BOGOR, MPI – Dalam Mutiara Hikmah Sabtu, 5 September 2026, Prof. Dr. Brother Eggi Sudjana (BES) mengajak umat Islam untuk kembali memahami makna keimanan, Islam sebagai jalan hidup, serta pentingnya konsistensi antara aqidah, syariah dan akhlak.
Kajian kali ini merujuk kepada rangkaian firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam QS. Ali ‘Imran ayat 83 sampai dengan ayat 89. Menurut BES, ayat-ayat tersebut memberikan garis penegasan yang kuat mengenai penyerahan diri kepada Allah, konsistensi keimanan, akibat berpaling dari petunjuk setelah kebenaran datang, sekaligus terbukanya pintu tobat bagi manusia yang kembali kepada jalan Allah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
QS. Ali ‘Imran Ayat 83
اَفَغَيْرَ دِيْنِ اللّٰهِ يَبْغُوْنَ وَلَهٗۤ اَسْلَمَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ طَوْعًا وَّكَرْهًا وَّاِلَيْهِ يُرْجَعُوْنَ
Artinya:
“Maka mengapa mereka mencari agama yang lain selain agama Allah, padahal apa yang di langit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan?”
(QS. Ali ‘Imran: 83)
Ayat ini, menurut BES, mengandung pesan bahwa seluruh alam semesta berada dalam ketundukan kepada ketentuan dan hukum Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Matahari, bulan, planet, hukum gravitasi serta berbagai sistem kehidupan berjalan berdasarkan ketetapan Allah. Manusia diberikan akal dan kehendak untuk memilih jalan hidupnya, namun pada akhirnya seluruh manusia tetap akan kembali kepada Allah.
BES memandang bahwa manusia harus menggunakan kebebasan berpikirnya untuk mencari kebenaran, bukan menjadikan kebebasan tersebut sebagai alasan untuk meninggalkan petunjuk Allah.
QS. Ali ‘Imran Ayat 84
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قُلْ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَمَاۤ اُنْزِلَ عَلَيْنَا وَمَاۤ اُنْزِلَ عَلٰۤى اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَمَاۤ اُوْتِيَ مُوْسٰى وَعِيْسٰى وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ رَّبِّهِمْ ۖ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْهُمْ ۖ وَنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ
Artinya:
“Katakanlah (Muhammad), ‘Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa, dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.'”
(QS. Ali ‘Imran: 84)
BES menjelaskan bahwa keimanan dalam Islam merupakan satu kesatuan. Seorang Muslim beriman kepada Allah, kitab-kitab-Nya, para nabi dan rasul-Nya, tanpa membeda-bedakan kebenaran para nabi yang diutus Allah.
Menurutnya, ayat tersebut juga menegaskan pentingnya sikap berserah diri kepada Allah secara utuh dan konsisten.
QS. Ali ‘Imran Ayat 85
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُ ۚ وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ
Artinya:
“Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.”
(QS. Ali ‘Imran: 85)
Menurut BES, kata Islam dalam ayat tersebut tidak boleh dipahami sekadar sebagai identitas administratif atau pengakuan formal semata.
Islam, dalam pengertian yang dijelaskan BES, merupakan penyerahan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, berlandaskan tauhid dan diwujudkan melalui ketaatan kepada petunjuk-Nya.
Karena itu, keimanan harus memiliki konsekuensi dalam kehidupan nyata, baik dalam cara berpikir, perilaku, hubungan sosial, maupun dalam menentukan prinsip-prinsip kehidupan.
QS. Ali ‘Imran Ayat 86
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
كَيْفَ يَهْدِى اللّٰهُ قَوْمًا كَفَرُوْا بَعْدَ اِيْمَانِهِمْ وَشَهِدُوْۤا اَنَّ الرَّسُوْلَ حَقٌّ وَّجَآءَهُمُ الْبَيِّنٰتُ ۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ
Artinya:
“Bagaimana Allah akan memberi petunjuk kepada suatu kaum yang kafir setelah mereka beriman, serta mengakui bahwa Rasul (Muhammad) itu benar-benar (rasul), dan bukti-bukti yang jelas telah sampai kepada mereka? Allah tidak memberi petunjuk kepada orang zalim.”
(QS. Ali ‘Imran: 86)
BES menilai ayat tersebut merupakan peringatan mengenai bahaya berpaling dari kebenaran setelah seseorang mengetahui dan meyakini petunjuk yang datang dari Allah.
Menurutnya, semakin besar pengetahuan seseorang terhadap kebenaran, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk bersikap konsisten.
QS. Ali ‘Imran Ayat 87
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اُولٰٓئِكَ جَزَآؤُهُمْ اَنَّ عَلَيْهِمْ لَعْنَةَ اللّٰهِ وَالْمَلٰٓئِكَةِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ
Artinya:
“Mereka itu, balasannya ialah ditimpa laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya.”
