitkan pengalaman tersebut dengan pengulangan kalimat dalam Surah Ar-Rahman:

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Fabi ayyi ala’i Rabbikuma tukadzdziban.”

“Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?”

Kalimat tersebut diulang sebanyak 31 kali dalam Surah Ar-Rahman (55).

BES menjelaskan bahwa cerita lama tersebut bukan sekadar kenangan perjalanan organisasi dan dakwah. Ada pertanyaan serius yang harus dijawab, yakni bagaimana mengambil ibrah dari perjalanan itu dan bagaimana mengukur variabel konsistensi dalam perjuangan menegakkan ajaran Islam?

Dalam jawabannya, BES menyusun tujuh lapisan pembahasan, yaitu Qur’an bil Qur’an, Asbabun Nuzul, filosofis, historis, sosiologis, biografis BES, dan variabel konsistensi perjuangan sebagai ukuran otentik istiqamah.

Ia mengaitkannya dengan pembahasan sebelumnya tentang dua unsur kerja keras dan CBM (Cerdas, Berani, Militan), sementara Mutiara Hikmah kali ini secara khusus membahas variabel konsistensi.

Teks Tiga Ayat Pamungkas Al-Fath: Fath, Kemenangan Dekat, dan Kemenangan Nyata

BES memberikan penekanan terhadap tiga ayat terakhir Surah Al-Fath yang menurutnya mengandung pesan tentang Fath atau kemenangan, Fathan Qariba atau kemenangan dekat, Fathan Mubina atau kemenangan nyata, Fathu Makkah, Masjidil Haram, Muhalliqin wa Muqasshirin.

QS Al-Fath 48:27 – Ru’ya Bil Haqq dan Fathan Qariba

Ayat ini menjelaskan mimpi yang benar, yakni janji bahwa Rasulullah SAW dan kaum Muslimin akan memasuki Masjidil Haram dengan aman, menggunduli rambut atau memendekkannya, serta tidak merasa takut.

BES mengutip teks Arab:

لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِنْ دُونِ ذَلِكَ فَتْحًا قَرِيبًا

Laqad Shadaqallahu Rasulahu Ru’ya Bil Haqqi Latadkhulunnal Masjidil Haram In Sya Allahu Aminin Muhalliqina Ru’usakum Wa Muqasshirina La Takhafun Fa Alima Ma Lam Ta’lamu Fa Ja’ala Min Duni Dzalika Fathan Qariba.

Artinya, sungguh Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya bahwa kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram jika Allah menghendaki dalam keadaan aman dengan menggunduli rambut kepala dan memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dan selain itu Dia telah memberikan kemenangan yang dekat.

QS Al-Fath 48:28 – Huda dan Dinil Haqq

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan atas semua agama, dan cukuplah Allah sebagai saksi.

BES mengutip:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا

Huwalladzi Arsala Rasulahu Bil Huda Wa Dinil Haqqi Liyudh-hirahu Alad Dini Kullihi Wa Kafa Billahi Syahida.

Baca juga:  Sidak Di Gudang PT. Buana Mas Makmur Sentosa Satgas Pangan Ingatkan Takaran & Kestabilan HET Minyakita

Artinya, Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.

QS Al-Fath 48:29 – Karakter Orang-Orang yang Bersama Rasulullah

Ayat ini menggambarkan Muhammad sebagai utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya. Mereka bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang di antara sesama mereka.

Mereka terlihat rukuk dan sujud untuk mencari karunia Allah serta keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud.

Dalam Taurat dan Injil, mereka diumpamakan seperti benih yang mengeluarkan tunas, kemudian tunas itu semakin kuat, membesar, dan tegak di atas batangnya. Tanaman itu menyenangkan hati penanamnya dan menjengkelkan orang-orang kafir. Allah menjanjikan ampunan dan pahala besar kepada orang-orang beriman serta mengerjakan kebajikan.

BES mengutip teks Arab:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Muhammadur Rasulullah Walladzina Ma’ahu Asyidda’u Alal Kuffari Ruhamau Bainahum Tarahum Rukka’an Sujjadan Yabtaghuna Fadhlan Minallahi Wa Ridhwana Simahum Fi Wujuhihim Min Atsaris Sujud Dzalika Matsaluhum Fit Taurati Wa Matsaluhum Fil Injil Kazar’in Akhraja Syath’ahu Fa Azarahu Fastaghladha Fastawa Ala Suqihi Yu’jibuz Zurra’a Liyaghidha Bihimul Kuffara Wa’adallahulladzina Amanu Wa Amilush Shalihati Minhum Maghfirah Wa Ajran Adhima.

