Mutiara Hikmah BES: Istiqomah, Syukur Kemerdekaan RI, dan Pertanyaan Besar soal SDA Indonesia

BOGOR, MPI — Prof. Dr. H. Eggi Sudjana, SH., M.Si. kembali menyampaikan renungan keislaman melalui Mutiara Hikmah Ahad, (16/8/2026), sehari menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh pada Senin, 17 Agustus 2026.

Dalam Mutiara Hikmah kali ini, Eggi Sudjana mengangkat QS. Fussilat ayat 30 tentang orang-orang yang mengatakan bahwa Tuhan mereka adalah Allah kemudian meneguhkan pendirian atau istiqomah.

Ayat tersebut sekaligus menjadi pijakan Eggi untuk mengajak masyarakat melakukan refleksi mengenai makna kemerdekaan, rasa syukur kepada Allah SWT, pengelolaan sumber daya alam (SDA), amanat Pasal 33 UUD 1945, hingga kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara.

QS. Fussilat Ayat 30: Jangan Takut dan Jangan Bersedih
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰٓئِكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَـنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.'”
(QS. Fussilat [41]: 30)

Ayat tersebut menjadi pesan utama dalam Mutiara Hikmah Eggi Sudjana pada Ahad, 16 Agustus 2026.
Menurut Eggi, pesan untuk tidak takut dan tidak bersedih hati tersebut perlu ditadaburi dalam kehidupan umat, termasuk dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kemerdekaan RI Merupakan Berkat Rahmat Allah
Dalam kajian yang disebutnya sebagai Fiqih Kebangsaan, Eggi Sudjana menekankan pentingnya memahami kembali makna kemerdekaan Indonesia.

Ia merujuk pada Alinea ke-3 Pembukaan UUD 1945 yang menyebutkan bahwa kemerdekaan Indonesia terjadi atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.

Karena itu, menurut Eggi, momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia harus menjadi kesempatan untuk meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT.

“Bahwa dalam kajian Fiqih Kebangsaan, perlu disadari bahwa dalam Alinea ke-3 Pembukaan UUD 1945, kemerdekaan RI merupakan berkat rahmat Allah,” ujar Eggi Sudjana.

Ia menilai rasa syukur tersebut tidak cukup hanya diwujudkan melalui seremoni peringatan kemerdekaan, tetapi juga harus tercermin dalam cara bangsa Indonesia mengelola kekayaan yang telah dianugerahkan Allah SWT.

Baca juga:  Prabowo dan Eggi Sudjana Dinilai Perlu Kembali Bersinergi, Wacana Masuk Kabinet Kembali Mencuat

Syukur Ekologis dan Amanat Pasal 33 UUD 1945
Eggi kemudian mengaitkan rasa syukur dengan apa yang disebutnya sebagai syukur ekologis.

Menurutnya, salah satu bentuk rasa syukur adalah menjalankan amanat Pasal 33 UUD 1945, terutama mengenai penguasaan sumber daya alam oleh negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

“Bahwa rasa syukur tak terkira adalah syukur ekologis dengan Pasal 33 semua ayatnya terutama ayat 33-nya, seluruh SDA dikuasai negara dan diperuntukkan untuk semakmur-makmurnya rakyat Indonesia,” tuturnya

Dalam konteks tersebut, Eggi menyoroti sejumlah komoditas sumber daya alam Indonesia yang menurutnya memiliki nilai sangat besar.

Ia menyebut tiga komoditas, yaitu:

Batubara sekitar 3.000 T;
Kelapa sawit sekitar 1.500 T;
Nikel sekitar 1.000 T.
Jika angka tersebut dijumlahkan, Eggi menyebut totalnya mencapai sekitar 5.500 T.

Ia kemudian membandingkannya dengan kebutuhan APBN yang disebutnya berada di kisaran 3.700 hingga 3.800 triliun.

Eggi Sudjana Pertanyakan Pengelolaan Ribuan Triliun SDA

Dari perbandingan tersebut, Eggi Sudjana mengajukan pertanyaan mengenai bagaimana hasil pengelolaan kekayaan sumber daya alam Indonesia memberikan manfaat kepada rakyat.

Ia juga menyoroti kondisi ketika masyarakat masih dibebani pajak, sementara penerimaan dari sektor sumber daya alam menurutnya belum menjadi sumber utama pembiayaan pembangunan nasional.

“Kenapa rakyat masih dikenakan pajak yang mencekik rakyat, bahkan sekitar 90-an persen pembangunan NKRI diambil dari pajak, sedangkan yang dari SDA kurang lebih hanya 7 persen,” jelas Eggi.

