Ketika Hawa Nafsu Menjadi Tuhan: Krisis Tauhid di Tengah Kapitalisme, Liberalisme, dan Komunisme

Mutiara Hikmah, Sabtu – 16 Mei 2026

Matapenaindonesia Allaah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰٮهُ وَاَ ضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ وَّخَتَمَ عَلٰى سَمْعِهٖ وَقَلْبِهٖ وَجَعَلَ عَلٰى بَصَرِهٖ غِشٰوَةً ۗ فَمَنْ يَّهْدِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ اللّٰهِ ۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ

🕊️ “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, serta Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya, lalu meletakkan penutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang dapat memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Tidakkah kamu mengambil pelajaran?”
📚 (QS. Al-Jasiyah: 23)

💭 Makna Ayat

Ayat ini menjelaskan bahwa ada manusia yang menjadikan hawa nafsunya sebagai “tuhan” dalam hidupnya—bukan dengan menyembah nafsu seperti berhala, melainkan dengan menjadikan keinginan pribadi sebagai hal yang paling diutamakan, dicintai, dan ditaati, bahkan melebihi aturan Allah.

Dalam ajaran Tauhid, “tuhan” adalah penentu arah hidup. Ketika manusia lebih tunduk pada hawa nafsu, jabatan, kekuasaan, harta, atau kepentingan dunia daripada kebenaran dan hukum Allah, maka hal-hal tersebut telah menjadi “tuhan-tuhan kecil” dalam kehidupannya.

Baca juga:  Dugaan Kelalaian Pengawasan Proyek Drainase di Bogor Selatan

Karena itu kalimat Laa ilaaha illallaah bukan sekadar “tidak ada sesembahan selain Allah,” melainkan mengandung makna bahwa tidak boleh ada sesuatu yang lebih dicintai, ditakuti, dan ditaati daripada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

💰 Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

Ada orang yang mengetahui korupsi haram dan merusak, namun tetap melakukannya demi kekuasaan dan kekayaan. Ada penguasa yang berlaku zalim karena takut kehilangan jabatan. Pada akhirnya, yang mereka takutkan bukan murka Allah, melainkan hilangnya kepentingan duniawi—tanda bahwa hawa nafsu telah menguasai hati.

Begitu pula saat manusia memuja materi dan kenikmatan dunia: kehidupan diukur hanya dengan uang, kekayaan, popularitas, dan kekuatan. Akibatnya, nilai kejujuran, keadilan, dan akhlak sering dikorbankan demi kepentingan pribadi atau kelompok.

📖 Allaah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman:

وَقَا لُوْا مَا هِيَ اِلَّا حَيَا تُنَا الدُّنْيَا نَمُوْتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَاۤ اِلَّا الدَّهْرُ ۗ وَمَا لَهُمْ بِذٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ ۚ اِنْ هُمْ اِلَّا يَظُنُّوْنَ

🕊️ “Dan mereka berkata, ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja; kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.’ Padahal mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu. Mereka hanyalah menduga-duga.”
📚 (QS. Al-Jasiyah: 24)

Baca juga:  Pembangunan Liar di Pinggir Kali Harapan Jaya Diduga Terjadi Tanpa Legalitas Resmi

⚖️ Pola Pandang Materialistis dalam Ideologi

Ayat ini menggambarkan manusia yang menganggap hidup hanya sebatas dunia, tidak percaya hari akhir, hisab, surga, neraka, atau pertanggungjawaban kepada Allah—sehingga merasa bebas melakukan apa saja.

Pola pandang ini muncul dalam ideologi materialistis seperti komunisme ateis, yang memandang kehidupan dari sisi materi, ekonomi, dan kekuasaan negara/kelompok. Agama sering dianggap tidak penting bahkan ditekan, yang dapat memicu permusuhan kelas, perebutan kekuasaan, dan hilangnya nilai spiritual.

Di sisi lain, kapitalisme liberal yang berlebihan juga menyeret manusia pada penghambaan materi. Islam tidak melarang bekerja, berdagang, atau menjadi kaya—namun tanpa batas moral dan agama, kapitalisme menyebabkan kerakusan, individualisme, dan pengorbanan keadilan sosial demi keuntungan.

Liberalisme yang kebablasan mengajarkan kebebasan tanpa batas, di mana semua dianggap boleh atas nama hak pribadi meskipun bertentangan dengan agama dan akhlak. Sedangkan sosialisme-komunisme ekstrem cenderung menjadikan negara atau ideologi sebagai pusat kekuasaan tertinggi, seringkali membatasi kebebasan beragama.