Asbabun Nuzul: Mimpi Rasulullah, Perjanjian Hudaibiyah, Khaibar, dan Fathu Makkah

BES menjelaskan bahwa menurut pengetahuannya, janji dalam QS Al-Fath 48:27–29 turun sekitar satu tahun sebelum realisasi peristiwa yang dijanjikan. Ia mengaitkan penjelasan tersebut dengan riwayat sejarah yang disebutnya berasal dari Bukhari, Muslim, Thabari, dan Ibnu Katsir.

Pada tahun 6 Hijriah, bulan Dzulqa’dah, Rasulullah SAW bermimpi melihat dirinya bersama para sahabat memasuki Masjidil Haram dalam keadaan aman. Mereka melakukan Muhalliqin, yaitu menggunduli rambut, dan Muqasshirin, yaitu memendekkan rambut, tanpa rasa takut.

Rasulullah SAW kemudian mengumumkan rencana umrah. Sekitar 1.400 sahabat berangkat tanpa membawa senjata perang, hanya membawa perlengkapan perjalanan dan pedang dalam sarung.

Namun, ketika sampai di Hudaibiyah, yang berada di perbatasan Tanah Haram, rombongan Rasulullah SAW dicegat kaum Quraisy dan tidak diperbolehkan memasuki Masjidil Haram.

Padahal, mimpi Rasulullah benar. Peristiwa tersebut kemudian melahirkan Perjanjian Hudaibiyah atau Sulhul Hudaibiyah.

BES menjelaskan bahwa secara lahiriah, perjanjian tersebut terlihat merugikan umat Islam. Beberapa poin perjanjiannya adalah:

Pada tahun itu kaum Muslimin tidak diperbolehkan melaksanakan umrah dan harus kembali terlebih dahulu.

Pada tahun berikutnya mereka baru diperbolehkan melaksanakan umrah selama tiga hari.

Mereka tidak boleh membawa senjata perang.

Orang Quraisy yang melarikan diri ke Madinah harus dikembalikan.

Orang dari Madinah yang melarikan diri ke Quraisy tidak harus dikembalikan.

Kondisi tersebut membuat sebagian sahabat kecewa. Umar bin Khattab bahkan menyampaikan protes kepada Rasulullah SAW.

“Ya Rasulullah, bukankah engkau bilang kita akan masuk Masjidil Haram?”

Rasulullah SAW menjawab bahwa hal itu benar. Namun, beliau mempertanyakan apakah pernah mengatakan bahwa mereka akan masuk pada tahun itu.

Belum. Insya Allah tahun depan.

Menurut uraian BES, Allah kemudian menurunkan QS Al-Fath 48:27–29 dalam perjalanan pulang dari Hudaibiyah menuju Madinah. Pada malam hari, ketika Rasulullah SAW sedang berada di atas unta, turunlah Surah Al-Fath.

BES juga mengaitkan peristiwa tersebut dengan firman Allah:

Inna Fatahna Laka Fathan Mubina.

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.”

Menurut BES, inilah Fathan Mubina, kemenangan nyata, meskipun perjanjian Hudaibiyah secara lahiriah terlihat seperti kekalahan.

Ia kemudian menghubungkan hal tersebut dengan kalimat:

Fa Alima Ma Lam Ta’lamu Fa Ja’ala Min Duni Dzalika Fathan Qariba.

“Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dan selain itu Dia telah memberikan kemenangan yang dekat.”

BES menjelaskan bahwa Fathan Qariba yang dimaksud berkaitan dengan kemenangan Khaibar pada tahun 7 Hijriah, sekitar setahun setelah Hudaibiyah. Khaibar berhasil ditaklukkan dan kaum Muslimin memperoleh harta yang banyak.

Selanjutnya, Fathu Makkah terjadi pada tahun 8 Hijriah, dua tahun setelah Hudaibiyah. Pada peristiwa tersebut, Rasulullah SAW dan kaum Muslimin memasuki Masjidil Haram dalam keadaan aman.

Peristiwa itu sesuai dengan gambaran dalam ayat:

In Sya Allahu Aminin, Muhalliqin, Wa Muqasshirin, La Takhafun.