Ia kemudian menyinggung persoalan utang luar negeri serta utang pemerintah dan BUMN yang menurutnya telah mencapai lebih dari 20 ribu triliun.

Dari persoalan tersebut, Eggi mengajukan pertanyaan:

“Kemana uang ribuan T dari hasil pengelolaan SDA tersebut?”

Pertanyaan itu, menurutnya, perlu menjadi bahan perenungan serius dalam melihat pengelolaan kekayaan alam Indonesia.

Tadabbur QS. Fussilat: Jangan Takut dan Jangan Bersedih
Eggi kemudian kembali kepada pesan utama QS. Fussilat ayat 30.

Menurutnya, masyarakat perlu memahami perintah Allah SWT agar orang-orang yang beriman dan istiqomah tidak takut dan tidak bersedih hati.

Bahkan, dalam ayat tersebut terdapat kabar gembira mengenai surga yang telah dijanjikan Allah SWT.

Namun, Eggi mempertanyakan kondisi masyarakat yang menurutnya justru masih mengalami rasa takut dan kesedihan ketika menyaksikan berbagai persoalan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Baca juga:  Mutiara Hikmah, BES: Siapa Bala Tentaramu Selain Allah? Pesan QS Al-Mulk 67:20 di Tengah Memori G30S 1965

“Di dunia saja di NKRI kita rakyat yang punya kecerdasan dan iman pada ALLAH, justru takut dan sedih menyaksikan kelakuan para pejabat Negara dan kolusi dengan para pengusaha,” cecarnya

Eggi juga menyoroti apa yang disebutnya sebagai keserakahan dan korupsi dalam kekuasaan serta hubungan antara penguasa dan pengusaha.

Sorotan terhadap Rezim Zalim dan Oligarki
Dalam bagian berikutnya, Eggi Sudjana menyampaikan kritik yang lebih tajam terhadap kondisi politik dan kekuasaan.

Ia menilai rakyat menghadapi persoalan ketika terjadi kolusi antara pejabat negara dan pengusaha.

Menurut Eggi, persoalan tersebut semakin memprihatinkan ketika penguasa juga memiliki kepentingan sebagai pengusaha dan terjadi keserakahan serta korupsi.

Ia juga mempertanyakan keberanian dari sebagian kalangan ulama dan pendeta dalam menghadapi apa yang disebutnya sebagai “rezim zalim dan oligarki”.

“Hampir tak ada dari kalangan para Ulama dan Pendeta yang berani gagah perkasa MELAWAN REZIM ZALIM dan Oligarchi-nya, bagaimana kita tak sedih?” ucap eggi

Pernyataan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam Mutiara Hikmah yang disampaikan sehari menjelang peringatan kemerdekaan Indonesia.

Eggi Rujuk QS. Al-Maidah Ayat 62 dan 63

Untuk memperkuat renungannya, Eggi mengajak pembaca membaca Al-Qur’an Surah Al-Maidah ayat 62 dan 63.

Menurut Eggi, ayat tersebut menggambarkan tiga perilaku yang menjadi persoalan, yakni:

Senang dalam berbuat dosa;
Melakukan permusuhan;
Makan yang haram.

Eggi menekankan bahwa pembahasan mengenai orang-orang Yahudi dalam konteks yang ia sampaikan bukan dimaksudkan sebagai persoalan rasial, melainkan sebagai gambaran mengenai perilaku.

“Jadi konotasi orang-orang Yahudi itu bukan Rasis tapi lihat perilakunya yang 3 hal tersebut,” tegas Eggi.

Ia kemudian memberikan contoh refleksi terhadap dirinya sendiri.

“Walaupun BES orang Sunda dan mengaku Beriman pada ALLAH, tapi bila kelakuannya seperti 3 hal yang di gambaran tersebut, BES telah berlaku sebagai orang-orang Yahudi,” tambahnya

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa menurut Eggi, ukuran yang harus menjadi perhatian adalah perilaku seseorang, bukan identitas suku atau latar belakangnya.

Istiqomah Menjadi Pesan Utama

Baca juga:  Mutiara Hikmah BES: Memahami QS. Al-Balad 10-20 dan Makna Perbudakan Modern

Jika ditarik kembali kepada ayat utama, QS. Fussilat ayat 30, pesan yang disampaikan Eggi Sudjana berpusat pada pentingnya istiqomah.

Istiqomah dalam ayat tersebut dikaitkan dengan keteguhan seseorang setelah mengakui bahwa Allah adalah Tuhan.