Baca juga:  FMPI Desak KPK Tuntaskan Dugaan Korupsi Pengadaan Mesin EDC BRI Secara Transparan

☪️ Jalan Tengah Islam

Islam menempatkan diri di jalan yang seimbang: tidak melarang mencari harta, memiliki usaha, membangun ekonomi, atau memperjuangkan keadilan sosial; juga tidak mematikan akal dan kebebasan berpikir. Namun semuanya harus berada dalam batas iman, akhlak, dan tanggung jawab kepada Allah.

Islam mengajarkan bahwa dunia hanyalah tempat singgah, sedangkan akhirat adalah tujuan akhir:

– 🎒 Harta hanyalah amanah

– 👑 Jabatan hanyalah titipan

– ⚖️ Kekuasaan hanyalah ujian

Ketika manusia melupakan hal ini, hawa nafsu akan mengambil alih hati dan menjerumuskan pada kesesatan.

🤲 Semoga Allah menjaga hati kita agar tidak diperbudak oleh hawa nafsu, harta, jabatan, maupun ideologi yang menjauhkan manusia dari Tauhid dan petunjuk-Nya.
🌺 Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin

✍️ Salam Ta’ziem dan Jihad.
Brother Eggi Sudjana (BES)
Editor: Agusto Sulistio.

Latest

Kepsek SDN Karadenan Berharap Disdik Segera Bantu Sarana Sekolah yang Raib

CIBINONG, MPI – Kepala Sekolah Dasr (SD) Negeri Karadenan,...

Praperadilan Roy Suryo Disorot, BES-DHL Dorong Kepastian Hukum Lewat Amicus Curiae

JAKARTA, MPI — Aliansi Anak Bangsa menyampaikan Amicus Curiae (Sahabat Pengadilan)...

Mutiara Hikmah BES: Jihad Doa dan Jihad Aksi, Memohon Perlindungan dari Empat Perkara

BOGOR, MPI — Ikhtiar seorang Muslim dengan doa meminta...

UGM Serahkan Data Akademik Jokowi ke Bareskrim, Bukan Hanya Dokumen Ijazah

JAKARTA, MPI — Universitas Gadjah Mada (UGM) mengungkapkan data dan...

Newsletter

Don't miss

Kepsek SDN Karadenan Berharap Disdik Segera Bantu Sarana Sekolah yang Raib

CIBINONG, MPI – Kepala Sekolah Dasr (SD) Negeri Karadenan,...

Praperadilan Roy Suryo Disorot, BES-DHL Dorong Kepastian Hukum Lewat Amicus Curiae

JAKARTA, MPI — Aliansi Anak Bangsa menyampaikan Amicus Curiae (Sahabat Pengadilan)...

Mutiara Hikmah BES: Jihad Doa dan Jihad Aksi, Memohon Perlindungan dari Empat Perkara

BOGOR, MPI — Ikhtiar seorang Muslim dengan doa meminta...

UGM Serahkan Data Akademik Jokowi ke Bareskrim, Bukan Hanya Dokumen Ijazah

JAKARTA, MPI — Universitas Gadjah Mada (UGM) mengungkapkan data dan...

BEM UI Serukan Aksi “Merebut Kemerdekaan” di Bundaran HI, Pertanyakan Kondisi Indonesia Usai 81 Tahun Merdeka

JAKARTA, MPI – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM...

Kepsek SDN Karadenan Berharap Disdik Segera Bantu Sarana Sekolah yang Raib

CIBINONG, MPI – Kepala Sekolah Dasr (SD) Negeri Karadenan, Yani Rochayati, berharap Dinas Pendidikan (Disdik)  Kabupaten Bogor segera membantu pengadaan kembali sejumlah sarana dan...

Praperadilan Roy Suryo Disorot, BES-DHL Dorong Kepastian Hukum Lewat Amicus Curiae

JAKARTA, MPI — Aliansi Anak Bangsa menyampaikan Amicus Curiae (Sahabat Pengadilan) terkait proses hukum yang melibatkan Roy Suryo dan polemik dugaan keaslian ijazah Presiden ke-7 RI...

Mutiara Hikmah BES: Jihad Doa dan Jihad Aksi, Memohon Perlindungan dari Empat Perkara

BOGOR, MPI — Ikhtiar seorang Muslim dengan doa meminta perlindungan dari empat perkara kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah salah satu bentuk keimanan sekaligus...