Dengan demikian, menurut BES, mimpi pada tahun 6 Hijriah benar-benar terealisasi pada tahun 8 Hijriah. Janji Allah dalam Al-Qur’an telah lebih dahulu disampaikan sebelum peristiwa tersebut terjadi.

BES mengaitkan pemahaman itu dengan pengalaman yang diperolehnya di Masjid Salman ITB melalui LMD bersama Bang Imaduddin.

Menurutnya, QS Al-Fath ayat 27–29 merupakan bukti kebenaran mimpi, bukti bahwa Allah mengetahui apa yang tidak diketahui manusia, serta bukti adanya Fathan Qariba dan Fathan Mubina.

Ia menegaskan bahwa Perjanjian Hudaibiyah sendiri merupakan kemenangan nyata meskipun secara lahiriah tampak seperti kekalahan.

Hal itu karena Allah telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan atas semua agama.

Wa Kafa Billahi Syahida.

“Cukuplah Allah sebagai saksi.”

Bukan manusia yang menjadi saksi, bukan buzzer yang menjadi saksi, melainkan Allah SWT.

Tujuh Ibrah dari Perjalanan 40 Tahun Perjuangan BES

BES kemudian menguraikan lima ibrah perjalanan pribadi dan perjuangan yang dikaitkannya dengan tiga ayat terakhir Surah Al-Fath.

Ibrah 1: Ru’ya Bil Haqq – Mimpi Benar Akan Menjadi Nyata, tetapi Membutuhkan Proses

Menurut BES, mimpi yang benar tidak selalu terwujud secara instan. Ada proses dan perjalanan panjang yang harus dilalui.

Ia mengambil contoh peristiwa Hudaibiyah tahun 6 Hijriah, Khaibar tahun 7 Hijriah, dan Fathu Makkah tahun 8 Hijriah.

Mimpi masuk Masjidil Haram tidak langsung terwujud pada tahun 6 Hijriah. Ada kemenangan dekat di Khaibar, kemudian kemenangan nyata melalui Fathu Makkah.

BES menghubungkan perjalanan itu dengan LDK 1 HMI tahun 1979 di Cibadak Sukabumi, kemudian LMD Masjid Salman ITB pada awal 1980-an.

LDK menjadi awal perjalanan, LMD menjadi bagian dari proses penguatan dakwah, dan hafalan tiga ayat Al-Fath menjadi salah satu bekal yang terus dijaga hingga Selasa, 3 November 2026.

Menurutnya, perjalanan selama 40 tahun lebih tersebut menjadi bukti bahwa mimpi benar membutuhkan proses.

Laqad Shadaqallahu Rasulahu Ru’ya Bil Haqq.

Sungguh Allah membenarkan mimpi Rasul-Nya dengan kebenaran.

BES kemudian mengaitkannya dengan mimpi pribadinya sejak 1979 tentang tegaknya ajaran Islam yang menurutnya masih terus dijaga hingga 2026.

Ia mengungkapkan rasa syukur karena manisnya iman, Islam, dan ihsan masih terasa terjaga.

Fa Bi Ayyi Ala’i Rabbikuma Tukadzdziban.

Nikmat mana lagi yang kamu dustakan?

Menurut BES, semua itu merupakan nikmat Allah, bukan nikmat buzzer dan bukan nikmat uang suap.

Ibrah 2: Fa Alima Ma Lam Ta’lamu – Allah Mengetahui Apa yang Tidak Kamu Ketahui

Baca juga:  Mutiara Hikmah: Eggi Sudjana Uraikan Al-Ankabut Ayat 2–6 dan 69, Jihad Adalah Ujian Iman, Bukan Bantuan untuk Allah

BES menjelaskan bahwa para sahabat ketika berada di Hudaibiyah tidak mengetahui alasan mengapa mereka tidak diperbolehkan umrah pada tahun tersebut dan mengapa perjanjian yang dibuat terlihat merugikan.

Umar bin Khattab menyampaikan protes, tetapi Allah mengetahui apa yang tidak diketahui manusia.

Allah mengetahui bahwa Khaibar akan ditaklukkan pada tahun 7 Hijriah dan Fathu Makkah akan terjadi pada tahun 8 Hijriah.

BES kemudian menghubungkan prinsip tersebut dengan perjalanan pribadinya sejak 1979.

