BOGOR | MATA PENA INDONESIA — Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si., atau Brother Eggi Sudjana (BES), dalam renungan Mutiara Hikmah Kamis, 15 Oktober 2026, mengangkat pembahasan Surah Al-‘Ankabut ayat 2–6 yang dihubungkan (juncto) dengan ayat terakhir surah tersebut, yakni ayat 69.
Melalui pembahasan bertema “Jihad Adalah Ujian Iman, Bukan Bantuan untuk Allah”, BES menguraikan bahwa jihad merupakan ujian dari Allah untuk mengukur keimanan seseorang, apakah benar-benar beriman atau munafik. Jihad juga merupakan kepentingan diri sendiri karena Allah tidak memerlukan bantuan apa pun dari seluruh alam.
BES mengingatkan agar umat Islam tidak salah persepsi seolah-olah berjihad di jalan Allah dilakukan untuk kepentingan Allah. Justru, apabila seseorang berjihad dengan mengharap rida-Nya, Allah akan membuka banyak jalan untuk mencapai tujuan.
BISMILLAH, BES: Mutiara Hikmah Kamis, 15 Oktober 2026
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
QS. Al-‘Ankabut ayat 2
اَحَسِبَ النَّا سُ اَنْ يُّتْرَكُوْۤا اَنْ يَّقُوْلُوْۤا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَـنُوْنَ
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman’ dan mereka tidak diuji?”
(QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 2).
QS. Al-‘Ankabut ayat 3
وَلَقَدْ فَتَـنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَـعْلَمَنَّ اللّٰهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكٰذِبِيْنَ
“Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.”
(QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 3).
QS. Al-‘Ankabut ayat 4
اَمْ حَسِبَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ السَّيِّاٰتِ اَنْ يَّسْبِقُوْنَا ۗ سَآءَ مَا يَحْكُمُوْنَ
“Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari (azab) Kami? Sangatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu!”
(QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 4).
QS. Al-‘Ankabut ayat 5
مَنْ كَا نَ يَرْجُوْا لِقَآءَ اللّٰهِ فَاِ نَّ اَجَلَ اللّٰهِ لَاٰ تٍ ۗ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
“Barang siapa mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah pasti datang. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 5).
QS. Al-‘Ankabut ayat 6
وَمَنْ جَاهَدَ فَاِ نَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَـغَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ
“Dan barang siapa berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu untuk dirinya sendiri. Sungguh, Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.”
(QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 6).
Juncto ke ayat terakhirnya dari Surah Al-Ankabut, yaitu ayat 69:
QS. Al-‘Ankabut ayat 69
وَا لَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۗ وَاِ نَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 69).
Bahwasanya jihad itu ujian dari ALLAH untuk mengukur keimanan seseorang benar-benar beriman atau munafik? Juga jihad itu untuk kepentingan diri sendiri karena ALLAAH TAK MEMERLUKAN BANTUAN APAPUN, jadi jangan salah persepsi seolah-olah berjihad di jalan NYA untuk kepentingan ALLAH.
Justru bila kita berjihad dengan mengharap Redha NYA, maka DIA BUKA BANYAK JALAN untuk Sampai Tujuan, ingat waktu di HMI dan BES PERNAH PIMPIN PB HMI MPO 1986 sd 1988, Jargon nya “YAKIN USAHA SAMPAI”.
Pertanyaan seriusnya, mengapa ALLAH harus menguji, kan DIA SUDAH MAHA TAHU, MAHA MELIHAT dan MAHA MENDENGAR?
Jawaban seriusnya:
Q.S. AL-ANKABUT ayat 2–6 JUNCTO ayat 69 — JIHAD ADALAH UJIAN IMAN, BUKAN BANTUAN UNTUK ALLAH.
Hari ini tepat tanggal 15 Oktober 2026, dan ini penutup pekan yang sempurna.
Kalau kita runtut pekan Ost Jubedil ini:
MH Senin: Nafsul Mutmainnah — jiwa tenang kembali ke Allah.
Selasa: Musa vs Fir’aun Ala fil Ard — jihad melawan tirani yang mengaku Tuhan.
Rabu: Isa vs Ghuluw — jihad melawan paham yang menjadikan hamba sebagai Tuhan.
Kamis HARI INI: Al-Ankabut — kenapa harus jihad dan diuji kalau Allah sudah Maha Tahu?
Ini pertanyaan BES terdalam yang bahkan bahkan kaliber ulama besar membahasnya. Hal ini masuk ke wilayah Hikmatul Ibtila — Filsafat Ujian Allah.
Ayat 2–3 — Pondasi: Iman Harus Diuji
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ • وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ
“Apakah manusia mengira dibiarkan hanya berkata kami beriman dan tidak diuji? Sungguh Kami telah uji orang sebelum mereka.”
Kata Yuftarun – Yuf tanu — diuji, difitnah, dibakar seperti emas diuji api. Bukan ujian pilihan ganda, tapi ujian pembakaran.
Iman itu bukan klaim lisan Aman-na. Kalau hanya lisan, semua orang bisa ngaku beriman. Maka harus ada Fitnah — ujian untuk bedakan Shadiqin vs Kadzibin — benar vs dusta ayat 3.
Ayat 4 — Ujian untuk Penjahat
أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ أَنْ يَسْبِقُونَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ
“Apakah orang yang mengerjakan kejahatan mengira akan luput dari Kami? Buruk sekali hukuman mereka.”
Ini sambung MH Selasa kemarin. Fir’aun makar pada ALLAH, Penggagas 3 Periode di Era jkw, Kisruh dugaan Ijasah Palsu, pembuat Koropsi 300T dll koropsinya, pemagar laut Pantai Indah Kapuk, yang Yastad’ifu, yang Mufsidin — mereka kira Yasbiquuna — bisa mendahului, lari, luput dari Allah.
