Kuliah Umum USB Bandung Berubah Jadi Alarm Bahaya, MS Kaban: Bencana Ekologi Bukti Tatakelola Negara Gagal

BANDUNG, MPI – Kuliah Umum Universitas Sangga Buana (USB) Bandung, Kamis (29/1/2025), berubah menjadi panggung peringatan keras atas rusaknya lingkungan, bobroknya tata kelola negara, dan masa depan Indonesia yang dinilai kian suram. Di hadapan ratusan mahasiswa, Dr. MS Kaban secara terbuka menyebut Jawa Barat berada dalam kondisi “disaster” akibat kebijakan negara yang merusak alam dan mengkhianati generasi muda.

Acara yang dihadiri ratusan mahasiswa ini menghadirkan tokoh-tokoh nasional: Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, Dr. Refly Harun, Rocky Gerung, dengan Hersubeno Arif sebagai moderator.

Kaban menegaskan bahwa Jawa Barat bukan sekadar rawan bencana, tetapi sudah hidup dalam era climate disaster—fase kehancuran ekologis akibat eksploitasi brutal dan kebijakan yang ia sebut “babak belur”.

Baca juga:  Kukuhkan KONI 2026–2030, Bupati Bogor Ingin Hasil Nyata

“Alam Jawa Barat itu disaster. Jangan lagi bicara optimisme kosong. Yang akan menanggung semua ini adalah generasi muda,” tegas Kaban.

Ia mengkritik keras narasi “Indonesia Emas” yang kerap digaungkan elite kekuasaan. Menurutnya, jargon itu berpotensi besar berubah menjadi “Indonesia Cemas”, karena kerusakan lingkungan dan krisis iklim diwariskan tanpa tanggung jawab.

Dalam pemaparannya, Kaban membeberkan penyusutan kawasan hutan nasional yang dinilainya sangat mencurigakan. Ia menyebut, dalam satu dekade terakhir, puluhan juta hektare kawasan hutan hilang tanpa penjelasan terbuka kepada publik.

“Pertanyaannya sederhana: 27 juta hektare itu dipakai untuk apa? Apakah rakyat pernah diberi tahu?” ujarnya.

Baca juga:  Disharmoni Bukan Alasan PHK: Negara Wajib Jamin Hak Pekerja

Kaban juga menyoroti tambang-tambang ilegal, khususnya tambang emas, yang menurutnya dibiarkan beroperasi bertahun-tahun tanpa penindakan. Ia menyinggung tragedi tambang di Sumatra Utara yang menelan korban jiwa besar, namun hingga kini nyaris tanpa pertanggungjawaban.

Tak berhenti di situ, Kaban menyerang kebijakan pemerintah yang mencabut izin 28 perusahaan di Sumatra, namun tetap membiarkan mereka beroperasi.

“Izin dicabut tapi operasi jalan terus. Ini logika apa? Ini bukan penegakan hukum, ini penglegalan kejahatan,” katanya tajam.

Di hadapan civitas akademika, Kaban juga melontarkan kritik keras terhadap kondisi demokrasi Indonesia yang dinilainya telah dibajak elite.

“Demokrasi hari ini hanya milik kaum elit. Yang menderita kaum alit. Rakyat kecil hanya jadi korban kebijakan,” ucapnya.

Baca juga:  Perkuat Persatuan, GP DKC Kota Bogor Gelar Halal Bihalal Bersama Lintas Ormas

Ia bahkan mempertanyakan arah kepemimpinan nasional dan praktik politik dinasti yang menurutnya menghilangkan harapan regenerasi kepemimpinan.

Menutup pidatonya, Kaban mengajak mahasiswa untuk tidak tunduk pada narasi palsu pembangunan. Ia menyerukan perlawanan intelektual dan moral terhadap kebijakan yang merusak alam dan masa depan.

“Kita hidup di era bencana karena kesalahan manusia sendiri. Kalau dunia akan hancur, tanam benih. Tanam harapan. Tanam perlawanan terhadap kebijakan yang membangun petaka,” pungkasnya.

Kuliah umum ini menegaskan posisi kampus sebagai ruang kritik, sekaligus menjadi alarm keras bahwa krisis lingkungan dan demokrasi bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan hari ini. [ATS]

 

Latest

Mutiara Hikmah: Eggi Sudjana Uraikan Rumus Jiwa Tenang: Anti-Syirik dan Dzikir 24 Jam Menuju Surga Allah

BOGOR | MATA PENA INDONESIA — Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH.,...

Warga Sukmajaya Tolak Kafe Samping Masjid Al-Huda Depok dan Tutup Permanen

DEPOK | MATA PENA INDONESIA — Kebijakan dan komitmen Pemerintah Kota...

Newsletter

Don't miss

Mutiara Hikmah: Eggi Sudjana Uraikan Rumus Jiwa Tenang: Anti-Syirik dan Dzikir 24 Jam Menuju Surga Allah

BOGOR | MATA PENA INDONESIA — Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si., atau Brother Eggi Sudjana (BES), dalam kajian Mutiara Hikmah Senin, 12 Oktober 2026, menguraikan...

Warga Sukmajaya Tolak Kafe Samping Masjid Al-Huda Depok dan Tutup Permanen

DEPOK | MATA PENA INDONESIA — Kebijakan dan komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Depok dalam menjaga kondusivitas sosial serta keberadaan rumah ibadah kini tengah diuji. Gelombang penolakan keras...

Mutiara Hikmah,  QS An-Nisa Ayat 116–121, Eggi Sudjana: Mengapa Syirik Tidak Diampuni, Bukankah Allah Maha Pengampun?

BOGOR | MATA PENA INDONESIA — Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si., atau yang akrab disapa Brother Eggi Sudjana (BES), kembali mengangkat persoalan mendasar...