Ketika mengikuti LDK 1 HMI Cibadak, ia tidak mengetahui akan menjadi apa kelak. Ketika mengikuti LMD Masjid Salman ITB pada awal 1980-an bersama Bang Imad, ia juga tidak mengetahui akan menjadi apa.

Begitu pula ketika menjalani perjalanan HMI MPO 1986–1988, TPUA, dan KORLABI.

Hingga 2026, menurutnya, perjalanan tersebut merupakan bagian dari ketentuan dan pengetahuan Allah yang tidak seluruhnya diketahui manusia.

BES juga mengaitkan hal tersebut dengan rangkaian Mutiara Hikmah yang dibawakannya setiap hari, mulai Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Ahad, hingga kembali Senin dan Selasa.

Ia menyebut berbagai pembahasan sebelumnya, mulai dari Sulaiman senyum, salam tiga hari, Qarin, Istikhlaf, tujuh rukun, Infiru Tabuk, dua unsur jihad kerja dan CBM, Linafsih La Tukallafu Illa Nafsak Subulana, hingga pembahasan Al-Fath 27–29.

Pesan yang ditekankan adalah Allah mengetahui apa yang tidak diketahui manusia. Karena itu, manusia harus taat kepada-Nya melalui persepsi, kesadaran, dan pentaatan.

Ibrah 3: Fathan Qariba dan Fathan Mubina – Kemenangan Dekat dan Kemenangan Nyata

BES membedakan Fathan Qariba sebagai kemenangan dekat dan Fathan Mubina sebagai kemenangan nyata.

Menurutnya, Hudaibiyah tahun 6 Hijriah merupakan Fathan Mubina, meskipun secara lahiriah tampak seperti kekalahan.

Khaibar tahun 7 Hijriah menjadi Fathan Qariba, sedangkan Fathu Makkah tahun 8 Hijriah menjadi kemenangan nyata ketika Rasulullah SAW memasuki Masjidil Haram.

Ia kemudian menghubungkan hal tersebut dengan perjalanan LDK 1 HMI tahun 1979 di Cibadak sebagai kemenangan nyata karena memperoleh petunjuk dan agama yang benar.

LMD Masjid Salman ITB pada awal 1980-an menjadi bagian dari kemenangan dekat melalui proses dakwah dan hafalan tiga ayat Al-Fath.

Sementara Selasa, 3 November 2026, menjadi momentum refleksi atas perjalanan panjang tersebut.

BES menegaskan bahwa setiap proses memiliki kemenangan. Karena itu, manusia tidak boleh mudah putus asa, tidak yakin, atau berhenti berjuang.

Ibrah 4: Muhammadur Rasulullah Walladzina Ma’ahu – Ukuran Istiqamah dan Konsistensi

BES menyebut frasa Walladzina Ma’ahu sebagai salah satu ukuran konsistensi, yaitu orang-orang yang bersama Rasulullah SAW.

Menurutnya, istiqamah berarti tetap bersama Rasul, tidak terpisah, tidak menyimpang, dan tidak berkhianat terhadap ajaran yang dibawa beliau.

Ia menghubungkan prinsip tersebut dengan perjalanan sejak 1979, LMD Masjid Salman ITB pada awal 1980-an, HMI MPO 1986–1988, hingga 2026.

BES kemudian menguraikan beberapa karakter yang terkandung dalam QS Al-Fath ayat 29.

Asyidda’u Alal Kuffar, yaitu bersikap keras terhadap orang-orang kafir.

Ruhamau Bainahum, yaitu berkasih sayang di antara sesama mereka.

Tarahum Rukka’an Sujjadan, yaitu terlihat rukuk dan sujud.

Yabtaghuna Fadhlan Minallahi Wa Ridhwana, yaitu mencari karunia dan keridaan Allah.

Simahum Fi Wujuhihim Min Atsaris Sujud, yaitu tanda bekas sujud pada wajah mereka.

Menurut BES, keras terhadap orang kafir bukan berarti keras terhadap sesama mukmin. Kasih sayang harus dijaga di antara sesama pejuang dan sesama orang beriman.

Ia juga menekankan bahwa tujuan perjuangan bukan mencari uang, jabatan, proyek, atau keuntungan duniawi, melainkan mencari karunia dan keridaan Allah.

Dalam refleksinya, BES menghubungkan tanda bekas sujud dengan sikap tawadhu, bukan kesombongan atau merasa lebih baik daripada orang lain.