Padahal ujian mereka adalah dibiarkan dulu, lalu saat nya nanti ditangkap. Saa’a ma yahkumun — buruk sekali prasangka mereka bila merasa aman-aman saja.
Ayat 5–6 — Ujian untuk Pejuang
مَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ • وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Inilah yang BES garis bawahi: Jihad untuk diri sendiri, Allah Ghani — Maha Kaya tidak butuh bantuan.
Jangan salah persepsi seperti banyak aktivis: seolah kita berjihad membantu Allah. Tidak! Allah tidak butuh kita. Kitalah yang butuh jihad untuk selamatkan diri kita sendiri. Seperti Nafsul Mutmainnah Senin kemarin butuh jihad untuk kembali.
Dan ayat 5: Man kana Yarju Liqa Allah — Barang siapa harap pertemuan dengan Allah, maka ajal Allah pasti datang.
Jihad itu bukan untuk menang di dunia saja, tapi untuk Liqa Allah — pertemuan. Waktu pasti datang, Sami’ Alim — Allah Maha Mendengar bisikan lelah kita, Maha Mengetahui luka kita.
Ayat 69 — Penutup: Janji Jalan Keluar, Yakin Usaha Sampai
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang yang berjihad untuk mencari keridhaan Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Allah beserta orang yang berbuat baik.”
Inilah jawaban HMI 1986–1988 YAKIN USAHA SAMPAI yang BES pimpin dulu.
Jahadu Fina — Jihad di jalan Kami — bukan jihad politik, bukan jihad jabatan, tapi Fina — untuk Kami, mencari Ridha-Nya.
Lanahdiyannahum Subulana — Kami tunjukkan jalan-jalan Kami — Perhatikan Subulana jamak — banyak jalan. Bukan satu jalan. Kalau jihad karena Allah, Allah buka banyak jalan. Buntu di MK buka lewat rakyat, buntu di DPR buka lewat pengadilan rakyat, buntu di hukum positif buka lewat hukum Allah. Selalu ada jalan, karena Subul — banyak.
Innallaha Lama’al Muhsinin — Allah beserta Muhsinin — bukan beserta banyak orang, tapi beserta yang berbuat baik dengan ihsan.
Pertanyaan Inti BES: Mengapa Allah Harus Menguji Padahal Sudah Maha Tahu, Maha Melihat, Maha Mendengar?
Ini pertanyaan tauhid tingkat tinggi. Ulama tafsir jawab dengan 5 hikmah:
1. Bukan untuk Allah Tahu, tetapi untuk Menampakkan yang Sudah Diketahui — Li Ya’lama Ilmal Zhuhur
Allah tahu potensi, tapi ujian untuk menzahirkan, mengaktualkan pengetahuan itu menjadi fakta nyata di alam. Allah tahu emas itu emas sebelum dibakar, tapi manusia butuh lihat emas terbukti emas setelah dibakar. Falyalamannallahu di ayat 3 bukan Allah baru tahu, tapi Allah tampakkan agar menjadi hujjah.
2. Untuk Diri Kita Sendiri Tahu Siapa Kita — Bukan untuk Allah
Kita yang tidak tahu apakah kita Shadiq atau Kadzib. Ujian itu cermin. Tanpa fitnah Al-Ankabut, kita kira kita sudah Mutmainnah seperti MH Senin, padahal masih rapuh. Jihad itu untuk Nafsihi ayat 6 — untuk diri sendiri agar kita kenal diri.
3. Untuk Menjadi Hujjah di Hari Kiamat Kelak — Agar Tidak Protes
Kalau Allah langsung masukkan surga neraka berdasarkan ilmu-Nya tanpa ujian, manusia akan protes: “Ya Allah saya belum diuji, mungkin saya bisa beriman.”
Maka ujian Al-Ankabut ini agar di hari kiamat tidak ada alasan. Manusia diadili dengan amal zahir hasil ujian, bukan dengan ilmu ghaib Allah saja. Adil.
4. Untuk Tazkiyah dan Tarbiyah — Penyucian dan Penaikan Derajat
Emas diuji untuk dibersihkan. Manusia diuji untuk naik kelas. Tanpa ujian, iman hanya di mulut.
Dengan ujian penindasan Fir’aun yang dijelaskan MH Hari Selasa kemarin lusa, fitnah tuduhan zina Maryam MH Rabu kemarin, baru iman menjadi Nafsul Mutmainnah MH hari Senin tanggal 12 Oktober 2026. Ujian adalah madrasah.
5. Untuk Membedakan Harga Surga — Jannati yang Kemarin di Al-Fajr 30
Surga ayat 30 kemarin Wadkhuli Jannati mahal. Tidak bisa hanya bilang Aman-na. Harus dibayar dengan Jahadu Fina ayat 69.
Itulah Yakin Usaha Sampai versi HMI MPO — Yakin itu Aman-na, Usaha itu Jahadu, Sampai itu Lanahdiyannahum Subulana.
Jadi Allah uji bukan karena tidak tahu, tapi karena Maha Tahu, Maha Adil, Maha Mendidik — Dia ingin kita tahu diri kita, ingin jadi saksi adil, dan ingin kita sampai kepada-Nya lewat banyak jalan.
Wallahu A’lam.
MH Pekan ini lengkap: Dari jiwa tenang, melawan Fir’aun sombong, melawan Ghuluw berlebihan, sampai hari ini paham kenapa harus diuji. Inilah Ost Jubedil sejati.
Salam Jihad dan Sabar.
Brother Eggi Sudjana (BES)