(QS. Ali ‘Imran: 87)
QS. Ali ‘Imran Ayat 88
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
خٰلِدِيْنَ فِيْهَا ۚ لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْظَرُوْنَ
Artinya:
“Mereka kekal di dalamnya, tidak akan diringankan azabnya, dan mereka tidak diberi penangguhan.”
(QS. Ali ‘Imran: 88)
Menurut BES, dua ayat tersebut menunjukkan betapa seriusnya persoalan berpaling dari kebenaran setelah datangnya keimanan dan bukti-bukti yang jelas.
Namun demikian, Islam juga mengajarkan bahwa selama manusia masih hidup dan sungguh-sungguh kembali kepada Allah, pintu pertobatan tetap terbuka.
QS. Ali ‘Imran Ayat 89
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِلَّا الَّذِيْنَ تَابُوْا مِنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ وَاَصْلَحُوْا ۗ فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya:
“Kecuali orang-orang yang bertobat setelah itu, dan melakukan perbaikan, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Ali ‘Imran: 89)
BES menjelaskan bahwa pertobatan tidak cukup hanya diucapkan, melainkan harus diikuti dengan perbaikan.
Seseorang harus meninggalkan kesalahan, menyesali perbuatannya dan berusaha memperbaiki kembali jalan hidupnya sesuai dengan petunjuk Allah.
Islam, Ideologi dan Sistem Kehidupan
Dalam kajiannya, BES mengajak masyarakat untuk membahas persoalan agama, ideologi dan sistem kehidupan secara objektif, sistematis dan mendalam.
Menurutnya, manusia dapat menggunakan metode berpikir induktif maupun deduktif dalam memahami berbagai peristiwa kehidupan.
Metode induktif dapat dilakukan dengan melihat fakta-fakta kehidupan dan alam semesta, kemudian mengambil kesimpulan berdasarkan tanda-tanda kekuasaan Allah. Sementara metode deduktif dapat dilakukan dengan berangkat dari prinsip-prinsip yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an, kemudian melihat bagaimana prinsip tersebut diterapkan dalam kehidupan.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَفِى الْاَرْضِ اٰيٰتٌ لِّلْمُوْقِنِيْنَ
Artinya:
“Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin.”
(QS. Adz-Dzariyat: 20)
BES memandang bahwa manusia perlu memperhatikan alam, kehidupan dan sejarah untuk memperkuat keyakinannya terhadap kekuasaan Allah.
Tiga Arus Ideologi Besar
Dalam pembahasannya, BES menyebut adanya berbagai ideologi yang berkembang dalam sejarah dunia modern. Secara garis besar, ia membandingkan Islam dengan kapitalisme serta sosialisme atau komunisme sebagai sistem pemikiran yang memiliki prinsip dasar berbeda.
Menurutnya, perbedaan tersebut dapat dilihat melalui tiga ukuran utama, yaitu:
Prinsip ideologis atau dasar keyakinannya;
Metodologi atau cara menjalankan kehidupan;
Tokoh atau contoh teladan yang dijadikan rujukan.
Bagi seorang Muslim, BES menekankan bahwa ketiga unsur tersebut harus memiliki kesatuan.
1. Islam
Prinsip dasar Islam adalah tauhid, yaitu pengakuan bahwa Allah adalah Tuhan dan manusia berkewajiban tunduk kepada petunjuk-Nya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنِ الْحُكْمُ اِلَّا لِلّٰهِ
Artinya:
“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.”
(QS. Yusuf: 40)
Dalam menjalani kehidupan, seorang Muslim menjadikan ajaran Islam sebagai pedoman, termasuk dalam persoalan ibadah, muamalah dan akhlak.
Sementara teladan utama bagi umat Islam adalah Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
Artinya:
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”
(QS. Al-Ahzab: 21)
Aqidah, Syariah dan Akhlak
BES menegaskan bahwa keutuhan Islam dalam kehidupan dapat disederhanakan dalam tiga unsur penting, yaitu:
Pertama, Aqidah, yakni keyakinan kepada Allah dan seluruh prinsip keimanan.
Kedua, Syariah, yaitu ketaatan dan pelaksanaan ajaran Allah dalam kehidupan.
Ketiga, Akhlak, yakni perilaku dan keteladanan yang bercermin kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Ketiga unsur tersebut, menurut BES, harus berjalan bersama. Keimanan tidak boleh berhenti hanya pada pengakuan, tetapi harus memberikan pengaruh terhadap cara seseorang menjalani kehidupannya.
Mengapa Seseorang Mengaku Muslim tetapi Mengikuti Ideologi Lain?