Ia juga mengingatkan agar tidak muncul sikap Ana Khairun Minhu, yakni merasa diri lebih baik daripada yang lain.

BES kemudian menyampaikan kritik terhadap pihak-pihak yang menurut pandangannya tidak lagi bersama Rasul, tetapi lebih memilih bersama buzzer, uang, atau oligarki.

Menurutnya, variabel konsistensi pertama adalah tetap Ma’ahu, bersama Rasulullah SAW, sejak Cibadak 1979 hingga Selasa, 3 November 2026.

Ibrah 5: Kazar’in Akhraja Syath’ahu – Perjuangan Seperti Benih yang Terus Bertumbuh

BES menjelaskan perumpamaan dalam QS Al-Fath ayat 29 tentang tanaman yang tumbuh dari benih, mengeluarkan tunas, menjadi kuat, membesar, dan berdiri tegak di atas batangnya.

Tahapan tersebut dijelaskan melalui beberapa istilah:

Kazar’in: benih.

Akhraja Syath’ahu: mengeluarkan tunas.

Fa Azarahu: menguatkan.

Fastaghladha: menjadi besar dan kuat.

Fastawa Ala Suqihi: berdiri tegak di atas batangnya.

Yu’jibuz Zurra’a: menyenangkan hati para penanamnya.

Liyaghidha Bihimul Kuffar: menjengkelkan orang-orang kafir.

BES menghubungkan perumpamaan itu dengan perjalanan organisasinya.

LDK 1 HMI tahun 1979 di Cibadak menjadi benih. LMD Masjid Salman ITB pada awal 1980-an bersama Bang Imad menjadi proses keluarnya tunas.

HMI MPO 1986–1988 menjadi bagian dari proses penguatan. Selanjutnya KORLABI menjadi bagian dari proses pertumbuhan dan pembesaran perjuangan.

Sampai Selasa, 3 November 2026, BES memaknai perjalanan tersebut sebagai proses untuk tetap berdiri tegak dan konsisten.

Menurutnya, perjuangan yang tetap berada bersama Rasul dan ajaran Islam akan menyenangkan para penanam perjuangan serta menjengkelkan pihak-pihak yang menentangnya.

Ia kembali menegaskan bahwa manisnya iman, Islam, dan ihsan merupakan nikmat Allah yang harus disyukuri.

Tujuh Variabel Konsisten dalam Perjuangan Menegakkan Ajaran Islam

BES kemudian merumuskan tujuh variabel konsistensi yang bersumber dari QS Al-Fath ayat 27–29 dan dikaitkan dengan perjalanan lebih dari 40 tahun sejak LDK 1 HMI 1979, LMD Masjid Salman ITB bersama Bang Imad, hingga Selasa, 3 November 2026.

Variabel 1: Ru’ya Bil Haqq – Memiliki Mimpi yang Benar

BES menjelaskan bahwa variabel pertama adalah memiliki mimpi yang benar sebagaimana disebutkan dalam kalimat Laqad Shadaqallahu Rasulahu Ru’ya Bil Haqq.

Menurutnya, mimpi yang dimaksud bukan mimpi mendapatkan uang 100M, bukan mimpi memperoleh jabatan, dan bukan mimpi mendapatkan proyek.

Namun, mimpi yang benar adalah Ru’ya Bil Haqq, yakni mimpi masuk Masjidil Haram dan mimpi tegaknya sistem Islam.

BES juga mengaitkannya dengan mimpi Satu Nusa, Bangsa, Bahasa, tujuh rukun, Aqaamush Shalah, Istikhlaf Tamkin Tabdil, dan Fauzul Azim atau kemenangan agung berupa Jannah, bukan kemenangan berupa uang.

Ia menyampaikan bahwa sejak 1979, ketika mengikuti LDK 1 HMI Cibadak, dirinya memiliki mimpi menjadi mujahid dakwah. Hingga 2026, menurutnya, mimpi tentang tegaknya sistem Islam tersebut tetap dijaga.

Cara mengukur konsistensi:

Apakah seseorang masih percaya bahwa Allah mengetahui apa yang tidak diketahui manusia?

Jika masih percaya, berarti Fa Alima Ma Lam Ta’lamu dan konsisten. Namun, jika merasa mengetahui semuanya, sok tahu, dan sok pintar, maka menurut BES hal tersebut menunjukkan hilangnya kesadaran tersebut.