Pesan “jangan takut dan jangan bersedih” kemudian menjadi dorongan agar orang beriman tetap teguh dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Dalam konteks kebangsaan, Eggi mengaitkan istiqomah tersebut dengan keberanian menyuarakan persoalan rakyat, menjaga amanat konstitusi, serta memastikan kekayaan alam Indonesia benar-benar digunakan untuk kemakmuran rakyat.

Momentum HUT ke-81 RI

Mutiara Hikmah Ahad, 16 Agustus 2026 ini disampaikan tepat satu hari sebelum Indonesia memperingati 81 tahun kemerdekaan.

Bagi Eggi Sudjana, momentum tersebut tidak hanya menjadi perayaan sejarah, tetapi juga waktu untuk melakukan evaluasi dan introspeksi.

Kemerdekaan yang disebut dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, menurutnya harus diikuti dengan rasa syukur dan tanggung jawab dalam mengelola negeri.

Sumber daya alam yang melimpah, menurut Eggi, semestinya menjadi bagian dari kekuatan bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat sebagaimana amanat konstitusi.

Karena itu, pertanyaan mengenai pengelolaan SDA, pajak, pembangunan, utang, serta kesejahteraan rakyat menjadi bagian dari refleksi yang ia sampaikan menjelang HUT ke-81 RI.

Penutup Mutiara Hikmah Eggi Sudjana

Melalui renungan tersebut, Prof. Eggi Sudjana mengajak masyarakat kembali kepada nilai-nilai keimanan, istiqomah, rasa syukur, dan keberanian dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa.

QS. Fussilat ayat 30 menjadi dasar utama pesan tersebut: orang-orang yang mengatakan “Rabbuna Allah” dan kemudian istiqomah mendapatkan kabar dari para malaikat agar tidak takut dan tidak bersedih hati serta bergembira dengan janji surga Allah SWT.

Dalam konteks kemerdekaan Indonesia, Eggi menghubungkan pesan tersebut dengan rasa syukur atas kemerdekaan, amanat Pasal 33 UUD 1945, serta pentingnya memastikan kekayaan sumber daya alam Indonesia memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat.

Mutiara Hikmah ini sekaligus menjadi refleksi Eggi Sudjana bahwa kemerdekaan tidak berhenti pada bebas dari penjajahan, tetapi juga menyangkut bagaimana bangsa Indonesia mampu mengelola kekayaan alam dan menjalankan kehidupan bernegara berdasarkan nilai keadilan dan amanat konstitusi.

Salam Jihad, Brother Eggi Sudjana (BES)

Latest

Bukan Sekadar Ucapan Selamat, Ini Pesan Eggi Sudjana untuk Kapolri Suyudi

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Ucapan selamat atas dilantiknya...

Mutiara Hikmah, BES: Kun Fayakun Allah dan Makna Hari Kesaktian Pancasila

MALAYSIA | MATA PENA INDONESIA – BISMILLAH. Mutiara Hikmah Kamis,...

Newsletter

Don't miss

Bukan Sekadar Ucapan Selamat, Ini Pesan Eggi Sudjana untuk Kapolri Suyudi

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Ucapan selamat atas dilantiknya...

Mutiara Hikmah, BES: Kun Fayakun Allah dan Makna Hari Kesaktian Pancasila

MALAYSIA | MATA PENA INDONESIA – BISMILLAH. Mutiara Hikmah Kamis,...

Mutiara Hikmah, BES: Siapa Bala Tentaramu Selain Allah? Pesan QS Al-Mulk 67:20 di Tengah Memori G30S 1965

MALAYSIA | MATA PENA INDONESIA – Memperingati 30 September...

Perlawanan Terhadap Orde Baru Hingga Perjuangan Politik Prabowo : Kekuasaan, Kepemimpinan, Amanah Serta Cara Berfikir OST dan Berjiwa Intelektual JUBEDIL

Oleh: Prof. Dr. Eggi Sudjana, S.H., M.Si. JAKARTA | MATA PENA INDONESIA - Dalam sejarah bangsa dan perjuangan membaca perjalanan Seorang Aktivis, Praktisi Hukum dan...

Bukan Sekadar Ucapan Selamat, Ini Pesan Eggi Sudjana untuk Kapolri Suyudi

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Ucapan selamat atas dilantiknya Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) disampaikan Tokoh Nasional...

Mutiara Hikmah, BES: Kupas Ali Imran 26-27: Kekuasaan dan Kekayaan, Peringatan tentang Suap serta Moralitas Pemimpin

BOGOR | MATA PENA INDONESIA – Prof. Dr. Eggi Sudjana, SH., M.Si., atau yang akrab dikenal sebagai Brother Eggi Sudjana (BES), dalam kajian Mutiara Hikmah...