BES kemudian mengangkat pertanyaan mengenai fenomena seseorang yang secara identitas mengaku beragama Islam, tetapi dalam pandangan politik, ekonomi maupun sistem pemikirannya justru mengikuti ideologi lain.
Menurutnya, persoalan tersebut perlu dikaji melalui tiga ukuran.
Pertama, apakah prinsip hidup seseorang sesuai dengan tauhid dan ajaran Islam.
Kedua, apakah cara menjalankan kehidupannya sesuai dengan ketentuan halal dan haram.
Ketiga, siapa tokoh yang dijadikan teladan utama dalam menentukan arah kehidupan.
Dalam konteks sejarah Indonesia, BES menyebut bahwa perdebatan ideologi telah menjadi bagian penting dari perjalanan bangsa. Nama-nama tokoh seperti D.N. Aidit, Musso dan Alimin merupakan bagian dari sejarah politik Indonesia yang perlu dipahami dalam konteks perkembangan ideologi pada zamannya.
Menurut BES, seseorang dapat saja memiliki latar belakang keluarga atau identitas agama tertentu, tetapi pilihan ideologis dan pemikirannya dapat mengalami perubahan seiring perjalanan hidupnya.
Karena itu, ia mengajak umat Islam untuk terus memperkuat pemahaman agama agar tidak terjadi perbedaan antara identitas keagamaan dengan prinsip dan perilaku kehidupan.
Islam sebagai Jalan Hidup
BES menegaskan bahwa Islam tidak boleh dipahami hanya sebagai simbol atau identitas.
Menurutnya, seseorang yang ingin menjalankan Islam secara utuh harus berusaha menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber utama dalam membentuk aqidah, perilaku dan pandangan hidup.
Dalam konteks ekonomi, misalnya, Islam memiliki aturan mengenai transaksi, keadilan dan larangan terhadap praktik-praktik yang diharamkan.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman mengenai persoalan riba:
وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰوا
Artinya:
“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”
(QS. Al-Baqarah: 275)
BES berpandangan bahwa ajaran Islam harus menjadi bahan evaluasi dalam kehidupan pribadi maupun sosial.
Toleransi dan Ketegasan Prinsip
Dalam kajiannya, BES juga menekankan pentingnya membedakan antara toleransi terhadap manusia dan konsistensi dalam menjalankan keyakinan.
Islam mengajarkan kehidupan sosial yang damai dan tidak memaksakan keyakinan kepada orang lain.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لَاۤ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِ
Artinya:
“Tidak ada paksaan dalam agama.”
(QS. Al-Baqarah: 256)
Menurut BES, toleransi dalam kehidupan bermasyarakat harus berjalan seiring dengan keteguhan seorang Muslim dalam menjaga aqidah dan prinsip agamanya.
Mengikuti Rasulullah Muhammad SAW
Di bagian akhir kajiannya, BES menegaskan bahwa umat Islam harus menjadikan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai teladan utama dalam menjalankan ajaran Islam.
Menurutnya, ajaran Islam tidak boleh dijalankan berdasarkan selera pribadi atau disesuaikan semata-mata dengan tokoh tertentu.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya:
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Ali ‘Imran: 31)
BES menegaskan bahwa seorang Muslim harus terus berusaha menjadikan Rasulullah SAW sebagai contoh dalam aqidah, syariah dan akhlak.
Dengan demikian, menurutnya, tidak boleh ada ukuran Islam yang hanya didasarkan pada tokoh politik, tokoh masyarakat atau pemikiran pribadi seseorang.
Rumus Keselamatan: Aqidah, Syariah dan Akhlak
BES menyimpulkan kajiannya dengan tiga unsur utama yang harus menjadi perhatian umat Islam:
1. AQIDAH
Beriman kepada Allah dan seluruh ajaran keimanan.
2. SYARIAH
Berusaha tunduk dan taat kepada ketentuan Allah dalam menjalani kehidupan.
3. AKHLAK
Menjadikan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai teladan.
Menurutnya, ketiga unsur tersebut harus menjadi satu kesatuan dalam membentuk seorang Muslim.
Sebagai penutup, BES mengingatkan pentingnya memohon kepada Allah agar manusia tetap berada di jalan petunjuk dan tidak tergelincir setelah memperoleh hidayah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ
Artinya:
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau beri kami petunjuk, dan karuniakanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu. Sungguh, Engkau Maha Pemberi.”
(QS. Ali ‘Imran: 8)
BES menilai doa tersebut menjadi pengingat penting bagi setiap Muslim, termasuk para pemimpin dan pengambil kebijakan, agar senantiasa memohon keteguhan hati dalam memegang petunjuk Allah.
Salam Jihad. Brother Eggi Sudjana (BES)