Ia mengaitkannya dengan istilah Zhahiran Minal Hayatid Dunya Ghafilun Anil Akhirah, yakni hanya mengetahui yang tampak dari kehidupan dunia, tetapi lalai terhadap akhirat.

Variabel 3: Fathan Qariba dan Fathan Mubina – Percaya Akan Adanya Kemenangan

Variabel ketiga adalah keyakinan bahwa setiap proses perjuangan memiliki kemenangan dekat dan kemenangan nyata.

Baca juga:  Perlawanan Terhadap Orde Baru Hingga Perjuangan Politik Prabowo : Kekuasaan, Kepemimpinan, Amanah Serta Cara Berfikir OST dan Berjiwa Intelektual JUBEDIL

BES mengambil contoh Perjanjian Hudaibiyah tahun 6 Hijriah yang secara lahiriah terlihat merugikan, tetapi menjadi kemenangan nyata.

Khaibar tahun 7 Hijriah menjadi kemenangan dekat, sedangkan Fathu Makkah tahun 8 Hijriah menjadi kemenangan nyata.

Ia menghubungkannya dengan LDK 1 HMI 1979 sebagai Fathan Mubina, LMD Salman ITB awal 1980-an sebagai Fathan Qariba, dan perjalanan hingga Selasa, 3 November 2026.

Cara mengukur konsistensi:

Apakah seseorang masih percaya bahwa setiap kesulitan memiliki kemenangan dekat dan kemenangan nyata?

Jika masih percaya, berarti memiliki keyakinan Fathan Qariba dan Fathan Mubina.

Namun, jika mudah putus asa, tidak mau berangkat, dan berat terhadap perjuangan, maka BES mengaitkannya dengan istilah Tsaqaltum Ilal Ardi dan tidak menjalankan perintah Infiru.

Ia juga mengingatkan peristiwa Tabuk dan ancaman terhadap orang-orang yang tidak memenuhi seruan perjuangan.

Variabel 4: Huwalladzi Arsala Rasulahu Bil Huda Wa Dinil Haqq – Yakin Agama yang Benar Akan Dimenangkan

Variabel keempat adalah keyakinan bahwa Allah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan atas semua agama.

BES menekankan kalimat:

Liyudh-hirahu Alad Dini Kullihi.

Artinya, agama yang benar akan dimenangkan atas seluruh agama.

Menurutnya, manusia harus meyakini petunjuk dan agama yang benar, bukan meyakini kekuatan uang, suap, atau kepentingan manusia.

Ia juga menekankan kalimat:

Wa Kafa Billahi Syahida.

“Cukuplah Allah sebagai saksi.”

Bukan manusia sebagai saksi, bukan buzzer sebagai saksi, dan bukan oligarki sebagai saksi, melainkan Allah SWT.

Cara mengukur konsistensi:

Apakah seseorang masih percaya bahwa petunjuk dan agama yang benar akan dimenangkan atas semua agama?

Jika masih percaya, berarti konsisten. Namun, jika lebih percaya pada suap, uang, dan kepentingan duniawi, maka menurut BES hal tersebut merupakan penyimpangan dari keyakinan terhadap janji Allah.

Variabel 5: Muhammadur Rasulullah Walladzina Ma’ahu – Keras terhadap Kafir dan Kasih Sayang kepada Sesama

Variabel kelima adalah karakter orang-orang yang bersama Rasulullah SAW.

BES menekankan dua sifat utama:

Asyidda’u Alal Kuffar dan Ruhamau Bainahum.

Keras terhadap orang-orang kafir dan berkasih sayang di antara sesama mereka.

Menurut BES, sikap keras tersebut bukan ditujukan kepada sesama mukmin, bukan kepada sesama pejuang, dan bukan kepada semangat Sumpah Pemuda Satu Nusa, Bangsa, dan Bahasa.

Ia mengaitkannya dengan sikap terhadap penjajahan, oligarki, dan buzzer yang menurut pandangannya menjadi bagian dari persoalan perjuangan.

Sementara itu, Ruhamau Bainahum berarti menjaga kasih sayang sesama mukmin, sesama pejuang, sesama HMI, sesama KORLABI, sesama LMD Salman, dan sesama LDK 1 HMI Cibadak.

Cara mengukur konsistensi:

Apakah masih memiliki karakter Asyidda’u Alal Kuffar Ruhamau Bainahum?

Jika masih, berarti konsisten. Namun, apabila justru keras terhadap ulama dan sesama mukmin, tetapi berkasih sayang kepada oligarki, maka menurut BES sifat tersebut telah terbalik.

Variabel 6: Tarahum Rukka’an Sujjadan – Menjaga Salat dan Mencari Keridaan Allah

Variabel keenam adalah menjaga amalan rukuk dan sujud serta mencari karunia dan keridaan Allah.

BES mengutip:

Tarahum Rukka’an Sujjadan Yabtaghuna Fadhlan Minallahi Wa Ridhwana Simahum Fi Wujuhihim Min Atsaris Sujud.

Menurutnya, orang yang konsisten dalam perjuangan harus tetap menjaga salat, rukuk, sujud, dan mencari keridaan Allah.

Bukan mencari uang 100M, bukan mencari jabatan, dan bukan mencari proyek.

Tanda bekas sujud di wajah menjadi simbol ketaatan dan penghambaan kepada Allah.

BES menghubungkan variabel ini dengan perjalanan sejak LDK 1 HMI tahun 1979, LMD Salman ITB pada awal 1980-an bersama Bang Imad, hingga Selasa, 3 November 2026.

Cara mengukur konsistensi:

Apakah seseorang masih menjaga rukuk dan sujud, mencari karunia serta keridaan Allah, dan menunjukkan ketundukan kepada-Nya?

Jika masih, berarti konsisten.

Namun, jika justru mencari keridaan manusia, mengejar uang, jabatan, dan kepentingan duniawi, maka menurut BES hal tersebut bertentangan dengan karakter orang-orang yang digambarkan dalam QS Al-Fath ayat 29.

Variabel 7: Kazar’in Akhraja Syath’ahu – Perjuangan Harus Bertumbuh Seperti Benih

Variabel ketujuh adalah proses pertumbuhan perjuangan sebagaimana perumpamaan tanaman dalam QS Al-Fath ayat 29.

BES menguraikan tahapannya sebagai berikut:

Kazar’in: benih, dikaitkan dengan LDK 1 HMI 1979 Cibadak.

Akhraja Syath’ahu: mengeluarkan tunas, dikaitkan dengan LMD Salman ITB awal 1980-an bersama Bang Imad.

Fa Azarahu: menguatkan, dikaitkan dengan perjalanan HMI MPO 1986–1988.

Fastaghladha: menjadi besar, dikaitkan dengan perkembangan perjuangan dan KORLABI.

Fastawa Ala Suqihi: berdiri tegak, dikaitkan dengan perjalanan hingga Selasa, 3 November 2026.

Yu’jibuz Zurra’a: menyenangkan para penanamnya, dikaitkan dengan Bang Imad, Korkom HMI Jayabaya, dan Masjid Salman ITB.

Liyaghidha Bihimul Kuffar: menjengkelkan orang-orang kafir, dikaitkan dengan pihak-pihak yang menentang perjuangan tersebut.

Menurut BES, perjuangan yang konsisten harus melalui proses pertumbuhan, bukan berhenti sebagai benih atau tunas.

Cara mengukur konsistensi:

Apakah seseorang masih berada dalam proses pertumbuhan dari benih, tunas, menjadi kuat, besar, dan tegak?

Jika masih, berarti konsisten.

Namun, jika benih mati, tunas mati, tidak kuat, tidak besar, dan tidak tegak, bahkan justru menyenangkan pihak yang menentang perjuangan dan menjengkelkan para penanam perjuangan, maka menurut BES hal tersebut menunjukkan hilangnya konsistensi.

Penegasan Akhir: Tujuh Variabel Menjadi Ukuran Otentik Istiqamah

BES menegaskan bahwa tujuh variabel konsistensi dalam perjuangan menegakkan ajaran Islam bersumber dari QS Al-Fath ayat 27–29 dan dikaitkan dengan perjalanan lebih dari 40 tahun sejak LDK 1 HMI 1979 di Cibadak, LMD Salman ITB bersama Bang Imad, hingga Selasa, 3 November 2026.

Ketujuh variabel tersebut adalah:

Ru’ya Bil Haqq – Memiliki mimpi yang benar.

Fa Alima Ma Lam Ta’lamu – Menyadari bahwa Allah mengetahui apa yang tidak diketahui manusia.

Fathan Qariba dan Fathan Mubina – Meyakini kemenangan dekat dan kemenangan nyata.

Liyudh-hirahu Alad Dini Kullihi Wa Kafa Billahi Syahida – Meyakini bahwa agama yang benar akan dimenangkan dan Allah cukup sebagai saksi.

Asyidda’u Alal Kuffar Ruhamau Bainahum – Keras terhadap orang-orang kafir dan berkasih sayang terhadap sesama.

Rukka’an Sujjadan Yabtaghuna Fadhlan Minallahi Wa Ridhwana Simahum Fi Wujuhihim Min Atsaris Sujud – Menjaga rukuk, sujud, serta mencari karunia dan keridaan Allah.

Kazar’in Akhraja Syath’ahu Fa Azarahu Fastaghladha Fastawa Ala Suqihi Yu’jibuz Zurra’a Liyaghidha Bihimul Kuffar – Bertumbuh seperti benih yang mengeluarkan tunas, semakin kuat, besar, dan tegak, menyenangkan penanamnya serta menjengkelkan pihak yang menentangnya.

Menurut BES, apabila ketujuh variabel tersebut

ada, maka konsistensi perjuangan dapat terjaga.

Ia kembali menegaskan bahwa manisnya iman, Islam, dan ihsan merupakan nikmat Allah yang harus disyukuri.

Fa Bi Ayyi Ala’i Rabbikuma Tukadzdziban.

“Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?”

Tidak ada. Semua merupakan nikmat Allah, bukan nikmat buzzer dan bukan nikmat uang suap, tetapi nikmat ALLAH.

Manisnya iman, Islam, dan ihsan yang menurut BES tetap terjaga selama lebih dari 40 tahun menjadi penutup refleksi Mutiara Hikmah tersebut.

Wallahu A’lam.

Salam Jihad dan Sabar.

Brother Eggi Sudjana (BES)

Latest

GEGER! Tiga Jenderal Polri Terseret Kasus Dugaan Penyadapan Presiden Prabowo, Listyo Sigit Disebut Jadi Tersangka

JAKARTA | MATA PENA iNDONESIA – Publik dikejutkan oleh pengungkapan kasus...

Dugaan Penyadapan Presiden Prabowo, Advokat Ahmad Muhibullah: Kejahatan Serius

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Dugaan penyadapan ilegal...

Polemik Ijazah Memanas, Eggi Sudjana Kirim Pesan Moral Tegas kepada Jokowi!

JAKARTA |  MATA PENA INDONESIA – Polemik terkait keaslian...

Newsletter

Don't miss

GEGER! Tiga Jenderal Polri Terseret Kasus Dugaan Penyadapan Presiden Prabowo, Listyo Sigit Disebut Jadi Tersangka

JAKARTA | MATA PENA iNDONESIA – Publik dikejutkan oleh pengungkapan kasus...

Dugaan Penyadapan Presiden Prabowo, Advokat Ahmad Muhibullah: Kejahatan Serius

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Dugaan penyadapan ilegal...

Polemik Ijazah Memanas, Eggi Sudjana Kirim Pesan Moral Tegas kepada Jokowi!

JAKARTA |  MATA PENA INDONESIA – Polemik terkait keaslian...

Situs Terbaik Kasino Tanpa Setoran 2026

Situs Terbaik Kasino Tanpa Setoran 2026 Namun, mengumpulkan poin...

GEGER! Tiga Jenderal Polri Terseret Kasus Dugaan Penyadapan Presiden Prabowo, Listyo Sigit Disebut Jadi Tersangka

JAKARTA | MATA PENA iNDONESIA – Publik dikejutkan oleh pengungkapan kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto. Dalam perkembangan penanganan perkara tersebut, tiga...

Dugaan Penyadapan Presiden Prabowo, Advokat Ahmad Muhibullah: Kejahatan Serius

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden RI Prabowo Subianto menjadi sorotan praktisi hukum. Ahmad Muhibullah, S.H., advokat dan konsultan...

Mutiara Hikmah: Eggi Sudjana Bedah QS Ali Imran 101–103: Lima Variabel Iman, Jika Satu Hilang, Dipertanyakan Keutuhan Iman

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. H. Eggi Sudjana, SH., M.Si. atau Brother Eggi Sudjana (BES) kembali menyampaikan kajian Mutiara Hikmah, Rabu,...